IKMKKS Sukses Gelar Masa Keakraban (Makrab) di Klurak Eco Park

Probolinggo, Berdampak.net- Ikatan Keluarga Mahasiswa Kepulauan Kangean Sidoarjo (IKMKKS) sukses menggelar acara Masa Keakraban (Makrab) pada Sabtu malam, 7 Desember 2024, di Klurak Eco Park, Perkemahan Pacet, Mojokerto. Acara yang mengusung tema “Eratkan Persaudaraan dan Satukan Perbedaan Guna Membangun Kekeluargaan di Negeri Perantauan” ini dihadiri oleh mahasiswa baru angkatan 2024.

Ketua pelaksana, Moh. Nurul, menyampaikan pesan penting kepada peserta Makrab untuk selalu aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan kampus maupun di luar kampus guna mengasah keterampilan dan wawasan yang lebih luas. “Jadilah mahasiswa yang tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga aktif di berbagai kegiatan,” ujarnya.

Ketua IKMKKS, Abd Aziz, menambahkan bahwa Makrab ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa baru serta memberikan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan seorang mahasiswa. “Saya berharap mahasiswa baru dapat mengenal satu sama lain dan memahami pentingnya organisasi dalam kehidupan mereka,” ujar Aziz.

Selain itu, acara ini juga melibatkan tiga pemateri yang memberikan wawasan tentang keorganisasian dan pengembangan sumber daya manusia, memberikan pengetahuan berharga bagi peserta Makrab. Dengan suksesnya acara ini, diharapkan mahasiswa baru dapat termotivasi untuk berkarya di bidang masing-masing dengan akhlakul karimah. (pm)

AMANAH Menang di Pilwali Probolinggo 2024: Unggul di Tiga Kecamatan

Probolinggo, Berdampak.net – Pasangan calon (paslon) nomor urut 3, Dokter Aminuddin dan Ina Buchori, yang dikenal dengan akronim AMANAH, mencatat kemenangan dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Probolinggo 2024. Berdasarkan hitung internal tim pemenangan, pasangan ini unggul dengan perolehan suara terbanyak, yakni 53.228 suara atau 39,18 persen dari total suara sah.

Rekapitulasi suara menunjukkan bahwa AMANAH berhasil menguasai tiga kecamatan utama, mengungguli paslon petahana Habib Hadi Zainal Abidin-Zainal Arifin yang memperoleh 50.637 suara (37,27 persen). Paslon lainnya, Fernanda Zulkarnain-Abdullah Zabut dan Sri Setyo Pertiwi-M. Rachman, masing-masing berada di posisi ketiga dan keempat dengan perolehan suara 22,34 persen dan 1,21 persen.

Dalam pidatonya, Dokter Aminuddin menyatakan bahwa kemenangan ini adalah milik seluruh warga Kota Probolinggo. “Saatnya kita bersatu membangun kota ini bersama-sama,” ujarnya, seraya mengimbau pendukungnya untuk tetap menjaga kesantunan selama menunggu pengumuman resmi dari KPU.

Dari total 179.434 pemilih yang terdaftar, tingkat partisipasi mencapai 75,72 persen, menunjukkan antusiasme warga dalam memilih pemimpin baru untuk masa depan Probolinggo.

Ra Fahmi Didampingi Istri Nyoblos di TPS, Tegaskan Komitmen untuk Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Calon Wakil Bupati Probolinggo, Ra Fahmi, bersama sang istri hadir di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menyalurkan hak pilihnya pada Pilkada Kabupaten Probolinggo. Kehadiran Ra Fahmi bersama istri menjadi perhatian masyarakat yang turut memberikan suara pada kesempatan tersebut.

Mengenakan pakaian sederhana, Ra Fahmi dan istrinya tampak akrab dengan warga sekitar. Setelah mencoblos, Ra Fahmi menyampaikan harapannya agar Pilkada berjalan lancar, aman, dan damai.

“Kami berharap Pilkada ini menjadi momentum perubahan untuk Kabupaten Probolinggo. Apa pun hasilnya, ini adalah ikhtiar kita bersama untuk membangun daerah lebih baik,” ujar Ra Fahmi.

Istri Ra Fahmi juga terlihat mendampingi dengan penuh semangat. Kehadiran pasangan ini mencerminkan kebersamaan dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjuangan politik Ra Fahmi.

Sementara itu, calon Bupati Gus Haris juga melakukan hal serupa di TPS yang berbeda. Pasangan ini terus menegaskan komitmen mereka untuk membawa Kabupaten Probolinggo ke arah yang lebih baik melalui visi dan misi yang mereka usung.

