Menuju Probolinggo yang SAE dan Sejahtera

Oleh: Ponirin Mika
Pengamat Sosial Politik Probolinggo

Probolinggo adalah daerah yang kaya akan budaya, nilai-nilai religius, dan potensi alam yang melimpah. Masyarakatnya dikenal dengan karakter kesantrian yang kuat, menjadikan Probolinggo sebagai daerah yang kental dengan nuansa agamis. Namun, seperti daerah lainnya, Probolinggo membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola potensi ini—seorang pemimpin yang bukan hanya hadir sebagai figur, tetapi memiliki jiwa pengabdian yang tulus dan visi yang jelas untuk masyarakat.

Tokoh-tokoh muda seperti Gus Haris dan Ra Fahmi, yang lahir dari lingkungan pesantren, membawa nilai-nilai luhur kesantrian dalam kiprah mereka. Mereka mewakili generasi yang tidak hanya mengandalkan keturunan atau status sosial, tetapi juga memiliki komitmen yang kuat, integritas, serta kepedulian mendalam terhadap rakyat. Kehadiran mereka bukan hanya untuk mewarnai panggung politik, tetapi juga untuk membawa misi sosial yang lebih besar: membenahi dan memajukan Probolinggo.

Kepemimpinan yang memiliki visi dan hati untuk masyarakat seperti ini menjadi harapan untuk perubahan nyata. Pemimpin yang memprioritaskan kesejahteraan dan kemajuan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan, adalah kunci untuk membawa Probolinggo ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, masyarakat harus cermat dan bijaksana dalam menentukan pilihan, memilih sosok yang benar-benar akan membawa dampak positif dan mewujudkan Probolinggo yang maju dan sejahtera.

Dengan kepemimpinan yang tepat, Probolinggo sae bukan lagi sekadar impian, tetapi masa depan yang bisa dicapai.

Ra Hamid Wahid: Pemimpin Visioner untuk Bondowoso Maju

Oleh: Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Probolinggo

Bondowoso memiliki potensi luar biasa di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pariwisata, hingga pendidikan. Terletak di jantung wilayah Tapal Kuda, Bondowoso menyimpan sumber daya alam yang melimpah dan lanskap wisata yang belum tergali secara optimal. Namun, potensi ini belum cukup tergarap sehingga sering kali Bondowoso tertinggal dibandingkan daerah sekitarnya.

Dalam kondisi ini, Bondowoso memerlukan sosok pemimpin yang tidak hanya paham dengan kebutuhan masyarakat, namun juga memiliki visi yang kuat dan strategis untuk mengarahkan daerah ini ke masa depan yang lebih baik. Sosok Ra Hamid Wahid dianggap mampu mewujudkan harapan ini. Dengan pengalaman yang luas di berbagai bidang—dari organisasi, politik, hingga pendidikan—Ra Hamid memiliki kemampuan untuk merumuskan kebijakan yang tepat demi memajukan Bondowoso.

Ra Hamid Wahid dikenal sebagai sosok yang memahami pentingnya membangun dari akar, dari masyarakat kecil hingga menengah. Berbeda dari pemimpin lain yang kadang terjebak dalam politik praktis, Ra Hamid justru memiliki pemikiran untuk memajukan Bondowoso secara menyeluruh, mulai dari mengoptimalkan sektor pariwisata, menggalakkan pendidikan yang berbasis lokal, hingga memberdayakan ekonomi masyarakat melalui UMKM. Dengan kepribadian yang dekat dengan masyarakat dan kepemimpinan yang teruji, Ra Hamid mampu menjadi figur pemimpin yang diidamkan oleh masyarakat Bondowoso.

Selain Ra Hamid, ada juga sosok Ra As’ad yang tak kalah penting. Bersama, mereka adalah figur pemimpin yang berpengalaman dan bijaksana. Kedua tokoh ini dapat menjadi kombinasi yang sempurna untuk mengawal Bondowoso menuju masa depan yang lebih cerah. Bondowoso butuh pemimpin yang tidak hanya berpikir untuk lima tahun ke depan, tapi yang dapat menanamkan fondasi kuat bagi generasi mendatang.

