Pererat Silaturahmi, MD KAHMI Kabupaten Probolinggo Gelar Halal Bihalal, ini Pesan Wakil Bupati

Probolinggo, Berdampak.net – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Probolinggo menggelar acara Halal Bihalal 1447 H yang bertempat di Ruang Tengger, Kantor Bupati Probolinggo, pada Rabu (22/4/2026).

Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan ini menjadi momentum penguat sinergi antara alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Pemerintah Daerah dalam membangun Kabupaten Probolinggo ke depan.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi AHZ, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar KAHMI. Selain itu, tampak hadir perwakilan pengurus MW KAHMI Jawa Timur, serta puluhan alumni HMI dari berbagai lintas profesi yang berdomisili di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Presidium MD KAHMI Kabupaten Probolinggo, Arief Hermawan dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas dukungan Pemerintah Kabupaten yang telah memfasilitasi kegiatan ini di Ruang Tengger.

Selain itu, Arief juga mengajak semua alumni HMI untuk turut ikut membangun Kabupaten Probolinggo.

“Ada banyak kader-kader HMI yang sudah tersebar di setiap lini di Kabupaten Probolinggo, dan harapannya bisa bersama-sama membangun Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Fahmi AHZ mengatakan, menekankan pentingnya peran strategis alumni HMI dalam mengawal pembangunan di Kabupaten Probolinggo.

“KAHMI memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di berbagai sektor. Momentum Halal Bihalal ini bukan sekadar seremonial, tapi merupakan wadah untuk menyatukan ide dan gagasan demi kemajuan daerah kita tercinta,” ujar Wabup Fahmi AHZ.

Beliau juga menambahkan bahwa semangat “Insan Cita” harus tetap dijaga dan diimplementasikan dalam pengabdian nyata kepada masyarakat, terutama dalam mendukung program-program strategis pemerintah kabupaten.

Suasana hangat terasa saat sesi ramah tamah berlangsung. Para alumni saling bertukar kabar dan berdiskusi ringan mengenai isu-isu terkini di Probolinggo.

Diharapkan, setelah kegiatan ini, komunikasi antar alumni semakin solid sehingga kontribusi KAHMI terhadap publik semakin terasa manfaatnya. (fiq)

Talk show Geopolitik Akhir pekan bersama Idham Holiq

Malang, Berdampak.net – Talk show Geopolitik yang digelar di DPRD Kota Malang kemarin memberi satu kesan kuat, diskusi berkualitas masih punya tempat dan daya tarik di kalangan mahasiswa. Bahkan, dengan durasi sekitar 2,5 jam, forum ini terasa seperti “short course” yang padat, berisi, dan menggugah cara pandang.

Menghadirkan figur seperti Idham Holik dan Kanda Munzil sebagai narasumber menunjukkan bahwa ruang dialog ini tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi ajang transfer gagasan.

Pembahasan yang menyentuh teori besar seperti Thucydides Trap yang diperkenalkan oleh Graham T. Allison menandakan bahwa diskusi tidak berhenti pada isu lokal, tetapi mampu mengaitkan dinamika global dengan realitas kebangsaan.

Yang menarik, forum ini tidak kehilangan “ruh” diskusi mahasiswa—tetap hidup, interaktif, dan penuh pertukaran gagasan. Istilah “isinya daging semua” bukan sekadar ungkapan, tetapi mencerminkan kualitas materi yang disampaikan.

Dari geopolitik hingga literasi demokrasi, semuanya dikupas dengan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi saat ini.

Peran moderator dalam menjaga alur diskusi selama berjam-jam juga menjadi kunci penting. Bukan hanya mengatur waktu, tetapi memastikan setiap gagasan tersampaikan dengan jelas dan tetap menarik bagi audiens. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan intelektual di kalangan kader masih terjaga dan terus berkembang.
Pada akhirnya, kegiatan seperti ini menegaskan bahwa demokrasi yang sehat lahir dari ruang-ruang diskusi yang hidup.

Ketika mahasiswa terbiasa berdialog dengan perspektif yang luas dan berbasis literasi, maka mereka tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi juga calon aktor yang siap memberi arah.

Forum ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi bukti bahwa tradisi intelektual masih menyala—dan perlu terus dirawat. Salam YAKUSA. (lh)

Halal Bihalal Bernilai Strategis: KAHMI Jatim Bahas Ketahanan Daerah dan Sinergi Pembangunan

Probolinggo, Berdampak.net – Kegiatan halal bihalal Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Timur yang digelar pada Minggu siang (12/4) di Kota Probolinggo berlangsung tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul fitri. Lebih dari itu, forum ini berkembang menjadi ruang diskusi strategis yang membahas arah pembangunan daerah di tengah dinamika global.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG (K)., M.Kes, didampingi Ketua TP PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani. Kehadiran keduanya menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap peran strategis KAHMI dalam pembangunan.

Dalam forum tersebut, dr. Aminuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Majelis Daerah KAHMI Kota Probolinggo hadir bersama sejumlah tokoh penting KAHMI Jawa Timur. Turut hadir Koordinator Presidium KAHMI Jatim Dr. Agus Machmud Fauzi, jajaran Presidium, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, anggota DPR RI Ali Mufti, serta para kepala daerah alumni HMI se-Jawa Timur, termasuk Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo.

Koordinator Presidium KAHMI Jawa Timur, Dr. Agus Machmud Fauzi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya menjadi momentum mempererat ukhuwah, tetapi juga sebagai wadah merumuskan gagasan strategis menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) KAHMI Jawa Timur.

“Diskusi menjelang Muswil ini harus kita dorong menjadi langkah nyata. Setiap gagasan yang lahir di forum ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi Jawa Timur dan Indonesia,” tegasnya.

Salah satu isu utama yang menjadi pembahasan adalah ketahanan daerah dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Diskusi ini menghadirkan perspektif dari kalangan legislatif dan eksekutif, sehingga menghasilkan pandangan yang komprehensif terkait tantangan dan peluang pembangunan ke depan.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Aminuddin menekankan pentingnya memanfaatkan situasi dan kondisi saat ini melalui penguatan konektivitas dan sinergitas antar alumni HMI di Jawa Timur.

“Momentum halal bihalal ini menjadi sangat penting, tidak hanya untuk mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam membangun daerah melalui jejaring KAHMI,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi yang solid antar alumni akan mampu mendorong percepatan implementasi program strategis nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi daerah yang dimiliki masing-masing wilayah.
Menurutnya, kekuatan KAHMI terletak pada keberagaman peran anggotanya yang tersebar di berbagai sektor strategis.

“KAHMI memiliki kekuatan besar karena anggotanya tersebar di berbagai lini strategis, baik di birokrasi, legislatif, dunia usaha maupun masyarakat sipil. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menghadapi tantangan global saat ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa forum-forum seperti ini harus mampu melahirkan langkah konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat, tidak berhenti pada diskusi semata.

“Kita perlu memperkuat konektivitas dan sinergitas antar daerah, sehingga program-program strategis nasional dapat diimplementasikan secara optimal dengan mengangkat potensi lokal,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, kepercayaan terhadap KAHMI diharapkan terus diperkuat melalui karya dan kontribusi nyata. Dengan pengalaman panjang para kader di berbagai sektor, KAHMI dinilai memiliki kapasitas besar untuk mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (fiq)

HMI dan Persepsi Afiliasi: Pandangan Rochman Hidayat tentang Identitas Organisasi

Oleh : Ponirin Mika

Berdampak.net – Pandangan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) identik dengan Muhammadiyah memang sering muncul di kalangan masyarakat, meskipun itu tidak sepenuhnya akurat. HMI sering dianggap sebagai organisasi yang berada di bawah kendali Muhammadiyah, namun kenyataannya, HMI adalah organisasi yang terbuka untuk seluruh mahasiswa Islam dari berbagai latar belakang organisasi. Pernyataan ini juga disampaikan oleh Rochman Hidayat, yang juga sebagai anggota dewan pakar KAHMI Probolinggo dan juga berprofesi sebagai professional atau praktisi di Perusahaan swasta, yang menegaskan bahwa HMI bukanlah milik satu kelompok atau organisasi tertentu, melainkan tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai organisasi Islam.

Sejarah pendirian HMI mungkin menjadi salah satu alasan munculnya pandangan ini. HMI didirikan pada tahun 1947 oleh beberapa aktivis mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Muhammadiyah. Oleh karena itu, secara historis, HMI memang memiliki hubungan yang erat dengan Muhammadiyah pada tahap awal perkembangan organisasinya. Namun, seiring berjalannya waktu, HMI berkembang menjadi organisasi yang lebih inklusif, dengan anggota yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi Islam lainnya.

HMI bukan hanya berfokus pada Muhammadiyah, melainkan pada pengembangan mahasiswa Islam secara keseluruhan, dengan tujuan mencetak kader-kader pemimpin yang berintegritas dan berkarakter. HMI mengedepankan pemikiran kritis dan pembentukan kepemimpinan, serta memperjuangkan kemajuan bangsa berdasarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan universal. Dalam hal ini, HMI tidak terbatas pada satu kelompok atau ideologi, tetapi terbuka bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk mengembangkan diri sebagai pemimpin masa depan.

Pernyataan istri Rochman Hidayat, Kanda Rochman, yang menyebutkan bahwa HMI identik dengan Muhammadiyah mencerminkan pandangan umum yang masih beredar di masyarakat. Pandangan ini mungkin disebabkan oleh pengaruh sejarah dan keterlibatan banyak anggota Muhammadiyah dalam perjalanan awal HMI. Namun, penting untuk dipahami bahwa HMI adalah organisasi independen yang tidak berada di bawah kendali Muhammadiyah atau organisasi Islam lainnya. Sebagai wadah bagi mahasiswa Islam, HMI memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk berkembang dalam berbagai bidang, termasuk keagamaan, sosial, dan politik, tanpa terikat pada satu organisasi atau kelompok tertentu.

Dengan demikian, meskipun HMI memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Muhammadiyah, organisasi ini tidak dapat disebut sebagai bagian dari Muhammadiyah. HMI adalah organisasi yang inklusif dan terbuka untuk semua mahasiswa Islam, dengan tujuan mencetak pemimpin yang berdedikasi, berwawasan luas dan berkiprah seluas luas nya di berbagai bidang untuk kemajuan Umat dan bangsa. (pm)