Masyarakat di TPS tampak antusias menyambut kehadiran Ra Fahmi dan istrinya. Mereka berharap pasangan Gus Haris dan Ra Fahmi mampu mewujudkan perubahan yang diinginkan banyak pihak di Kabupaten Probolinggo. (fjr/fiq)

Gandeng LMI, Puskesmas Badean Adakan Sekolah Lansia

Banyuwangi, Berdampak.net– LMI gelar Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) di Dusun Gepuro, Desa Watukebo, Banyuwangi, pada Senin (18/11).

Program Selantang adalah fasilitas LMI berupa cek kesehatan gratis yang tujuannya untuk memastikan kondisi para lansia dalam keadaan sehat dan kuat.

Sebanyak 28 lansia hadir yang ingin dicek kesehatannya, mulai dari pemeriksaan tensi, gula darah, kolesterol, dan asam urat.

LMI kolaborasi dengan Puskesmas Badean sukseskan keberlangsungan acara, dan memastikan setiap lansia yang berada di daerah desa-desa mendapatkan layanan kesehatan secara berkala.

Nurul Lailiyah selaku perwakilan LMI yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa Puskesmas Badean sigap memerikan pelayanan kesehatan secara rutin untuk warga, LMI hadir untuk memberikan dukungan terutama untuk lansia yang mudah terkena penyakit.

“Puskesmas Badean sebagai mitra Desa Watukebo memberikan layanan kesehatan kepada balita, ibu hamil, dan para lansia untuk pengecekan kesehatan secara rutin setiap bulannya,” ucapnya.

Ketua Posyandu Integrasi Layanan Premier (ILP) Kamboja, Ibu Reny merasa bersyukur LMI bisa mengadakan pemeriksaan gratis, berharap program ini berlanjut secara berkala setiap bulannya.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat, para lansia jadi tahu kondisi kesehatan masing-masing. Harapannya kegiatan ini bisa berlanjut setiap bulan,” kata Bu Reny. (fiq)

Lonjakan Ekspor Produk Kerajinan: Dampak Positif bagi Industri Kreatif Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya adalah produk kerajinan tangan. Seiring dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan keberlanjutan produk lokal, ekspor produk kerajinan Indonesia menunjukkan angka yang positif. Kerajinan tangan khas Indonesia, mulai dari batik, tenun, ukiran kayu, hingga keramik, kini semakin diminati oleh pasar internasional.

Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa industri kerajinan tangan Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang di kancah global. Artikel ini akan membahas mengenai peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia, tantangan yang dihadapi, dan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri kreatif di Indonesia.

Faktor Penyebab Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Tingginya Minat terhadap Produk Unik dan Otentik

Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia adalah tingginya minat pasar internasional terhadap produk-produk yang unik, berkualitas, dan bernilai seni tinggi. Produk kerajinan tangan Indonesia yang memiliki ciri khas dan keindahan estetik yang tidak dimiliki oleh negara lain menarik perhatian konsumen di berbagai belahan dunia. Contohnya, produk batik, tenun, dan kerajinan bambu dari Indonesia semakin digemari di Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Ekspor

Pemerintah Indonesia telah memberikan berbagai fasilitas dan dukungan untuk memajukan sektor ekspor, khususnya produk kerajinan. Salah satunya adalah melalui program promosi dan pameran internasional yang diadakan oleh Kementerian Perdagangan dan berbagai lembaga terkait. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan produk kerajinan Indonesia ke pasar global dan membantu pelaku industri dalam memperluas jaringan pasar. Selain itu, pemerintah juga memberikan kemudahan dalam hal pembiayaan dan akses pasar ekspor.

Penggunaan Teknologi dan Digitalisasi dalam Pemasaran

Seiring berkembangnya teknologi, banyak pelaku industri kerajinan Indonesia yang mulai memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka ke pasar internasional. E-commerce dan media sosial kini menjadi saluran utama bagi para pengrajin untuk menjual produk mereka ke luar negeri, tanpa harus bergantung pada perantara atau agen ekspor. Hal ini memungkinkan produk kerajinan Indonesia untuk lebih mudah diakses oleh konsumen global.

Tantangan dalam Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Keterbatasan Akses ke Pasar Global

Meskipun ada permintaan yang tinggi terhadap produk kerajinan Indonesia, akses pelaku industri terhadap pasar global masih terbatas. Banyak pengrajin yang belum memiliki kapasitas atau pengetahuan yang cukup untuk memasarkan produk mereka ke luar negeri. Keterbatasan ini sering kali disebabkan oleh faktor seperti kurangnya pemahaman tentang regulasi ekspor, serta kendala dalam hal pengemasan, sertifikasi, dan kualitas produk.

Persaingan yang Ketat dengan Negara Lain

Indonesia bukan satu-satunya negara yang memproduksi kerajinan tangan dengan kualitas tinggi. Beberapa negara seperti India, Thailand, dan China juga memiliki industri kerajinan yang berkembang pesat dan memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Oleh karena itu, para pengrajin Indonesia harus dapat memastikan bahwa produk mereka memiliki keunggulan kompetitif yang membedakan dari produk-produk serupa dari negara lain, baik dari segi desain, kualitas, maupun harga.