Dengan berbagai potensi yang ada, serta kepemimpinan yang mumpuni seperti Ra Hamid Wahid dan Ra As’ad, Bondowoso seharusnya tidak lagi berada di bawah bayang-bayang daerah lain. Jika diurus dengan baik, Bondowoso bukan hanya akan maju secara ekonomi, tetapi juga akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya secara berkelanjutan.

Di Tabligh Akbar BI, Kiai Zuhri Zaini Ajak Santri Memiliki Kepekaan Sosial

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo KH. Moh. Zuhri Zaini mengajak para santri untuk tidak bahagia dan senang sendirian. Tapi harus memperhatikan nasib orang lain dan peka kepada keberadaan masyarakat disekitarnya (peka sosial). Pernyataan itu diungkapkan saat memberikan tausyiah pada tabliqh akbar yang diselenggarakan Bank Indonesia Malang di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Rabu (24/10/24).

Selain itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa sebagai manusia harus berikhtiar agar menjadi sukses. Ia juga menyinggung menerangkan sosok panutan umat yaitu Rasulullah SAW.

“Rasulullah itu adalah saudagar, beliau menikahi Siti Khodijah dengan mas kawin kurang lebih satu milyar,” tegasnya.

Namun kata Kiai Zuhri, bekerja apapun yang penting pekerjaan yang baik harus diniati baik pula.

“Orang yang bekerja di kantor, sawah, Perusahaan harus diniati dengan baik salah satunya niati untuk menafkahi keluarga,” imbuhnya.

Ta lupa juga, kiai yang terkenal sederhana dan familiar ini menyetir sabda Rasulullah “Betapa banyaknya pekerjaan yang dianggap pekerjaan dunia tetapi dengan niat yang baik maka menjadi pekerjaan akhira, sebaliknya banyak pekerjaan seakan akan pekerjaan akhirat tapi dengan niat yang tidak benar maka jadi perbuatan dunia,”.
Kiai Zuhri berpesan agar kita bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja dengan baik agar bisa menjadi orang sukses

“Dalam usaha tidak hanya dilakukan sendirian tapi lebaik utk bersama sama,” ungkapnya. (pm)

Tingkatkan Kesehatan Warga, LMI Adakan Cek Kesehatan Gratis

NGAWI, berdampak.net – Minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan cek kesehatan secara berkala, membuat Lembaga Manajemen Infaq (LMI) menggelar cek kesehatan gratis yang dilaksanakan di Pasar Beran, Ngawi, pada Kamis (17/10).

LMI Ngawi berkolaborasi dengan Akademi Perawatan (AKPER) Ngawi dalam pelaksanaan cek kesehatan gratis.

Kegiatan ini menyasar warga sekitar pasar, terutama para pedagang yang sangat antusias mengikuti cek kesehatan gratis tersebut.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tekanan darah, kolesterol, asam urat, dan gula darah, yang bertujuan mendeteksi dini potensi penyakit dan faktor risiko kesehatan.

Selain itu, LMI Ngawi memberikan pengajaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai investasi jangka panjang.

Warga juga mendukung adanya kegiatan ini, sebanyak 100 lebih orang yang mendaftarkan diri untuk mengecek kesehatannya.

Ketua Pasar Beran, Sugianto merasa senang adanya cek kesehatan kepada para pedagang untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, sekaligus membuktikan kepedulian LMI secara nyata kepada masyarakat.

“Tubuh yang sehat akan membuat kita bisa bekerja lebih maksimal, dan dengan kesehatan yang baik, Insya Allah kehidupan kita akan lebih baik,” kata Sugianto.

Hari selaku perwakilan LMI Ngawi mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola makan dan pola hidup, serta mengapresiasi sambutan masyarakat yang semarakkan kegiatan cek kesehatan gratis tersebut.

