Bangkit Bersama, Mewujudkan Indonesia Kuat

Oleh Ainur Rofiq

Setiap tahun, tanggal 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu momentum penting: Kebangkitan Nasional. Tahun ini, tepat 117 tahun lalu, lahir semangat Boedi Oetomo yang menandai awal gerakan sadar bangsa untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan Imperialisme. Namun, kebangkitan yang sesungguhnya tak berhenti di sana. Kini, kita diajak bangkit bersama untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, merata, dan berkeadilan.
Tema “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat” bukan sekadar jargon politik atau slogan di spanduk yang terpasang di tembok, tiang papa reklame instansi, tiang papan jalan protokol. Ini adalah janji dan tugas yang harus kita pegang bersama, khususnya di tengah berbagai program strategis yang tengah dijalankan pemerintah hari ini.
Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam proses kebangkitan ini. Bayangkan sebuah Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang sepenuhnya gratis dan diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini bukan sekadar memberikan ilmu, tapi juga kesempatan untuk bermimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mengungkung. Ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa dan jaminan kemajuan serta kesejahteraan kedepan.
Dalam konteks ini, kita tak bisa melepas dari ajaran Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia mengingatkan kita bahwa:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya, pemimpin harus bisa memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Prinsip ini sangat relevan dalam upaya memperkuat sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Tak hanya pendidikan, pemerintah juga bergerak di sektor lain yang krusial: kesehatan, perumahan, dan pangan. Akses kesehatan yang gratis dan berkualitas diharapkan bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Perumahan bersubsidi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan hunian layak bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, serta memberikan kesempatan yang sama bagi para buruh untuk mendapatkan pemukiman yang layak dan terjangkau dengan upah yang diterima. Sementara itu, ketahanan pangan diperkuat dengan mendorong koperasi Merah Putih dan pelaksanaan Reforma Agraria.
Reforma Agraria bukan hanya soal pembagian tanah dan legalitas asetnya. Akan tetapi kebijakan serta pemaknaan yang lebih luas merupakan upaya membangun kedaulatan petani kecil, memastikan sumber daya dapat dinikmati secara adil, dan menumbuhkan ekonomi rakyat yang mandiri. Ini adalah bagian penting dari kebangkitan yang menghunjam ke akar rumput.
Prof. Arief Rachman, tokoh pendidikan yang juga mantan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menambahkan:
“Kebangkitan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi bagaimana mencerdaskan manusia agar merdeka dalam berpikir dan bertindak.”
Maka, kebangkitan nasional hari ini adalah “gerakan kolektif”. Gerakan yang menuntut kita bersama-sama memperbaiki layanan dasar, menjamin akses pendidikan dan kesehatan yang merata, dan menguatkan ekonomi rakyat. Indonesia kuat bukan hanya sekadar mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa kita capai jika semua pihak pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bersatu dalam semangat kebersamaan dan keadilan sosial.
Mari kita satukan langkah dengan penuh semangat dan keyakinan membangun Indonesia yang lebih baik. Sebuah negeri yang berkeadilan sosial, di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama meraih kesejahteraan. Indonesia yang bermartabat bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang harus kita raih bersama. Kebangkitan ini bukan sekadar mengenang masa lalu yang heroik. Melainkan sebuah panggilan untuk memperkuat fondasi masa depan bangsa.
Kebangkitan Nasional bukan pula sekadar peringatan sejarah yang rutin kita rayakan tiap tahun. Ia adalah momentum nyata untuk bertindak dan bergerak bersama membangun kemajuan. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada langkah kita hari ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangkit bersama, bersatu padu, untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Demi Indonesia yang kuat, adil, dan berdaulat sepenuhnya.
Wallahu A’lam Bisshowab
Malang 20 Mei 2025

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Kebangkitan Nasional: Hidup tanpa Medsos

oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST. ,MAP.,*

Dalam lanskap teknologi yang berkembang pesat saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, konsep” Kebangkitan Nasional ” atau Kebangkitan Bangsa dapat ditelaah melalui lensa kehidupan tanpa media sosial. Gagasan Kebangkitan Nasional erat kaitannya dengan semangat keterlibatan aktif dalam masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Ketika Indonesia mengalami kebangkitannya di awal abad ke-20 melalui gerakan-gerakan yang mengadvokasi kemerdekaan dari kekuasaan kolonial, peran komunikasi menjadi hal yang mendasar. Surat kabar dan pamflet mengedarkan gagasan dan menumbuhkan rasa persatuan di antara masyarakat. Saat ini, media sosial berfungsi sebagai mitra modern untuk media tradisional ini. Hidup tanpanya menginspirasi refleksi tentang bagaimana keterlibatan dan aktivisme dapat berkembang melalui cara yang lebih pribadi dan langsung, mirip dengan metode mobilisasi historis.

