Pesantren Semakin Tua, Semakin Banyak Komponen Pendidikan: Inovasi untuk Indonesia Emas 2045

Surabaya, berdampak.net – Seminar nasional dengan tema “Inovasi Perguruan Tinggi Pesantren untuk Indonesia Emas 2045: Kolaborasi dan Transformasi Unggul Berbasis Pesantren” digelar di Aula PPNJ 1 pada Sabtu, 18 Januari. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Direktur Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Basnang Said, yang diundang sebagai pembicara utama.

Dalam pemaparannya, Basnang Said mengingatkan bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang penuh kedamaian. “Andai kata tidak ada kedamaian, bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan tenang, apalagi menjalani agama lain,” ujarnya.

Basnang juga menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang melalui peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2021, memberikan dukungan kepada pesantren untuk pengembangan pendidikan dan pemberdayaan santri. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah adanya Undang-Undang Pesantren yang disahkan pada 2019, serta regulasi terkait pendanaan yang memfasilitasi pesantren agar bisa terus berkembang.

Selain itu, Basnang menekankan pentingnya pemberian skill atau keterampilan kepada para santri. “Banyak santri yang mandiri dan jujur, tetapi mereka kurang memiliki keahlian. Oleh karena itu, pemerintah menyediakan platform sebagai wadah untuk pengembangan skill,” ujarnya.

Pesantren, menurut Basnang, memiliki tiga fungsi utama dalam memajukan generasi bangsa, yakni sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan jumlah pesantren yang mencapai 42.300 dan lebih dari 9,6 juta santri per 31 Desember 2024, pesantren semakin memperlihatkan kontribusinya yang besar bagi masyarakat.

Basnang juga menambahkan, semakin tua sebuah pesantren, maka semakin banyak komponen pendidikan yang terlibat di dalamnya, baik dalam hal kualitas pendidikan maupun pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Sebagai penutup, Basnang meluruskan kesalahpahaman terkait dana abadi pesantren. “Dana abadi pesantren adalah dana yang dikeluarkan negara untuk pemberdayaan pesantren dalam meningkatkan sumber daya manusia,” tegasnya.

Seminar ini juga menjadi momen untuk mengenang jasa para ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia, di mana Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional untuk memperingati kontribusi besar pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. (pm)

Sambung Tali Silaturrahim dengan Muktamar Mahasantri se-Indonesia di Nurul Jadid Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Muktamar Pemikiran Mahasantri dengan mengusung tema ‘Kontribusi Mahasantri Bagi Pemikiran Keislaman Pasca Wacana Fikih Peradaban’ yang akan dihelat selama tiga hari sejak Senin, 20 sampai Rabu, 22 Januari yang bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pekan harlah Pesantren Nurul Jadid ke 76. Tujuan perhelatan iniuntuk menyambung tali silaturrahmi dengan seluruh Mahasantri se-Indonesia.

Kiai Muhammad Al-Fayadl dalam sambutannya berharap acara
Muktamar Pemikiran Mahasantri bukan hanya sekedar mengejar ilmu pengetahuan tetapi merupakan ibadah agar bisa diintegritaskan dan didiamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap acara ini bukan hanya identik dengan mengaji, tetapi juga mengkaji lalu mensosialisasikan kepada masyarakat diluar sana, seperti kutipan K.H Zuhri bahwasannya ilmu itu jangan ditumpuk di pikiran saja tetapi juga diamalkan,” ujar mudir Ma’had Aly tersebut.

Beliau juga menjelaskan tiga aspek yang harus dipenuhi jika ingin menjadi khalifah atau pemimpin yakni pengetahuan Islam dengan sistem matematik, pengetahuan persoalan zaman, mengetahui persoalan suatu bagian dari islam dan satu bagian lain dari zaman.

“Apabila santri ingin menjadi khalifah diharapkan sudah memiliki 3 aspek yakni mengetahui islam dengan system yang matematik, lalu mengetahui persoalan zaman, dan memahami suatu bagian dari islam dan bagian zaman,” ungkapnya.

Acara dibuka secara simbiosis oleh Kiai Muhammad Al-Fayadl dengan menabuh gong sebanyak 3 kali yang kemudian seremonial diakhiri dengan pembacaan doa oleh Kiai Makki Maimun Wafie dan dilanjutkan dengan acara seminar yang diisi oleh Narasumber K.H Imdad Rabbani dan K.H Idris Mubarok. (pm)

Kota Kediri Dinobatkan sebagai Kota Paling Berkelanjutan di Indonesia

Kediri, Berdampak.net – Kota Kediri kembali membuat gebrakan dengan meraih peringkat pertama dalam ajang UI Green City Metric 2023. Penghargaan ini diserahkan di Balai Sidang Universitas Indonesia, di mana Kediri juga mendapatkan penghargaan khusus untuk kategori Akses dan Mobilitas.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, mengungkapkan rasa syukurnya dan menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Tahun lalu, Kediri menempati posisi kedua dengan skor yang lebih rendah, namun kini berhasil mencapai nilai 7015.

Dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih baik, Kediri telah menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di setiap kelurahan dan mengembangkan program urban farming yang mendukung ketahanan pangan. Menurut Abdullah, regulasi mengenai penggunaan plastik sekali pakai juga diterapkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Wali Kota berharap agar prestasi ini tidak hanya dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan melalui pembangunan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi warganya. Perencanaan tata ruang yang baik menjadi kunci dalam menciptakan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Plt Kepala DLHKP Kota Kediri, Anang Kurniawan, menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi bagi Kota Kediri untuk terus berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan. Selain itu, rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kediri dengan daerah sekitarnya diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas.

Dengan berbagai langkah dan inisiatif ini, Kota Kediri bertekad untuk menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam hal keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Dari total 64 kota dan kabupaten di Indonesia yang berkategori kota berkelanjutan, Kota Kediri berada di urutan teratas.

Kota Kediri terpilih sebagai kota paling berkelanjutan dengan skor paling tinggi. Dari enam kategori dan 71 indikator penilaian, Kota Kediri mengantongi skor 7570.

Posisi kedua diraih Kota Madiun dengan total skor 7540. Sedangkan Kota Blitar yang menempati peringkat ketiga memiliki skor 7120.

Sementara Kota dan Kabupaten lain di Jawa Timur yang masuk kategori Kota Berkelanjutan di Indonesia di antaranya:

  • Kabupaten Trenggalek, rangking-12, skor 6150
  • Kota Pasuruan, rangking-13, skor 6045
  • Kota Mojokerto, rangking-18, skor 5945
  • Kota Probolinggo, rangking-19, skor 5922,5
  • Kabupaten Pacitan, rangking-28, skor 4952,5
  • Kabupaten Magetan, rangking-47, skor 3835. (rh)

Sekolah Tak Jadi Libur Selama Ramadan, MUI Kabupaten Probolinggo Beri Respons Begini

Probolinggo, berdampak.net – Pemerintah melalui Surat Edaran Bersama (SEB) tiga menteri telah menetapkan kebijakan sekolah selama Ramadan 1446 H/2025 M. Dimana, kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap dilaksanakan dengan durasi tertentu. MUI Kabupaten Probolinggo pun menyambut baik kebijakan tersebut.

Ketua Komisi Pendidikan dan Pengembangan Budaya Islam MUI Kabupaten Probolinggo, Dr Ahmad Zamroni, menyambut baik kebijakan pemerintah terkait sekolah selama Ramadan 1446 H tersebut. “Kami dari Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Probolinggo menyambut baik SEB ini,” katanya.

Ustaz Zamroni melanjutkan, pihaknya berharap semua sekolah dan madrasah melaksanakan kegiatan sekolah selama Ramadan dengan memberikan pelayanan baik kepada anak didik yang beragama Islam. “Menyambut dan mengisi Ramadan ini dengan kegiatan ibadah, bagi anak didik non-muslim tetap diisi kegiatan rohani,” lanjut ketua Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Probolinggo ini.

Dengan melaksankan kegiatan sesuai SEB, ustaz Zamroni yakin di sekolah dan madrasah akan terwujud kerukunan dan saling menghargai. “Di sekolah dan madrasah nantinya akan terlihat indah,” tuturnya.

Diketahui, Pemerintah telah memutuskan kebijakan terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar selama Ramadan tahun 1446 H. Kebijakan sekolah selama Ramadan itu ditupuskan melalui Surat Edaran Bersama, tertanggal 20 Januari 2025.

SEB terkait kegiatan sekolah selama Ramadan itu ditandatangani oleh Menteri Agama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Menteri Dalam Negeri tentang Pembelajaran di Bulan Ramadan Tahun 1446 Hijriah/2025 Masehi.

Dalam SEB perihal sekolah selama Ramadan yang diperoleh MUI Kabupaten Probolinggo, siswa melaksanakan belajar di lingkungan keluarga, tempat ibadan dan masyarakat pada tanggal 27 dan 28 Februari 2025, dan tanggal 3, 4, 5 Maret 2025. Pembelajaran tersebut mengacu pada tugas yang diberikan sekolah/madrasah.

Kemudian, pada tanggal 6 sampai 25 Maret 2025 pembelajaran dilakukan di lingkungan sekolah/madrasah/satuan pendididkan keagamaan.

Selama pembelajaran di sekolah, siswa yang beragama Islam dianjurkan untuk melaksanakan kegiatan tadarus Alquran, pesantren kilat dan kajian keislaman. Sementara bagi siswa non-muslim, dianjurkan melaksanakan bimbingan rohani dan keagamaan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

Lalu, bagaimana dengan kegiatan menjelang hari raya idul fitri? SEB tersebut menetapkan bahwa kegiatan belajar diliburkan karena mengikuti jadwal libur bersama satuan pendidikan. Dimulai tanggal 26, 27, 28 Maret 2025, serta tanggal 2, 3, 4, 7 dan 8 April 2025.