“Kami harap warga melalui cek kesehatan ini bisa menerapkan dan menjaga pola hidup sehat sebagai aset yang penting, serta saya apresiasi semangat warga yang hadir saat ini,” ucapnya. (fiq)

Pertama Kalinya, BWI dan Nurul Jadid Cetus Gerakan Pesantren Indonesia Berwakaf

Probolinggo, berdampak.net – Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyelenggarakan pertemuan Waqf Goes to Pesantren (WGTP) yang pertama di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada, Rabu (16/10/24).

Dalam perhelatan itu, para pimpinan Badan Wakaf Indonesia dan Pondok Pesantren Nurul Jadid berkumpul untuk meresmikan sekaligus menggagas tindak lanjut program gerakan Indonesia berwakaf masuk pesantren.

Rendahnya tingkat literasi masyarakat tentang wakaf telah menjadi perhatian forum WGTP, sebagaimana isu tersebut telah diupayakan jalan keluarnya melalui beberapa program yang telah diinisiasi oleh BWI dan badan lain yang bergerak di bidang filantropi, termasuk salah satunya Waqf Goes to Pesantren yang diresmikan hari ini.

Dalam sambutannya, Ketua Divisi Humas, Sosialisasi, dan Literasi Wakaf BWI Agus Priyatno menyampaikan latar belakang memilih pesantren sebagai salah satu sasaran objek program peningkatan literasi wakaf.

“Indonesia ada 43.000 pesantren dan 22% nya di Jawa Timur, jadi kira-kira 13.000 pesantren di Jawa Timur. Ternyata, potensi pesantren yang sedemikian besar itu belum terkelola dengan baik, terutama pada potensi wakaf-wakafnya,” ujarnya.

Menurutnya, BWI telah menyediakan instrumen pendukung berupa wakaf uang melalui aplikasi digital guna menyongsong kesuksesan program tersebut.

“Beberapa inisiatif telah dilakukan, salah satunya instrumen wakaf uang. Melalui teknologi digital, masyarakat bisa terlibat dalam kegiatan wakaf internasional dan bisa mendorong potensi lembaga-lembaga pendidikan ataupun ekonomi Islam dengan tidak terbatas oleh tempat,” imbuhnya.

Di samping itu, Sekretaris BWI Anas Nasihim menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pencetus awal dalam menyemarakkan gerakan Indonesia berwakaf masuk pesantren.

“Alhamdulillah Nurul Jadid, sebagaimana namanya “Cahaya Baru”, hari ini kita melalui sebuah kebaruan, yakni sebagai pesantren penggerak wakaf di Indonesia,” ungkapnya.

Dalam sejarahnya, lanjut Anas, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah aktif dalam peran kemasyarakatan pesantren sejak dulu, yaitu terlibat dalam pembentukan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.

“Peran kemasyarakatan pesantren pernah dicetuskan oleh 4 pesantren besar di negeri ini, di antaranya Pesantren Cipasung, Matholiul Falah Pati, Nurul Jadid, dan Annuqayah Sumenep,” imbuhnya.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua BWI H. Kamiruddin Amin mengajak setiap elemen untuk terus mengambil langkah bersama secara cepat dalam menyukseskan program wakaf ini.

“Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2024-2029, pembangunan agama yang telah kami diskusikan dalam RPJMN, menjadikan keuangan sosial atau zakat wakaf sebagai salah satu program prioritas,” terangnya.

Target itu, menurut Ketua BWI dimulai dari pesantren dengan melakukan pembentukan karakter santri agar menjadikan wakaf sebagai gaya hidup berderma, keinginan membantu yang lemah dan membutuhkan.

“Tantangan kita, cita cita kami semuanya, suatu saat gaya hidup berwakaf ini menjadi gaya hidup anak-anak muda. Hal itu kami mulai dari pondok pesantren. Berwakaf ini bukan persoalan mampu atau tidak mampu, akan tetapi ini persoalan tahu atau tidak tahu, persoalan ada fasilitas atau tidak ada fasilitas untuk melakukannya, persoalan literasi,” jelasnya.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid setuju untuk mendukung akselerasi perkembangan wakaf sebagai salah satu kontribusi atau pilar pengembangan ekonomi masyarakat di Indonesia.

