Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri
Ketua FKUB & Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo
Tema menarik tersaji saat peringatan Isro’ Mi’roj di salah satu Sekolah dimana saya hadir sebagai pembicara. Diikuti oleh kurang lebih 900 orang peserta didik dan guru, suasana penuh khidmat dan duka. Duka menyelimuti keluarga besar tersebut seiring dengan meninggalnya salah satu siswa yang sempat mengagetkan dan viral. Kesempatan ini yang saya manfaatkan untuk menyampaikan materi mental spritual berkenaan dengan momentum Isro mi’raj dan sholat.
Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW acap kali dianggap sebatas agenda seremonial tahunan yang dipenuhi tausiyah dan peringatan simbolik. Padahal, peristiwa agung ini menyimpan pesan spiritual yang sangat mendalam dan relevan dengan tantangan kehidupan modern, khususnya bagi remaja Generasi Z (Gen Z). Isra’ Mi’raj seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk meneguhkan kembali komitmen dalam menunaikan sholat secara istiqamah.
Makna Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah perjalanan Rasulullah SAW, melainkan tonggak perintah sholat yang menjadi tiang agama. Sholat diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT sebagai sarana utama membangun hubungan antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, sholat tidak cukup diposisikan sebagai rutinitas ibadah, tetapi perlu dijadikan sebagai lifestyle dan solusi kehidupan. Dengan sholat, akan lahir kebaikan-kebaikan dan manusia dijauhkan dari berbagai keburukan, baik secara moral maupun mental.
Saat ini, isu kesehatan mental di kalangan remaja Gen Z menjadi tantangan serius. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta derasnya arus media digital sering kali membuat remaja berada dalam situasi psikologis yang sangat rentan. Media sosial yang awalnya menjadi ruang berekspresi justru kerap berubah menjadi ruang perbandingan, penghakiman, bahkan bullying dan hate speech. Tidak sedikit remaja yang merasa cemas, tidak percaya diri, dan kehilangan arah akibat standar-standar semu yang terbangun di dunia maya.
Dalam kondisi tersebut, sholat memiliki peran strategis sebagai sarana menjaga keseimbangan mental dan spiritual. Sholat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi ruang dialog batin yang menghadirkan ketenangan dan solusi mencerahkan. Sholat adalah tempat paling aman untuk “curhat” kepada Allah atas segala problematika kehidupan. Dalam sholat, seseorang bebas mengadu tanpa takut dihakimi, dibandingkan, atau direndahkan. Sholat yang merupakan doa akan selalu menjadi pondasi kuat untuk menopang kekuatan diri agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Fenomena curhat di media sosial yang kini menjadi tren justru sering berujung pada persoalan baru. Jangankan mendapatkan solusi, yang muncul justru bullying, komentar negatif, dan ketidakpastian yang semakin menambah kegelisahan. Curhat yang disebarkan ke ruang publik digital sering kali meninggalkan luka batin yang lebih dalam, karena respons manusia tidak selalu menghadirkan empati.
Sebaliknya, curhat dalam sholat menghadirkan ketenangan dan harapan. Dalam sujud, seorang hamba diajak untuk jujur pada dirinya sendiri dan berserah sepenuhnya kepada Allah. Dari sholat, lahir ketentraman jiwa, kejernihan berpikir, dan kekuatan untuk bangkit menghadapi persoalan hidup. Sholat mengajarkan bahwa solusi sejati tidak selalu datang seketika, tetapi ketenangan hati adalah awal dari setiap jalan keluar.
Momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi refleksi bersama untuk mengajak remaja Gen Z kembali menemukan makna sholat dalam kehidupan mereka. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjadikan sholat sebagai kebutuhan jiwa dan sumber kekuatan mental. Ketika sholat dijadikan sebagai tempat curhat dan sandaran hidup, remaja akan memiliki pondasi spiritual yang kokoh untuk menghadapi tekanan zaman.
Sholat adalah jalan pulang bagi jiwa yang lelah dan gelisah. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan kompleksitas persoalan remaja Gen Z, sholat hadir sebagai ruang sunyi yang menenangkan, solusi yang mencerahkan, serta penjaga kesehatan mental dan spiritual. Inilah makna Isra’ Mi’raj yang relevan sepanjang zaman.