SANTRI DAN KEMAJUAN

oleh: Ach Dhofir Zuhry
(alumni PP Nurul Jadid Paiton, pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen)

UJAR-ujar lama berbunyi, “segala sesuatu ada ilmunya”. Nah, salah satu kekhasan santri dan kaum sarungan di Negeri ini adalah mereka tahu kapan harus maju dan kapan sebaiknya mundur.

Pesantren telah mengajarkan para santri bertarung justru untuk mengalah, bicara untuk diam, mendaki untuk merendah, pun berperang justru untuk berdamai. Inilah low profile alias tawadhu’ warisan para Nabi untuk para santri, khususnya milenial dan zilenial.

Belum lagi, para santri diajarkan perihal membaca yang tak terbaca, mendengar yang bukan suara, memimpin dengan cara melayani dan apapun saja yang oleh sekolah-sekolah model zaman sekarang ditolak-campakkan. Yakni, mengajarkan segala jenis ilmu dengan pendekatan moral, sehingga nyaris tidak pernah kita jumpai kaum santri yang gegabah dan gampang mengkafir-syirik-bid’ahkan orang lain yang beda.

Bagi santri, hidup justru sangat indah dengan membiarkan setiap orang riang gembira dengan warnanya masing-masing. Dari sana kemajuan bisa digagas. Mengapa? Kita tidak bisa membangun dengan cara meruntuhkan, terutama membangun kemanusiaan.

Di sisi lain, manusia memiliki semacam “program otomatis” yang sebenarnya ia bukan diri, bukan manusia sendiri, tetapi program itulah penentu dari segala keputusan—seolah manusia yang mengendalikan sang “program”, tetapi nyatanya, menusialah yang dikendalikan olehnya.

Tanpa disadari, setiap orang memiliki cara otomatis untuk selalu menyalahkan yang belum tentu salah, tak sedikit saudara kita yang gampang menjeneralisir segala yang partikulir, mempersempit Tuhan hanya dengan agama tertentu, hampir setiap kita rajin memboroskan waktu, umur dan juga uang.

Boleh jadi, Anda juga selalu punya alasan mengapa terlambat datang ke sekolah atau ke tempat kerja, sekalipun persiapan sudah matang, selalu saja ada kendala. Jika terbiasa tidur pagi, meskipun malamnya Anda tidur pukul 9, tetap saja, mengantuk setelah subuh.

Memang, bagi sementara orang (terutama yang mengaku-ngaku manusia), godaan bantal sangat kuat. Bahkan, melihat gambar bantal dan membayangkan sosok bantal saja langsung menguap, lalu kantuk tak tertahankan. Apa yang salah? Program sialan itukah yang mengacaukan aktivitas di pagi hari?

Pesantren mendidik kaum santri untuk hidup sederhana dan bersahaja, tidak menjadi peratap dan cengeng, makan dan hidup seadanya, kuat melék dan betah ngantuk, santri rela terhempas dari kenyamanan mimpi-mimpi demi ilmu dan barakah.

Rerata, kaum sarungan adalah para nokturnis tulen, meraka juga para penghayat (makna) malam yang paling jempolan. Hanya para seniman rohani yang rela menjauh dari bantal-kasur. Dan memang, para santri rata-rata tidak memiliki bantal-kasur-selimut, seolah mereka memang tak punya rencana tidur.

Nyaris selalu, teratur dan kacaunya hidup manusia bermula dari program otomatis yang kita biasakan. Pendek kata, manusia adalah apa yang dibiasakannya. Itulah prilaku alam bawah sadar. Dan, manusia membentuk program itu sekian lama untuk kemudian mematenkannya menjadi karakter.

Orang yang tidak mengubah pola pikir dan pola sikapnya, sejatinya ia tidak merubah apapun dalam hidupnya. Apa sebab? Hasil yang teratur dibuat oleh tata kelola manajerial, sementara itu perubahan yang efektif dicapai oleh kepemimpinan yang efektif pula.

Pendek kata, perubahan pada “hasil” hanya mungkin terjadi dari perubahan “cara”. Tetapi, kemajuan yang efektif butuh pemantik, ia tidak mungkin berangkat dan membentuk dirinya sendiri.

Tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Begitu pula manusia.

Jika ingin maju, ia harus membentuk A-TEAM (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju, lingkungan, teman, keluarga dan buku-buku yang membentuk kepribadian kita. Adapun Pesantren telah terkondisi sedemikian rupa untuk membentuk kemajuan santri-santri jauh lebih baik dari tempat belajar manapun.

Nah, terbuat dari apakah makhluk bernama kemajuan itu, sehingga setiap individu ingin menggapainya, bahkan tak jarang dengan menghalalkan segala cara?

Merasa tidak puas adalah modal utama dan langkah pertama untuk sebuah kemajuan. Kabar baiknya, inilah watak dasariah manusia. Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan kemajuan dan kejayaan dalam hidupnya, dalam segala bidang.

Bagitu pula Anda dan saya, Anda memiliki kuas, Anda memiliki pilihan warna-warni, Anda dapat melukis surga, dan kemudian masuk ke dalamnya dengan riang gembira. Nah, bagaimana meyakinkan diri tentang prinsip ini?

Hanya ada satu sudut di alam semesta ini yang pasti bisa Anda diperbaiki, dan itu adalah diri Anda sendiri. Kaca, porselen, genteng, dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali retak dan pecah. Mustahil dapat direkat kembali tanpa meninggalkan bekas yang nampak.

Kejayaan dan kemakmuran adalah istana pasir, ia gampang runtuh bahkan tanpa terjangan ombak sekalipun. Tatapi, karakter yang dibentuk saat demi saat, pola pikir dan pola sikap yang dibangun waktu demi waktu akan sangat sulit diruntuhkan, bahkan oleh prahara sekalipun.

Sementara itu, sekolah, diklat, workshop dan lembaga-lembaga kursus yang kita impor dari Barat hanya membekali kita dengan kecakapan, keterampilan dan keahlian tertentu (life skill). Ada yang salah? Tentu, kecakapan memang sangat memungkinkan seseorang mencapai puncak, tapi kepribadian menjadi salah satu hal yang akan mencegahnya jatuh dan tersungkur. Artinya, jika karakter hilang, semuanya lenyap.

Kelihatannya, pemerintah dan para praktisi pendidikan baru menyadari hal ini, padahal Pesantren klasik dan padepokan telah menerapkannya sejak ratusan tahun yang lalu. Dan, kemajuan itu dimulai dari dalam, dari kepribadian.

Nah, jika hidup Anda kacau, Anda tidak bisa memperbaiki hanya dengan memperbaiki dan memoles bagian luarnya saja. Semoga kita mendapat barakah para Kiai, para Guru dan Pesantren. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *