Diujung Tikungan Dunia Kerja, Menyusuri Jejak Mereka yang Bertahan dan Berjuang di 2025

Pagi itu, udara bulan Juni di kabupaten Probolinggo belum benar-benar terang. Sinar mentari masih tertahan mendung, namun deru motor ojek online sudah bersahut-sahutan. Di sebuah gang kecil, Salam (37) memeriksa aplikasinya sambil menyesap kopi sachet yang dia seduh di depan rumah nya di sebuah gang dekat dengan pasar semampir. Dulu, salam adalah karyawan pengambil sample untuk uji analisa batu bara dan sawdust di sebuah perusahaan pembangkit listrik. Tapi pandemi mengubah jalannya. Pabrik itu melakukan efisiensi. Dan kini salam menggantungkan harap pada notifikasi pengantaran yang kadang riuh, kadang sepi seperti senyapnya WhatsApp grup alumni SMA nya yang dulu sibuk tawar-menawar lowongan kerja.

“Kata orang, 2025 ini tahun pemulihan. Tapi buat kami, ini tahun pertarungan.”

Tahun 2025 disebut banyak pengamat sebagai era percepatan digitalisasi AI di kantor, otomasi di pabrik, dan sistem kerja hybrid jadi norma. Tapi tidak semua bisa menari dalam irama yang baru ini. Di Paiton, Sari (33), seorang mantan staf administrasi, kini mengajar kursus online dari rumah. Ia dipaksa belajar desain canva, SEO, dan manajemen media sosial hanya agar tetap relevan.

“Saat kantor bilang mereka tidak butuh staf admin karena semua sudah pakai sistem otomatis, rasanya saya seperti dibuang zaman,” ujarnya lirih. Tapi dia tidak mau tenggelam. “Saya ambil pelatihan daring dari Kartu Prakerja. Itu titik baliknya.”

Namun tidak semua seberuntung Sari. Data dari BPS awal tahun menunjukkan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia masih berada di atas 5%, dan kabupaten probolinggo TPT berada pada 3,4% dengan dominasi usia produktif. Lulusan baru baik SMK maupun sarjana berebut kursi yang terus menyusut.

Di pinggir jalan Kraksaan samping Rumah Sakit Graha Sehat, Warung Sambal Mbok Eni tetap buka meski dengan meja plastik yang semakin jarang terisi. Eni (45) baru saja menolak tawaran “franchise digital” yang menjanjikan sistem online, branding, dan cloud kitchen. Eni ragu, takut tidak paham, dan takut terjebak utang.

“Sekarang semua serba medsos. Katanya harus viral, harus endorse. Tapi saya cuma bisa masak,” katanya. Anak sulungnya sedang kuliah di Malang, dan warung kecil itu adalah nyawa keluarganya.

Usaha mikro seperti milik Eni tak hanya bertarung dengan algoritma media sosial, tapi juga harus melawan kompetisi harga dari aplikasi makanan daring. Konsumen makin banyak pilihan, dan loyalitas jadi barang langka. Meski pemerintah terus menggencarkan program pendampingan UMKM, banyak pelaku usaha merasa mereka sendirian di medan tempur yang tak mereka pahami.

Sedangkan Mira (19), siswi SMK jurusan Tata Busana di Kraksaan, sudah pesimis jauh sebelum wisuda. “Kami belajar menjahit, tapi lowongannya lebih banyak jadi admin atau content creator,” katanya sambil menunjukkan akun TikTok tempat imengunggah hasil karyanya. “Guru saya bilang, sekarang skill harus bisa dijual, bukan hanya ditunjukkan.”

mira benar. Dunia kerja hari ini menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan berpikir lintas disiplin yang kadang belum sempat diajarkan di ruang kelas. Padahal, saat dunia bergerak cepat, kurikulum tak selalu bisa mengikutinya.

Sementara itu, di sisi lain spektrum, para pekerja formal juga menghadapi tekanan baru target makin tinggi, jam kerja makin fleksibel tapi tak terbatas, dan PHK makin mudah. Banyak yang pindah ke pekerjaan lepas, bergantung pada gig economy yang tak menjamin keamanan jangka panjang.

Di tengah tantangan itu, muncul generasi baru pejuang mereka yang belajar ulang, membangun ulang, dan berpikir ulang. Seorang buruh bangunan menjadi tukang las online, seorang ibu rumah tangga menjadi dropshipper, seorang guru honorer membuka kelas daring berbayar.
Tidak ada satu jalan yang pasti. Di 2025 ini, tidak cukup hanya punya ijazah, tidak cukup pula hanya punya usaha. Dunia kerja telah menjadi labirin yang butuh kompas baru keterampilan digital, jaringan sosial, dan kemauan untuk terus berubah.

NamunMereka yang Tak Menyerah,
Matahari mulai menyengat ketika Salam akhirnya mendapat pesanan antar kopi dari sebuah kantor baru. “Kadang cuma satu dua order, tapi lumayan buat bertahan, katanya sambil mengenakan helm. Salam tahu, dunia yang dia jalani sekarang jauh dari ideal. Tapi diajuga tahu, diam bukan pilihan.
Di tahun 2025 ini, mungkin dunia kerja bukan lagi tentang siapa yang paling pintar. Tapi siapa yang paling mau berubah

Begitulah wajah dunia kerja dan usaha di 2025 berubah, menantang, dan penuh ketidakpastian. Tapi di dalamnya, tetap ada yang konstan keberanian untuk bertahan, dan harapan yang terus disulam dalam diam.

