Gelar Rakerda V, MUI Kabupaten Probolinggo Perkuat Sinergi dengan Pemerintah

Probolinggo, Berdampak.net – MUI Kabupaten Probolinggo telah menyusun dan menetapkan program kerja (proker) tahun 2025. Proker itu telah ditetapkan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) V, Rabu (22/1/2025).

Rakerda V itu bertempat di Ruang Amanah Gedung Islamic Centre Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Rakerda V dihadiri pengurus MUI Kabupaten Probolinggo periode 2022-2025.

Dalam kesempatan tersebut, setiap komisi memaparkan program kerja yang akan dilakukan selama satu tahun kedepan, dan selanjutnya mendapatkan masukan dan tanggapan dari peserta Rakerda.

Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo, KH Abdul Wasik Hannan, dalam sambutannya mengatakan peran MUI Kabupaten Probolinggo dalam setahun terakhir. “Sesuai tema Rakerda, MUI Kabupaten Probolinggo terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” katanya.

menyebut bahwa sudah banyak kasus yang jadi perhatian MUI Kabupaten Probolinggo. Tidak hanya kasus asusila dan keyakinan keagamaan.

“Urusan pendidikan, kami juga intens menyikapi rencana lima hari sekolah. Komisi Pendidikan harus memperhatikan hal itu,” tuturnya.

Sementara terkait internal MUI Kabupaten Probolinggo, Kiai Wasik berharap delapan komisi yang ada bekerja maksimal. “Jika maksimal maka akan memberikan dampak yang dahsyat manfaatnya bagi masyarakat,” jelasnya. (fiq)

Sambut Haul Harlah, Unuja Gelar Seminar Nasional

Probolinggo, Berdampak.net – Sebagai bentuk peringatan haul dan harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) sekaligus workshop tentang sumber daya pesantren yang diampu oleh pemerintah, Universitas Nurul Jadid (Unuja) menggelar seminar nasional, bertempat di aula 1 PPNJ, Sabtu (18/01/2025).

Agenda tersebut dihadiri oleh 51 perguruan tinggi NU swasta se-Jawa Timur dan kepala sekolah dari satuan-satuan pendidikan dibawah PPNJ. Kegiatan tersebut dibagi menjadi 2 yaitu seminar nasional yang digelar pada jam 10.00 WIB dilanjut dengan simposium nasional pada jam 13.30 WIB.

Sebagai tuan rumah Kyai Abdul Hamid Wahid selaku rektor Unuja berkesempatan untuk menyampaikan sambutannya pada pembukaan agenda besar itu. beliau menganggap seminar itu sebagai pertemuan strategis yang akan membahas tentang kebutuhan negara kepada pesantren, yang dikoordinir oleh kementerian agama.

Beliau juga memandang pesantren telah menunjukan eksistensi mulai dari lahirnya bangsa Indonesia. “Pesantren tidak pernah ketinggalan dalam berkontribusi menegakkan bangsa, bahkan ikut andil dalam mengisi kemerdekaan,” dawuh beliau.

Para ulama banyak melahirkan berbagai karya yang juga diaplikasikan oleh agama lain, semisal salah satu lagu karangan kyai Abdul Wahab Hasbullah, Ya lal Wathon. “Lagu ini menjadi penyemangat bukan hanya untuk agama islam, melainkan terhadap agama lain seperti kristen di suatu gereja,” tuturnya.

Terkait dengan perguruan tinggi, rektor Unuja mengutip kalimat gusdur yang menyatakan perguruan tinggi dan pesantren menjadi basis kekuatan yang sangat besar apabila dipertemukan dan dikolaborasikan menjadi satu kesatuan. Beliau juga sangat takjub akan daya Indonesia emas yang sanagt kuat.

“kita harus bisa memaksimalkan mungkin sumber daya manusia dan sumber daya alam pada masa Indonesia emas mendatang,” ucapnya.

Diakhir sambutannya, beliau menegaskan akan memberdayakan pesantren di tingkat perguruan tinggi. “Insyaaallah, Perguruan tinggi berbasis pesantren bisa menjadi pusat SDGs (Sustainable Development Goals, red),” pungkasnya. (pm)

Pesantren Semakin Tua, Semakin Banyak Komponen Pendidikan: Inovasi untuk Indonesia Emas 2045

Surabaya, berdampak.net – Seminar nasional dengan tema “Inovasi Perguruan Tinggi Pesantren untuk Indonesia Emas 2045: Kolaborasi dan Transformasi Unggul Berbasis Pesantren” digelar di Aula PPNJ 1 pada Sabtu, 18 Januari. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Direktur Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Basnang Said, yang diundang sebagai pembicara utama.

Dalam pemaparannya, Basnang Said mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang penuh kedamaian. “Andai kata tidak ada kedamaian, bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan tenang, apalagi menjalani agama lain,” ujarnya.

Basnang juga menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang melalui peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021, memberikan dukungan kepada pesantren untuk pengembangan pendidikan dan pemberdayaan santri. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah adanya Undang-Undang Pesantren yang disahkan pada 2019, serta regulasi terkait pendanaan yang memfasilitasi pesantren agar bisa terus berkembang.

Selain itu, Basnang menekankan pentingnya pemberian skill atau keterampilan kepada para santri. “Banyak santri yang mandiri dan jujur, tetapi mereka kurang memiliki keahlian. Oleh karena itu, pemerintah menyediakan platform sebagai wadah untuk pengembangan skill,” ujarnya.

