Museum Litosfer Buatan Guru: Metaverse Masuk Kelas Geografi di Kota Batu


Batu, Berdampak.net – Di tengah tuntutan Society 5.0, guru geografi di Kota Batu, Jawa Timur, mengaku masih kewalahan membuat media ajar yang interaktif dan realistis. Untuk menjawabnya, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Malang bersama Universitas Gadjah Mada mendampingi 16 guru anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Kota Batu merancang media tiga dimensi berbasis metaverse. Pendampingan hybrid itu berlangsung pada 6-7 Juli 2026, sesi daring lewat Google Meet dan sesi tatap muka di SMA Negeri 1 Batu.
Sebanyak 16 guru itu bukan seluruh anggota MGMP. Menurut tim, organisasi tersebut beranggotakan sekitar 30 guru aktif, dan peserta dipilih dengan purposive sampling. Syaratnya, mereka aktif dalam kegiatan MGMP, siap memasukkan teknologi informasi ke kelas, dan benar-benar butuh media belajar spasial yang inovatif. Pendampingan dibuka oleh Ketua MGMP Geografi Kota Batu.

Sesi daring pengenalan metaverse lewat Google Meet pada hari pertama.
Hari pertama diisi pengantar tentang pembelajaran mendalam (deep learning), pedagogi imersif, dan arsitektur dasar platform metaverse. Hari kedua, para guru turun ke bengkel kerja di auditorium SMA Negeri 1 Batu. Di sana, mereka merancang ruang virtual 3D dan menyusun skenario belajar berbasis proyek. Sebelumnya, mahasiswa yang terlibat dibekali metode ABCD dan CBR agar bisa memetakan aset sekolah serta karakter guru sebelum memberi pendampingan. Hasil pemetaan menjadi dasar modul praktis desain metaverse untuk topik litosfer.
Dari bengkel itu lahir karya seperti museum litosfer 3D dan model topografi Andongrejo, lengkap dengan label jenis batuan, potongan lapisan bawah permukaan, dan medan yang bisa dijelajahi. Kemajuan guru dinilai lewat empat instrumen: lembar observasi, panduan wawancara semiterstruktur, lembar refleksi, dan rubrik penilaian produk yang menimbang kelengkapan, ketepatan spasial, dan interaktivitas. Tim juga mengecek silang temuan dengan triangulasi sumber dan member checking, yakni meminta sejumlah guru memverifikasi temuan awal.

Guru merancang dan merender aset 3D litosfer di laptop.
Para guru menyebut kelas mereka sebelumnya didominasi ceramah dan slide statis. Setelah pendampingan, seorang guru mengatakan siswa kini tak lagi hanya menatap gambar dua dimensi di buku, tetapi bisa berdiskusi menganalisis kawasan rawan longsor di ruang virtual. Ketua MGMP menilai kegiatan ini membuka arah baru karena selama ini guru lazimnya berhenti di perangkat presentasi seperti PowerPoint.
Kendala tetap ada. Spesifikasi komputer sekolah yang tak merata dan koneksi internet yang kerap lambat menyulitkan pemuatan objek 3D yang kompleks. Guru menyiasatinya dengan platform web yang ringan seperti Spatial.io dan FrameVR, lalu membagi siswa dalam kelompok kecil dengan satu perangkat. Satu siswa menjadi navigator di ruang 3D, rekannya mengamati indikator geografis di lembar kerja dan memimpin diskusi mitigasi bencana.

Peserta seminar pendampingan media metaverse di Batu.
Tim peneliti sendiri memberi catatan. Peserta yang dipilih berdasarkan kesiapan teknologi kemungkinan sudah cukup percaya diri dengan perangkat digital, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi guru yang minim paparan teknologi. Antusiasme siswa pun, tulis mereka, sebagian lahir dari kerja kelompok bergilir itu sendiri, bukan semata platformnya. Karena pendampingan berlangsung singkat, peningkatan kompetensi dibaca sebagai awal perubahan sikap dan keberanian mencoba, bukan penguasaan penuh. Tanpa pendampingan berkelanjutan dari sekolah, dinas pendidikan, atau komunitas praktik MGMP, mereka khawatir percaya diri guru memudar begitu mentoring usai.
Penulis: Adip Wahyudi, Evi Fitriana, Slamet Arifin, Dewa Putra Cisnaulin, dan Feri Fahrian Maulana.

