Yang Berbeda dari Peringatan Hari Buruh (May Day) 2025, Kompak Semangat Memperkuat Sinergi dan Kolaborasi

Probolinggo. Berdampak.net – Ada yang berbeda dari peringatan Hari Buruh (May Day) yang di lakukan oleh lintas stake holder baik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) , Apindo dan dukungan beberapa perusahaan perusahaan di kabupaten Probolinggo dengan menggelar di menggelar acara di pendopo Prasaja Ngerti Wibawa, Kamis (1/5/2025).

Dengan membawa tema “Merajut Kebersamaan Untuk Peningkatan Kesejahteraan Pekerja dan Produktivitas Nasional” Day Is Kolaborasi Day” acara ini di laksanakan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para pekerja dalam memperjuangkan hak-hak ketenagakerjaan dan bentuk program nyata dari lintas sektor untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pengusaha , pemerintah dan serikat buruh.

Acara dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Kapolres Probolinggo AKBP Wisnu Wardana, Komandan Kodim 0820 Probolinggo yang diwakili oleh Danramil Maron Kapten Cba Dandung, pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Probolinggo, para perusahaan dan para serikat pekerja di Kabupaten Probolinggo.

Dalam acara tersebur juga diserahkan tali asih kepada 6 (enam) orang perwakilan dari DPC serikat pekerja di Kabupaten Probolinggo yaitu 2 (dua) orang dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), 2 (dua) orang dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), dan 2 (dua) orang dari Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI).

Secara umum semua pihak sepaham bahwa Hubungan baik sebagai mitra sangat di perlukan antara perusahaan dan pekerja untuk saling bahu-membahu dalam memajukan perusahaan dan dalam lebih meluas nya bagaimana membantu pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para investor di Probolinggo sesuai dengan visi misi pemerintahan gus haris dan Ra Fahmi . (rh)

DPD Gelora Probolinggo Selektif Rekrut Kader, Ekonomi Jadi Arah Juang

Pasuruan, Berdampak.net — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Gelora Jawa Timur menggelar konsolidasi internal pasca pelantikan kepengurusan di Syada Café and Resto, Surabaya, Kamis (01/05/2025). Acara ini dihadiri oleh seluruh ketua dan sekretaris DPD se-Jawa Timur sebagai bagian dari upaya penguatan struktur dan arah gerakan politik ke depan.

Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo, Abu Bakar Rohim, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama jajaran pengurus barunya. Dalam forum konsolidasi itu, ia menyampaikan berbagai langkah strategis yang akan ditempuh Partai Gelora di wilayahnya.

“Kami akan fokus pada pengembangan bidang ekonomi. Ke depan, arah gerak partai tidak hanya berkutat pada politik elektoral, tetapi juga membangun usaha dan memberdayakan masyarakat,” ujar Abu Bakar dengan penuh keyakinan.

Menurutnya, pembangunan ekonomi berbasis komunitas menjadi langkah nyata dalam mendekatkan partai kepada kebutuhan rakyat. Abu Bakar menyebut bahwa program-program pemberdayaan ekonomi akan disiapkan melalui kerja sama lintas sektor dan pelibatan kader partai.

Selain fokus ekonomi, Abu Bakar juga memperkenalkan struktur pengurus baru Partai Gelora Kabupaten Probolinggo kepada jajaran DPW. Ia menegaskan bahwa proses rekrutmen dilakukan secara selektif, terutama karena minat terhadap partai saat ini meningkat signifikan, khususnya dari kalangan laki-laki.

“Antusiasme dari kalangan laki-laki cukup tinggi. Ini membuat kami lebih hati-hati dan selektif dalam memilih kader, karena kami ingin membentuk struktur yang solid, loyal, dan punya kapasitas,” ungkapnya.

Namun demikian, Abu Bakar tidak menutup mata terhadap tantangan internal yang tengah dihadapi oleh DPD Gelora Kabupaten Probolinggo. Salah satu kendala yang ia soroti adalah minimnya figur potensial dari kalangan perempuan.

