Industri Alas Kaki Indonesia Kian Kokoh, Indonesia Footwear Summit 2026 Dorong Peluang Ekspor dan Investasi

Jakarta, Berdampak.net — Industri alas kaki Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan dan semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Untuk memperkuat momentum ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah Indonesia Footwear Summit 2026 yang digelar pada 13–15 April 2026 di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta — forum internasional pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia hasil kolaborasi ECV International dengan APRISINDO.

Summit ini menghadirkan perwakilan merek global, produsen, pemasok bahan baku dan teknologi, asosiasi industri, konsultan, investor, serta pelaku rantai pasok internasional. Kehadiran kementerian terkait, termasuk perwakilan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, memperkuat fokus forum pada fasilitasi investasi dan pengembangan industri berkelanjutan.

Ketua Umum APRISINDO, Anton J. Supit, menyatakan bahwa nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$7,98 miliar—naik 9,54% dibanding 2024—dan total volume ekspor mencapai sekitar 601 juta pasang, menempatkan Indonesia sebagai eksportir alas kaki terbesar ketiga dunia. Pasar utama masih Amerika Serikat (sekitar 30%), diikuti Uni Eropa dan China.

Ketua Dewan Pembina APRISINDO, Eddy Widjanarko, menilai summit ini strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing global, memanfaatkan tren relokasi rantai pasok dan minat investasi dari merek internasional. Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan industri ke PT Aggiomultimex International Group untuk menunjukkan kapasitas produksi dan peluang kemitraan.

Dengan forum ini, diharapkan kolaborasi global, investasi, dan akses pasar ekspor bagi produk alas kaki Indonesia akan semakin meningkat, mendorong transformasi industri menuju inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan. (rh)

Peletakan Batu Pertama Pabrik Melamine Terbesar di Indonesia Dimulai

Gresik, Berdampak.net – Peletakan batu pertama pembangunan pabrik melamine terbesar di Indonesia resmi digelar pagi ini di kawasan industri JIIPE, Gresik. Proyek ini merupakan kerja sama empat perusahaan raksasa dari Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan China, dengan investasi awal lebih dari Rp 10 triliun dan kapasitas produksi diperkirakan menjadi salah satu terbesar di dunia.

Groundbreaking dilakukan secara simbolis oleh Menko Perekonomian, didampingi perwakilan Kementerian Investasi, Duta Besar China, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gresik, dan pimpinan kawasan JIIPE serta hadir ketua DPP Apindo Jawa Timur. Pemerintah dan mitra proyek menegaskan komitmen percepatan perizinan, transfer teknologi, serta penciptaan lapangan kerja lokal.

Manajemen proyek menyatakan investasi akan digunakan untuk pembangunan fasilitas produksi, pengelolaan lingkungan, dan R&D. Pabrik diharapkan memperkuat rantai nilai industri kimia nasional dan mendorong ekspor. (rh)

Halal Bihalal: Jalan Moderasi Beragama di Tengah Multikulturalisme

Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB/ Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo

Adalah sebuah keunikan tersendiri sekaligus kekayaan tradisi dan khazanah keislaman Nusantara ketika setiap tahun pasca Ramadhan di momentum Idul Fitri tradisi halal bihalal kerap dilakukan masyarakat muslim di Indonesia. Halal bihalal menjadi tradisi konsolidasi masyarakat untuk saling memaafkan setelah berinteraksi sosial di bulan-bulan sebelumnya. Bahkan tradisi halal bihalal sekaligus menjadi tradisi rekonsiliasi dengan saling maaf-maafan.

Di tengah realitas masyarakat Indonesia yang majemuk—beragam suku, agama, budaya, dan latar sosial—tantangan menjaga harmoni sosial bukanlah perkara sederhana. Perbedaan yang semestinya menjadi kekayaan, kerap kali justru berpotensi menjelma menjadi sumber konflik. Dalam konteks ini, tradisi halal bihalal hadir bukan sekadar sebagai seremoni pasca-Idulfitri, tetapi sebagai instrumen kultural yang sarat nilai moderasi beragama.

Halal bihalal merupakan kearifan lokal khas Indonesia yang tidak ditemukan dalam tradisi Islam di negara lain. Ia lahir dari dialektika antara ajaran Islam dan budaya Nusantara, yang menekankan pentingnya silaturahmi, saling memaafkan, dan rekonsiliasi sosial. Tradisi ini menjadi momentum kolektif untuk merajut kembali relasi yang mungkin renggang akibat perbedaan, konflik, atau sekadar kesalahpahaman.

Dalam perspektif moderasi beragama, halal bihalal mencerminkan nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan). Praktik saling memaafkan yang menjadi inti dari tradisi ini bukan hanya bersifat personal, tetapi juga sosial—bahkan lintas identitas. Tidak jarang, kegiatan halal bihalal melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk lintas agama, sebagai simbol keterbukaan dan inklusivitas.

Di tengah arus globalisasi dan polarisasi identitas yang semakin menguat, pendekatan moderasi beragama melalui jalur kultural seperti halal bihalal menjadi sangat relevan. Ia menawarkan pendekatan yang lebih humanis dan membumi dibandingkan sekadar wacana normatif. Moderasi tidak lagi hanya menjadi jargon, tetapi dipraktikkan dalam ruang-ruang sosial yang nyata.
Lebih dari itu, halal bihalal juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis budaya. Dalam masyarakat multikultural, konflik sering kali tidak terhindarkan. Namun, melalui forum yang cair dan penuh kehangatan ini, sekat-sekat sosial dapat diluruhkan. Dialog yang mungkin sulit terjadi dalam forum formal, justru menemukan ruangnya dalam suasana kekeluargaan halal bihalal.

Namun demikian, tantangan ke depan adalah menjaga agar tradisi ini tidak tereduksi menjadi sekadar formalitas tahunan. Substansi halal bihalal harus terus dihidupkan sebagai ruang refleksi, rekonsiliasi, dan penguatan nilai-nilai kebersamaan. Perlu ada kesadaran kolektif bahwa memaafkan bukan hanya ritual lisan, tetapi komitmen untuk memperbaiki relasi sosial secara berkelanjutan.
Pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sipil memiliki peran strategis dalam mengarusutamakan halal bihalal sebagai bagian dari strategi moderasi beragama. Halal bihalal ini dapat dikemas secara inklusif, melibatkan berbagai komunitas, dan dijadikan wahana edukasi sosial tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai.

Halal bihalal adalah cermin dari wajah Islam Indonesia yang ramah, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Di tengah multikulturalisme yang kompleks, tradisi ini menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, memperkuat persatuan, dan meneguhkan komitmen kebangsaan. Dengan merawatnya, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat harmoni Indonesia.