Spiritualitas yang Terselip di Balik Dunia Bisnis yang Bising

Oleh : Salmanfaris_Bondowoso

Di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis hari ini yang penuh strategi, target, dan ambisi. kita justru kehilangan satu hal paling mendasar: kelapangan hati. Kita diajarkan bagaimana menjual lebih banyak, mengikat pelanggan lebih kuat, dan mengalahkan pesaing lebih cepat. Namun hampir tidak pernah diajarkan bagaimana tetap tenang saat kehilangan, atau tetap rendah hati ketika “selamat” sendirian.

Dalam sejarah panjang peradaban Islam, terdapat kisah sederhana namun mengguncang dari seorang sufi besar, Sirri as-Saqati. Suatu ketika pasar terbakar dan kios-kios lain hangus, tokonya justru selamat. Beliau tidak bersorak, tidak merayakan keberuntungan, bahkan tidak menampakkan rasa bangga sedikit pun. Beliau justru beristighfar sekali lagi beristighfar. Sikap ini lahir dari kesadaran batin yang dalam bahwa tidak pantas merasa lebih beruntung di tengah musibah orang lain, dan bahwa keselamatan pribadi tidak boleh melahirkan kesombongan tersembunyi.

Berabad-abad kemudian, dalam dunia yang jauh dari kesunyian Baghdad, kita menyaksikan fenomena yang tampak ringan, bahkan cenderung jenaka. Seorang publik figur seperti Aldi Taher dengan santai menyuruh calon pembelinya membeli burger di tempat lain karena dagangannya telah habis. Ia menutupnya dengan satu kalimat sederhana: “Karena semua burger milik Allah.” Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya candaan absurd. Namun jika direnungkan lebih dalam, terdapat gema nilai yang serupa tentang ketidak-melekatan pada kepemilikan dan kelapangan dalam melepaskan.

Masalah terbesar dunia bisnis hari ini bukan sekadar persaingan, melainkan kehilangan jiwa. Ketika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, empati sering dianggap sebagai kelemahan, kejujuran menjadi pilihan yang bisa dinegosiasikan, dan pelanggan direduksi menjadi sekadar angka dalam laporan. Dalam situasi seperti ini, kisah Sirri as-Saqati dan kelakar Aldi Taher terasa seperti oase kecil di tengah lanskap bisnis yang kering secara batin.

Keduanya, meski berbeda zaman dan cara, menunjuk pada satu kesadaran yang sama: bahwa apa yang kita anggap milik sejatinya hanyalah titipan. Perasaan memiliki yang berlebihan seringkali menjadi akar dari kegelisahan dalam bisnis—kita merasa pelanggan adalah milik kita, keuntungan adalah hasil mutlak usaha kita, dan kehilangan adalah kegagalan personal. Padahal, ketika kesadaran tentang “titipan” ini hadir, cara pandang kita berubah. Kita tidak lagi panik saat kehilangan, tidak sombong saat mendapatkan, dan tidak tega mengambil keuntungan di atas kesempitan orang lain.

Dalam teori bisnis modern, modal selalu diukur dalam angka: uang, aset, jaringan, dan teknologi. Namun dalam tradisi batin, terdapat satu modal yang sering dilupakan, yaitu empati. Empati membuat seorang pedagang tidak tega menipu, rela mengurangi keuntungan demi keadilan, dan tetap menjaga kemanusiaannya di tengah sistem yang kerap mengikis nilai-nilai tersebut. Sirri as-Saqati beristighfar karena empati, sementara Aldi Taher melepas pembeli dengan kelapangan hati. Keduanya menunjukkan bahwa bisnis yang sehat bukan hanya yang bertumbuh, tetapi yang tetap manusiawi.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan menjadi sufi seperti Sirri as-Saqati, dan tidak pula harus seunik Aldi Taher, dan penulis tidak mungkin mensejajarkan Beliau dengan Aldi Taher. Namun kita bisa mengambil satu pelajaran penting: jangan sampai kita memiliki bisnis, tetapi kehilangan diri kita sendiri. Keuntungan tidak selalu berarti keberkahan, kerugian tidak selalu berarti kehancuran, dan tidak semua yang bisa kita ambil harus kita ambil.

Di titik itulah bisnis berubah menjadi jalan spiritual bukan sekadar sarana mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk mendidik jiwa. Mungkin, di tengah target yang menekan dan pasar yang semakin keras, kita perlu belajar menghidupkan satu kalimat sederhana, bukan hanya di lisan tetapi dalam sikap: semua burger milik Allah, semua kios milik Allah. Ketika kesadaran itu benar-benar meresap, yang padam bukan hanya ego, tetapi juga kerakusan yang selama ini kita pelihara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *