Kolaborasi Perusahaan dan PMI-JFF, Dua Anak Probolinggo Jalani Operasi Katarak Gratis di Jember

Jember, Berdampak.net – Dua anak asal Kabupaten Probolinggo berhasil menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember. Keberhasilan kegiatan bakti sosial ini tak lepas dari sinergi PMI Kabupaten Probolinggo dengan John Fawcett Foundation (JFF) Indonesia, serta dukungan dari pihak perusahaan yang turut menghadirkan layanan kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan.

Kegiatan pendampingan penuh dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo bersama JFF Indonesia pada Jumat (3/7/2026). Peran PMI tampak sejak proses seleksi dan persiapan keberangkatan hingga pengawalan langsung selama pelayanan.

Kedua pasien berasal dari Kecamatan Banyuanyar dan Kecamatan Kraksaan. Mereka diberangkatkan dari Markas PMI Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (1/7/2026). Setibanya di Jember, kedua anak menjalani general check-up pada dan kemudian Setelah dinyatakan layak, operasi katarak segera dilakukan oleh tim medis JFF yang berkolaborasi dengan RS Bina Sehat Jember.

Ketua PMI Kabupaten Probolinggo, dr. Adi Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya pada dukungan kemanusiaan dari jejaring mitra dan perusahaan. Ia menegaskan, program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dapat menghadirkan dampak langsung bagi masyarakat.

Sebagai bentuk perhatian dan memastikan pelayanan berjalan optimal, PMI memberangkatkan pengurus untuk mendampingi. Para pendamping bertugas memberikan dukungan moril kepada pasien dan keluarga, mulai dari proses persiapan hingga masa pemulihan awal. Menurut rencana, pembukaan perban serta pemeriksaan lanjutan akan dilakukan kemudian dan Jika hasil medis baik di lanjutkan pemulangan kembali ke Probolinggo.

Sementara itu, JFF Indonesia dan tim medisnya menjalankan peran kunci dalam aspek layanan kesehatan, mulai dari asesmen awal hingga pelaksanaan operasi. Dukungan perusahaan turut memperkuat terlaksananya program, sehingga PMI dan JFF bisa menghadirkan pelayanan bagi lebih banyak penerima manfaat.

PMI Kabupaten Probolinggo juga menyampaikan terima kasih kepada JFF Indonesia, PT POMI Paiton Energy, serta seluruh tim medis. Semua pihak berharap Semoga sinergi sosial dan kemanusiaan yang positif ini terus berlanjut untuk membantu lebih banyak masyarakat di kabupaten Probolinggo. kegiatan ini menjadi awal kehidupan baru bagi pasien dan dengan penglihatan yang kembali, l langkah besar lain seperti menempuh pendidikan lanjut untuk meraih cita-cita akan terbuka lebar.

Grand Launching Perumahan Graha Mutiara Taman Paiton: Usung Visi Hunian Tumbuh dan Berdaya Secara Ekonomi

Probolinggo, Berdampak.net – Kehadiran kawasan hunian baru di wilayah Paiton, Probolinggo, kini tidak sekadar menawarkan bangunan fisik untuk berteduh, melainkan sebuah ekosistem baru bagi tumbuh kembang keluarga dan penguatan ekonomi lokal. Hal ini ditegaskan dalam acara Grand Launching Perumahan Graha Mutiara Taman Paiton Probolinggo yang berlangsung meriah.

​Dalam sambutannya di atas panggung utama, Mohammad Ilham Apiril selaku owner menyampaikan visi mendalam di balik pembangunan proyek perumahan subsidi dan komersial tersebut. Menurutnya, konsep rumah yang diusung oleh Graha Mutiara Taman melampaui fungsi tradisional sebuah bangunan penahan terik dan hujan.

​”Rumah bukan sekadar tempat berteduh, tapi rumah adalah tempat yang penuh harapan dan wadah bagi anak-anak kita untuk tumbuh serta berkembang dengan baik,” ujar Mohammad Ilham Apiril di hadapan para undangan dan calon penghuni.

​Lebih lanjut, Ilham menekankan bahwa kawasan perumahan ini dirancang untuk menjadi motor penggerak baru bagi kesejahteraan para penghuninya kelak. Penataan kawasan yang terintegrasi diharapkan mampu membuka peluang-peluang usaha yang mendukung kemandirian finansial keluarga.

​”Harapannya, rumah ini menjadi tempat berkembangnya perekonomian untuk anak-anak kita berkembang ke depan,” tambahnya dengan penuh optimistis.

​Momentum peresmian ini, manajemen Graha Mutiara Taman juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kualitas bangunan dan pelayanan yang prima. Sebagai pengembang, mereka berharap kehadiran kompleks hunian ini dapat memberikan kontribusi nyata yang positif bagi pembangunan daerah serta pemenuhan kebutuhan papan di Probolinggo.

​”Semoga bisa menghadirkan karya-karya terbaik bagi masyarakat dan semoga Graha Mutiara Taman bisa amanah melayani masyarakat,” pungkasnya.
​Acara yang berlangsung di area terbuka dengan latar pemandangan alam Paiton ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, perwakilan mitra perbankan serta jajaran terkait.

Berdasarkan pamflet informasi di lokasi acara, Graha Mutiara Taman menyediakan pilihan hunian skema subsidi maupun komersil yang siap mendukung produktivitas keluarga modern di Probolinggo. (fiq)

Jurnalistik Jadi Ladang Dakwah, Humas Nurul Jadid Bincang Kehumasan Bersama Wartawan Profesional


Probolinggo, Berdampak.net — Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengabaikan etika dan kebenaran fakta, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengambil sikap tegas: menjadikan jurnalistik sebagai sarana dakwah. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam kegiatan bincang kehumasan yang digelar di ruang rapat pesantren, mempertemukan tim Humas Nurul Jadid dengan jajaran humas lembaga-lembaga di bawah naungannya.

Keresahan terhadap banjir informasi tanpa verifikasi menjadi alasan utama digelarnya forum ini. Bukan tanpa sebab—informasi yang tidak akurat dinilai berpotensi menyesatkan opini publik jika tidak diimbangi pemberitaan yang bertanggung jawab. Untuk itu, penguatan kapasitas kehumasan di lingkungan pesantren dipandang sebagai langkah mendesak.

Forum kali ini menghadirkan Muhammad Iqbal, wartawan Times Indonesia, yang berbagi perspektif praktis dari dunia jurnalistik profesional. Satu pesan yang ia tekankan cukup mengena: nilai sebuah berita tidak berhenti pada tersampaikannya informasi. Berita yang baik, katanya, harus mendidik—bukan sekadar lewat begitu saja tanpa makna bagi pembacanya.
Iqbal juga mengingatkan pentingnya menjaga etika jurnalistik dan akurasi fakta dalam setiap proses produksi berita, termasuk yang dikerjakan oleh humas pesantren maupun lembaga pendidikan. Baginya, humas bukan sekadar penyampai kabar, melainkan juga penjaga nama baik dan citra lembaga.

Diskusi berlangsung hidup. Para peserta aktif melontarkan pertanyaan, mulai dari teknik penulisan berita hingga strategi menghadapi banjir informasi yang tidak akurat—bekal yang dinilai penting bagi pengelola humas lembaga di lingkungan Nurul Jadid dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Forum ini pun tak sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga ruang silaturahmi antarhumas lembaga untuk menyamakan visi dalam mengelola informasi kepesantrenan. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan kapasitas sumber daya kehumasan.

Kasubag Humas dan Infokom Ponirin Mika berharap setiap pemberitaan yang dihasilkan tak hanya informatif, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang membawa manfaat dan edukasi positif bagi masyarakat luas.

Pembatasan Media Sosial untuk Anak: Perlindungan atau Pembungkaman?

Oleh: Noris soleh

Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan

Media sosial telah berkembang menjadi aspek penting dalam kehidupan kontemporer, bahkan bagi kaum muda. Saat ini, platform digital berfungsi sebagai platform untuk belajar, berekspresi, dan berinteraksi, selain sebagai sumber hiburan. Namun, akses yang semakin luas ini menimbulkan pertanyaan penting: seberapa mampukah anak-anak menggunakan media sosial secara bertanggung jawab? Penggunaan media sosial oleh anak-anak telah menjadi topik diskusi, yang memicu perdebatan tentang apakah ini merupakan cara untuk melindungi mereka atau justru menghambat kemandirian mereka.

Dari sudut pandang Islam, kebebasan memiliki batasan. Islam mempromosikan gagasan hurriyah, atau kebebasan, yang selalu disertai dengan kewajiban moral dan kebajikan. Anak-anak tentu membutuhkan perhatian dan bimbingan karena mereka masih dalam tahap perkembangan sebagai individu. Oleh karena itu, dalam Islam, mengambil kendali bukanlah sarana pengekangan melainkan komponen dari proses pendidikan (tarbiyah) untuk menegakkan moralitas dan fitrah. Dalam hal ini, otoritas media sosial dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi anak-anak dari pengaruh berbahaya yang dapat merusak moral dan karakter mereka.

