Gandeng DLH dan TP PKK, Komunitas Pena Hijau dan Jenggala Giatkan Bersih-Bersih Sungai Kali Taman Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan lingkungan lewat aksi cleanup river di Sungai Kali Taman, Desa Taman, Kecamatan Paiton, Selasa (08/09/2026). Dalam aksi kali ini, Pena Hijau berkolaborasi dengan Jejaring Jaga Alam (JENGGALA), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo, serta TP PKK Desa Taman.

Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo sekaligus Founder Komunitas Jenggala, Ning Umi Hani’ah Fahmi AHZ, menyambut positif inisiatif ini. Ia menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

“Hari ini kita diajak oleh Komunitas Pena Hijau dalam kegiatan bersih-bersih aliran Sungai Desa Taman Kecamatan Paiton. Kegiatan ini berkolaborasi bersama DLH Kabupaten Probolinggo, TP PKK Desa Taman beserta para kader,” ujarnya.

Ning Umi Hani’ah juga menyayangkan masih rendahnya kesadaran publik terhadap isu kebersihan sungai, terutama di kalangan kaum muda.

“Ini tentu sangat miris. Semoga nantinya semakin banyak masyarakat, terutama anak muda yang tertarik untuk tergerak dalam komunitas peduli lingkungan. Isu lingkungan memang kurang begitu populer di kalangan anak muda, padahal ini sangat penting,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Probolinggo, Mishul Sauliyah Fitriawati. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat dibutuhkan untuk menekan penumpukan limbah domestik di perairan.

“Kami sangat senang dengan adanya kolaborasi ini. Semoga kegiatan seperti ini bisa lebih sering digelar bersama komunitas, sehingga sungai-sungai dapat terbebas dari sampah, terutama sampah popok yang masih cukup tinggi dibuang masyarakat ke sungai,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh limbah yang berhasil diangkut dari sungai tidak akan dibiarkan begitu saja. “Selanjutnya sampah ini akan kami bawa ke TPS Paiton untuk dikelola dan dipilah. Sampah residu nantinya akan kami kelola lebih lanjut ke TPA,” lanjutnya.

Di sisi lain, Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terjalin. Ia mengungkapkan bahwa aksi pembersihan ini merupakan bagian dari gerakan berkelanjutan yang terus disisir ke berbagai titik lokasi.

“Kami sampaikan terima kasih kepada komunitas Jenggala, DLH Kabupaten Probolinggo, dan Pemerintah Desa Taman yang sudah meluangkan waktunya untuk berkolaborasi bersama kami. Kegiatan semacam ini merupakan agenda rutin kami sepekan sekali dengan berpindah-pindah sungai di lingkup Kecamatan Paiton, Kotaanyar, dan Pakuniran. Ini sudah sungai kelima yang kita bersihkan,” jelas Taufiq.

Melalui konsistensi aksi lapangan ini, Pena Hijau berharap dapat mendorong perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah pemukiman secara lebih bijak.

“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan dampak positif dengan bisa membangun budaya masyarakat untuk menjaga lingkungan, terutama kebersihan sungai. Sehingga pada musim hujan nantinya desa-desa aman dari bencana banjir dan persoalan lingkungan lainnya,” pungkasnya.

Maknai Kemerdekaan, Pemuda PENA HIJAU Bersihkan Sungai Desa Sumberkembar Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) menggelar aksi clean up river di sungai Desa Sumberkembar, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Senin (17/08/2026).

Aksi bersih-bersih sungai ini menjadi momentum simbolis bagi para pemuda untuk memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya di era modern.

“Kegiatan clean up river yang kami lakukan di sungai Desa Sumberkembar Kecamatan Pakuniran, kegiatan clean up kali ini sengaja kami langsungkan tepat di Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Harapannya selain merdeka dari penjajahan, Indonesia juga merdeka dari sampah,” ujar Koordinator aksi sekaligus Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim.

Kehadiran para relawan PENA HIJAU mendapat respons amat positif dari warga setempat. Masyarakat sekitar lokasi sungai turut menyambut hangat aksi peduli lingkungan ini dan mengekspresikan dukungan penuh mereka terhadap kebersihan aliran sungai Desa Sumberkembar.

“Alhamdulillah setibanya kami di lokasi sungai ini, kami disambut baik oleh masyarakat. Mereka mendukung kegiatan kami, malahan mereka juga meminta kepada kami untuk dibuatkan banner atau papan peringatan larangan buang sampah sembarangan. Kedepan InsyaAllah kami akan membuatkannya,” jelas Taufiq.

Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan pesisir dan perairan darat, aksi clean up sungai ini rutin dijalankan oleh Komunitas PENA HIJAU secara konsisten setiap sepekan sekali di berbagai titik wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Gempa M 7,7 Guncang NTT, PENA HIJAU Sampaikan Duka Mendalam, Soroti Pentingnya Tata Ruang Berbasis Risiko

Probolinggo, Berdampak.net — Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 tersebut menyisakan duka bagi masyarakat terdampak.

Koordinator sekaligus Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, menyatakan simpati dan keprihatinannya atas musibah yang menimpa warga Flores dan sekitarnya.

“Kami turut prihatin dan berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas kejadian gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur,” ujar Taufiq dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi M 7,7 tersebut dipicu oleh pergerakan sesar naik (thrust fault) di bagian utara Flores. Menanggapi fenomena tersebut, Taufiq menekankan pentingnya evaluasi penataan ruang serta penguatan mitigasi bencana jangka panjang dari kacamata lingkungan.

“Dari sudut pandang lingkungan dan mitigasi, bencana ini menjadi riminder bagi kita bersama, bahwa pentingnya tata ruang berbasis risiko serta daya dukung lingkungan pesisir, maka dari itu, pemerintah melalui kementerian PU dan instansi terkait harus memperketat audit tata letak fasilitas publik serta infrastruktur jalan yang rentan terhadap retakan tanah dan longsoran akibat guncangan,” jelasnya.

Di akhir peryataannya, Taufiq mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan memberikan dukungan nyata bagi para korban di NTT agar dapat segera bangkit pascabencana.

“Mari kita bersama-sama bahu membahu membantu saudara-saudara kita di NTT, agar mereka bisa kembali survive pasca kejadian gempa bumi yang melanda,” tutupnya.

Dosen UPN Veteran Jatim Ciptakan Aplikasi Antiperundungan Berbasis Sastra, Siswa SMAN 1 Besuki Bisa Petakan Kasus Tanpa Rasa Takut

SITUBONDO, INDHEF NEWS — Banyak kasus perundungan di sekolah luput dari perhatian karena korban enggan bercerita. Rasa malu, takut disalahkan, atau trauma sering membuat siswa memilih diam dan memendam persoalan sendirian.

Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur mengembangkan sebuah terobosan bernama Virtual Literary Therapy Lab — aplikasi berbasis Android yang menggabungkan edukasi antiperundungan dengan pendekatan sastra reflektif, permainan edukatif, dan jurnal emosi.

Aplikasi ini resmi diperkenalkan kepada siswa kelas X B SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–13.00 WIB dan sekaligus menjadi momen serah terima aplikasi kepada pihak sekolah.

Sastra sebagai Media Refleksi Emosi

Tim pelaksana dipimpin oleh Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A., beranggotakan Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A.; Ambaristi Hersita Milanguni, M.A.; Lailatul Fitriyah, M.Si.; dan Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., bersama dua mahasiswa, Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Koordinator BK SMAN 1 Besuki, Ika Febrianti, S.Pd., serta Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Berbeda dari aplikasi pembelajaran pada umumnya, Virtual Literary Therapy Lab menawarkan ruang interaktif yang cukup lengkap: materi edukasi seputar perundungan, game antiperundungan, kumpulan cerita dan puisi reflektif, hingga fitur jurnal emosi harian. Konten sastra di dalamnya sengaja dirancang untuk membantu siswa mengenali dan memahami emosinya lewat kisah yang dekat dengan keseharian remaja.

Dr. Achmad Fawaid menjelaskan bahwa inovasi ini juga menjadi bukti bahwa ilmu bahasa dan sastra Indonesia dapat dikembangkan lewat teknologi digital.

“Kami mencoba membawa teks sastra ke fungsi yang lebih aplikatif. Cerita dan puisi tidak hanya dibaca, tetapi digunakan sebagai medium refleksi untuk membantu siswa memahami emosi dan persoalan perundungan. Teknologi memungkinkan proses tersebut dikemas lebih interaktif dan lebih dekat dengan kebiasaan siswa,” jelas Fawaid.

Pemetaan Perundungan Lewat 75 Pertanyaan Berbasis Kasus

Selain memperkenalkan aplikasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memetakan kondisi perundungan dan budaya aman di lingkungan sekolah. Para siswa diminta mengisi 75 pertanyaan digital yang disusun berdasarkan kasus atau kejadian konkret, sehingga mereka tidak perlu menyatakan secara langsung apakah dirinya pernah menjadi korban.