Guru Geografi Batu Belajar Meracik Dunia 3D, Gunung dan Longsor Kini Bisa Dijelajahi di Layar


Batu, Berdampak.net – Selama ini, gunung, lapisan bumi, dan lereng rawan longsor di kelas geografi lebih sering hadir sebagai gambar datar di buku atau slide presentasi. Awal Juli 2026, 16 guru geografi yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Kota Batu mencoba cara lain: membangun sendiri ruang tiga dimensi berbasis metaverse. Pendampingan itu digelar selama dua hari, 6-7 Juli, secara hybrid, oleh tim pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Malang (UM) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hari pertama berlangsung daring lewat Google Meet. Para guru dikenalkan pada urgensi pembelajaran mendalam (deep learning), kerangka pedagogi imersif, serta arsitektur dasar platform metaverse. Esok harinya, mereka berkumpul tatap muka di auditorium SMA Negeri 1 Batu, sekolah yang dipilih sebagai tuan rumah karena fasilitasnya memadai dan statusnya sebagai salah satu sekolah unggulan di kota itu. Di sana, guru praktik langsung merancang ruang virtual 3D sambil menyusun skenario belajar berbasis proyek secara berkelompok.

Peserta dan tim pendamping dalam seminar pendampingan media metaverse di Batu.
Program bertajuk pendampingan pengembangan media virtual interaktif berbasis metaverse ini memakai pendekatan service learning, yakni mahasiswa terlibat sebagai mitra guru sejak perencanaan hingga evaluasi. Sebelum turun ke lapangan, mahasiswa dibekali metode Asset-Based Community Development (ABCD) dan Community-Based Research (CBR) untuk memetakan aset sekolah dan profil guru. Dari pemetaan itu, tim menyusun modul praktis tentang litosfer, dari lapisan bumi, jenis batuan, hingga bentang alam pegunungan. Hasilnya antara lain museum litosfer 3D dan model topografi Andongrejo.

Proses rendering aset metaverse oleh peserta.
Kegiatan ini lahir dari kegelisahan guru. Dalam wawancara awal, mereka mengaku kesulitan membuat materi digital 3D karena keterbatasan keterampilan desain, waktu yang sempit, dan belum adanya pelatihan terstruktur. Akibatnya, pembelajaran sering bertumpu pada ceramah dan slide statis yang membuat siswa pasif. Karyawisata pun kerap terganjal biaya, jangkauan lokasi, dan keselamatan. Metaverse ditawarkan sebagai jalan keluar karena memungkinkan siswa menjelajah permukaan bumi, mengamati mitigasi bencana seperti letusan gunung api dan longsor, serta menelaah pola permukiman tanpa meninggalkan kelas.
Hasilnya, menurut temuan tim, terasa pada cara mengajar. Guru yang semula kesulitan menjelaskan fenomena spasial abstrak, seperti bentang pegunungan dan kerentanan bencana, kini bisa menampilkannya secara kontekstual. Seorang peserta menyebut, lewat metaverse siswa tak lagi sekadar melihat gambar dua dimensi, tetapi berdiskusi dan menganalisis kawasan rawan longsor bersama di ruang virtual. Pengurus MGMP menilai pendampingan ini membuka arah baru bagi organisasi, sebab guru selama ini umumnya hanya memakai perangkat presentasi seperti PowerPoint.

Lingkungan virtual metaverse yang dibangun dengan platform Spatial.io.
Tentu tak semulus yang dibayangkan. Spesifikasi komputer sekolah yang terbatas dan koneksi internet yang naik-turun menyulitkan proses rendering objek 3D yang berat. Para guru menyiasatinya dengan memakai platform berbasis web yang ringan, seperti Spatial.io dan FrameVR, serta merancang skenario satu perangkat untuk banyak pengguna. Dalam skema ini, satu siswa menjadi navigator di ruang 3D, sementara anggota kelompok lain mengamati indikator geografis di lembar kerja dan memimpin diskusi analisis mitigasi. Siasat itu, tulis tim peneliti, sekaligus menepis anggapan bahwa teknologi canggih selalu membuat siswa terisolasi.
Tim mengakui ada batasan, antara lain jumlah peserta yang relatif kecil dan cakupan yang hanya satu wilayah MGMP, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi. Mereka menyarankan riset lanjutan yang mengukur dampak jangka panjang metaverse terhadap capaian belajar siswa.
Penulis: Adip Wahyudi, Evi Fitriana, Slamet Arifin, Dewa Putra Cisnaulin, dan Feri Fahrian Maulana.