“Kami masih mengalami kesulitan dalam menjaring kader perempuan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera kami cari solusinya,” jelasnya. Ia menyebut, ke depan akan ada program khusus untuk menjaring dan membina kader perempuan, termasuk melalui pelibatan komunitas perempuan muda dan ibu rumah tangga.

Dalam forum yang berlangsung hangat tersebut, Abu Bakar juga mendapat respon positif dari pengurus DPW atas inisiatif ekonomi yang dibawa. DPW menyatakan akan memberikan dukungan penuh terhadap gagasan yang membawa semangat kemandirian dan keberdayaan masyarakat.

Konsolidasi ini menjadi momentum penting bagi seluruh DPD untuk menyampaikan aspirasi, laporan program, serta menyamakan frekuensi perjuangan menuju Pemilu 2029. Termasuk untuk menyusun strategi rekrutmen dan kaderisasi yang berkelanjutan.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim, Misbakhul Munir, sebelumnya menegaskan bahwa partai harus dibangun dengan rasa syukur, semangat besar, dan keberanian dalam mengambil tantangan. Ia mendorong seluruh DPD untuk terus membangun gagasan dan langkah nyata di tengah masyarakat.

Abu Bakar pun menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat struktur di daerah dan mencetak kader-kader baru yang tidak hanya loyal pada partai, tapi juga mampu membawa solusi nyata bagi masyarakat.

“InsyaAllah, Gelora di Kabupaten Probolinggo akan tumbuh sebagai kekuatan yang produktif dan relevan dengan kebutuhan rakyat,” pungkasnya.

Dengan konsolidasi yang solid dan arah gerakan yang jelas, Partai Gelora Kabupaten Probolinggo siap menatap masa depan dengan lebih optimis dan penuh dedikasi.

Passobis, Life Style atau Faktor Tekanan


Oleh: Mursalim Nohong

Rasanya jargon “Sidrap menyala abangku” pantas disematkan bagi kabupaten di Sulawesi Selatan ini.Pasalnya, hampir tiap hari ruang imajinasi publik disajikan informasi dan berita maraknya sindikat penipuan online yang dilakukan passobis.

Pada sisi lain, praktek “penyakit masyarakat” 4S tersebut seakan telah diterima oleh sebagian masyarakat sebagai sebuah gaya hidup (life style) kalangan generasi Z.

Kekuatan alias bargaining power pemegang saham dibalik itu semua tidak tergoyahkan bahkan seringkali menumbangkan otoritas dan legitimasi pemerintah setempat. Bahkan muncul adagium: “kalau ada pejabat (terutama aparat keamanan) yang berani menegur apalagi mengganggu praktik-praktik 4S dan derivasinya akan segera dipindahkan atau dinonjobkan,” menjadi sebuah kenyataan ditengah upaya pemerintah daerah melakukan pembenahan.

Di penghujung bulan ini, tepatnya kamis 24 April 2025 tim dari Kodam XIV/Hasanuddin menangkap 40 orang yang tergabung dalam sindikat penipuan online atau passobis di Kabupaten Sidrap. Para pelaku beraksi dengan modus mencatut nama pejabat Kodam Hasanuddin.

Peristiwa ini menjadi saksi paling tidak untuk tiga alasan. Pertama, praktik penipuan yang marak di masyarakat Sidrap dengan sebutan passobis memang betul ada bahkan telah terorganisir pada beberapa kelompok di mana masing-masing kelompok memiliki anggota kurang lebih 50 orang anak muda generasi Z yang seharusnya mengambil peran strategis di tahun 2045.

Kedua, keterlibatan pihak lain (dalam hal ini TNI) seolah menunjukkan kurang seriusnya aparat yang seharusnya bertanggungjawab dalam menganani peristiwa tersebut.

Ketiga, keberanian melakukan tindakan berulang seolah menunjukkan bahwa sanksi yang dikenakan kepada pelaku tidak cukup kuat memberikan efek jera pelaku.