Mempertimbangkan dampak dari kehidupan bebas media sosial, bahwa hal itu dapat mengarah pada interaksi yang lebih bermakna. Tanpa gangguan notifikasi dan sifat dangkal dari interaksi online, individu dapat mengembangkan hubungan yang lebih dalam. Hubungan pribadi yang terjalin melalui percakapan tatap muka memiliki dampak psikologis yang mendalam, meningkatkan empati dan pengertian. Individu seperti R. A. Kartini, yang mengadvokasi hak-hak perempuan di Indonesia pada masanya, sangat bergantung pada korespondensi pribadi dan pertemuan komunitas. Pendekatan ini menumbuhkan rasa tujuan bersama yang tulus yang dapat dicerminkan dalam konteks modern tanpa dunia online.

Selain itu, ketiadaan media sosial menumbuhkan pemikiran kritis. Saat ini, banyaknya informasi yang tersedia di platform media sosial sering kali menciptakan ruang gema, di mana pengguna dihadapkan pada perspektif yang terbatas, memperkuat keyakinan yang ada. Tanpa akses langsung ke beragam pendapat, individu perlu mencari pengetahuan melalui buku, diskusi, dan menganalisis sumber berita secara kritis. Metode ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengedepankan pendidikan dan integritas moral. Diskusi yang hidup seputar pendidikan di awal tahun 1900-an mendorong proses berpikir dan perspektif kritis yang berkontribusi pada kebangkitan intelektual Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya media sosial dapat menghambat aspek advokasi dan kesadaran tertentu. Media sosial telah terbukti menjadi alat yang ampuh untuk memobilisasi kelompok besar dan menyebarkan informasi dengan cepat. Gerakan-gerakan seperti Black Lives Matter dan climate activism telah mendapatkan momentum melalui kemampuan menjangkau khalayak secara global hanya dalam hitungan detik. Tidak adanya platform semacam itu dapat berarti berkurangnya jangkauan dan upaya organisasi yang lebih lambat untuk tujuan sosial. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gerakan dapat berkembang bahkan tanpa adanya teknologi, hanya didorong oleh semangat dan komitmen. Gerakan kemerdekaan Indonesia merupakan bukti mobilisasi akar rumput yang efektif tanpa kenyamanan modern.

Selain itu, implikasi hidup tanpa media sosial meluas ke ranah privasi dan kesehatan mental. Maraknya masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan media sosial yang berlebihan, seperti kecemasan dan depresi, menyoroti perlunya mundur dari dunia digital. diperlukan adanya ikhtiar secara sistematis untuk membahas solusi tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Lingkungan tanpa media sosial dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dan kerangka mental yang lebih jelas, yang didorong sebagai bagian kesadaran sosial yang bermuara pada kebangkitan nasional yang berfokus pada pembangunan karakter mental anak-anak bangsa.

Media tradisional menawarkan pandangan sekilas yang menarik ke dalam dunia media pasca-sosial. Surat kabar, papan buletin komunitas, dan keterlibatan langsung dapat mewakili kembalinya ke bentuk komunikasi yang lebih bijaksana, yang berpotensi menghasilkan konesitas masyarakat sipil yang lebih erat. Diskusi dalam lingkungan sosial yang nyata akan mendorong inklusivitas dan partisipasi. Civil Society dapat mengambil peran yang berbeda dalam lanskap yang sedang berkembang ini, melayani sebagai mentor dan pendidik, bukan hanya pemberi pengaruh media sosial. Pergeseran ini dapat menciptakan babak baru dalam keterlibatan sipil, mengingatkan pada upaya kolektif yang dilakukan selama awal abad ke-20.

Kebangkitan Nasional melalui lensa living without social media membutuhkan perenungan tentang dampak sosial dari era digital saat ini. Keberadaan media sosial tidak dapat disangkal memfasilitasi konektivitas dan kesadaran yang luas, kesejajaran sejarah menekankan potensi interaksi yang bermakna, pemikiran kritis, dan gerakan berbasis komunitas. Dengan paradigma ini akan menguatkan sejarah Indonesia bahwa hubungan yang tulus, wacana yang sehat, dan tindakan yang terinformasi dapat muncul menjadi katalisator dari penyimpangan kebisingan digital media sosial. Pendekatan ini mungkin menandakan gelombang kebangkitan nasional berikutnya, menyelaraskan individu menuju tujuan bersama, memperkaya jalinan komunitas, dan membina masyarakat yang lebih bersatu.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Presiden BPP HISMI Lantik “Cak Ramda” Nahkodai BPW HISMI Jawa Timur

Sidoarjo, Berdampak.net – Minggu (18 /05/ 2025) – Himpunan Saudagar Mahasiswa Indonesia (HISMI) menorehkan babak baru di Bumi Majapahit. Seribu mahasiswa padati Kampus Kemandirian Sidoarjo, 20 Ketua Umum BPD HISMI ikut dikukuhkan dalam seremoni bertajuk “ Pelantikan Raya BPW HISMI Jawa Timur dan BPD HISMI se-Jawa Timur” di Auditorium Kampus Kemandirian Sidoarjo.

Presiden BPP HISMI 2024‑2026 Agung Andika Nugroho Wicaksono resmi melantik Muhammad Ramzi Ramadhan akrab disapa Cak Ramda sebagai Ketua Umum BPW HISMI Jawa Timur periode 2025‑2027 serta Ketua Umum dari 20 BPD HISMI se – Jawa Timur resmi dikukuhkan.

Usai menerima bendera kepemimpinan, Cak Ramda langsung memimpin prosesi pengukuhan 20 Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) HISMI se – Jawa Timur, mulai dari Banyuwangi hingga Pacitan. Formasi lengkap ini disebut sebagai motor penggerak agenda kewirausahaan mahasiswa di tingkat kabupaten/kota.

Acara dihadiri berbagai tokoh bisnis dan pendidikan, antara lain:

  • H. Jarot Warjito – Dewan Pembina BPP HISMI & Owner Tractorindo, LDA
  • Dedy Pratama – Owner Sogeh Bareng Group
  • M. Jerry Ari Ananta – Presiden BPP HISMI 2022 – 2024 & CEO Isen Mulang Konveksi
  • ⁠Dzhilal Bahalwan – Direktur Adinara Institue
  • ⁠Tamu undangan lainnya
  • Perwakilan 1.000 mahasiswa dari 30‑an kampus se – Jawa Timur

Wakil Gubernur Jawa Timur 2025 – 2030 Emil Elestianto Dardak tidak dapat hadir secara langsung, namun menyampaikan ucapan selamat atas dilantiknya BPW HISMI Jawa Timur dan menyampaikan pesan :

“HISMI adalah laboratorium bagi mahasiswa untuk bisa menjadikan para mahasiswa menjadi seorang pengusaha muda. Pemprov siap bersinergi agar lahir wirausahawan kampus yang kompeten dan berdaya saing global,” ujarnya dalam video paparan.

Agung Andika Nugroho Presiden BPP HISMI 2024 – 2026, menegaskan bahwa kehadiran BPW HISMI Jatim melengkapi jaringan HISMI di berbagai provinsi lainnya.

“HISMI bukanlah organisasi yang mengedepankan eksistensi tetapi mengutamakan sinergi dan kolaborasi untuk saling memperkuat jejaring demi tujuan bersama yaitu mencetak generasi muda khususnya untuk mahasiswa menjadi saudagar yang gemilang,” ungkapnya.

Sementara Cak Ramda, Ketua Umum BPW HISMI Jatim 2025 – 2027 mengajak seluruh pengurus bersinergi :

“Mari jadikan Jawa Timur lumbung saudagar mahasiswa. Kita bergerak, berdaya, dan berkontribusi nyata untuk Indonesia.” serunya disambut tepuk tangan ribuan peserta.