Instrumen survei ini dikembangkan dengan merujuk pada sejumlah standar internasional dan nasional, yaitu Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Melalui pendekatan berbasis kasus ini, tim berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai berbagai bentuk perundungan yang dialami siswa — mulai dari verbal, fisik, sosial atau relasional, siber, hingga seksual. Survei ini juga memetakan frekuensi dan lokasi kejadian, dampak yang dirasakan siswa, pola pelaporan, hambatan dalam mencari bantuan, serta persepsi siswa terhadap keamanan lingkungan sekolah mereka.

Data untuk Perkuat Kebijakan Sekolah

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut baik hasil pemetaan ini dan menilainya dapat memperkuat pengambilan keputusan di tingkat sekolah.

“Sekolah membutuhkan data agar program yang dibuat benar-benar menjawab kondisi siswa. Dari pemetaan ini kami berharap dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperkuat, baik layanan BK, edukasi kepada siswa, pengawasan lingkungan sekolah maupun mekanisme pelaporan. Jadi tindak lanjutnya dapat lebih tepat sasaran,” ujar Irpan.

Antusiasme juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, mengaku merasa lebih nyaman karena pengalamannya dipotret lewat pertanyaan berbasis situasi, bukan pertanyaan langsung yang bisa terasa menghakimi.

“Pertanyaannya menggunakan contoh kejadian yang mungkin dialami siswa, jadi lebih mudah dipahami dan dijawab. Kami juga tidak perlu menyebut nama siapa pun. Menurut saya cara seperti ini membuat siswa lebih nyaman untuk menjawab sesuai keadaan sebenarnya,” kata Ilzam.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan resmi aplikasi Virtual Literary Therapy Lab kepada SMAN 1 Besuki sebagai produk yang dapat terus dimanfaatkan untuk memperkuat layanan psikososial bagi siswa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah PKM Edu LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur bertajuk “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”

Dosen UPN Veteran Jatim Kembangkan Virtual Literary Therapy Lab, Perkuat Deteksi Perundungan dan Budaya Aman di Sekolah

Situbondo.Berdampak.Net — Tim dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur mengembangkan Virtual Literary Therapy Lab, aplikasi berbasis Android yang memadukan teknologi, literasi sastra, edukasi antiperundungan, dan refleksi emosi bagi siswa. Aplikasi tersebut disosialisasikan sekaligus diserahterimakan kepada SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di ruang kelas X B SMAN 1 Besuki mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Program dipimpin Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A. bersama Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A., Ambaristi Hersita Milanguni, M.A., Lailatul Fitriyah, M.Si., Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., serta mahasiswa Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Pelaksanaan kegiatan didampingi Koordinator BK SMAN 1 Besuki Ika Febrianti, S.Pd. dan Kepala SMAN 1 Besuki Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Virtual Literary Therapy Lab menghadirkan sejumlah fitur yang dekat dengan pengalaman remaja, mulai dari edukasi mengenai perundungan, game antiperundungan, cerita dan puisi reflektif, hingga jurnal emosi. Teknologi tersebut dirancang bukan sebagai alat diagnosis klinis, melainkan sebagai media edukasi dan refleksi yang dapat mendukung layanan psikososial serta program budaya sekolah aman.

Ketua tim pelaksana, Dr. Achmad Fawaid, mengatakan pengembangan aplikasi tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan sastra dapat dipertemukan dengan teknologi untuk menjawab persoalan konkret di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin teks sastra tidak berhenti sebagai bahan bacaan di kelas. Cerita, puisi, dan aktivitas reflektif kami integrasikan dengan teknologi agar menjadi ruang yang lebih dekat dengan siswa untuk mengenali perasaan, memahami perundungan, dan mengetahui cara mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman,” ujar Fawaid.

Selain sosialisasi aplikasi, tim melaksanakan survei digital untuk memperoleh gambaran kondisi perundungan, kesehatan mental, dan budaya aman sekolah. Sebanyak 75 pertanyaan berbasis kejadian disusun dengan merujuk pada Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Survei dirancang agar siswa dapat menyampaikan pengalaman secara lebih bebas tanpa harus menceritakan kasus secara langsung di hadapan guru atau teman. Data yang diperoleh diharapkan membantu sekolah memetakan bentuk perundungan, lokasi dan waktu rawan, dampak terhadap siswa, pola pelaporan, serta tingkat kepercayaan siswa terhadap mekanisme bantuan sekolah.

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut pemanfaatan teknologi tersebut karena dapat menyediakan informasi yang lebih terukur untuk penguatan kebijakan sekolah.