Media sosial menawarkan dua aspek penting dari sudut pandang pendidikan. Media sosial membuat berbagai informasi dapat diakses, mempercepat pembelajaran, dan mendorong kreativitas anak-anak. Di sisi lain, perkembangan kognitif dan emosional anak-anak dapat terhambat oleh paparan konten yang tidak sesuai usia, budaya saat ini, dan kecanduan digital. Paparan berlebihan terhadap media sosial dapat menyebabkan anak-anak kehilangan konsentrasi dalam belajar dan kesulitan menjalin hubungan positif dengan orang lain dalam kehidupan nyataHal ini mendukung pernyataan Sherry Turkle bahwa, meskipun secara fisik “terhubung,” orang-orang mungkin kehilangan kedalaman hubungan sosial mereka sebagai akibat dari teknologi.

Pengembangan manusia yang berpengetahuan dan beradab adalah tujuan utama pendidikan Islam. Teori pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas sangat menekankan pengajaran tata krama sebelum pengetahuan. Evaluasi tata krama yang baik akan terganggu oleh arus informasi yang tidak terkendali jika anak-anak diizinkan mengakses media sosial tanpa batasan. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, upaya-upaya tersebut bukan hanya pilihan.

Media sosial telah mengubah cara anak-anak berkomunikasi satu sama lain dan membentuk identitas merekaBanyak anak menggunakan validasi digital, termasuk jumlah “suka” dan “pengikut,” untuk mengukur nilai diri mereka sendiri. Krisis identitas, kecemasan, dan penderitaan psikologis dapat diakibatkan oleh kondisi ini. Lebih jauh lagi, kesehatan mental anak-anak sangat terancam oleh meningkatnya perundungan siber dan penyebaran konten berbahaya. Menurut penelitian Jean Twenge, anak-anak dan remaja yang lebih sering menggunakan media sosial juga mengalami tingkat kecemasan dan kesedihan yang lebih tinggi.

Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi memiliki efek yang merugikan. Anak-anak yang terlalu terkekang mungkin menjadi curiga, kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan diri, dan tertinggal dalam literasi digital mereka. Kemampuan untuk menggunakan media sosial secara bertanggung jawab adalah keterampilan penting dalam masyarakat yang semakin digital. Oleh karena itu, pengawasan yang bijaksana dan instruktif adalah tindakan yang lebih baik daripada pelarangan total.

Cara individu, khususnya orang tua dan pendidik, menggunakan media sosial adalah perhatian utama, bukan platform itu sendiri. Kita sering kali terjebak dalam salah satu dari dua ekstrem: kebebasan tanpa batas atau pembatasan yang ketat. Tetapi keseimbanganlah yang dibutuhkan. Gagasan Neil Postman berfungsi sebagai pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus mendorong teknologi, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, mengembangkan literasi digital berbasis nilai adalah pendekatan yang lebih bermanfaat. Anak-anak perlu dibimbing secara aktif oleh orang tua dan pendidik, yang juga harus mengajari mereka tentang etika media sosial dan menanamkan rasa tanggung jawab dalam aktivitas digital mereka. Mengajarkan “cara menggunakan” hanyalah satu aspek pendidikan; aspek lainnya adalah mengajarkan “cara berperilaku.”

Lebih lanjut, untuk mengendalikan penggunaan media sosial oleh anak-anak tanpa membatasi kemampuan mereka untuk belajar dan berkembang, pemerintah dan lembaga pendidikan harus menerapkan undang-undang yang masuk akal. Perlindungan, bukan pembungkaman, harus menjadi tujuan peraturan.

Mengendalikan penggunaan media sosial anak-anak pada akhirnya bermuara pada keseimbangan antara perlindungan dan penindasan. Tindakan ini dapat menjadi jenis perlindungan yang membebaskan jika dilakukan dengan strategi yang tepat berdasarkan cita-cita, pendidikan, dan kasih sayang. Namun, jika dilakukan tanpa bimbingan dan pemahaman, hal itu dapat mengakibatkan pembungkaman yang menghambat kemajuan.

*Segala bentuk judul dan isi artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Cendekia dalam Ruang Demikrasi, Politik dan Penguasa

Oleh Raden bindoro Moh Ali Muhsin rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan dan Pengurus ICMI Kabupaten Pamekasan.

Sejak zaman pra-Socrates, kaum intelektual berkembang dengan pesat. Mereka mencari pengetahuan non-materialistis yang berorientasi dengan humanisme universal dan menjadi landasan masyarakat yang berkeadaban. Semua berubah di awal abad ke-20, kaum intelektual mulai meninggalkan keterikatan mereka pada nilai-nilai yang filosofis dan ilmiah tradisional.Mereka diuntungkan dengan jabatan yang prestise, gaji yang tinggi, tunjangan, hibah proyek, dan keuntungan materil lainnya. Hanya sebagian kecil dari mereka yang tetap menjadi mitra kritis pemerintah karena telah terkooptasi dengan kekuasaan yang menjanjikan dan menyejahterakan.Tanggung jawab kaum intelektual adalah mengatakan hal yang benar dan mengungkap kebohongan meski dapat merugikan kepentingan kelompok dan pribadi nya, dan seharusnya mengedepankan kepentingan kemanusiaan. Ada paradoks getir tentang hidup yang mungkin pernah kita rasakan tanpa bisa menyebutnya: 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗿𝗮𝗺𝗮𝗵 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗹𝘀𝘂𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘁𝘂𝗹𝘂𝘀𝗮𝗻.

Orang baik dibalas dengan kecurigaan, kejujuran dianggap naif, hati yang bersih justru dijadikan sasaran empuk untuk dilukai.Dunia yang takut pada yang baik , dan kepintaran yang menjadi penjara (Raden Bindoro Muh Ali Muhsin Rofiey Notonogoro Ama,Spd.I) Yang menjadi Faktor rusaknya pondasi penguasa kita adalah rapuhnya integritas kaum cendekia. Padahal, semestinya, kaum cendekia memikul tanggungjawab social control terhadap politik dan demokrasi kita. Ia merupakan garda terdepan dalam memberikan pendidikan politik (political education) kaum cendekia jangan sampai tersandera oleh kepentingan pragmatis-oportunis oligarki yang membekingi di belakangnya. Di sinilah tanggung jawab kaum cendekia kita yang harus di rawat dan di pertahankan.

Saat ini, penguasa kita menghadapi berbagai persoalan yang pelik dan membutuhkan berbagai gagasan, ide kreatif dan solutif. Kaum cendekia diharapkan mampu memberikan berbagai pandangan yang jernih, objektif serta berbasis data guna memberikan pengayaan perspektif atau alternatif jawaban terhadap persoalan penguasa kita. Tetapi kita juga harus tahu, dari tahun ke tahun, masa ke masa, selalu akan ada kaum cendekia yang menggadaikan nilai-nilai kebenaran ilmiah. Dan tentu saja, selalu ada kaum cendekia yang gagal menjaga integritas akademiknya maupun keilmuannya.Cendekia sejati bukan hanya yang pandai berpikir, tetapi yang hatinya jernih dan integritasnya tegak. Ia tahu bahwa ilmu tanpa nurani adalah kehampaan. Tetapi kini, banyak yang mabuk oleh kepalsuan intelektual, mengutip tanpa memahami, menulis tanpa kesadaran, dan berbicara tanpa tanggung jawab. Mereka meminjam nama ilmu untuk menjustifikasi kepentingan pribadi.

Fenomena ini sesungguhnya adalah gejala pergeseran orientasi pengetahuan. Ketika ilmu
dipisahkan dari etika, ia kehilangan daya pencerahannya. Ilmu menjadi alat, bukan nilai. Tujuannya bergeser dari pencerahan menjadi pencitraan.dalam kultur akademik dan sosial kita, intelektualitas sering lebih dihargai dari pada integritas. Gelar lebih dipuja daripada kejujuran. Diskusi lebih ramai daripada kerja nyata. Kita mengidolakan kecerdasan logika, tapi melupakan kecerdasan hati. Akibatnya, lahirlah generasi pintar yang kehilangan arah moral.

Cendekia yang tidak lagi bijak adalah cermin dari krisis lebih besar: krisis kemanusiaan dalam dunia berpikir. Mereka yang seharusnya menuntun justru tersesat di antara pujian dan kepentingan. Mereka menguasai teori etika, tapi gagap ketika harus mempraktikkannya. Mereka fasih berbicara tentang kebenaran, tapi takut menyampaikannya bila mengancam posisi.

Ilmu tanpa kebijaksanaan akan melahirkan kesombongan. Dan kesombongan adalah musuh utama pengetahuan. Ketika seorang cendekia merasa dirinya paling benar, ia berhenti belajar.

