Ketika Balita Ditimbang, Maka Harapan Ditumbuhkan

Probolinggo, Berdampak.net – Matahari belum tegak benar ditengah semilir pagi Kabupaten Probolinggo, meja-kursi dan mobil nuansa ungu tersebar di halaman Pendopo Kecamatan Dringu. Warna itu tak hanya mencolok, tetapi seolah menjadi simbol harapan harapan akan generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan terbebas dari ancaman stunting.

Pada Rabu, 11 Juni 2025, kegiatan bakti sosial yang digelar di bawah program nasional Mobi Screening Generasi Maju Bebas Stunting menghadirkan lebih dari sekadar layanan kesehatan. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, empati, dan cita-cita bersama akan masa depan anak-anak Indonesia.

Yang menjadi berkesan program ini adalah program SAE Kesehatan. Buah kolaborasi tim lintas institusi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Puskesmas Dringu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur-Perwakilan Probolinggo, serta tidak kalah Instansi Swasta dari Tim Anti Stunting Rumah Sakit Graha Sehat (RSGS) turut hadir mendampingi, mensukseskan jalannya acara dengan penuh dedikasi.

Setiap pos layanan dari pengukuran tinggi dan berat badan, plotting ke dalam grafik pertumbuhan dilakukan oleh para tenaga ahli gizi, celoteh edukasi pola asuh dari para bidan dan perawat, hingga konsultasi langsung dengan dokter umum serta dokter spesialis anak. Suara tangis balita menjadi senyum lega para ibu efek suguhan hiburan dari badut serta sulap sembari menunggu antrian pemeriksaan, semua kondisi riuh ini bercampur jadi harmoni pagi yang sibuk namun penuh kasih.

“Stunting ini adalah masalah besar yang harus kita tangani bersama. Anak-anak di desa juga berhak punya masa depan cerah seperti mereka yang tinggal di kota. Karena itu, kami hadir mendekat membawa layanan spesialisasi ke desa, agar tak ada lagi jarak yang menghalangi akses kesehatan mereka,” ujar salah satu dokter anak dari tim IDAI, dr Muhammad Reza, M.Biomed, CHMC, AIFO-K, Sp.A, Subsp.Neo(K)

Lebih dari 165 balita menjalani pemeriksaan hari itu. Beberapa anak yang ditemukan terindikasi stunting, langsung mendapatkan akses ke dokter spesialis anak untuk intervensi komperhensif lanjutan. Para ibu mendapatkan edukasi tentang pentingnya gizi, pola makan seimbang, serta rekomendasi rujukan yang bisa mereka laksanakan ke depannya di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Kegiatan ini tidak hanya memberi layanan, tetapi juga menggerakkan para tenaga kesehatan kembali ke komunitas dasar dengan pengetahuan baru. Para orang tua pulang membawa edukasi dan harapan, dan anak-anak, meski belum bisa berkata-kata, telah didengarkan lewat pertumbuhan mereka yang dipantau secara ilmiah dan penuh empati.

SAE Kesehatan ini masih akan berlanjut di Puskesmas Glagah, Jorongan, Kraksaan, dan Jabung Sisir. Lima tempat, satu tujuan mencetak generasi bebas stunting.

Tentu saja, tak semua berjalan kaku dan formal. Anak-anak pulang dengan goodie bag berisi souvenir, susu pertumbuhan dan makanan bergizi. Para ibu pulang dengan brosur, senyum, dan bekal ilmu baru. Para petugas pulang dengan lelah yang bermakna.

Dan seperti yang disampaikan oleh Tim Anti Stunting RS Graha Sehat, “Kami hadir bukan hanya sebagai rumah sakit, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang peduli.”

Terlihat pojok layanan stunting yang unik berupa mobil berwarna ungu sangat menarik pengunjung itu pun akan dibongkar. Tapi pesan yang tertinggal akan terus tinggal bahwa di Dringu, pagi itu, anak-anak tak hanya diukur berat dan tingginya, tapi juga dipastikan ruang untuk tumbuh mereka tetap terbuka lebar optimis menuju masa depan yang lebih cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *