Refleksi Hari Kartini: Ketua Umum DPM FISIP UWKS Serukan Perlawanan Terhadap Ketidakadilan Gender
Surabaya, Berdampak.net – Momentum peringatan Hari Kartini di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) berlangsung khidmat sekaligus membara. Bertempat di depan ikon kampus, Candi Penataran, pada Kamis (23/4), gerakan mahasiswa menyuarakan kembali hak-hak perempuan yang dinilai masih kerap terabaikan di ruang publik maupun akademis.
Dalam aksi tersebut, Adethri Torangi Simanjuntak, Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) UWKS, berdiri di hadapan massa untuk menyampaikan orasi perjuangan. Adethri, yang juga merupakan Kader GMNI UWKS, menegaskan bahwa emansipasi bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah perlawanan yang harus terus dirawat.
Pendidikan Sebagai Pembebasan Pikiran
Di bawah naungan kemegahan Candi Penataran, Adethri menekankan bahwa sosok R.A. Kartini adalah “Sang Pemahat Fajar” bagi perempuan Indonesia. Mengutip pemikiran Kartini, ia mengingatkan bahwa pendidikan adalah alat utama untuk memerdekakan pikiran.
“Dahulu, pendidikan bagi perempuan adalah kemewahan yang sulit digapai. Hari ini, meski banyak perempuan telah mampu menempuh pendidikan tinggi, pertanyaannya adalah: apakah perjuangan itu sudah selesai? Jelas belum,” tegas Adethri dengan lantang.
Menyoroti Stigma dan Standar Ganda di Kampus
Meski akses pendidikan telah terbuka, Adethri menyoroti realita pahit yang masih menghantui lingkungan kampus. Sebagai pimpinan mahasiswa FISIP, ia mengkritik keras fenomena ketidakadilan yang masih terjadi, seperti:
Stigma Kepemimpinan: Masih adanya pandangan kolot bahwa perempuan tidak cocok menduduki posisi pemimpin.
Standar Ganda: Kecenderungan lingkungan yang lebih tajam menilai penampilan fisik daripada kecemerlangan intelektual seorang perempuan.
Kekerasan dan Intimidasi: Seruan tegas untuk menghapus segala bentuk pelecehan, diskriminasi, dan intimidasi di lingkungan kampus.
Menyalakan ‘Api’ Keberanian Kartini Modern
Menutup orasi politiknya, Adethri mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tidak membiarkan satu pun perempuan tertinggal hanya karena merasa tidak mampu. Ia memberikan pesan kuat mengenai filosofi perjuangan Kartini.
“Kalimat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ tidak boleh hanya menjadi judul buku. Terang tidak akan ada jika kita tidak menyalakan apinya. Maka dari itu, mari kita nyalakan api keberanian itu di lingkungan kita sekarang,” serunya.
Adethri juga berpesan kepada para mahasiswi agar menjadi “Kartini Modern” yang memiliki prinsip kuat di masa depan. “Jadilah perempuan yang mampu mengatakan ‘tidak’ pada ketidakadilan. Teruslah bersinar dan jadilah mercusuar di tengah perlawanan itu sendiri,” pungkasnya.
Aksi yang berlangsung di pelataran Candi Penataran tersebut diakhiri dengan pekikan solidaritas “Hidup Perempuan yang Melawan!” dan “Merdeka!”, menandai komitmen mahasiswa UWKS dalam mengawal isu kesetaraan gender dan ruang aman bagi perempuan di kampus.