Pelantikan raya yang dikemas interaktif, edukatif, dan inspiratif. Karena setelah prosesi pelantikan, HISMI berkolaborasi dengan Aliansi BEM Delta Sidoarjo menampilkan sebuah Konser Pendidikan Nasional Tour Public Speaking Training For Business “Edutainment” ini selaras misi HISMI: belajar, berjejaring, dan beraksi dalam satu panggung.

Dengan kepengurusan lengkap hingga tingkat daerah, BPW HISMI Jawa Timur menargetkan program – program unggulan demi terwujudnya 1.000 Saudagar Mahasiswa yang gemilang.

Pelantikan Raya di Sidoarjo menandai langkah serempak HISMI Jawa Timur menuju VISI “Mahasiswa Berdikari, Saudagar Menginspirasi” menginjak gas menuju Indonesia Gemilang. (fj)

KONI Kabupaten Probolinggo Gelar Raker, Ini Harapan Bupati Gus Haris

Probolinggo, Berdampak.net – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Probolinggo menggelar rapat kerja (raker) tahun 2025 yang dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan (reward) kepada atlet berprestasi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut tahun 2024 di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Sabtu (17/5/2025).

Kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris, Kapolres Probolinggo AKBP Wisnu Wardana, Wakil Ketua DPRD M. Zubaidi dan sejumlah anggota DPRD, perwakilan Forkopimda dan Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan.

Turut hadir pula Pemimpin Bank Jatim Cabang Kraksaan Siska Dian Permatasari, Ketua Forum CSR Kabupaten Probolinggo Sugeng Nufindarko, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Heri Mulyadi, Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Ulfiningtyas serta ketua cabang olahraga (cabor) dan atlet berprestasi di Kabupaten Probolinggo.

Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih, KONI Kabupaten Probolinggo memberikan penghargaan kepada para atlet dan pelatih yang berhasil meraih medali dalam PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menekankan pentingnya sinergi antara KONI dan Pemerintah Daerah dalam memajukan dunia olahraga di Kabupaten Probolinggo. Harapannya agar KONI mampu memperluas jangkauan pembinaan hingga ke tingkat akar rumput melalui sistem desentralisasi berbasis wilayah dan institusi pendidikan dan juga mengusulkan integrasi antara olahraga dan pariwisata.

Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan menyampaikan apresiasinya atas dukungan pemerintah daerah dan berharap semangat para atlet dan pelatih dapat terus meningkat dan KONI berkomitmen untuk terus melatih dan membina atlet-atlet muda agar dapat berprestasi di tingkat nasional dan internasional dengan dukungan semua pihak. (rh)

Randutatah Menjaga Napas Pesisir (Ekowisata Berbasis Warga yang Menghidupkan Kembali Pesisir Probolinggo)

Oleh Ainur Rofiq

Probolinggo, Berdampak.net – Langit Randutatah pagi itu tak pernah sepi. Di sela-sela rimbunan pohon bakau, suara cekakak sungai bersahut-sahutan, bersaing dengan lengking raja udang biru yang melesat rendah di atas air. Di tempat ini, di ujung pesisir Probolinggo, alam masih bernapas, berkat tangan-tangan warga yang merawatnya sepenuh hati dan tanpa kenal lelah bersatu memadukan tujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir pantai.

Kawasan Konservasi Cemara Laut (casuarina equisetifolia) dan Mangrove Randutatah, atau akrab disebut Duta, kini menjadi oase hijau di tengah pesisir Jawa Timur yang makin padat. Didirikan tahun 2012, kawasan ini membentang seluas 75 hektare, menyatu dengan denyut hidup masyarakat yang perlahan belajar bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang.

Benteng Abrasi, Rumah Burung
Dulu, kawasan ini tergerus abrasi setiap tahun. Garis pantai terus mundur, meninggalkan cerita suram bagi warga pesisir. Tanah-tanah pertanian rusak, rumah-rumah nyaris tersapu gelombang. Namun segalanya mulai berubah ketika bibit bakau ditanam serentak, disusul Cemara Laut yang berjajar rapat di tepi pantai. Sejak itu, pesisir perlahan aman. Burung-burung yang sempat menghilang, kini kembali berseliweran di langit Randutatah.