Untuk memahami fenomena sosial seperti 4S, Wolfe dan Hermanson (2004) mengkonstruksi Fraud Diamond Theory yang dikembangkan dari teori sebelumnya yaitu Fraud Triangle Theory (Cressey, 1953).

Teori Fraud Diamond menambahkan satu elemen penting yaitu Capability (kemampuan) sehingga terdapat empat faktor utama yang mendorong seseorang melakukan kecurangan. Keempat faktor meliputi tekanan, kesempatan, rasionalisasi dan kapasitas.

Faktor pertama, tekanan merupakan motivasi atau dorongan seseorang untuk melakukan fraud dalam bentuk tekanan finansial seperti utang, gaya hidup mewah, kebutuhan mendesak. Tekanan pekerjaan seperti target yang terlalu tinggi, tuntutan kinerja, tekanan manajemen.

Tekanan pribadi yakni masalah keluarga, kebiasaan buruk (perjudian, kecanduan), gaya hidup berlebihan. Kesempatan sebagai faktor kedua adalah kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang dapat melakukan tindakan fraud.

Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kesempatan antara lain lemahnya sistem pengendalian internal, tidak adanya atau lemahnya pengawasan, posisi atau jabatan seseorang yang memungkinkan untuk mengakses atau mengatur sumber daya organisasi.

Faktor ketiga, rasionalisasi adalah pembenaran atau justifikasi yang dibuat oleh pelaku untuk merasa bahwa tindakannya tidak salah atau dapat diterima secara moral misalnya merasa tidak dihargai secara adil oleh organisasi, meyakinkan diri bahwa tindakan tersebut hanya sementara dan akan segera dihentikan, menganggap tindakan fraud sebagai “pinjaman sementara” dan akan segera dikembalikan, dan merasa bahwa tindakan fraud dilakukan karena keadaan mendesak yang “terpaksa” dilakukan.

Terakhir, capability merupakan kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh pelaku untuk menjalankan tindakan fraud tersebut. Kemampuan tersebut mencakup posisi atau jabatan tinggi dalam organisasi, kemampuan memahami sistem organisasi secara mendalam, keterampilan teknis yang baik untuk menyembunyikan atau memanipulasi informasi, kepercayaan diri tinggi dan kemampuan untuk menekan atau memengaruhi orang lain dan kemampuan mengatasi stres atau ketakutan untuk tertangkap.

Sri Ulfa dkk tahun 2020 meneliti perilaku menyimpang khususnya terkait passobis terhadap 100 generasi Z di Kabupaten Sidrap yang telah terpapar. Sri Ulfa adalah seorang generasi Z asal Sidrap yang merasa terpanggil untuk memberikan masukan kepada pemangku kepentingan melalui jalur riset.

Hasil riset terhadap faktor tekanan menunjukkan bahwa generasi Z di Sidrap melakoni Passobis sebagai pekerjaan karena gaya hidup konsumtif Generasi Z (79%). Selain itu, tekanan eksternal berupa sulitnya mencari pekerjaan dan kondisi ekonomi tidak stabil masing-masing sebesar (49%).

Pengaruh faktor kesempatan ditunjukkan bahwa lemahnya pengawasan (83%) dan sikap permisif masyarakat Sidrap terhadap praktik sobis (84%) menciptakan rasa aman bagi pelaku untuk terus melakukan sobis.

Dalam pada itu, sebanyak 80% Generasi Z di Sidrap merasionalisasi bahwa sobis adalah pekerjaan karena menghasilkan pendapatan dan banyak orang melakukannya. Namun demikian, secara etis dan hukum Generasi Z Passobis tetap mengakui bahwa sobis salah secara moral (97%) dan ilegal (99%).

Faktor terakhir yang jika diintervensi sejak dini dapat menjadi tindakan mengeliminasi praktik sobis yakni kemampuan komunikasi yang baik (75%), penguasaan teknologi (73%) serta kemampuan berbicara dalam berbagai aksen bahasa (60%) menjadi faktor pendukung utama Generasi Z Sidrap melakukan sobis.

