Jurnalistik Jadi Ladang Dakwah, Humas Nurul Jadid Bincang Kehumasan Bersama Wartawan Profesional


Probolinggo, Berdampak.net — Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengabaikan etika dan kebenaran fakta, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengambil sikap tegas: menjadikan jurnalistik sebagai sarana dakwah. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam kegiatan bincang kehumasan yang digelar di ruang rapat pesantren, mempertemukan tim Humas Nurul Jadid dengan jajaran humas lembaga-lembaga di bawah naungannya.

Keresahan terhadap banjir informasi tanpa verifikasi menjadi alasan utama digelarnya forum ini. Bukan tanpa sebab—informasi yang tidak akurat dinilai berpotensi menyesatkan opini publik jika tidak diimbangi pemberitaan yang bertanggung jawab. Untuk itu, penguatan kapasitas kehumasan di lingkungan pesantren dipandang sebagai langkah mendesak.

Forum kali ini menghadirkan Muhammad Iqbal, wartawan Times Indonesia, yang berbagi perspektif praktis dari dunia jurnalistik profesional. Satu pesan yang ia tekankan cukup mengena: nilai sebuah berita tidak berhenti pada tersampaikannya informasi. Berita yang baik, katanya, harus mendidik—bukan sekadar lewat begitu saja tanpa makna bagi pembacanya.
Iqbal juga mengingatkan pentingnya menjaga etika jurnalistik dan akurasi fakta dalam setiap proses produksi berita, termasuk yang dikerjakan oleh humas pesantren maupun lembaga pendidikan. Baginya, humas bukan sekadar penyampai kabar, melainkan juga penjaga nama baik dan citra lembaga.

Diskusi berlangsung hidup. Para peserta aktif melontarkan pertanyaan, mulai dari teknik penulisan berita hingga strategi menghadapi banjir informasi yang tidak akurat—bekal yang dinilai penting bagi pengelola humas lembaga di lingkungan Nurul Jadid dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Forum ini pun tak sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga ruang silaturahmi antarhumas lembaga untuk menyamakan visi dalam mengelola informasi kepesantrenan. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan digelar secara berkala sebagai bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan kapasitas sumber daya kehumasan.

Kasubag Humas dan Infokom Ponirin Mika berharap setiap pemberitaan yang dihasilkan tak hanya informatif, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang membawa manfaat dan edukasi positif bagi masyarakat luas.

Dihadapan Ribuan Pengurus, KH. M. Zuhri Zaini Teguhkan Ikhlas dan Panca Kesadaran dalam Pengabdian

Probolinggo, Berdampak.net – Keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar agenda tahunan Halalbihalal Pengasuh dan Pengurus di Aula 1 pada Minggu (29/3/2026). Dalam momentum tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. M. Zuhri Zaini, menyampaikan orasi spiritual yang menekankan pentingnya integrasi antara profesionalitas kerja dengan semangat pengabdian.

Acara ini berlangsung khidmat sejak pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh keluarga besar pengasuh dan seluruh jajaran pengurus.

Dalam tausiyahnya, KH. M. Zuhri Zaini mengajak hadirin untuk merefleksikan kefanaan usia sebagai pendorong untuk meningkatkan kualitas amal saleh.

“Tahun kemarin kita masih bersama, namun tahun ini mungkin di antara kita ada yang hanya mendapat kiriman Al-Fatihah,” ujar beliau mengawali refleksi tentang kesadaran akan kematian.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa pengabdian di pesantren sejatinya adalah manifestasi ibadah yang luas. Beliau mengingatkan agar para pengabdi tidak terjebak pada orientasi materi semata, melainkan mengedepankan ridha Allah SWT.

Menurutnya, ketulusan dalam berkhidmat akan berbanding lurus dengan keberkahan hidup.

“Jika seseorang tekun beribadah dan mengabdi dengan ikhlas, maka Allah akan melapangkan kehidupannya. Urusan dunia akan mengikuti bagi mereka yang mengejar akhirat,” tutur beliau.

Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa niat yang suci harus dibarengi dengan metodologi yang benar. Keselarasan antara niat dan cara kerja menjadi kunci agar pengabdian tidak menyimpang dari tuntunan agama.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri memaparkan konsep pengabdian yang komprehensif. Beliau menekankan bahwa prinsip kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja tuntas harus dipayungi oleh Panca Kesadaran, yang meliputi:

  1. Kesadaran Beragama
  2. Kesadaran Berilmu
  3. Kesadaran Bermasyarakat
  4. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara
  5. Kesadaran Berorganisasi

Dalam aspek manajerial, beliau menggarisbawahi pentingnya profesionalitas sesuai Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi). Beliau berpesan agar sinkronisasi antarbagian diperkuat melalui koordinasi yang rutin guna menghindari ketimpangan kerja.

Menutup tausyiahnya, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa setiap aktivitas di pesantren adalah ruang belajar (iqra’) yang berkelanjutan. Beliau mencontohkan keteladanan para kiai terdahulu yang terus belajar meski tanpa pendidikan formal, hingga akhirnya mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

“Kita sedang beribadah kepada Allah melalui khidmat kepada santri. Maka, bekerjalah dengan ilmu, karena amal tanpa ilmu berpotensi tidak diterima,” pungkas beliau.

Sambung Tali Silaturrahim dengan Muktamar Mahasantri se-Indonesia di Nurul Jadid Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Muktamar Pemikiran Mahasantri dengan mengusung tema ‘Kontribusi Mahasantri Bagi Pemikiran Keislaman Pasca Wacana Fikih Peradaban’ yang akan dihelat selama tiga hari sejak Senin, 20 sampai Rabu, 22 Januari yang bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pekan harlah Pesantren Nurul Jadid ke 76. Tujuan perhelatan iniuntuk menyambung tali silaturrahmi dengan seluruh Mahasantri se-Indonesia.

Kiai Muhammad Al-Fayadl dalam sambutannya berharap acara
Muktamar Pemikiran Mahasantri bukan hanya sekedar mengejar ilmu pengetahuan tetapi merupakan ibadah agar bisa diintegritaskan dan didiamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap acara ini bukan hanya identik dengan mengaji, tetapi juga mengkaji lalu mensosialisasikan kepada masyarakat diluar sana, seperti kutipan K.H Zuhri bahwasannya ilmu itu jangan ditumpuk di pikiran saja tetapi juga diamalkan,” ujar mudir Ma’had Aly tersebut.

Beliau juga menjelaskan tiga aspek yang harus dipenuhi jika ingin menjadi khalifah atau pemimpin yakni pengetahuan Islam dengan sistem matematik, pengetahuan persoalan zaman, mengetahui persoalan suatu bagian dari islam dan satu bagian lain dari zaman.

“Apabila santri ingin menjadi khalifah diharapkan sudah memiliki 3 aspek yakni mengetahui islam dengan system yang matematik, lalu mengetahui persoalan zaman, dan memahami suatu bagian dari islam dan bagian zaman,” ungkapnya.

Acara dibuka secara simbiosis oleh Kiai Muhammad Al-Fayadl dengan menabuh gong sebanyak 3 kali yang kemudian seremonial diakhiri dengan pembacaan doa oleh Kiai Makki Maimun Wafie dan dilanjutkan dengan acara seminar yang diisi oleh Narasumber K.H Imdad Rabbani dan K.H Idris Mubarok. (pm)

LP Pomas Unuja Gelar Refleksi Akhir Tahun 2024 dan Penghargaan Kompetisi Ilmiah dan Debat

Probolonggo, Berdampak.net – Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa (LP.Pomas) Universitas Nurul Jadid (Unuja), sukses gelarkan berbagai kegiatan dalam rangka menyambut Haul Masyayikh dan Harlah ke-76 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kegiatan tersebut, mencakup Kompetisi Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional, Kompetisi Debat Bahasa Indonesia tingkat lokal, dan puncaknya, acara Refleksi Akhir Tahun 2024 bertajuk “Membangun Generasi Unggul: Harmoni Antara Keilmuan dan Moralitas.”

Acara yang berlangsung pada Senin, 30 Desember 2024, ini dihadiri langsung oleh KH. Muhammad Al-Faiz Sa’adi dan dirangkaikan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang kompetisi.

Kompetisi Karya Tulis Ilmiah menarik 327 peserta dari 67 perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, dengan cakupan jenjang S1 hingga S3.

“Ini membuktikan bahwa Universitas Nurul Jadid mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Dr. M. Hasan Baharun, Wakil Rektor III Universitas Nurul Jadid, dalam pidatonya.

Menurut Hasan Baharun, keberhasilan ini menunjukkan kualitas literasi Universitas Nurul Jadid yang terus berkembang. “Sejak 2017, kita telah menjadi kiblat literasi ilmiah. Meski berada di lokasi sederhana, kualitas akademik kita tidak diragukan lagi,” tambahnya.

Wakil Rektor III, juga menyampaikan bahwa Universitas Nurul Jadid memberikan berbagai opsi bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi, seperti melalui jalur skripsi, publikasi jurnal ilmiah, atau penerbitan buku. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas dalam memajukan literasi dan akademik.

Sebelum menutup pidatonya, Wakil Rektor III, mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan tahun 2025 sebagai momentum perubahan. “Mari kita terus menulis, belajar, dan berkontribusi melalui karya-karya ilmiah yang mampu menggoyang dunia,” ajaknya.

Tak hanya itu, bagian dari rangkaian kegiatan Haul Masyayikh dan Harlah ke-76 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kompetisi Debat Bahasa Indonesia tingkat lokal pun berhasil menarik partisipasi mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai jurusan di Universitas Nurul Jadid.

Kompetisi ini menjadi wadah pengembangan kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, dan penyampaian argumen berbasis data yang logis.

“Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan intelektual mahasiswa tetapi juga membangun rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan ide di ruang publik,” ujar Moh. Jasri, Kepala LP.Pomas Universitas Nurul Jadid.

Moh. Jasri menegaskan bahwa, LP.Pomas akan terus menjadi motor penggerak pengembangan kapasitas mahasiswa Unuja, agar menjadi generasi unggul yang memadukan keilmuan dan moralitas sebagai bekal untuk masa depan.


Daftar Pemenang Kompetisi Karya Tulis Ilmiah dan Penghargaan diumumkan dalam acara tersebut dan menerima penghargaan:

Juara 1: M. Aqil Fahmi Sanjani (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang) – Tropi, sertifikat, dan uang tunai Rp1.000.000.

Juara 2: Unzilah Khomairotusshiyama (Universitas Nurul Jadid Paiton) – Tropi, sertifikat, dan uang tunai Rp850.000.

Juara 3: Zulfahmi (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal) – Tropi, sertifikat, dan uang tunai Rp650.000.

Selain itu, jurnal 10 terbaik ke-2 dan ke-3 mendapatkan sertifikat serta kesempatan publikasi gratis.

Daftar 10 Jurnal Terbaik:

  1. Alwi Padly Harahap, dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal, Sumatera Utara
  2. Aminatun, dari Universitas Islam Madura
  3. Muhammad Akhyar Aji Saputra Universitas Islam Jember
  4. Esty Cahyaningsih, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
  5. Maskuri Abdul Rohman Institut Agama Islam Faqih Asy’ari Kediri, Jawa Timur
  6. Sofia Annisa Rahma, Universitas Negeri Surabaya, Jawa Timur
  7. Natasha Meisya Putri, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Jawa Tengah
  8. Nadiatul Maziyyah Attarwiyah, Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember,
  9. Istianatul Imamah, Universitas KH. Mukhtar Syafaat Banyuwangi
  10. Arman STKIP PGRI Sumenep, Jawa Timur
  11. Muhammad Nur Fathoni, Institut Agama Islam Negeri Metro Indonesia
  12. Mujiburrohman Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo
  13. Neng Siska Fitriani, Universitas Pakuan, Jawa Barat
  14. Agus Setiyono, Universitas Negeri Malang, Jawa Timur
  15. I Made Dharma Adnyana, Politeknik Transportasi Tabanan Bali
  16. Nurul Rezki Awaliah S, Institut Agama Islam Negeri Parepare, Sulawesi Selatan
  17. Endriyani Lestari, Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah
  18. Muhammad Zaki Maulana, Universitas Nurul Jadid
  19. Ahmad Nadif Sanafiri, Universitas Nurul Jadid
  20. Arifurrohman, Universitas Islam Jember, Jawa Timur
  21. Ahmad Zainullah, Universitas Islam Malang, Jawa Timur
  22. Rinta Anisaturrizqi, Universitas Islam Jember, Jawa Timur

Daftar Pemenang Kompetisi Debat Bahasa Indonesia Tingkat Universitas Nurul Jadid, diumumkan dalam acara tersebut dan menerima penghargaan:

Juara 1 diraih oleh Tim: Mujiburrohman dan Rahmat Shulhani, (S2 Manajemen Pendidikan Islam, Pascasarjana Unuja) – piagam penghargaan dan uang tunai Rp400.000

Juara 2 diraih oleh Tim: Irzam Abdellah dan Saiq Khayran, (S1 Keperawatan, Fakultas Kesehatan dan S1 Hukum Fakultas Sosial Humaniora) – piagam penghargaan dan uang tunai Rp300.000

Juara 3 diraih oleh Tim: Basmalia Silvi Tauhid dan Dina Khilyatus, (S1 Keperawatan, Fakultas Kesehatan Unuja) – piagam penghargaan dan uang tunai Rp200.000. (fiq)