Kini, lebih dari 30 jenis burung menjadikan kawasan ini rumah. Udara Randutatah dipenuhi sayap-sayap yang menari di atas rimbun bakau dan cemara laut. Raja udang biru (Alcedo atthis) kerap terlihat melesat cepat di atas air payau, mengejar ikan kecil di sela akar bakau. Bangau kecil (Egretta garzetta) berdiri tenang di tepian lumpur, menanti mangsa sambil menjaga keseimbangan di atas satu kaki. Sementara burung cekakak sungai (Todiramphus chloris) bersahut-sahutan dari pucuk dahan, memberi tanda bahwa kawasan ini bukan lagi tempat sunyi seolah menyambut setiap burung untuk hinggap bersautan saling menyapa nan bahagia.

Kembalinya burung-burung liar ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan sinyal ekologi yang penting. Mereka hadir karena rantai makanan kembali utuh, karena pohon-pohon kembali tumbuh, dan karena ruang hidup mereka tak lagi terganggu. Di mata warga dan wisatawan, keberadaan burung-burung itu menjadi bukti hidup bahwa ekosistem pesisir Randutatah telah pulih dan layak dirawat bersama.
Di atas lahan berlumpur yang dulunya kosong, kini tumbuh subur bakau Rhizophora mucronata yang mendominasi kawasan. Tanaman bakau ini mencengkeram kuat tanah seluas 50 hektare, menciptakan benteng hidup yang melindungi pesisir dari kikisan ombak. Menyusuri kawasan ini, pengunjung akan melewati jembatan kayu sepanjang 1,2 kilometer yang membelah rimbunan, menyaksikan langsung bagaimana akar-akar bakau menahan lumpur dan menjadi rumah bagi biota kecil seperti kepiting bakau dan udang.

Dari Konservasi ke Ekowisata
Di tengah hamparan hijau itu, Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) tumbuh menjulang, menjadi ikon kawasan sekaligus pelindung alami dari terpaan angin laut. Pohon-pohon ini tak hanya menyejukkan lanskap pesisir, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan masyarakat Randutatah yang perlahan bangkit dari keterpurukan. Kesadaran kolektif Masyarakat pesisir Randutatah telah dibuktikan dengan Gerakan Bersama menanam, merawat dan tidak tergoda dengan harapan semu yang merugikan dalam jangka Panjang yaitu menebang kayu pohon bakau yang berada di lahan konservasi tersebut.

Kini, kawasan ini tak sekadar ruang konservasi, melainkan saat ini telah menjelma menjadi destinasi ekowisata edukatif. Wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga ikut menanam bakau (kala itu), belajar mengenal jenis-jenis mangrove, hingga mengamati burung yang hilir mudik di sela dedaunan. Harapannya, setiap pengunjung pulang membawa lebih dari sekadar gambar di gawai, tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga alam yang merupakan tujuan edukasi itu sendiri yang secara langsung menggugah alam bawah sadar para wisatawan.

Maka upaya konservasi ini berjalan seiring dengan regulasi daerah yang mendukung. Pemerintah setempat menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Pesisir, memberi pijakan hukum yang kuat bagi masyarakat untuk mengelola kawasan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.

Menanam Harapan, Merawat Masa Depan
Bagi warga Randutatah, kawasan konservasi ini bukan sekadar hutan bakau atau deretan cemara laut di tepi pantai. Ia telah menjelma menjadi napas kehidupan yang menghidupi banyak sisi dari ekologi hingga ekonomi. Di bawah rindangnya, tumbuh peluang baru yang dulu tak pernah mereka bayangkan. Sebagian warga kini menggantungkan penghasilan dari jasa wisata lokal, mengelola perahu susur mangrove, membangun gazebo sederhana, hingga menyambut tamu dari berbagai kota yang ingin belajar tentang alam dan ketangguhan masyarakat pesisir.
Sisi lain kehidupan tumbuh dari pembibitan mangrove. Bibit-bibit muda dirawat dengan cermat di pembibitan swadaya warga, lalu dikirim ke daerah pesisir lain yang tengah berjuang melawan abrasi. Dari Randutatah, harapan menjalar ke banyak pantai di Jawa Timur. Pohon-pohon yang dulu ditanam dengan cemas, kini menjadi komoditas Lestari tak sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga ekologis. Mereka menjual perlawanan terhadap kerusakan lingkungan, dalam wujud yang paling sederhana: batang-batang muda pohon bakau.