Keterbatasan Infrastruktur dan Sumber Daya

Salah satu tantangan lain yang dihadapi oleh industri kerajinan Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur yang memadai untuk mendukung distribusi barang ke luar negeri. Proses pengiriman produk kerajinan terkadang terhambat oleh infrastruktur logistik yang kurang efisien dan biaya pengiriman yang tinggi. Hal ini bisa mempengaruhi daya saing harga produk kerajinan Indonesia di pasar internasional.

Peluang yang Diciptakan oleh Peningkatan Ekspor Produk Kerajinan Indonesia

Perluasan Pasar Global untuk Produk Lokal

Peningkatan ekspor produk kerajinan membuka peluang besar bagi para pengrajin Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar mereka. Dengan lebih banyaknya produk kerajinan Indonesia yang masuk ke pasar global, pelaku industri kerajinan memiliki kesempatan untuk membangun merek mereka di tingkat internasional. Hal ini dapat meningkatkan penjualan dan mengangkat citra produk Indonesia sebagai produk berkualitas tinggi di mata dunia.

Penciptaan Lapangan Kerja dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Sektor industri kerajinan juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah, khususnya di daerah-daerah penghasil kerajinan tradisional. Peningkatan ekspor akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dengan menciptakan peluang usaha baru, baik bagi pengrajin itu sendiri maupun bagi sektor pendukung lainnya, seperti sektor transportasi dan pemasaran. Peningkatan permintaan produk kerajinan dapat menggerakkan roda ekonomi di daerah-daerah penghasil kerajinan tersebut.

Peningkatan Inovasi dan Diversifikasi Produk

Peluang untuk menembus pasar internasional mendorong pengrajin Indonesia untuk terus berinovasi dan mendiversifikasi produk mereka agar tetap relevan di pasar global. Banyak pengrajin yang kini mulai memadukan elemen tradisional dengan desain modern, menghasilkan produk yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memenuhi tren pasar global yang terus berkembang.

Kesimpulan

Peningkatan ekspor produk kerajinan Indonesia menunjukkan potensi besar sektor industri kreatif dalam perekonomian Indonesia. Meskipun terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti keterbatasan akses pasar dan infrastruktur, produk kerajinan Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang di pasar global. Dukungan pemerintah, kemajuan teknologi, serta peningkatan kualitas dan inovasi produk akan menjadi kunci utama bagi pelaku industri kerajinan untuk sukses dalam menembus pasar internasional. Dengan pemanfaatan peluang ini, sektor kerajinan Indonesia tidak hanya akan meningkatkan perekonomian nasional, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia.

SANTRI DAN KEMAJUAN

oleh: Ach Dhofir Zuhry
(alumni PP Nurul Jadid Paiton, pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen)

UJAR-ujar lama berbunyi, “segala sesuatu ada ilmunya”. Nah, salah satu kekhasan santri dan kaum sarungan di Negeri ini adalah mereka tahu kapan harus maju dan kapan sebaiknya mundur.

Pesantren telah mengajarkan para santri bertarung justru untuk mengalah, bicara untuk diam, mendaki untuk merendah, pun berperang justru untuk berdamai. Inilah low profile alias tawadhu’ warisan para Nabi untuk para santri, khususnya milenial dan zilenial.

Belum lagi, para santri diajarkan perihal membaca yang tak terbaca, mendengar yang bukan suara, memimpin dengan cara melayani dan apapun saja yang oleh sekolah-sekolah model zaman sekarang ditolak-campakkan. Yakni, mengajarkan segala jenis ilmu dengan pendekatan moral, sehingga nyaris tidak pernah kita jumpai kaum santri yang gegabah dan gampang mengkafir-syirik-bid’ahkan orang lain yang beda.

Bagi santri, hidup justru sangat indah dengan membiarkan setiap orang riang gembira dengan warnanya masing-masing. Dari sana kemajuan bisa digagas. Mengapa? Kita tidak bisa membangun dengan cara meruntuhkan, terutama membangun kemanusiaan.

Di sisi lain, manusia memiliki semacam “program otomatis” yang sebenarnya ia bukan diri, bukan manusia sendiri, tetapi program itulah penentu dari segala keputusan—seolah manusia yang mengendalikan sang “program”, tetapi nyatanya, menusialah yang dikendalikan olehnya.

Tanpa disadari, setiap orang memiliki cara otomatis untuk selalu menyalahkan yang belum tentu salah, tak sedikit saudara kita yang gampang menjeneralisir segala yang partikulir, mempersempit Tuhan hanya dengan agama tertentu, hampir setiap kita rajin memboroskan waktu, umur dan juga uang.