IGPAUD Muslimat NU Jabon Kenalkan Tata Cara Ibadah Haji kepada Anak Usia Dini

Pasuruan, berdampak.net – Ikatan Guru Pendidik Anak Usia Dini (IGPAUD) Muslimat NU Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, mengenalkan tata cara ibadah haji kepada anak usia dini melalui kegiatan Gebyar Manasik Haji Cilik di Kebun Kurma Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan tahapan ibadah haji sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini. Melalui praktik manasik, anak-anak diajak mengenal rangkaian ibadah haji, mulai dari niat, doa-doa yang dibaca selama pelaksanaan, hingga berbagai tahapan simbolis dengan menggunakan sarana peraga.

Ketua IGPAUD Muslimat NU Kecamatan Jabon, Ainun Jariyah, S.Pd.AUD., mengatakan kegiatan manasik haji menjadi salah satu sarana pembelajaran agama yang dikemas secara langsung dan menyenangkan bagi anak-anak.

“Melalui kegiatan Manasik Haji Cilik ini, kami berharap nilai-nilai ajaran Islam dapat tertanam lebih mudah dalam diri anak. Tujuan utamanya agar anak tumbuh dengan mengenal dan mencintai ajaran Islam, khususnya ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima,” ujarnya.

Menurut Ainun, pengenalan ibadah haji sejak usia dini diharapkan dapat membantu anak memahami makna dan tahapan pelaksanaannya. Pembelajaran melalui praktik juga menjadi cara untuk mendekatkan anak pada nilai-nilai agama melalui pengalaman yang mudah dipahami.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap ajaran Islam serta membangun pemahaman tentang pentingnya ibadah haji, sehingga kelak mereka memiliki keinginan untuk menunaikannya ketika mampu.

Bentuk Karakter dan Jiwa Kepemimpinan Inavatif. SMAN 2 Sampang Gelar LDKS MPK-OSIS Angkatan XXXV


SAMPANG, Berdampak.net – SMA Negeri 2 Sampang menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) bagi Pengurus MPK (Majelis Perwakilan Kelas) dan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) Angkatan XXXV Periode 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 2–4 Oktober 2026 ini dirancang untuk menggembleng mental serta mengasah kapasitas kepemimpinan para pengurus baru.Mengusung agenda penguatan karakter, LDKS tahun ini terasa berbeda dan penuh semangat berkat kolaborasi khusus dengan tim profesional outbond, REDCROSS OUTBOND ORGANIZER. Melalui kerja sama ini, seluruh peserta diajak menyelami berbagai materi kepemimpinan serta simulasi team building yang dinamis dan interaktif.

Kepala SMAN 2 Sampang yaitu Bapak Dimas Bayu Perdana Putra, M.Pd. menyampaikan bahwa LDKS bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan kawah candradimuka untuk melahirkan calon-calon pemimpin masa depan.

“Melalui kolaborasi dengan Redcross Outbond Organizer, kami ingin membentuk karakter team building yang solid. Kami berharap seluruh pengurus MPK-OSIS Angkatan XXXV tidak hanya memiliki keterampilan berorganisasi, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, berintegritas, serta mampu menghadirkan inovasi-inovasi positif bagi sekolah,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta disuguhi serangkaian kegiatan intensif. Selain mendapatkan pembekalan materi manajerial organisasi, analisis masalah, dan komunikasi efektif, peserta juga ditantang dalam berbagai wahana simulasi outbond. Wahana interaktif tersebut dirancang untuk melatih kerja sama tim (teamwork), pemecahan masalah (problem solving), hingga pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di bawah tekanan.

Perwakilan dari REDCROSS OUTBOND ORGANIZER menjelaskan bahwa konsep permainan dan tantangan yang disajikan berfokus pada penguatan empati, kepercayaan antaranggota, serta kepemimpinan adaptif.
“Kami merancang simulasi agar setiap peserta paham bahwa keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh satu individu, melainkan oleh kekompakan dan sinergi seluruh tim,” ungkapnya.

Raut antusiasme dan semangat pantang menyerah terlihat jelas pada wajah para peserta sepanjang kegiatan. Antara kelelahan dan kebahagiaan, rasa kebersamaan antar sesama pengurus MPK dan OSIS kian erat terjalin.

Dengan digelarnya LDKS ini, Pengurus MPK-OSIS SMAN 2 Sampang Angkatan XXXV Periode 2026/2027 resmi siap menjalankan roda organisasi satu tahun ke depan dengan semangat baru, jiwa kepemimpinan yang berkarakter, dan gagasan-gagasan yang inovatif.

SMADA Sampang Tingkatkan Kesadaran Hak Anak, Hadirman Edukasi Perlindungan Anak bersama Dinsos PPA

SAMPANG, Berdampak.net — SMA Negeri 2 Sampang terus menunjukkan komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Edukasi Hak-Hak dan Perlindungan Anak yang dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA).