Anak-anak muda pun tak tinggal diam. Mereka turun tangan, menjadi pemandu wisata, fasilitator edukasi lingkungan, hingga pengelola media sosial yang memperkenalkan wajah baru kampung mereka. Kampung pesisir yang dulunya nyaris tenggelam oleh abrasi dan tertinggal dalam pembangunan, kini ramai oleh kegiatan warga, kunjungan pelajar, dan pertemuan komunitas lingkungan. Di tangan mereka, konservasi bukan sekadar kegiatan musiman, tapi gerakan sosial yang menyatu dengan identitas kolektif.
Setiap musim tanam mangrove tiba, warga bersama pelajar dan relawan dari berbagai kota datang menyusuri lumpur. Mereka menancapkan bibit-bibit baru sambil tertawa, meski kaki tenggelam hingga betis. Di sini, pelajaran sederhana diwariskan lintas generasi: bahwa sebatang pohon bisa menjadi benteng, seekor burung yang kembali bisa jadi tanda, dan sehelai dedaun Cemara Laut bisa menjaga ribuan napas pesisir tetap hidup. Di Randutatah, warga tak hanya menanam pohon, mereka sedang menanam masa depan.

Di ujung hari, saat matahari mulai tenggelam perlahan di balik barisan Cemara Laut yang menjulang, kawasan ini seolah mengirim pesan diam. Tak dengan pidato panjang atau papan pengumuman, tetapi lewat desir angin, nyanyian burung, dan riak air pasang yang tenang. Pesan itu sederhana namun dalam: “bahwa merawat alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang tak bisa ditawar”. Di Randutatah Pantai duta, masyarakat sudah memahami bahwa ekowisata bukan sekadar bisnis, tetapi tujuan utama keberadaan kawasan konservasi yang lestari.

Wallahu A’lam Bisshowab.
Probolinggo 12 Mei 2025

Tingkatkan Literasi Kader, Berdampak.net Gandeng HMI Probolinggo Gelar Pelatihan Jurnalistik

Probolinggo, Berdampak.net – Untuk meningkatkan minat baca dan menulis generasi milenial, Media Online Berdampak.net menggelar pelatihan Jurnalistik bersama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Probolinggo, di Caffe Alino Kraksaan, Sabtu (3/05/2025). Kegiatan tersebut diikuti oleh delegasi dari masing-masing Komisariat yang ada di cabang setempat.

Ketua umum HMI Cabang Probolinggo, Imam Suyuti mengapresiasi kegiatan tersebut, menurutnya kegiatan ini merupakan langkah kongkrit untuk meningkatkan minat baca dan menulis para kader HMI.

“Kami sampaikan terimakasih kepada media online berdampak.net yang telah menginisiasi kegiatan pelatihan jurnalistik ini, harapannya kami sebagai kader HMI, pasca dari pelatihan ini bisa meningkatkan minat baca dan menulis,” terangnya saat menyampaikan sambutannya.

Sementara itu, Komisaris Berdampak.net, Fajar Satrio Bangun Wibowo mengatakan pihaknya sangat berharap melalui kegiatan ini, para kader HMI bisa lebih meningkatkan lagi minat baca dan menulis.

“Saat ini tidak bisa kita pungkiri, budaya menulis dan membaca mengalami degradasi, maka dari itu melalui kegiatan pelatihan jurnalistik ini, bisa kembali meningkatkan minat baca dan menulis para Kader HMI,” jelasnya.

Selain pelatihan jurnalistik, dalam kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari Profesional SDM, Rochman Hidayat memberikan materi tentang penguatan leadership.

Dalam paparannya, Rochman menyampaikan, seorang kader HMI harus memiliki profesional mindset. “Sesuai dengan tujuan HMI, seorang kader HMI harus menjadi man of future dan man of Inovator,” jelasnya.

Untuk mencapai dua tujuan besar tersebut, seorang kader HMI harus memiliki empat type Thinking leader. “Yang pertama, Expert thinking, Critical thinking, System thinking dan Strategic thinking, jika keempatnya tersebut sudah dimiliki, maka man of future dsn man of inovator bisa dicapai dengan mudah,” tegasnya. (fiq)