Idul Qurban: Momentum Memperkuat Nasionalisme dan Moderasi Beragama


Oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP.*

Setiap kali perayaan Idul Qurban tiba, umat Islam di seluruh dunia diajak kembali pada sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Memaknai Idul Qurban tidak terbatas hanya refleksi pada sejarah itu semata. Idul Qurban dalam perspektif lebih luas terimplementasikan dalam perilaku sosial yang lebih nyata: kepedulian terhadap sesama, sikap empati, dan persatuan umat. Idul Qurban juga dimaknai sebagai sarana menuju inklusifitas nasionalisme dan moderasi beragama, bukan sebatas menjadi ritual keagamaan semata.

Di tengah derasnya arus polarisasi identitas dan meningkatnya tensi sosial berbasis perbedaan agama, nilai-nilai yang terkandung dalam Qurban sesungguhnya menawarkan formula damai yang relevan. Ritual penyembelihan  hewan qurban dan membagikan daging bukan hanya bentuk ritual ibadah saja, namun juga penegasan solidaritas sosial. Di sinilah letak kekuatan Qurban: ia mengikis jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta memelihara rasa keadilan sosial.

Keadilan sosial adalah fondasi dari dua pilar penting kebangsaan, yaitu agama dan nasionalisme. Keduanya tidak dapat dipertentangkan lebih-lebih di Indonesia dengan populasi Mayoritas Muslim terbesar di dunia. Menempatkan momentum Idul Qurban sebagai panggung pembuktian bahwa agama dan nasionalisme menjadi dua pilar yang saling menguatkan. Nilai-nilai religiusitas dalam Idul Qurban dapat mewujudkan keadilan sosial. Sehingga masyarakat yang beraneka ragam dari berbagai suku, budaya, bahkan agama, bisa menyatu dalam semangat peduli dan empati dalam bingkai kemanusiaan.

Selain itu Idul Qurban juga bisa menjadi alat pendidikan sosial dan keagamaan.Fenomena pragmatisme politik yang memanfaatkan narasi fundametalisme keagamaan, eksklusifisme, bahkan ekstrem, Idul Qurban mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap sesama. Aktualisasi nilai-nilai yang seharusnya diperkuat oleh otoritas keagamaan, khususnya melalui dakwah dan pendidikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan ke depan sangat komplek. Narasi intoleransi masih kerap mendapatkan panggung, baik di ruang publik maupun di media sosial seiring dengan masih adanya daya tarik Politik identitas. Namun, Idul Qurban menawarkan momen reflektif untuk melawan tantangan tersebut. Jika dimanfaatkan dengan baik dengan pemahaman mendalam, maka momentum Idul Qurban bisa menjadi media dialog antaragama, ruang sinergi lintas identitas, serta sarana memperkokoh kohesi sosial keberagaman.

Kohesi sosial dapat tercapai dengan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan untuk mendorong laku sosial keagamaan untuk menciptakan kerukunan dan persatuan. Momentum Idul Qurban bisa menjadi titik pertemuan keberagaman yang menyatukan semua elemen bangsa dalam semangat kemanusiaan dan kebangsaan. Dan di era disrupsi informasi seperti saat ini, narasi-narasi kebaikan semacam ini harus menyebar melalui media sosial agar dapat menjangkau generasi muda yang akan menjadi wajah Indonesia masa depan.

Pada akhirnya, Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan kurban. Akan tetapi juga menjadi momentum pengingat bahwa pengorbanan dan kepedulian adalah dasar kehidupan bersama. Apabila berhasil memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Qurban secara kontekstual, maka kita bukan hanya memperkuat keimanan, akan tetapi juga meneguhkan identitas kebangsaan yang moderat dan berperikemanusiaan.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Tunjukkan Komitmen Melayani, Desa Bhinor Menyapa Warga dengan Selamat Hari Raya Idul Adha dan Program Kurban

Probolinggo, Berdampak.net – Desa bhinor dalam mewarnai semangat kebersamaan dan ketaqwaan melalui penyembelihan hewan kurban yang merupakan bagian dari peringatan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah serta mendistribusikan  daging kurban kepada masyarakat setempat.

Pendistribusian Hewan kurban ke beberapa dusun di antara nya Pesisir, Krajan, dan Klompangan. Hewan-hewan kurban tersebut merupakan hasil sumbangan warga dan dukungan penuh dari beberapa perusahaan di lingkungan desa Bhinor.

Tentunya Pelaksanaan kurban ini adalah bentuk teladan kita dari apa yang sudah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan selain semangat berbagi atau sosial bersama masyarakat. (rh)

Tunjukkan Komitmen dan Kinerja Positifnya, Pemdes Pondok Kelor Tingkatkan Kualitas Infrastruktur

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Desa Pondokkelor Paiton, Kabupaten Probolinggo, menunjukkan komitmen dan kinerja positif nya dalam meningkatkan kualitas infrastruktur desa melalui pembangunan aksesibilitas dan pemerataan antar dusun Melalui Dana Desa tahap 1 tahun anggaran 2025.

Realisasi dana desa berupa pengaspalan jalan di Dusun Cempaka dan Dusun Krajan. Kedua proyek ini berada di lingkungan permukiman warga yang selama ini menjadi akses utama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kepala Desa Pondokkelor, Frederick Ade Candra, menjelaskan bahwa pembangunan jalan sudah mencapai 60% dan beberapa sedang dalam proses mendatangkan material. Dia juga berkomitmen akan terus dilaksanakan secara bertahap dari tahun ke tahun di tengah juga keterbatasan dana yang ada.

Selain menggunakan Dana Desa dan Pendapatan Asli Desa, masyarakat setempat juga berharap agar ada bantuan transfer lain dari Pemerintah Daerah yang dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur ataupun pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. (rh)