Mie Combor Kraksaan, Kuliner Legendaris yang Terus Hidup di Tengah Modernisasi

Probolinggo, Berdampak.net – Salah satu kuliner malam yang tak lekang oleh waktu di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo yaitu Mie Combor. Hidangan berkuah melimpah ini bukan sekadar soal rasa gurih, tetapi juga tentang jejak sejarah yang masih terasa pada cara masaknya hingga hari ini.

Mie Combor mulai dikenal sejak pertengahan abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1946, ketika hidangan ini dijajakan pedagang keliling dengan pikulan. Seiring perjalanan waktu, penjualannya beralih menjadi warung-warung kecil dan resepnya terus diwariskan turun-temurun hingga kini mencapai generasi saat ini.

Nama Combor sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti berkuah banyak. Sesuai namanya, mie kuning disajikan dengan tauge, irisan daging ayam kampung, serta telur asin sebagai pelengkap. Nuansa rasa menjadi semakin khas karena proses memasaknya masih mengandalkan arang, teknik tradisional yang diyakini membantu menjaga cita rasa autentik.

Salah satu tempat yang cukup ikonik untuk menikmati Mie Combor adalah Warung Bu Sani di sisi barat Alun-alun Kota Kraksaan. Warung ini buka mulai pukul 17.00 hingga tengah malam, dan menjadi favorit warga maupun wisatawan yang ingin merasakan mie combor versi legendaris.

Kisahnya juga melekat pada keluarga penjual. Pada awalnya, Mie Combor dijual berkeliling, namun karena faktor usia, sejak tahun 1970 penjualan akhirnya berpindah menjadi menetap di warung. Meski tempat berubah, rasa dan cara penyajiannya tetap dipertahankan seperti yang telah diwariskan.

Bagi para penikmat, daya tarik Mie Combor terasa dari kuah yang sedap serta aroma arang bakar saat proses masak berlangsung. Bukan hanya menyajikan kenyang, Mie Combor dianggap sebagai bagian dari identitas kuliner Kraksaan memperlihatkan bagaimana makanan lokal bisa bertahan di tengah modernisasi.

Jika suatu malam Anda singgah di Probolinggo, Mie Combor Kraksaan bisa menjadi daftar wajib coba: kuliner legendaris yang terus hidup, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena ceritanya. (rh)

Kunjungan Konjen Tiongkok ke APINDO Jatim Perkuat Peluang Kerja Sama Investasi

Probolinggo, Berdampak.net – Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Mr. Ye Su melakukan kunjungan resmi ke Kantor DPP APINDO Jawa Timur. Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membuka dialog strategis terkait peluang kerja sama investasi antara Tiongkok dan pelaku usaha di Jawa Timur. Kamis (09/04/2026).

Rombongan Konsul Jenderal disambut oleh Ketua APINDO Jawa Timur, Bapak Eddy Widjanarko, bersama jajaran pengurus. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, membahas sejumlah agenda penting yang diyakini dapat mendorong kolaborasi ekonomi kedua pihak.

Dalam kesempatan tersebut, kedua belah pihak menyampaikan berbagai peluang kerja sama, di antaranya akses pasar Tiongkok bagi komoditas Indonesia, serta dukungan terhadap iklim investasi yang kondusif. APINDO juga menyoroti pentingnya kolaborasi sektor manufaktur melalui strategi yang dikenal sebagai Made in China, sebagai landasan untuk memperkuat rantai produksi dan peluang kemitraan industri.

Selain itu, turut dibahas pula rencana pembukaan rute penerbangan langsung Surabaya–Tiongkok yang diharapkan dapat memperlancar mobilitas bisnis, mempermudah koordinasi kerja sama, serta mempercepat aktivitas investasi dan perdagangan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cenderamata dan sesi foto bersama sebagai simbol penguatan kerja sama yang diharapkan terus berkembang ke depannya. (rh)

Industri Alas Kaki Indonesia Kian Kokoh, Indonesia Footwear Summit 2026 Dorong Peluang Ekspor dan Investasi

Jakarta, Berdampak.net — Industri alas kaki Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan dan semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Untuk memperkuat momentum ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah Indonesia Footwear Summit 2026 yang digelar pada 13–15 April 2026 di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta — forum internasional pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia hasil kolaborasi ECV International dengan APRISINDO.

Summit ini menghadirkan perwakilan merek global, produsen, pemasok bahan baku dan teknologi, asosiasi industri, konsultan, investor, serta pelaku rantai pasok internasional. Kehadiran kementerian terkait, termasuk perwakilan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, memperkuat fokus forum pada fasilitasi investasi dan pengembangan industri berkelanjutan.

Ketua Umum APRISINDO, Anton J. Supit, menyatakan bahwa nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$7,98 miliar—naik 9,54% dibanding 2024—dan total volume ekspor mencapai sekitar 601 juta pasang, menempatkan Indonesia sebagai eksportir alas kaki terbesar ketiga dunia. Pasar utama masih Amerika Serikat (sekitar 30%), diikuti Uni Eropa dan China.

Ketua Dewan Pembina APRISINDO, Eddy Widjanarko, menilai summit ini strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing global, memanfaatkan tren relokasi rantai pasok dan minat investasi dari merek internasional. Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan industri ke PT Aggiomultimex International Group untuk menunjukkan kapasitas produksi dan peluang kemitraan.