Temuan ini menunjukkan bahwa ada persoalan besar yang sedang dan akan tetap menjadi trend di masa yang akan datang sehingga menjadi pekerjaan rumah bersama bukan hanya oleh pemerintah daerah (kepala daerah melalui SKPD) tetapi juga masyarakat.

Secara proporsional pengawasan harus dilakukan mulai dari lingkungan keluarga kemudian masyarakat dengan tidak memberikan ruang bagi pelaku dalam melakukan praktik serupa. Untuk faktor tekanan dengan memberikan edukasi literasi keuangan digital dan dukungan kesehatan mental serta work-life balance.

Faktor opportunity melalui edukasi penguatan cybersecurity dan pembatasan akses data sensitif. Faktor rasionalisasi melalui kampanye anti-fraud digital yang interaktif dan pendidikan integritas digital via media sosial. Faktor kemampuan melalui penyaluran kemampuan digital ke aktivitas positif. ***

*Penulis Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas yang juga putra kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan.

Komisi IV DPRD Kawal Ketat Penyaluran Bantuan Kemiskinan Ekstrem di Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net — Langkah serius ditunjukkan Komisi IV DPRD Kabupaten Probolinggo dalam mengawal penyaluran bantuan sosial untuk warga miskin ekstrem dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dalam kegiatan yang berlangsung 28–30 April 2025, sejumlah anggota Komisi IV turun langsung memastikan bahwa bantuan diterima utuh oleh masyarakat yang berhak.

Hadir dalam kegiatan ini Arief Hidayat, Umil Sulistyoningsih, Edi Cahyono, Intan Cahya, dan Gus Nawa, yang memantau jalannya proses administrasi sekaligus berdialog dengan para penerima manfaat.

“Kami di Komisi IV hadir bukan sekadar untuk melihat, tapi benar-benar memastikan bantuan ini sampai tanpa potongan dan diterima oleh mereka yang memang masuk kategori miskin ekstrem. Ini soal keadilan sosial, bukan sekadar distribusi angka,” ujar Dayat.

Penanganan kemiskinan ekstrem, lanjutnya, adalah prioritas utama. Ia menekankan bahwa kategori miskin ekstrem berbeda dengan sekadar keluarga miskin biasa — kelompok ini kerap hidup di bawah garis kelayakan dasar, sehingga butuh intervensi nyata dan tepat sasaran.

Selain apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi dan Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo, Komisi IV juga menggarisbawahi pentingnya:

Penguatan basis data penerima manfaat berbasis by name by address;

Keterbukaan proses distribusi di semua tahapan;

Monitoring hasil pemberian bantuan, apakah benar mendorong perubahan kondisi penerima.

Komisi IV berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan terhadap seluruh program yang terkait dengan kesejahteraan sosial, dan memastikan bahwa intervensi pemerintah tidak hanya seremonial, tetapi membawa perubahan konkret bagi kehidupan masyarakat miskin ekstrem di Kabupaten Probolinggo. (fiq)

Taj Mahal: Bukti Romantika Keagungan dan dan Kebesaran Sang Pencipta

Berdampak.net – Perjalanan ini membawakan saya menjejakkan kaki di salah satu mahakarya dunia — Taj Mahal. Dari kejauhan, bangunan megah berwarna putih gading itu berdiri anggun, seolah membisikkan kisah cinta yang melintasi zaman.

Setiap lekuk, setiap ukiran, setiap marmer yang dipahat dengan teliti, mencerminkan kesungguhan hati dan kehalusan rasa manusia dalam merayakan cinta… dan lebih jauh lagi, dalam menyaksikan keagungan Sang Pencipta.

Taj Mahal dibangun pada abad ke-17 oleh Kaisar Mughal, Shah Jahan, sebagai tanda cinta kepada istrinya, Mumtaz Mahal. Kini, usia bangunan ini sudah lebih dari 370 tahun. Terletak di kota Agra, negara bagian Uttar Pradesh, India Utara, Taj Mahal menjadi magnet bagi jutaan peziarah keindahan dari seluruh dunia.