“Bagi sekolah, aplikasi dan survei ini penting bukan hanya untuk mengetahui apakah perundungan terjadi, tetapi untuk memahami bentuk dan kondisinya. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah, guru BK, dan seluruh warga sekolah dalam menentukan program pencegahan serta layanan yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Respons positif juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, menilai penyampaian materi melalui aplikasi membuat isu perundungan lebih mudah dipahami.

“Aplikasinya menarik karena kami tidak hanya membaca materi. Ada game, cerita, puisi, dan jurnal emosi. Surveinya juga membuat kami bisa menjawab berdasarkan pengalaman tanpa harus bercerita langsung di depan kelas,” ungkap Ilzam.

Kegiatan ditutup dengan serah terima Virtual Literary Therapy Lab kepada Kepala SMAN 1 Besuki untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangan layanan sekolah selanjutnya.

Program ini merupakan pelaksanaan hibah Pengabdian kepada Masyarakat PKM Edu yang didanai LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur melalui kegiatan berjudul “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”

Metafora “Bumi Sekarat” hingga “Rumah Bersama”: UPNVJT dan Earth Hour Malang Racik Bahasa untuk Selamatkan Iklim

Malang.Berdampak.Net— Di balik setiap unggahan kampanye lingkungan di media sosial, ternyata ada strategi bahasa yang dirancang secara ilmiah agar pesan lebih membekas di benak audiens. Inilah yang dibuktikan Tim Riset Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) melalui kajian metafora konseptual yang didiseminasikan kepada Earth Hour Malang, Jumat (7/8/2027), di Maitri Coffee and Social Hub, Kota Malang.

Dipimpin Hanum Lintang Siwi Suwignyo, S.Pd., M.A., riset yang didanai LPPM UPNVJT ini menyasar takarir dan tagar dalam unggahan Instagram Earth Hour Malang. Fokus penelitian adalah bagaimana metafora — cara menggambarkan satu hal lewat hal lain, seperti bumi yang “sekarat” atau alam sebagai “rumah bersama” — mampu memengaruhi persepsi publik terhadap isu iklim.

Menurut tim peneliti, pemilihan metafora yang tepat tidak sekadar mempercantik kalimat, melainkan berperan membentuk cara berpikir audiens terhadap krisis lingkungan sekaligus mendorong perubahan perilaku, mulai dari hal kecil seperti mengurangi sampah plastik hingga mendukung gerakan mitigasi perubahan iklim secara luas.

Dari riset ini, tim menghasilkan luaran yang lintas bentuk: publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi Sinta 2, artikel yang akan dibawakan dalam Seminar Internasional ISRM UPNVJT pada September mendatang, buku referensi berbasis Linguistik Kognitif dan Ekolinguistik, hingga video campaign dan poster rekomendasi metafora yang bisa langsung dipakai Earth Hour Malang dalam konten media sosial mereka.

Kehadiran produk riset yang aplikatif ini mendapat sambutan hangat dari komunitas. Vice Coordinator Earth Hour Malang 2025, Abdullah Radhi Maulana, mengatakan kolaborasi dengan UPNVJT membuka cara pandang baru bagi timnya dalam menyusun konten kampanye. Senada, Coordinator Earth Hour Malang 2026, Keitha, menilai temuan soal kekuatan bahasa ini relevan dengan karakter audiens mereka yang mayoritas generasi Z, yang menurutnya lebih mudah tergerak lewat narasi yang emosional dan dekat dengan keseharian.

Efek dari riset ini pun dirasakan langsung oleh sejumlah peserta diseminasi. Salah satunya Ryan, Public Relation Earth Hour Malang, yang mengaku tersentuh usai menyaksikan video campaign hasil penelitian. Ia menyebut kebiasaan sederhana yang selama ini dijalankannya, seperti membawa tumbler sendiri, kini terasa punya makna lebih besar sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan.

Ketua tim peneliti, Hanum, menegaskan bahwa bahasa dan kesadaran manusia saling memengaruhi secara timbal balik. Cara seseorang berbahasa mencerminkan pola pikirnya, sekaligus bahasa yang digunakan dapat membentuk kembali cara pandang dan tindakan orang tersebut terhadap lingkungan.

Kolaborasi riset dan komunitas ini menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan di kampus tidak berhenti di ruang akademik, melainkan dapat diterjemahkan menjadi alat komunikasi yang aplikatif bagi masyarakat sipil, sekaligus memperkuat kontribusi dunia pendidikan tinggi dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) 13: Climate Action.