Idul Qurban: Momentum Memperkuat Nasionalisme dan Moderasi Beragama
Oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP.*
Setiap kali perayaan Idul Qurban tiba, umat Islam di seluruh dunia diajak kembali pada sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Memaknai Idul Qurban tidak terbatas hanya refleksi pada sejarah itu semata. Idul Qurban dalam perspektif lebih luas terimplementasikan dalam perilaku sosial yang lebih nyata: kepedulian terhadap sesama, sikap empati, dan persatuan umat. Idul Qurban juga dimaknai sebagai sarana menuju inklusifitas nasionalisme dan moderasi beragama, bukan sebatas menjadi ritual keagamaan semata.
Di tengah derasnya arus polarisasi identitas dan meningkatnya tensi sosial berbasis perbedaan agama, nilai-nilai yang terkandung dalam Qurban sesungguhnya menawarkan formula damai yang relevan. Ritual penyembelihan hewan qurban dan membagikan daging bukan hanya bentuk ritual ibadah saja, namun juga penegasan solidaritas sosial. Di sinilah letak kekuatan Qurban: ia mengikis jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta memelihara rasa keadilan sosial.
Keadilan sosial adalah fondasi dari dua pilar penting kebangsaan, yaitu agama dan nasionalisme. Keduanya tidak dapat dipertentangkan lebih-lebih di Indonesia dengan populasi Mayoritas Muslim terbesar di dunia. Menempatkan momentum Idul Qurban sebagai panggung pembuktian bahwa agama dan nasionalisme menjadi dua pilar yang saling menguatkan. Nilai-nilai religiusitas dalam Idul Qurban dapat mewujudkan keadilan sosial. Sehingga masyarakat yang beraneka ragam dari berbagai suku, budaya, bahkan agama, bisa menyatu dalam semangat peduli dan empati dalam bingkai kemanusiaan.
Selain itu Idul Qurban juga bisa menjadi alat pendidikan sosial dan keagamaan.Fenomena pragmatisme politik yang memanfaatkan narasi fundametalisme keagamaan, eksklusifisme, bahkan ekstrem, Idul Qurban mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap sesama. Aktualisasi nilai-nilai yang seharusnya diperkuat oleh otoritas keagamaan, khususnya melalui dakwah dan pendidikan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan ke depan sangat komplek. Narasi intoleransi masih kerap mendapatkan panggung, baik di ruang publik maupun di media sosial seiring dengan masih adanya daya tarik Politik identitas. Namun, Idul Qurban menawarkan momen reflektif untuk melawan tantangan tersebut. Jika dimanfaatkan dengan baik dengan pemahaman mendalam, maka momentum Idul Qurban bisa menjadi media dialog antaragama, ruang sinergi lintas identitas, serta sarana memperkokoh kohesi sosial keberagaman.
Kohesi sosial dapat tercapai dengan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan untuk mendorong laku sosial keagamaan untuk menciptakan kerukunan dan persatuan. Momentum Idul Qurban bisa menjadi titik pertemuan keberagaman yang menyatukan semua elemen bangsa dalam semangat kemanusiaan dan kebangsaan. Dan di era disrupsi informasi seperti saat ini, narasi-narasi kebaikan semacam ini harus menyebar melalui media sosial agar dapat menjangkau generasi muda yang akan menjadi wajah Indonesia masa depan.
Pada akhirnya, Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan kurban. Akan tetapi juga menjadi momentum pengingat bahwa pengorbanan dan kepedulian adalah dasar kehidupan bersama. Apabila berhasil memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Qurban secara kontekstual, maka kita bukan hanya memperkuat keimanan, akan tetapi juga meneguhkan identitas kebangsaan yang moderat dan berperikemanusiaan.
* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo