Strategi Branding Potensi Daerah dalam Menunjang Kemajuan Ekonomi Kabupaten Probolinggo

Oleh : Rahman Ulum, S.Pd, MM. Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia HMI BADKO Jawa Timur

Berdampak.net – Kabupaten Probolinggo memiliki berbagai potensi unggulan yang dapat dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan keberagaman sektor unggulan, mulai dari pariwisata, pertanian, nelayan hingga industri kreatif, strategi branding yang tepat menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing dan menarik investasi.

Kabupaten Probolinggo juga memiliki potensi yang luar biasa dimana dalam beberapa dekade ini Kabupaten Probolinggo selalu membuat gebrakan terbaru dalam dunia pariwisata dimana memanfaatkan Sumber Daya Alam yang ada, inilah beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk meningkatkan branding potensi daerah :

  1. Mengangkat Identitas Khas DaerahBranding yang kuat harus dimulai dengan penguatan identitas khas Kabupaten Probolinggo. Gunung Bromo sebagai destinasi wisata kelas dunia dapat menjadi ikon utama yang diperkuat dengan narasi budaya lokal, seperti seni tradisional dan kuliner khas. Selain itu, produk pertanian unggulan seperti mangga dan anggur juga dapat menjadi bagian dari identitas daerah yang dapat diperkenalkan lebih luas.
  2. Digitalisasi dan Promosi Berbasis TeknologiDi era digital, pemasaran berbasis teknologi menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan visibilitas potensi daerah. Pemerintah daerah harus mengoptimalkan media sosial, website resmi, serta platform e-commerce untuk mempromosikan produk lokal dan destinasi wisata. Pembuatan konten kreatif dalam bentuk video, artikel, dan infografis dapat menarik minat wisatawan dan investor.
  3. Kolaborasi dengan Sektor Swasta dan KomunitasKeberhasilan branding daerah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif dari sektor swasta dan komunitas lokal. Sinergi dengan pelaku usaha, asosiasi pariwisata, serta komunitas kreatif akan menciptakan ekosistem yang lebih kuat dalam mengembangkan produk dan layanan unggulan Kabupaten Probolinggo.
  4. Event dan Festival sebagai Daya Tarik WisataMengadakan event tahunan yang menampilkan kekayaan budaya dan produk lokal dapat menjadi strategi jitu dalam memperkenalkan Kabupaten Probolinggo ke tingkat nasional maupun internasional. Festival budaya, pameran produk unggulan, serta kompetisi kreatif dapat menarik wisatawan serta membuka peluang pasar bagi produk-produk lokal.
  5. Peningkatan Infrastruktur dan Pelayanan PublikStrategi branding harus didukung oleh infrastruktur yang memadai, termasuk akses transportasi yang baik, fasilitas wisata yang nyaman, serta layanan publik yang profesional. Dengan begitu, wisatawan dan investor akan semakin percaya untuk datang dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan strategi branding yang terarah dan berkelanjutan, Kabupaten Probolinggo dapat memperkuat daya saingnya dalam sektor ekonomi dan pariwisata. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha akan menjadi kunci dalam mewujudkan kemajuan ekonomi daerah yang lebih pesat dan berkelanjutan.

*** Judul, dan keseluruhan isi opini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis

Gelar LK III, Badko HMI Jatim Soroti Pemangkasan Anggaran di Sektor Pendidikan

Surabaya, Berdampak.net – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Timur gelar advance training (LK III), tingkat nasional, Jum’at (14/02) di gedung BPSDM Surabaya. Kegiatan digelar untuk menuntaskan tugas dan tanggungjawab pengurus HMI tingkat provinsi.

Turut hadir sejumlah pejabat tinggi tingkat nasional dan provinsi. Diantaranya Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), dr Mohammad Taufik, Kasubditsosbud Intelkam Polda Jatim, AKBP Haryono, Asisten III Sekda Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto Mewakili PJ Gubernur Jatim, Kepala Kesbangpol Edy Supriyanto. Kepala BPSDM Jatim, Ramliyanto, Presidium KAHMI Jatim.

Yusfan menyebut, HMI sepanjang sejarah menjadi bagian pengisi kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, hal tersebut sudah tertanam sejak HMI lahir. Mulai dari fase perjuangan, pembangunan hingga saat ini.

Menurut Yusfan, kader HMI harus peka terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, jika hal itu tidak tercapai, maka akan sulit adaptasinya untuk meraih Indonesia emas 2045.

“Kalau kader HMI tidak peka terhadap perkembangan zaman, maka akan sulit untuk mencapai Indonesia emas 2045,” terangnya saat memberi sambutan.

Lebih lanjut, pada momentum itu Yusfan juga meminta pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kembali pemotongan anggaran yang dilakukan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto. Terutama dalam hal pendidikan, lanjut dia.

Menurutnya, jika hal itu tidak dipertimbangkan dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi penyebab lambatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Terutama beasiswa bagi mahasiswa yang tergolong tidak mampu.

“Saya meminta pemerintah pusat mempertimbangkan kembali pemotongan anggaran itu. Terutama alokasi anggaran untu pendidikan. Sebab, kita semua, para aktivis juga berangkat dari keluarga tidak mampu,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjut Yusfan, kader HMI sebagai Mitra kritis dari pemerintah harus turut serta menyuarakan pemotongan anggaran tersebut. Sebab menurutnya, dampak dari pemotongan akan didasarkan di berbagai sektor. Terutama pendidikan.

“Kita sebagai mitra kritis, meminta agar pemerintah pusat mempertimbangkan kembali pemotongan tersebut,” pungkasnya. (fiq)