Saya termenung. Di balik keindahan buatan tangan manusia ini, betapa Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Memberikan ilham kepada hamba-Nya untuk mencipta karya abadi. Setiap detail Taj Mahal seakan memuliakan kemuliaan Allah — bahwa segala yang indah di dunia ini hanyalah bayangan kecil dari keindahan surgawi.

Meski berada di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, pemerintah India bersama berbagai badan dunia seperti WHO (World Health Organization) aktif menjaga kesehatan masyarakat di sekitar Agra, termasuk mengelola polusi dan kesehatan lingkungan, agar warisan dunia ini tetap lestari dan tetap nyaman dikunjungi.

Romantika Taj Mahal bukan sekadar tentang cinta antara Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Lebih dalam, ia adalah pengingat tentang kefanaan dunia dan kekekalan cinta sejati di sisi Allah. Di pelatarannya, saya berdoa dalam hati, memohon agar cinta saya pada dunia tak melupakan cinta kepada Yang Maha Kekal.

Melangkah keluar dari kompleks itu, langit India pagi itu berwarna keemasan. Seperti restu langit atas renungan kecil saya: bahwa segala keindahan dunia hanyalah tanda untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. ***(Wahyudi “dokter koboi” Muchsin).

Angkat Santri Jadi Duta Lingkungan, Nurul Jadid Konsisten Jaga Kelestarian Alam

Probolinggo, Berdampak.net – Komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan melalui kegiatan Pemilihan Duta Lingkungan yang digelar Biro Pembangunan Umum dan Lingkungan Hidup (PULH) pada Ahad (27/4/2025), di Aula I Pesantren.

Ketua panitia, Rifdi Muhammad, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan wawasan dan kepedulian lingkungan bagi kalangan santri. Menurut Rifdi, melalui ajang ini, pesantren tidak hanya membekali santri dengan kesadaran ekologis, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi agen perubahan lingkungan di tengah masyarakat.

“Santri yang terpilih sebagai Duta Lingkungan diharapkan mampu menjadi pelopor, menggerakkan teman-temannya untuk lebih peduli terhadap alam sekitar,” ungkap Rifdi.

Kegiatan tersebut, lanjut Rifdi, tidak semata-mata berbentuk seleksi, melainkan juga dirangkai dengan berbagai pelatihan intensif.
“Melalui pelatihan itu, para santri diajak memahami peran strategis individu dalam menjaga kelestarian bumi, sekaligus mengasah keterampilan kepemimpinan sosial yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman,” jelasnya.

Dalam salah satu sesi pelatihan, Nyai Hj. Nur Diana Khalidah menekankan pentingnya jiwa pelopor dalam gerakan lingkungan. Menurutnya, inisiatif, komunitas, dan kolaborasi merupakan tiga pilar utama yang harus dimiliki seorang penggerak perubahan.

“Seorang pelopor adalah pembaharu. Maka, tidak ada alasan untuk berhenti berbuat kebaikan dan memperluas jangkauan manfaatnya,” tegas Nyai Din kepada peserta santri putri.

Sementara itu, di sesi terpisah untuk peserta santri putra, Mujiburrohman, alumni program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) bidang lingkungan, mendorong peserta untuk membangun citra diri positif sebagai pemimpin perubahan lingkungan.

“Seorang duta lingkungan adalah pusat perhatian. Maka ia harus menjadi teladan, tidak hanya dalam tindakan nyata menjaga lingkungan, tetapi juga dalam membangun karakter yang kuat dan positif,” ujar Mujib.

Pemilihan Duta Lingkungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Nurul Jadid untuk menanamkan nilai tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari pendidikan pesantren. Dengan menyiapkan generasi muda yang sadar lingkungan, pesantren berharap dapat ikut mengambil peran dalam merawat bumi sebagai amanah nilai-nilai keagamaan sekaligus tanggung jawab kemanusiaan. (pm)