Satu Mustahik Tiga Kali Terima: Menggugat Profesionalisme Pengelolaan Zakat Kita

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Zakat dalam Islam menempati posisi yang sangat strategis, bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial. Sebagaimana yang digambarkan dalam obrolan hangat antara saya dan teman lamanya, zakat adalah titik temu antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.

Secara teologis, zakat dikategorikan sebagai ibadah mahdhah yang merupakan bentuk ketaatan langsung kepada Allah. Namun, ia memiliki karakteristik unik karena keberlakuannya sangat bergantung pada interaksi sosial atau hablum minan-nas. Inilah yang membuat zakat menjadi jembatan kesejahteraan.

Persoalan muncul ketika kita berhadapan dengan realitas lapangan yang penuh dengan hambatan teknis dan administratif. Sebagaimana diskursus yang terjadi selama empat jam tersebut, problematika zakat di Indonesia seringkali berakar pada kurangnya standarisasi dalam pemahaman dan praktik.

Salah satu tantangan utama yang diangkat adalah dualitas antara zakat fitrah dan zakat profesi. Zakat fitrah mungkin sudah menjadi tradisi mapan, namun zakat profesi masih memerlukan sosialisasi dan literasi yang lebih masif agar masyarakat memahami kewajiban atas pendapatan modern mereka.

Substansi kritis dari diskusi ini terletak pada penyaluran yang tidak tepat sasaran. Masalah ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan cerminan dari manajemen yang belum terintegrasi secara nasional. Akibatnya, esensi zakat untuk memeratakan kekayaan sering kali terhambat oleh ego sektoral.

Gagasan KH. Moh. Zuhri Zaini yang dikutip oleh Ponirin Mika memberikan solusi yang sangat konkret. Beliau menyarankan agar Amil Zakat dibentuk atau setidaknya dikoordinasikan secara ketat oleh BAZNAS. Tujuannya jelas: untuk meminimalisir fragmentasi amil yang tidak terhitung jumlahnya.

Terlalu banyaknya lembaga atau kepanitiaan zakat yang berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi pusat sering kali menghadirkan masalah baru. Tanpa komando yang jelas, pengumpulan zakat menjadi tidak terukur dan penyalurannya pun menjadi tumpang tindih secara tidak sehat.

Fenomena “satu orang mendapatkan tiga kali” sementara yang lain tidak mendapatkan sama sekali adalah potret nyata inefisiensi. Hal ini menunjukkan bahwa pendataan mustahik kita masih bersifat manual, emosional, dan kurang berbasis pada data kemiskinan yang akurat secara sains.

Pendataan yang kurang profesional ini pada akhirnya memicu kekacauan di tingkat akar rumput. Rasa keadilan sosial yang seharusnya ditegakkan oleh zakat justru tercederai oleh ketidakmerataan distribusi yang disebabkan oleh sistem administrasi yang keropos.

Sentralisasi melalui BAZNAS atau lembaga yang terakreditasi bukan berarti mematikan inisiatif lokal. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menciptakan sistem kontrol kualitas agar setiap rupiah zakat yang dikeluarkan muzakki benar-benar sampai ke tangan yang berhak.

Zakat profesi, yang potensinya sangat besar di era modern ini, membutuhkan amil yang paham akan regulasi dan fiqh kontemporer. Jika dikelola secara serabutan, potensi besar ini hanya akan menjadi angka-angka yang tidak memberikan dampak signifikan bagi pengentasan kemiskinan.

Kita perlu menggeser paradigma dari amil sebagai “panitia musiman” menjadi amil sebagai “profesi manajerial”. Profesionalisme amil adalah kunci utama agar zakat tidak lagi terjebak dalam masalah klasik seperti birokrasi yang lamban atau data yang kadaluwarsa.

Modernisasi zakat juga berarti pemanfaatan teknologi informasi dalam sinkronisasi data mustahik. Dengan sistem digital yang terintegrasi, potensi tumpang tindih bantuan dapat dideteksi sejak dini, sehingga distribusi bisa dilakukan secara lebih adil dan merata ke seluruh pelosok.

Membangun kesadaran kolektif untuk berzakat melalui jalur resmi adalah perjuangan budaya. Kita harus meyakinkan masyarakat bahwa menyalurkan zakat melalui lembaga resmi lebih maslahat dibandingkan memberikannya secara personal tanpa pemetaan yang jelas.