Dengan forum ini, diharapkan kolaborasi global, investasi, dan akses pasar ekspor bagi produk alas kaki Indonesia akan semakin meningkat, mendorong transformasi industri menuju inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan. (rh)

Lonjakan Ekspor Produk Kerajinan: Dampak Positif bagi Industri Kreatif Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya adalah produk kerajinan tangan. Seiring dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan keberlanjutan produk lokal, ekspor produk kerajinan Indonesia menunjukkan angka yang positif. Kerajinan tangan khas Indonesia, mulai dari batik, tenun, ukiran kayu, hingga keramik, kini semakin diminati oleh pasar internasional.

Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri kerajinan tangan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang di kancah global. Artikel ini akan membahas mengenai peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia, tantangan yang dihadapi, dan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri kreatif di Indonesia.

Faktor Penyebab Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Tingginya Minat terhadap Produk Unik dan Otentik

Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia adalah tingginya minat pasar internasional terhadap produk-produk yang unik, berkualitas, dan bernilai seni tinggi. Produk kerajinan tangan Indonesia yang memiliki ciri khas dan keindahan estetik yang tidak dimiliki oleh negara lain menarik perhatian konsumen di berbagai belahan dunia. Contohnya, produk batik, tenun, dan kerajinan bambu dari Indonesia semakin digemari di Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Ekspor

Pemerintah Indonesia telah memberikan berbagai fasilitas dan dukungan untuk memajukan sektor ekspor, khususnya produk kerajinan. Salah satunya adalah melalui program promosi dan pameran internasional yang diadakan oleh Kementerian Perdagangan dan berbagai lembaga terkait. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan produk kerajinan Indonesia ke pasar global dan membantu pelaku industri dalam memperluas jaringan pasar. Selain itu, pemerintah juga memberikan kemudahan dalam hal pembiayaan dan akses pasar ekspor.

Penggunaan Teknologi dan Digitalisasi dalam Pemasaran

Seiring berkembangnya teknologi, banyak pelaku industri kerajinan Indonesia yang mulai memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka ke pasar internasional. E-commerce dan media sosial kini menjadi saluran utama bagi para pengrajin untuk menjual produk mereka ke luar negeri, tanpa harus bergantung pada perantara atau agen ekspor. Hal ini memungkinkan produk kerajinan Indonesia untuk lebih mudah diakses oleh konsumen global.

Tantangan dalam Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Keterbatasan Akses ke Pasar Global

Meskipun ada permintaan yang tinggi terhadap produk kerajinan Indonesia, akses pelaku industri terhadap pasar global masih terbatas. Banyak pengrajin yang belum memiliki kapasitas atau pengetahuan yang cukup untuk memasarkan produk mereka ke luar negeri. Keterbatasan ini sering kali disebabkan oleh faktor seperti kurangnya pemahaman tentang regulasi ekspor, serta kendala dalam hal pengemasan, sertifikasi, dan kualitas produk.

Persaingan yang Ketat dengan Negara Lain

Indonesia bukan satu-satunya negara yang memproduksi kerajinan tangan dengan kualitas tinggi. Beberapa negara seperti India, Thailand, dan China juga memiliki industri kerajinan yang berkembang pesat dan memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Oleh karena itu, para pengrajin Indonesia harus dapat memastikan bahwa produk mereka memiliki keunggulan kompetitif yang membedakan dari produk-produk serupa dari negara lain, baik dari segi desain, kualitas, maupun harga.

Keterbatasan Infrastruktur dan Sumber Daya

Salah satu tantangan lain yang dihadapi oleh industri kerajinan Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur yang memadai untuk mendukung distribusi barang ke luar negeri. Proses pengiriman produk kerajinan terkadang terhambat oleh infrastruktur logistik yang kurang efisien dan biaya pengiriman yang tinggi. Hal ini bisa mempengaruhi daya saing harga produk kerajinan Indonesia di pasar internasional.

Peluang yang Diciptakan oleh Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Perluasan Pasar Global untuk Produk Lokal

Peningkatan ekspor produk kerajinan membuka peluang besar bagi para pengrajin Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Dengan lebih banyaknya produk kerajinan Indonesia yang masuk ke pasar global, pelaku industri kerajinan memiliki kesempatan untuk membangun merek mereka di tingkat internasional. Hal ini dapat meningkatkan penjualan dan mengangkat citra produk Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi di mata dunia.

Penciptaan Lapangan Kerja dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Sektor industri kerajinan juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah, khususnya di daerah-daerah penghasil kerajinan tradisional. Peningkatan ekspor akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dengan menciptakan peluang usaha baru, baik bagi pengrajin itu sendiri maupun bagi sektor pendukung lainnya, seperti sektor transportasi dan pemasaran. Peningkatan permintaan produk kerajinan dapat menggerakkan roda ekonomi di daerah-daerah penghasil kerajinan tersebut.

Peningkatan Inovasi dan Diversifikasi Produk

Peluang untuk menembus pasar internasional mendorong pengrajin Indonesia untuk terus berinovasi dan mendiversifikasi produk mereka agar tetap relevan di pasar global. Banyak pengrajin yang kini mulai memadukan elemen tradisional dengan desain modern, menghasilkan produk yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memenuhi tren pasar global yang terus berkembang.

Kesimpulan

Peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia menunjukkan potensi besar sektor industri kreatif dalam perekonomian Indonesia. Meskipun terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti keterbatasan akses pasar dan infrastruktur, produk kerajinan Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang di pasar global. Dukungan pemerintah, kemajuan teknologi, serta peningkatan kualitas dan inovasi produk akan menjadi kunci utama bagi pelaku industri kerajinan untuk sukses dalam menembus pasar internasional. Dengan pemanfaatan peluang ini, sektor kerajinan Indonesia tidak hanya akan meningkatkan perekonomian nasional, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia.