Aksi Bersih Sungai di Sukodadi Paiton: Gandeng Korporasi hingga Pelajar, Pena Hijau dan Jenggala Ajak Masyarakat Kelola Sampah dari Rumah

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (Pena Hijau) bersama komunitas Jejaring Jaga Alam (Jenggala), PT POMI, PT ISS, serta siswa-siswi SMAN 1 Paiton sukses menggelar aksi bersih sungai (river clean up) di aliran sungai Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Selasa (29/09/2026).

Kegiatan kolaboratif ini mendapat sambutan antusias dari para peserta, mulai dari pegiat lingkungan, karyawan perusahaan, hingga generasi muda yang bahu-membahu mengangkat tumpukan sampah dari badan sungai demi mengembalikan fungsi ekologisnya.

Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengungkapkan bahwa aksi bersih sungai ini merupakan agenda rutin mingguan yang secara konsisten digalakkan di berbagai wilayah. Ia juga mengapresiasi tingginya kepedulian berbagai pihak yang kini semakin masif turut serta.

“Kegiatan river clean up ini merupakan kegiatan mingguan yang konsisten kita lakukan di berbagai sungai, dan Alhamdulillah sekarang banyak pihak yang bergabung dan turut serta ikut bersih-bersih sungai,” ujar Taufiqur Rohim.

Menurutnya, aksi nyata ini dilandasi oleh keprihatinan mendalam terhadap kondisi pencemaran sungai saat ini. Masih banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan berdampak buruk langsung pada kelangsungan hidup biota air serta kesehatan masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan yang sama, Taufiqur Rohim membeberkan data yang cukup mengkhawatirkan terkait volume sampah di wilayah kerja mereka. Tercatat dari pertengahan Juli hingga pertengahan September 2026, aksi di delapan lokasi sungai di Kecamatan Paiton, Pakuniran, dan Kotaanyar berhasil mengumpulkan total 6,38 ton sampah.

Jenis sampah yang mendominasi sangat beragam, mulai dari popok bayi bekas, sampah plastik sekali pakai, hingga limbah rumah tangga.

Melalui gerakan kolektif ini, komunitas Pena Hijau tidak hanya berfokus pada pembersihan fisik semata, tetapi juga membangun kesadaran moral masyarakat agar lebih bijak memperlakukan lingkungan.

“Semoga kegiatan kecil ini bisa memberikan kesadaran kepada warga untuk tidak buang sampah ke sungai, karena sungai bukanlah tempat sampah,” pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, Founder Komunitas Jenggala, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, turut memberikan pesan kuat mengenai pentingnya kesadaran menjaga lingkungan yang harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga. Beliau mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah agar tidak lagi mencemari ekosistem perairan.

“Ayo bersama kita jaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, dari sekarang pilah sampah dari rumah, dan kelola dengan baik, jangan dibuang ke sungai lagi, sayangi alam kita,” pesan beliau.

Aksi kolaborasi antara pemuda, dunia industri, dan dunia pendidikan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi wilayah lain dalam menjaga kelestarian daerah aliran sungai secara berkelanjutan. (rd)

Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo Angkat Peran Perempuan Hadapi Krisis Iklim

PROBOLINGGO, berdampak.net – Persoalan krisis iklim tidak lagi sebatas isu lingkungan. Dampaknya mulai bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan, pangan, air, hingga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo yang digelar Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kantor Bupati Probolinggo, Senin (28/9/2026).

Sekitar 200 tokoh perempuan dari berbagai unsur hadir dalam kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut. Sarasehan mengangkat tema “Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Penanggulangan Krisis Iklim”.

Pembahasan diarahkan pada pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan, termasuk persoalan sampah dan perubahan perilaku masyarakat. Para peserta juga diminta membawa tumbler sebagai bagian dari kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, S.Th.I., mengatakan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar menjadi ruang pertama untuk membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan.

“Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia menyebut persoalan lingkungan memiliki kaitan erat dengan perilaku manusia. Karena itu, upaya menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran sekaligus perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, GOW Kabupaten Probolinggo juga menandatangani rekomendasi bersama terkait penanganan sampah. Komitmen serupa turut dibangun di internal organisasi perempuan sebagai bentuk tindak lanjut dari pembahasan sarasehan.

Sarasehan menghadirkan dua narasumber dan tiga panelis dari unsur lintas agama. Direktur Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia, A’ak Abdullah Al-Kudus, menjadi salah satu narasumber dengan materi yang mengaitkan krisis iklim dengan perspektif agama, perempuan, dan masa depan bumi.

Ia menjelaskan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada persoalan lingkungan. Perubahan iklim berkaitan dengan persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, kemiskinan hingga keadilan.

Sejumlah dampak yang muncul di antaranya kenaikan suhu bumi, hujan ekstrem dan banjir, kekeringan, gelombang panas, kenaikan muka air laut, krisis air, gangguan terhadap pangan dan pertanian serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Perempuan, kata dia, menjadi salah satu kelompok yang menghadapi kerentanan lebih besar akibat perubahan kondisi lingkungan, termasuk dalam aspek kesehatan dan reproduksi.

Sementara itu, narasumber lainnya, Zaimatus Sa’diyah dari UIN Walisongo Semarang, mengangkat tema “Merawat Bumi, Merawat Kehidupan: Agama, Perempuan, dan Kesadaran Ekologis.”

Ia memandang krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut etika, relasi kuasa dan cara manusia menjalani kehidupan.

Dalam konteks tersebut, agama dinilai memiliki peran penting karena mempunyai bahasa moral yang dapat mendorong manusia untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan.

Perubahan iklim juga dinilai dapat memperbesar ketimpangan yang telah ada. Di Indonesia, misalnya, banyak perempuan bergantung pada sektor pertanian, ketersediaan air dan perikanan yang sangat dipengaruhi kondisi iklim.

Ia kemudian memperkenalkan model “Anti 5R” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga lingkungan. Konsep tersebut meliputi Refuse atau menolak sesuatu yang tidak diperlukan, Reduce dengan mengurangi konsumsi, Reuse atau menggunakan kembali, Recycle dengan memilah dan mengolah sampah, serta Restore untuk memulihkan ekosistem.

Penerapannya dapat dimulai dari aktivitas sederhana di rumah, seperti mengolah sisa dapur menjadi pupuk sehingga sampah organik tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Dalam pembahasan, peran agama juga disebut penting karena memiliki otoritas moral dalam memengaruhi cara pandang dan perilaku masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun solidaritas sekaligus kesadaran bersama menghadapi perubahan iklim.

Ancaman krisis iklim yang semakin nyata dinilai perlu diikuti dengan gerakan yang lebih terarah. Sejumlah langkah yang didorong antara lain transisi dan penghematan energi, pelestarian hutan, advokasi kebijakan, pengelolaan sampah terpadu, pengurangan risiko bencana serta penguatan ketahanan pangan.

Dalam sesi diskusi, perwakilan Komunitas Pena Hijau turut menyampaikan pengalaman gerakan lingkungan di lapangan. Komunitas tersebut rutin melakukan kegiatan bersih-bersih sungai setiap pekan di sejumlah titik di Kabupaten Probolinggo.

Namun, gerakan membersihkan sungai dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.

Karena itu, perwakilan Pena Hijau mempertanyakan kebijakan konkret yang dapat didorong para tokoh perempuan agar gerakan kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih sungai, tetapi berkembang menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi krisis iklim.

Pertanyaan tersebut sekaligus membawa pembahasan sarasehan pada persoalan yang lebih dekat dengan kondisi di lapangan: bagaimana kepedulian lingkungan yang selama ini tumbuh melalui gerakan masyarakat dapat diperkuat menjadi kebijakan dan gerakan bersama yang berkelanjutan.