Boleh jadi, Anda juga selalu punya alasan mengapa terlambat datang ke sekolah atau ke tempat kerja, sekalipun persiapan sudah matang, selalu saja ada kendala. Jika terbiasa tidur pagi, meskipun malamnya Anda tidur pukul 9, tetap saja, mengantuk setelah subuh.

Memang, bagi sementara orang (terutama yang mengaku-ngaku manusia), godaan bantal sangat kuat. Bahkan, melihat gambar bantal dan membayangkan sosok bantal saja langsung menguap, lalu kantuk tak tertahankan. Apa yang salah? Program sialan itukah yang mengacaukan aktivitas di pagi hari?

Pesantren mendidik kaum santri untuk hidup sederhana dan bersahaja, tidak menjadi peratap dan cengeng, makan dan hidup seadanya, kuat melék dan betah ngantuk, santri rela terhempas dari kenyamanan mimpi-mimpi demi ilmu dan barakah.

Rerata, kaum sarungan adalah para nokturnis tulen, meraka juga para penghayat (makna) malam yang paling jempolan. Hanya para seniman rohani yang rela menjauh dari bantal-kasur. Dan memang, para santri rata-rata tidak memiliki bantal-kasur-selimut, seolah mereka memang tak punya rencana tidur.

Nyaris selalu, teratur dan kacaunya hidup manusia bermula dari program otomatis yang kita biasakan. Pendek kata, manusia adalah apa yang dibiasakannya. Itulah prilaku alam bawah sadar. Dan, manusia membentuk program itu sekian lama untuk kemudian mematenkannya menjadi karakter.

Orang yang tidak mengubah pola pikir dan pola sikapnya, sejatinya ia tidak merubah apapun dalam hidupnya. Apa sebab? Hasil yang teratur dibuat oleh tata kelola manajerial, sementara itu perubahan yang efektif dicapai oleh kepemimpinan yang efektif pula.

Pendek kata, perubahan pada “hasil” hanya mungkin terjadi dari perubahan “cara”. Tetapi, kemajuan yang efektif butuh pemantik, ia tidak mungkin berangkat dan membentuk dirinya sendiri.

Tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Begitu pula manusia.

Jika ingin maju, ia harus membentuk A-TEAM (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju, lingkungan, teman, keluarga dan buku-buku yang membentuk kepribadian kita. Adapun Pesantren telah terkondisi sedemikian rupa untuk membentuk kemajuan santri-santri jauh lebih baik dari tempat belajar manapun.

Nah, terbuat dari apakah makhluk bernama kemajuan itu, sehingga setiap individu ingin menggapainya, bahkan tak jarang dengan menghalalkan segala cara?

Merasa tidak puas adalah modal utama dan langkah pertama untuk sebuah kemajuan. Kabar baiknya, inilah watak dasariah manusia. Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan kemajuan dan kejayaan dalam hidupnya, dalam segala bidang.

Bagitu pula Anda dan saya, Anda memiliki kuas, Anda memiliki pilihan warna-warni, Anda dapat melukis surga, dan kemudian masuk ke dalamnya dengan riang gembira. Nah, bagaimana meyakinkan diri tentang prinsip ini?

Hanya ada satu sudut di alam semesta ini yang pasti bisa Anda diperbaiki, dan itu adalah diri Anda sendiri. Kaca, porselen, genteng, dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali retak dan pecah. Mustahil dapat direkat kembali tanpa meninggalkan bekas yang nampak.

Kejayaan dan kemakmuran adalah istana pasir, ia gampang runtuh bahkan tanpa terjangan ombak sekalipun. Tatapi, karakter yang dibentuk saat demi saat, pola pikir dan pola sikap yang dibangun waktu demi waktu akan sangat sulit diruntuhkan, bahkan oleh prahara sekalipun.

Sementara itu, sekolah, diklat, workshop dan lembaga-lembaga kursus yang kita impor dari Barat hanya membekali kita dengan kecakapan, keterampilan dan keahlian tertentu (life skill). Ada yang salah? Tentu, kecakapan memang sangat memungkinkan seseorang mencapai puncak, tapi kepribadian menjadi salah satu hal yang akan mencegahnya jatuh dan tersungkur. Artinya, jika karakter hilang, semuanya lenyap.

Kelihatannya, pemerintah dan para praktisi pendidikan baru menyadari hal ini, padahal Pesantren klasik dan padepokan telah menerapkannya sejak ratusan tahun yang lalu. Dan, kemajuan itu dimulai dari dalam, dari kepribadian.

Nah, jika hidup Anda kacau, Anda tidak bisa memperbaiki hanya dengan memperbaiki dan memoles bagian luarnya saja. Semoga kita mendapat barakah para Kiai, para Guru dan Pesantren. (*)