Setelah itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah/madrasah akan kembali dimulai pada 9 April 2025. Dengan begitu, terjawab sudah bagaimana pelaksanaan sekolah selama Ramadan tahun ini, di balik isu libur sekolah selama Ramadan beberapa waktu lalu. (don)

Pembukaan Pekan Harlah NU 102, Raker PWNU Jatim dan Harlah Ponpes Nurul Jadid

Probolinggo, Berdampak.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo sedang melaksanakan pembukaan pekan Harlah NU ke 102, Raker PWNU Jatim dan Harlah Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo di halaman Universitas Nurul Jadid. Senin (20/01/25).

Kegiatan ini dibersamakan dengan pembukaan Jatim Expo Pendidikan dan UMKM yang akan di gelar selama 6 hari kedepan.

Dalam sambutannya, Dr. Tirmidzi ketua panitia menyampaikan pembukaan Jatim Expo merupakan rangkaian dari harlah NU ke 102, Raker PWNU Jatim dan Harlah Ponpes Nurul Jadid ke 76.

Tirmidzi menegaskan bahwa Jatim Expo diikuti oleh universitas negeri dan swasta, Pondok Pesantren, Hebitren, Pengusaha Koperasi, pelaku UMKM sebanyak 215 stand.

“Expo ini diharapkan tidak hanya berpameran melainkan juga menjadi ruang pembelajaran, edukasi serta kolaborasi antar berbagai unsur,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa adanya Jatim Expo untuk meningkatkan dan mengembangkan dunia pendidikan untuk terus mengejar mutu dan aktifitasnya yang lebih baik.

“Jatim Expo ini mempertemukan dan membangun jejaring antara pengusaha UMKM, konsumen perbankan, mahasiswa, alumni dan civitas akademika se Jawa Timur,” imbuhnya.

Selain itu, Tirmidzi menambahkan, Jatim Expo bertujuan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan pesantren, penguasa nahdliyin dengan semangat nahdlatut tujjar atau kebangkitan para pengusaha.

Pada kegiatan Jatim Expo ini, Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Abdul Hamid Wahid berharap agar akselerasi integratif antara pendidikan dan ekonomi dapat menjadi langkah dan gerak bersama warga NU.

Menurutnya, tantangan ekonomi menjadi satu hal yang harus dihadapi bersama ke depan, dan sebagai warga NU menghadapi tantangan ini, Kiai Hamid juga berpesan agar mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Prof Nurharisuddin pengurus PWNU Jatim bahwa NU harus memperkuatkan ekonomi salah satunya melalui Jatim Expo agar dapat mendorong UMKM dari Nahdlatul Ulama agar usaha tidak hanya berada pada perusahaan-perusahaan besar. Tapi besok UMKM berada pada pengusaha yang bertahan hidup dari berbagai hantaman krisis ekonomi, moneter dan sebagainya.

“UMKM dari kalangan NU sangat penting,” katanya.

Pembukaan ini di hadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, Kepala Pesantren KH. Abdul Hamid Wahid, pengurus PWNU Jatim, Direktur perbankan syariah dan konvensional, Kepala Kemenag Probolinggo, Kepala-kepala Sekolah dilingkungan pesantren Nurul Jadid, dosen, guru dan santri.(pm)

Kali Kedua, H. Khairul Anam Dilantik sebagai Pengurus HIPMI Jatim

Surabaya, Berdampak.net – Pengurus Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Jawa Timur periode 2025-2028 resmi dilantik, pelantikan tersebut digelar di Gedung Grahadi Surabaya, Jum’at (17/01/2025). Salah satu pengurus HIPMI Jatim yang dilantik yakni H. Khairul Anam.

Diketahui, H. Khairul Anam sudah periode kedua menjabat sebagai pengurus BPD HIPMI Jatim, ia mengaku akan terus mengabdikan diri untuk masyarakat luas terutama di bidang enterpreneurship.

Ia berkomitmen akan terus mendampingi para pengusaha milenial dan UMKM yang ada di Jawa Timur terutama di Kabupaten Probolinggo untuk berkembang dan maju, sehingga bisa bersaing di pasar Nasional dan Internasional.

“Bismillah, melanjutkan khidmat di BPD HIPMI Jawa Timur, di priode kedua ini semoga tetap bisa memperluas pengabdian serta menebar virus-virus enterpreneur untuk kalangan millenial,” ujarnya.

Ia mengajak para enterpreneur muda di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Probolinggo untuk bersama-sama dengan HIPMI dalam memajukan usahanya, sehingga roda perekonomian dapat bergerak ke arah yang lebih baik.

“Berharap juga HIPMI bisa menggerakkan perekonomian Jawa Timur khususnya juga Probolinggo,
dan sekarang saatnya para wirausaha muda untuk bergabung dan mengembangkan jaringan di HIPMI,” harap pria yang murah senyum itu. (fiq)