Pena Hijau dan Jenggala Gelar Aksi Bersih Sungai di Plampang Paiton, Dominasi Sampah Popok Bayi Jadi Perhatian

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh gerakan kaum muda di Kabupaten Probolinggo. Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) bersama Komunitas Jejaring Jaga Alam (JENGGALA) menggelar aksi bersih sungai (river clean up) di aliran sungai Desa Plampang, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Selasa (22/09/2026) sore.

Aksi kolaboratif ini tidak hanya melibatkan para relawan, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap kebersihan ekosistem perairan dari ancaman pencemaran sampah rumah tangga. Dalam kegiatan tersebut, tumpukan sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai didominasi oleh limbah popok bayi serta bungkus plastik makanan dan minuman.

Founder Komunitas Jenggala, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, turut hadir langsung di lokasi untuk memotivasi para relawan dan masyarakat sekitar. Ia mengajak masyarakat agar memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan mulai dari unit terkecil, yakni rumah tangga.

“Ayo bersama menjaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, terutama di sungai. Ayo kita dari sekarang harus bisa memilah sampah dari rumah, buanglah sampah di tempat sampah,” jelas Ning Umi Haniah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan masyarakat luas agar terhindar dari berbagai potensi ancaman penyakit.

“Jaga lingkungan kita, agar tetap baik dan tidak menjadi sumber penyakit,” tambahnya.

Sementara itu, Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengungkapkan bahwa kegiatan bersih sungai ini merupakan agenda rutin yang terus digalakkan oleh komunitasnya setiap pekan. Melalui aksi nyata di lapangan, pihaknya berharap dapat membangun kesadaran moral masyarakat sekitar agar tidak lagi memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

“Ini merupakan kegiatan rutin setiap pekan kami, dan semoga melalui aksi kecil ini bisa mengedukasi masyarakat untuk tidak kembali membuang sampah ke sungai, karena sungai bukan tempat sampah,” tegas Taufiq.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya kepada rekan-rekan dari Komunitas Jenggala yang telah bersinergi dan turun tangan bersama dalam aksi pembersihan sungai kali ini.

“Kami sampaikan terimakasih kepada teman-teman komunitas Jenggala, yang sudah berkenan bersama dengan kami dalam melaksanakan aksi river clean up ini,” tutupnya.

Melalui sinergi lintas komunitas dan elemen masyarakat ini, diharapkan kesadaran warga Desa Plampang dan Kabupaten Probolinggo pada umumnya semakin meningkat dalam merawat kebersihan daerah aliran sungai demi mewujudkan lingkungan yang asri, sehat, dan bebas dari sampah. (rd)

SD Teladan Al-Fatih Jadi Tuan Rumah Terapi dan Konsultasi Kesehatan Gratis di Sukodadi

Probolinggo, berdampak.net – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan dilakukan melalui kegiatan terapi dan konsultasi kesehatan gratis yang digelar Olylife di Sukodadi, Kamis (17/9/2026).


Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan terapi sekaligus berkonsultasi mengenai kesehatan secara langsung. SD Teladan Al-Fatih dipercaya menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala SD Teladan Al-Fatih, Fatatik Nuryana, S.Ag., bersama jajaran guru serta masyarakat sekitar. Kehadiran mereka menambah antusiasme dalam kegiatan yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan terapi sekaligus berkonsultasi mengenai kesehatan.


Selain memberikan layanan secara langsung, kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.


Kepala SD Teladan Al-Fatih, Fatatik Nuryana, S.Ag., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, kegiatan itu memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan.


“Alhamdulillah, sangat menginspirasi untuk terus belajar, baik dari segi pemahaman tentang pentingnya sehat. Untuk sehat harus diperjuangkan dengan pola hidup sehat,” ujar Fatatik.


Selain persoalan kesehatan, Fatatik menilai kegiatan tersebut juga memberikan semangat kepada masyarakat untuk terus belajar dan berusaha memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.


“Narasumbernya luar biasa, menginspirasi kita semua untuk selalu semangat dalam berjuang memberi manfaat. Yang pasti, ini juga peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan kita dan keluarga,” katanya.


Ia berharap kegiatan serupa dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut Fatatik, pengetahuan mengenai kesehatan perlu terus dipelajari dan diterapkan melalui kebiasaan hidup yang baik dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan menjadi tuan rumah, SD Teladan Al-Fatih turut mendukung terselenggaranya kegiatan yang memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh terapi, informasi, dan konsultasi kesehatan secara langsung.

Sungai Bukan Tempat Sampah: Pena Hijau Bersama Pemdes dan Komunitas Lokal Gelar Aksi Bersih Sungai di Pandean

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam melalui aksi river clean up (bersih sungai). Kegiatan clean up ini dilaksanakan di aliran Sungai Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (15/09/2026). Aksi peduli lingkungan ini semakin istimewa karena mendapat dukungan penuh serta diikuti langsung oleh jajaran Pemerintah Desa Pandean beserta sejumlah unsur komunitas lokal.

Kepala Desa Pandean, Fathol Wari, menyampaikan apresiasi serta rasa bangganya terhadap kepedulian para pemuda yang tergabung dalam PENA HIJAU. Menurutnya, inisiatif ini menjadi pengingat penting di tengah mulai memudarnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah saya sangat senang sekali, karena ada pemuda yang sangat peduli dengan lingkungan, karena kenapa, hari ini kesadaran masyarakat sudah mulai hilang terkait dengan lingkungan,” jelas Fathol Wari.

Ia juga mengingatkan kembali esensi hubungan harmonis antara manusia dan alam. “Sebenarnya lingkungan ini adalah sahabat kita, yang mana alam semesta ini memberikan nuansa kepada kita dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Fathol Wari berpesan kepada seluruh warganya agar mulai membiasakan diri mengelola sampah dengan benar. “Saya berharap kepada warga Desa Pandean untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga alam kita ini bisa kita rawat dan bermanfaat untuk anak cucu kita,” harapnya.

Sementara itu, Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan kolaborasi lintas elemen ini. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Pandean atas sambutan, izin, serta keikutsertaan aktif perangkat desa di lapangan.

“Ini merupakan kegiatan rutin komunitas kami, dan Alhamdulillah pada kegiatan river clean up kali ini, kami didukung oleh Pemerintah Desa Pandean, Bapak Kepala Desa beserta seluruh aparatur pemerintah desa, yang sudah memberikan izin kepada kami dalam melakukan clean up, tidak hanya itu beliau-beliau juga turut ikut serta bersama kami dalam melakukan clean up,” ujar Taufiqur Rohim.

Taufiq juga menyoroti sinergi yang kian meluas dengan dukungan dari perusahaan di Paiton, serta hadirnya berbagai komunitas lain yang turut bergabung dalam beberapa pekan terakhir. “Alhamdulillah kami juga sampaikan terimakasih kepada PT POMI Paiton, karena sudah mensupport kita peralatan dan APD dalam melakukan clean up, dan juga dalam beberapa pekan terakhir ini, ada beberapa komunitas yang berkenan untuk join dengan kita dalam river clean up, kami sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya,” tambahnya.

Melalui gerakan konsisten ini, PENA HIJAU optimis bahwa pesan moral kepedulian lingkungan dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat luas, khususnya dalam menghentikan kebiasaan buruk membuang limbah ke badan air.

“Kami tidak putus harap, karena kami yakin, dengan kegiatan kami ini, pastinya nanti bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan, terutama membuang sampah pada tempatnya, dan tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai batas waktu pelaksanaan gerakan peduli sungai ini, Taufiq menegaskan bahwa aksi kolektif tersebut akan terus berjalan hingga visi utama tercapai sepenuhnya.

“Kalau ditanya sampai kapan kita akan melakukan bersih-bersih sungai? Kami akan membersihkan sungai selama sampah masih mencemari aliran air kita. Namun, target utama kami bukan sekadar mengangkat sampah setiap minggu, melainkan menginspirasi dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Selesainya tugas kami adalah ketika menjaga sungai sudah menjadi kebiasaan sehari-hari setiap warga, dan sadar bahwa sungai bukanlah tempat sampah,” tukasnya.

Aksi ini ditutup dengan pembersihan tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai, dengan harapan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa merawat sungai adalah wujud nyata menjaga masa depan peradaban. (rd)

Gandeng DLH dan TP PKK, Komunitas Pena Hijau dan Jenggala Giatkan Bersih-Bersih Sungai Kali Taman Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan lingkungan lewat aksi cleanup river di Sungai Kali Taman, Desa Taman, Kecamatan Paiton, Selasa (08/09/2026). Dalam aksi kali ini, Pena Hijau berkolaborasi dengan Jejaring Jaga Alam (JENGGALA), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo, serta TP PKK Desa Taman.

Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo sekaligus Founder Komunitas Jenggala, Ning Umi Hani’ah Fahmi AHZ, menyambut positif inisiatif ini. Ia menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

“Hari ini kita diajak oleh Komunitas Pena Hijau dalam kegiatan bersih-bersih aliran Sungai Desa Taman Kecamatan Paiton. Kegiatan ini berkolaborasi bersama DLH Kabupaten Probolinggo, TP PKK Desa Taman beserta para kader,” ujarnya.

Ning Umi Hani’ah juga menyayangkan masih rendahnya kesadaran publik terhadap isu kebersihan sungai, terutama di kalangan kaum muda.

“Ini tentu sangat miris. Semoga nantinya semakin banyak masyarakat, terutama anak muda yang tertarik untuk tergerak dalam komunitas peduli lingkungan. Isu lingkungan memang kurang begitu populer di kalangan anak muda, padahal ini sangat penting,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Probolinggo, Mishul Sauliyah Fitriawati. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat dibutuhkan untuk menekan penumpukan limbah domestik di perairan.

“Kami sangat senang dengan adanya kolaborasi ini. Semoga kegiatan seperti ini bisa lebih sering digelar bersama komunitas, sehingga sungai-sungai dapat terbebas dari sampah, terutama sampah popok yang masih cukup tinggi dibuang masyarakat ke sungai,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh limbah yang berhasil diangkut dari sungai tidak akan dibiarkan begitu saja. “Selanjutnya sampah ini akan kami bawa ke TPS Paiton untuk dikelola dan dipilah. Sampah residu nantinya akan kami kelola lebih lanjut ke TPA,” lanjutnya.

Di sisi lain, Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terjalin. Ia mengungkapkan bahwa aksi pembersihan ini merupakan bagian dari gerakan berkelanjutan yang terus disisir ke berbagai titik lokasi.

“Kami sampaikan terima kasih kepada komunitas Jenggala, DLH Kabupaten Probolinggo, dan Pemerintah Desa Taman yang sudah meluangkan waktunya untuk berkolaborasi bersama kami. Kegiatan semacam ini merupakan agenda rutin kami sepekan sekali dengan berpindah-pindah sungai di lingkup Kecamatan Paiton, Kotaanyar, dan Pakuniran. Ini sudah sungai kelima yang kita bersihkan,” jelas Taufiq.

Melalui konsistensi aksi lapangan ini, Pena Hijau berharap dapat mendorong perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah pemukiman secara lebih bijak.

“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan dampak positif dengan bisa membangun budaya masyarakat untuk menjaga lingkungan, terutama kebersihan sungai. Sehingga pada musim hujan nantinya desa-desa aman dari bencana banjir dan persoalan lingkungan lainnya,” pungkasnya.