Ia kehilangan kemampuan untuk mendengar dan merenung. Ia menilai orang lain dari logika, bukan dari kemanusiaan. Dari sinilah muncul arogansi intelektual, keangkuhan yang menutup pintu kebenaran itu sendiri.

Sudah saatnya kita mengembalikan makna intelektual pada akar moralnya. Ilmu harus kembali berpihak pada kejujuran dan kemaslahatan manusia. Perguruan tinggi bukan sekadar pabrik gelar, tetapi taman kebijaksanaan. Diskusi akademik harus menjadi ruang pencarian makna, bukan arena pengukuhan ego.

Cendekia yang bijak bukanlah yang paling banyak bicara, melainkan yang paling berhati-hati dalam berbicara. Ia tidak tergesa menghakimi, tidak mudah menyalahkan, dan tidak cepat membenarkan diri. Ia sadar bahwa setiap pengetahuan membawa konsekuensi moral.Cendekia berperan sebagai kompas moral dan kekuatan penyeimbang dalam ruang demokrasi dan politik. Mereka menjembatani masyarakat dengan penguasa melalui gagasan berbasis data, menjaga diskursus tetap rasional, serta melakukan kontrol sosial terhadap potensi penyalahgunaan kekuasaan demi terwujudnya keadilan bagi rakyat. Di era digital, tantangan kaum cendekia adalah meruntuhkan sekat elitisme dan membumikan diskursus politik agar mudah dipahami oleh masyarakat luas. Cendekiawan (cendekia) Seorang yang menyatukan iman, ilmu, dan etika religius dalam satu tarikan napas. Sosok cendekia memegang peran penting sebagai pencerah masyarakat dengan mengedepankan pemikiran rasional dan bersikap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai tradisi keislaman ( Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. ). Saat cendekia berpihak pada kekuasaan demi pragmatisme, mereka berisiko kehilangan independensi dan memvalidasi kebijakan yang menindas (menjadi legitimator). Saat ini kita memerlukan lebih banyak cendekia yang berani jujur, bukan hanya yang cerdas. Berani berkata benar, meski berisiko tidak populer. Berani bersikap adil, meski harus kehilangan posisi. Karena sesungguhnya, ukuran kebijaksanaan bukan terletak pada berapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa dalam ia mengerti arti kebenaran dan keberanian untuk memperjuangkannya.

Jika dunia intelektual kehilangan kebijaksanaan, maka masyarakat akan kehilangan arah. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan generasi yang pandai menipu diri.

Sudah saatnya kita kembali belajar menjadi manusia, berpikir dengan akal, tapi juga merasakan dengan hati. Sebab di situlah letak sejati kebijaksanaan: ketika kecerdasan berjalan seiring dengan kejujuran, dan pengetahuan berpadu dengan kemanusiaan. Semoga bermanfaat. Billahit Taufiq Wal Hidayah.

Amul Huzn: Rintihan Perih Akar Rumput

Oleh : Salman Farisi

Di kalangan warga Nahdlatul Ulama, beberapa hari terakhir terasa seperti sebuah Amul Huzn—tahun kesedihan. Bukan karena kehilangan tokoh sebagaimana yang dialami Rasulullah SAW, tetapi karena menyaksikan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir peradaban pesantren: adab kepada ulama, seolah dipertontonkan sedang mengalami erosi di ruang publik.

Bagi warga akar rumput NU, peristiwa tersebut meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebab yang terlihat bukan sekadar perbedaan pendapat atau kritik terhadap organisasi. Yang terlihat adalah sebuah sikap yang dipandang tidak pantas di hadapan para ulama dan masyayikh yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk menjaga agama, pesantren, dan jam’iyah.

Dalam tradisi pesantren, seorang santri boleh berbeda pandangan. Seorang murid boleh tidak sepakat dengan gurunya. Namun adab tetap menjadi pagar yang tidak boleh dilanggar. Karena itu para ulama sering mengajarkan bahwa keberkahan ilmu lahir dari penghormatan kepada guru sebelum kecerdasan berpikir.

Inilah yang membuat banyak warga NU bersedih. Mereka menyaksikan sebuah perilaku yang terasa asing dari kultur pesantren. Sebuah ekspresi yang mungkin dianggap biasa dalam arena aktivisme atau politik, tetapi terasa janggal ketika dipertontonkan di hadapan para kiai.

Lebih jauh lagi, banyak warga kemudian menyadari bahwa sosok yang menjadi sorotan tersebut bukanlah seorang santri, bukan kiai, bukan pula gus yang tumbuh dan ditempa dalam tradisi kepesantrenan. Ia bukan lahir dari rahim pesantren yang sejak kecil mengajarkan bagaimana memuliakan guru, menjaga lisan, dan menempatkan ulama pada kedudukan yang terhormat.

Pernyataan ini bukan untuk mendiskreditkan seseorang berdasarkan latar belakangnya. Sebab kebenaran tidak hanya lahir dari pesantren. Namun fakta tersebut membantu menjelaskan mengapa banyak warga NU merasakan adanya benturan nilai yang begitu tajam. Apa yang dianggap wajar oleh sebagian kalangan, justru dipandang sebagai pelanggaran etika yang serius oleh komunitas pesantren.

Dan di sinilah letak tragedinya.

Tragedi itu bukan karena ada kritik. Tragedi itu bukan karena adanya perbedaan pandangan. Tragedi itu adalah ketika penghormatan kepada ulama yang selama ini menjadi mahkota peradaban pesantren mulai dianggap tidak penting.

Akar rumput NU sesungguhnya tidak sedang memperjuangkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka hanya ingin nilai-nilai yang diwariskan oleh para muassis tetap dijaga. Mereka ingin NU tetap menjadi rumah besar yang dibangun di atas ilmu, akhlak, tawaduk, dan penghormatan kepada ulama.

Karena bagi warga Nahdliyin, sebesar apa pun jabatan seseorang, setinggi apa pun popularitasnya, tidak ada yang lebih tinggi daripada adab di hadapan para pewaris Nabi.

Maka jika hari-hari ini banyak warga NU merasakan kesedihan, sesungguhnya itu bukan kesedihan politik. Ini adalah rintihan perih akar rumput yang merasa tradisi luhur pesantren sedang diuji di hadapan mata mereka sendiri.

Peristiwa ini juga menyisakan pelajaran yang lebih besar bagi kaum santri. Selama ini santri sering ditempatkan sebagai penjaga moral (moral guard) bangsa. Ketika terjadi penyimpangan, santri diminta mengingatkan. Ketika terjadi krisis akhlak, santri diminta menenangkan. Ketika terjadi kegaduhan sosial, santri diminta menjadi penengah.

Namun pertanyaannya, sampai kapan santri hanya menjadi penonton yang memberikan nasihat dari pinggir lapangan?

Sejarah Islam menunjukkan bahwa ulama dan santri tidak hanya berperan sebagai penjaga moral masyarakat. Mereka juga pernah menjadi pemimpin peradaban. Mereka membangun sistem pendidikan, mengatur ekonomi, memimpin pemerintahan, bahkan menentukan arah perjalanan sebuah negara.

Karena itu, Amul Huzn yang dirasakan warga NU hari ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam. Sudah saatnya kaum santri tidak hanya hadir sebagai pengkritik kekuasaan, tetapi juga sebagai pengelola kekuasaan. Tidak hanya menjadi penjaga nilai, tetapi juga menjadi penentu kebijakan. Tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pembuat sejarah.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang lahir dari rahim pesantren. Pemimpin yang memahami adab sebelum ambisi, pengabdian sebelum kekuasaan, dan kemaslahatan umat sebelum kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebab pesantren selama ratusan tahun telah membuktikan kemampuannya mencetak manusia yang tahan godaan materi, dekat dengan rakyat kecil, serta memiliki legitimasi moral di tengah masyarakat. Nilai-nilai inilah yang justru semakin langka dalam kehidupan berbangsa dewasa ini.

Maka tragedi yang hari ini melukai perasaan warga Nahdliyin hendaknya tidak berhenti menjadi ratapan. Ia harus menjadi energi kebangkitan. Sebuah kesadaran bahwa jika kultur pesantren ingin tetap hidup dan dihormati, maka kaum santri tidak cukup hanya menjaga negara dari luar.

Kaum santri harus mulai memimpin negara.

Bukan untuk mendirikan negara agama. Bukan untuk menguasai kelompok lain. Melainkan untuk menghadirkan tata kelola negara yang berlandaskan ilmu, akhlak, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan di pesantren.

Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini justru semakin membutuhkan pemimpin yang memiliki adab.

Dan selama pesantren masih melahirkan manusia-manusia yang menjunjung adab di atas ambisi, maka dari rahim pesantrenlah harapan itu akan terus lahir.