Datangnya Kematian: “Refleksi Psikologis antara Penderitaan dan Kebahagiaan”

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun tidak ada perjanjian antara manusia dengan malaikat Izrail—sang pencabut nyawa—dapat dipastikan bahwa kematian akan tetap mendatangi setiap insan. Ia hadir tanpa diundang, menjemput kehidupan, lalu menyerahkan segala urusan jasad kepada keluarga untuk diantarkan ke liang lahat.

Sebagaimana firman Allah: “Di manapun kamu berada, kematian akan mendatangimu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. An-Nisa [4]: 78).

Menurut Nurcholish Madjid (1995) dalam Islam, Doktrin dan Peradaban, manusia dalam memandang tujuan hidup dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar: pesimis dan optimis.

Kelompok pesimis meyakini bahwa kematian adalah sesuatu yang menyakitkan, mengerikan, dan menakutkan. Pandangan ini membuat mereka menjalani hidup dengan keputusasaan. Bagi mereka, hidup seakan kehilangan makna karena pada akhirnya akan berujung pada kematian yang menyakitkan. Menunggu datangnya kematian hanya dianggap memperpanjang penderitaan. Bahkan, dalam kondisi ekstrem, kematian yang datang lebih cepat dipandang sebagai jalan keluar dari derita berkepanjangan.

Sebaliknya, kelompok optimis memandang kehidupan sebagai karunia yang harus dinikmati sepenuhnya. Namun, dalam praktiknya, optimisme ini kerap bergeser menjadi euforia tanpa batas. Kehidupan dijalani secara hedonistik—berpesta, berfoya-foya, memamerkan kemewahan, serta tenggelam dalam mabuk dan kebebasan tanpa kendali. Dalam perspektif ini, kematian yang datang di tengah euforia justru dianggap sebagai kebanggaan.

Berbeda dari kedua kelompok tersebut, terdapat pandangan Stoisisme. Aliran ini meyakini bahwa kematian adalah keniscayaan yang merupakan bagian dari keteraturan semesta.

Kebahagiaan, menurut Stoisisme, diperoleh melalui keselarasan dengan hukum alam. Karena kematian adalah bagian dari keteraturan itu, maka ia tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima dengan tenang.

Filsuf Stoik Romawi, Lucius Annaeus Seneca (w. 65 M), sebagaimana dikutip oleh Henry Manampiring (2023) dalam Filosofi Teras, menyatakan: “Life is long if you know how to use it. We are not given a short life, but we make it short.” Hidup menjadi panjang jika kita tahu cara menggunakannya. Kita tidak diberi hidup yang pendek, tetapi kitalah yang menjadikannya pendek dan terbuang sia-sia.

Ketakutan terhadap kematian sejatinya bukan berasal dari kematian itu sendiri, melainkan dari gambaran psikologis yang kita bangun tentangnya.

Jika kematian dibayangkan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan mengerikan, maka respons psikis kita akan dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Sebaliknya, jika kematian dipahami sebagai bagian alami dari kehidupan, maka jiwa akan lebih tenang dalam menghadapinya.

Dalam perspektif Stoisisme, ketenangan itu lahir dari kemampuan mengendalikan interpretasi diri. Bukan kematian yang menakutkan, tetapi cara kita memaknainya. Seneca menegaskan bahwa persoalan utama bukanlah panjangnya usia, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Hidup seratus tahun pun tidak berarti jika dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan amarah—terutama karena mengejar hal-hal di luar kendali—tanpa pernah mengasah kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri, dan keadilan.

Dalam Islam, kematian adalah keniscayaan universal. Segala yang ada—manusia, malaikat, jin, hewan, hingga seluruh alam semesta—akan mengalami kematian dan kebinasaan. Yang abadi hanyalah Allah Swt. (QS. Al-Qashash [28]: 88).

Malaikat Izrail memang ditugaskan untuk mencabut nyawa (QS. As-Sajdah [32]: 11). Namun, dalam kerangka keimanan, kematian bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan gerbang menuju kehidupan berikutnya. Karena itu, kualitas hidup tidak berhenti pada dimensi profan antar-manusia, sebagaimana dalam Stoisisme, dan tidak pula terjebak dalam keputusasaan pesimisme atau euforia optimisme.

Stoisisme memandang manusia sebagai bagian dari semesta yang tunduk pada hukum alam, sedangkan Islam menegaskan bahwa manusia hadir di dunia atas kehendak Allah dan akan kembali kepada-Nya (QS. Ar-Rum [30]: 11).

Pada akhirnya, kematian bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian darinya. Ia bukan sekadar akhir, tetapi juga awal dari fase yang lain.

Semoga kita semua dianugerahi kehidupan yang berkualitas—hidup yang tidak hanya selaras secara lahiriah, tetapi juga bermakna secara spiritual—dalam naungan rahmat dan kasih sayang Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.