Pesantren, menurut Basnang, memiliki tiga fungsi utama dalam memajukan generasi bangsa, yakni sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan jumlah pesantren yang mencapai 42.300 dan lebih dari 9,6 juta santri per 31 Desember 2024, pesantren semakin memperlihatkan kontribusinya yang besar bagi masyarakat.

Basnang juga menambahkan, semakin tua sebuah pesantren, maka semakin banyak komponen pendidikan yang terlibat di dalamnya, baik dalam hal kualitas pendidikan maupun pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Sebagai penutup, Basnang meluruskan kesalahpahaman terkait dana abadi pesantren. “Dana abadi pesantren adalah dana yang dikeluarkan negara untuk pemberdayaan pesantren dalam meningkatkan sumber daya manusia,” tegasnya.

Seminar ini juga menjadi momen untuk mengenang jasa para ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia, di mana Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional untuk memperingati kontribusi besar pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. (pm)

Sambung Tali Silaturrahim dengan Muktamar Mahasantri se-Indonesia di Nurul Jadid Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Muktamar Pemikiran Mahasantri dengan mengusung tema ‘Kontribusi Mahasantri Bagi Pemikiran Keislaman Pasca Wacana Fikih Peradaban’ yang akan dihelat selama tiga hari sejak Senin, 20 sampai Rabu, 22 Januari yang bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pekan harlah Pesantren Nurul Jadid ke 76. Tujuan perhelatan iniuntuk menyambung tali silaturrahmi dengan seluruh Mahasantri se-Indonesia.

Kiai Muhammad Al-Fayadl dalam sambutannya berharap acara
Muktamar Pemikiran Mahasantri bukan hanya sekedar mengejar ilmu pengetahuan tetapi merupakan ibadah agar bisa diintegritaskan dan didiamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap acara ini bukan hanya identik dengan mengaji, tetapi juga mengkaji lalu mensosialisasikan kepada masyarakat diluar sana, seperti kutipan K.H Zuhri bahwasannya ilmu itu jangan ditumpuk di pikiran saja tetapi juga diamalkan,” ujar mudir Ma’had Aly tersebut.

Beliau juga menjelaskan tiga aspek yang harus dipenuhi jika ingin menjadi khalifah atau pemimpin yakni pengetahuan Islam dengan sistem matematik, pengetahuan persoalan zaman, mengetahui persoalan suatu bagian dari islam dan satu bagian lain dari zaman.

“Apabila santri ingin menjadi khalifah diharapkan sudah memiliki 3 aspek yakni mengetahui islam dengan system yang matematik, lalu mengetahui persoalan zaman, dan memahami suatu bagian dari islam dan bagian zaman,” ungkapnya.

Acara dibuka secara simbiosis oleh Kiai Muhammad Al-Fayadl dengan menabuh gong sebanyak 3 kali yang kemudian seremonial diakhiri dengan pembacaan doa oleh Kiai Makki Maimun Wafie dan dilanjutkan dengan acara seminar yang diisi oleh Narasumber K.H Imdad Rabbani dan K.H Idris Mubarok. (pm)

Kota Kediri Dinobatkan sebagai Kota Paling Berkelanjutan di Indonesia

Kediri, Berdampak.net – Kota Kediri kembali membuat gebrakan dengan meraih peringkat pertama dalam ajang UI Green City Metric 2023. Penghargaan ini diserahkan di Balai Sidang Universitas Indonesia, di mana Kediri juga mendapatkan penghargaan khusus untuk kategori Akses dan Mobilitas.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, mengungkapkan rasa syukurnya dan menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Tahun lalu, Kediri menempati posisi kedua dengan skor yang lebih rendah, namun kini berhasil mencapai nilai 7015.

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih baik, Kediri telah menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di setiap kelurahan dan mengembangkan program urban farming yang mendukung ketahanan pangan. Menurut Abdullah, regulasi mengenai penggunaan plastik sekali pakai juga diterapkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Wali Kota berharap agar prestasi ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan melalui pembangunan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi warganya. Perencanaan tata ruang yang baik menjadi kunci dalam menciptakan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Plt Kepala DLHKP Kota Kediri, Anang Kurniawan, menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi bagi Kota Kediri untuk terus berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan. Selain itu, rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kediri dengan daerah sekitarnya diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas.

Dengan berbagai langkah dan inisiatif ini, Kota Kediri bertekad untuk menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam hal keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dari total 64 kota dan kabupaten di Indonesia yang berkategori kota berkelanjutan, Kota Kediri berada di urutan teratas.

Kota Kediri terpilih sebagai kota paling berkelanjutan dengan skor paling tinggi. Dari enam kategori dan 71 indikator penilaian, Kota Kediri mengantongi skor 7570.

Posisi kedua diraih Kota Madiun dengan total skor 7540. Sedangkan Kota Blitar yang menempati peringkat ketiga memiliki skor 7120.

Sementara Kota dan Kabupaten lain di Jawa Timur yang masuk kategori Kota Berkelanjutan di Indonesia di antaranya:

  • Kabupaten Trenggalek, rangking-12, skor 6150
  • Kota Pasuruan, rangking-13, skor 6045
  • Kota Mojokerto, rangking-18, skor 5945
  • Kota Probolinggo, rangking-19, skor 5922,5
  • Kabupaten Pacitan, rangking-28, skor 4952,5
  • Kabupaten Magetan, rangking-47, skor 3835. (rh)