Sebagai penutup, refleksi Ponirin Mika mengingatkan kita bahwa zakat adalah urusan umat yang besar. Dibutuhkan sinergi antara ulama, praktisi, dan pemerintah untuk membenahi sengkarut tata kelola ini demi mewujudkan kemandirian ekonomi umat yang hakiki.

Energy, Geopolitik dan Harapan Ramadan

Oleh : Diajeng Maharani – Senior Business Analyst Pertamina

“Ketika energi terganggu, bukan hanya mesin yang berhenti—harapan sebuah bangsa pun ikut dipertaruhkan.”

Turbulence pasar dan geopolitik membuat setiap gangguan energi berdampak melampaui batas wilayah. Gangguan jalur distribusi energi, perubahan kebijakan produksi, hingga volatilitas harga minyak dunia adalah konsekuensi yang langsung dirasakan banyak negara.

Energi kini bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia telah menjadi elemen strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, keamanan nasional, dan keberlanjutan pembangunan.

Bagi Indonesia, turbulence global menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi stabilitas nasional. Pasokan energi yang terjaga memungkinkan transportasi tetap bergerak, distribusi logistik berjalan lancar, dan roda perekonomian berputar tanpa hambatan.

Bagi Indonesia, turbulence global menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi stabilitas nasional. Pasokan energi yang terjaga memungkinkan transportasi tetap bergerak, distribusi logistik berjalan lancar, dan roda perekonomian berputar tanpa hambatan.

Presiden ke-8 Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, berulang kali menekankan bahwa kemandirian dan ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan bangsa. Dalam lanskap geopolitik yang terus berubah, kemampuan menjaga stabilitas pasokan energi menjadi indikator kekuatan nasional.

Indonesia memiliki posisi unik dalam peta energi global. Populasi besar dan mobilitas ekonomi yang tinggi menambah kebutuhan energi domestik, sementara sistem energi tetap terhubung dengan pasar global. Dari fluktuasi harga minyak hingga perubahan produksi energi dunia, setiap faktor eksternal berpotensi berdampak langsung pada negeri ini.

Peran rantai pasok energi, demand planning, dan market intelligence menjadi sangat krusial. Demand planning memastikan kebutuhan energi diproyeksikan secara presisi, sedangkan market intelligence membaca risiko global yang dapat memengaruhi pasokan nasional. Bersama, mereka menjaga stabilitas energi meski dunia menghadapi turbulence geopolitik.

Ketahanan energi bukan hanya soal infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga kemampuan membaca masa depan. Analisis data, proyeksi permintaan, dan pemantauan pasar global membentuk strategi adaptif untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ramadan menambahkan dimensi khusus pada tantangan ini. Peningkatan mobilitas masyarakat, distribusi logistik yang padat, dan lonjakan konsumsi energi harus diantisipasi melalui perencanaan matang. Demand planning dan market intelligence memastikan energi tersedia tepat waktu dan jumlah, sehingga masyarakat bisa menjalani aktivitasnya tanpa hambatan.

Namun Ramadan juga menjadi momen refleksi. Di tengah dunia yang masih diwarnai ketegangan geopolitik, bulan suci ini mengingatkan pada nilai kesabaran, solidaritas, dan harapan akan perdamaian. Dalam konteks energi, nilai-nilai itu tercermin dalam kerja kolektif menjaga stabilitas pasokan.

Energi yang tersedia hari ini bukan hanya hasil sistem logistik yang efisien, tetapi juga buah kerja kolektif banyak pihak yang menjaga ketahanan nasional. Mesin dan kendaraan bergerak, tapi yang lebih penting, kehidupan masyarakat tetap berjalan.

Ramadan mengajarkan bahwa di tengah turbulence global, harapan tidak boleh padam. Selama energi mengalir, selama itu pula harapan Indonesia untuk melangkah menuju masa depan yang damai, kuat, dan berdaulat akan terus menyala.

Selamat Jalan Ramadhan: Perpisahan dengan Sebuah Cahaya

Oleh: Fathur Rosy ( KAHMI Banjarbaru )

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika Ramadhan mulai meninggalkan kita. Ia datang dengan penuh kehangatan, menghidupkan malam-malam kita, melembutkan hati kita, dan mendekatkan kita kepada Allah. Namun kini, perlahan ia pergi—meninggalkan jejak-jejak yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah tersentuh olehnya.

Ramadhan bukan sekadar bulan dalam kalender. Ia adalah tamu agung yang datang membawa cahaya. Dalam kehadirannya, banyak hal yang berubah. Waktu terasa lebih bermakna, doa terasa lebih dekat, dan air mata lebih mudah jatuh dalam keheningan ibadah.
Namun seperti semua tamu, Ramadhan tidak tinggal selamanya.

Perpisahan dengan Ramadhan sering menghadirkan dua perasaan yang bertemu: syukur dan kehilangan. Syukur karena kita diberi kesempatan untuk menjalaninya—untuk berpuasa, berdoa, dan memperbaiki diri. Namun juga ada rasa kehilangan, karena kita tahu tidak ada jaminan kita akan bertemu dengannya lagi di masa depan.

Di sinilah perpisahan ini menjadi refleksi yang dalam.
Ramadhan datang untuk mengajarkan kita tentang siapa diri kita sebenarnya. Ia menunjukkan bahwa kita mampu menahan diri, mampu bersabar, mampu memperbanyak kebaikan, dan mampu mendekat kepada Allah lebih dari yang kita bayangkan.
Ia seperti membuka sebuah kemungkinan baru dalam diri kita.

Namun kini, ketika Ramadhan pergi, pertanyaannya adalah: apakah kemungkinan itu akan kita jaga, atau kita biarkan menghilang bersama kepergiannya?
Sering kali, yang kita rasakan bukan kehilangan Ramadhan, tetapi kehilangan versi terbaik dari diri kita yang muncul selama Ramadhan. Kita kehilangan ketenangan saat membaca Al-Qur’an, kehilangan kehangatan saat berdoa di malam hari, dan kehilangan kesadaran yang lebih dalam tentang kehidupan.
Jika itu yang terjadi, maka sebenarnya yang kita rindukan bukan hanya Ramadhan, tetapi keadaan hati kita di dalamnya.

Perpisahan ini mengajarkan bahwa Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia adalah madrasah spiritual yang melatih kita selama sebulan penuh, agar kita siap menjalani sebelas bulan berikutnya dengan kualitas iman yang lebih baik.

Namun seperti seorang murid yang meninggalkan sekolah, keberhasilan kita tidak diukur dari apa yang kita lakukan di dalamnya, tetapi dari bagaimana kita hidup setelah keluar darinya.
Apakah kita tetap menjaga shalat dengan kesadaran yang sama?
Apakah kita masih menyisakan waktu untuk Al-Qur’an?
Apakah kita tetap berusaha menjaga hati dan lisan?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah Ramadhan benar-benar telah mengubah kita.

Selamat jalan, Ramadhan. Engkau telah datang dengan lembut, mengajarkan tanpa memaksa, dan menyentuh tanpa banyak kata. Engkau telah menjadi saksi dari doa-doa yang diam-diam kami panjatkan, dari air mata yang mungkin tidak pernah dilihat oleh siapa pun selain Allah.
Jika kami masih penuh kekurangan dalam menjalanimu, itu bukan karena ajaranmu kurang sempurna, tetapi karena hati kami yang belum sepenuhnya siap.

Namun kami berharap, apa yang telah engkau tanamkan tidak hilang begitu saja.
Biarlah sedikit cahaya yang engkau tinggalkan tetap hidup di dalam hati kami. Biarlah kebiasaan baik yang kami bangun tetap bertahan, meskipun tidak sebesar ketika engkau bersama kami. Biarlah kerinduan kepada Allah tetap menjadi bagian dari kehidupan kami.
Karena sejatinya, perpisahan dengan Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, tetapi ujian dari kejujuran kita.
Apakah kita mencintai Ramadhan, atau kita mencintai Allah yang kita temui di dalamnya?

Jika yang kita cintai adalah Allah, maka meskipun Ramadhan telah pergi, jalan menuju-Nya tetap terbuka.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari perpisahan ini: bukan tentang kehilangan, tetapi tentang apakah kita mampu menjaga apa yang telah kita temukan.

Selamat jalan, Ramadhan. Jika kami tidak lagi bertemu denganmu di masa depan, semoga apa yang engkau tinggalkan menjadi saksi bahwa kami pernah berusaha untuk kembali.
Dan jika Allah masih mempertemukan kami denganmu lagi, semoga kami datang sebagai pribadi yang lebih siap—dengan hati yang lebih hidup, iman yang lebih kuat, dan kerinduan yang lebih dalam.