“Alhamdulillah pesantren dalam hal ini telah mendorong gerakan wakaf, kami mempunyai unit kerja Laziskaf yang sudah memulai gerakan wakaf ini kepada masyarakat. Kami merasa kegiatan ini sangat penting, Nurul Jadid siap menjadi bagian dari gerakan Indonesia berwakaf,” terang Kiai Hamid.

Pertemuan WGTP pertama pada hari ini menjadi dasar koordinasi erat yang diperlukan di masa depan untuk menentukan cara terbaik dalam menghadapi tantangan gerakan Indonesia berwakaf. (pm)

Santri, Pilar Peradaban Baru: Mengabdi untuk Agama dan Negara di Era Modern

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research

Hari Santri Nasional (HSN) diperingati setiap tanggal 22 Oktober di Indonesia. Peringatan ini merupakan pengakuan terhadap peran penting para santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa, serta dedikasi mereka dalam menjaga moralitas, spiritualitas, dan kebangsaan.

Penetapan Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk memperingati Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Resolusi ini menggerakkan para santri dan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan setelah Proklamasi Kemerdekaan, khususnya dalam pertempuran di Surabaya yang menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Resolusi Jihad ini dianggap sebagai titik penting di mana para santri berperan dalam memobilisasi umat untuk berperang melawan pasukan Belanda dan Sekutu, serta menjaga kedaulatan negara Indonesia yang baru merdeka.

Peringatan Hari Santri tidak hanya berupa upacara seremonial, tetapi juga sering disertai dengan program-program penghargaan bagi santri. Di beberapa daerah, para santri yang berprestasi mendapatkan hadiah dalam bentuk beasiswa pendidikan, penghargaan, dan program pengembangan diri. Ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan agama. Selain itu, HSN juga sering dirangkaikan dengan kegiatan lomba keagamaan, festival kebudayaan santri, hingga kompetisi hafalan Al-Qur’an.

Santri memegang peran yang sangat penting dalam menjaga amanah agama, kebangsaan, dan moralitas. Mereka dididik untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, mengamalkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan menjaga persatuan bangsa. Amanah yang dipikul santri mencakup tanggung jawab untuk mempertahankan ajaran Islam yang moderat, menghormati keberagaman, dan menjadi teladan bagi masyarakat dalam berperilaku dan berbicara.

Para santri juga dianggap sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, sesuai dengan semangat jihad yang terkandung dalam Resolusi Jihad. Amanah ini berlanjut dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, hingga politik.

Peringatan Hari Santri dapat menjadi momentum bagi santri untuk berperan aktif dalam menciptakan peradaban baru yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan, keilmuan, dan kemanusiaan. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga moral dan spiritual, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju kemajuan, tanpa meninggalkan identitas keislaman dan keindonesiaan.

Dalam menghadapi tantangan global seperti digitalisasi, santri harus mampu beradaptasi dan mengambil peran penting dalam inovasi teknologi, namun tetap memegang teguh nilai-nilai agama dan moral. Dengan demikian, santri diharapkan bisa menciptakan peradaban baru yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Peran santri dalam negara sangatlah signifikan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, hingga era reformasi dan pembangunan, santri terus berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya, santri selalu memberikan kontribusi nyata. Mereka berperan sebagai tokoh masyarakat, pendidik, dan pemimpin yang berusaha membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Santri dan negara adalah dua entitas yang saling terkait, di mana santri terus melanjutkan perjuangan ulama dan para pendahulu dalam menjaga moralitas bangsa, sementara negara mengakui dan menghargai kontribusi santri dalam memperkokoh fondasi kebangsaan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional, santri diharapkan terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari negara, baik sebagai penjaga moral bangsa maupun sebagai motor penggerak pembangunan yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.