Kegiatan edukatif tersebut turut dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang, Bapak Mas’udi Hadiwijaya, M.Pd., serta seluruh wali murid kelas X dan XI yang hadir sebagai tamu undangan. Kehadiran para wali murid menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara sekolah dan keluarga dalam memberikan pemahaman serta perlindungan terbaik bagi peserta didik.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa dan wali murid untuk mendapatkan pemahaman mengenai berbagai hak yang melekat pada diri anak, bentuk-bentuk perlindungan anak, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Melalui edukasi tersebut, para peserta diajak untuk memahami bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat.

Bagi peserta didik, kegiatan ini memberikan bekal untuk lebih mengenali hak-haknya, menghormati hak orang lain, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan keamanan dan perlindungan dirinya.

Sementara bagi para wali murid, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga dalam mendampingi, mengawasi, dan memberikan ruang tumbuh yang positif bagi anak. Sinergi antara orang tua dan sekolah diharapkan mampu menciptakan pola pendampingan yang semakin harmonis dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi peserta didik.

Kehadiran Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang juga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya SMADA Sampang dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, pemenuhan hak, serta perlindungan peserta didik.

Kolaborasi SMADA Sampang bersama Dinsos PPA menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.

Melalui kegiatan ini, SMADA Sampang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program edukatif dan inovatif yang melibatkan seluruh elemen pendidikan, termasuk peserta didik, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan terkait.

Dengan semangat kebersamaan, SMADA Sampang mengajak seluruh orang tua, pemerintah, lembaga terkait, serta masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dan kepedulian terhadap perlindungan anak. Karena ketika sekolah dan keluarga berjalan bersama, lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak akan semakin mudah diwujudkan.

Bersama SMADA Sampang, mari bergerak, bersinergi, dan berkolaborasi untuk menciptakan ruang tumbuh terbaik bagi generasi muda—anak terlindungi, sekolah aman, dan generasi semakin gemilang.

Alumni SMADA Sambang Sekolah, Dukung SIKAP Lewat Donasi Bibit Hidroponik

Sampang – Kepedulian terhadap dunia pendidikan tidak selalu berhenti setelah seseorang menyelesaikan masa sekolahnya. Semangat tersebut ditunjukkan oleh Mas Ardi, alumni SMA Negeri 2 Sampang (SMADA) yang kini berkiprah sebagai Penyuluh Pertanian Kabupaten Sampang, dengan kembali menyambangi almamaternya sebagai wujud kepedulian terhadap pengembangan program SIKAP (Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan).

Dalam kunjungannya ke SMADA, Mas Ardi turut memberikan dukungan nyata berupa bantuan bibit kangkung, sawi, dan selada untuk dikembangkan dalam project hidroponik di Green House SMADA. Bantuan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan program ketahanan pangan berbasis sekolah sekaligus menjadi media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik.

Program hidroponik di Green House SMADA tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang memperkenalkan peserta didik pada praktik pertanian modern, pemanfaatan teknologi sederhana, serta pentingnya menjaga ketahanan pangan sejak dini.

Kehadiran alumni yang terlibat langsung dalam pengembangan program sekolah menjadi energi positif bagi SMADA. Kolaborasi antara alumni, sekolah, dan sektor pertanian menunjukkan bahwa pendidikan akan semakin kuat ketika didukung oleh berbagai pihak yang memiliki kepedulian dan komitmen terhadap masa depan generasi muda.

Sebagai seorang penyuluh pertanian, Mas Ardi juga memiliki pengalaman dan pengetahuan yang relevan untuk mendukung pengembangan project hidroponik di sekolah. Sinergi tersebut diharapkan dapat membuka ruang pembelajaran yang lebih luas bagi siswa, khususnya dalam mengenal dunia pertanian, inovasi teknologi pangan, serta peluang pengembangan pertanian berkelanjutan.

Bagi SMADA, dukungan alumni bukan sekadar bantuan bibit, tetapi merupakan bentuk nyata “kembali memberi untuk almamater”. Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol kepedulian, kolaborasi, dan harapan agar program SIKAP terus tumbuh serta memberikan manfaat bagi warga sekolah.

Melalui SIKAP, SMADA terus mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, kreatif dalam berinovasi, dan memiliki kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan.

Dari alumni untuk almamater, dari Green House untuk pembelajaran, dan dari SMADA untuk masa depan ketahanan pangan. Semangat kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah kecil yang terus tumbuh menjadi gerakan besar dalam membangun budaya sekolah yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan.