JADILAH HARIMAU YANG BERJIWA KESATRIA SEJATI
Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I.
Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.
Seorang ilmuan bernama Abbas Mahmud Al-Aqqad pemikir dan sastrawan Mesir yang lahir pada 1889 M. menulis dalam bukunya Matla’ Al-Nur mengatakan, “ Ketika saya membahas kepribadian Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali maka saya menemukan kepribadiannya. Akan tetapi, ketika saya membahas kunci kepribadian Nabi Muhammad Saw., setiap saya temukan kuncinya saya lalu membuka kamar dan di dalamnya ada lagi kunci-kunci.”
Seperti Sayyidina Abu Bakar kepribadiaannya adalah seorang pengagum , Umar kepribadiaannya militer ( tegas ) dan patuh kepada pimpinan, Utsman kepribadiaannya dermawan dan sabar , Ali kunci kepribadiaannya Kesatria . Masing-masing ada kepribadiaannya. Namun tidak dengan Nabi Muhammad Saw. yang banyak kepribadiaanya sehingga terkadang membuat orang kebingungan.
Ketika seseorang belum tahu maka itu betul. Buktinya, waktu mi’raj ada orang yang berkata kepada Sabahat Abu Bakar, “Itu kau punya sahabat katanya pergi ke Baitul Maqdis ini…” Kata Abu Bakar, “Karena dia yang bilang maka saya percaya.” Jadi ia percaya sebelum kenal Islam. Sementara Umar percaya setelah membaca al-Qur’an.
Tidak heran jika Nabi Muhammad Saw. dalam al-Qur’an dikatakan bahwa akhlaknya Nabi Muhammad Saw. adalah al-Qur’an. Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Sayyidah Aisyah tentang akhlak Rasulullah Saw., Aisyah kemudian menjawab, “ Kana khuluquhu Al-Qur’an ( Akhlak Nabi saw adalah Al-Qur’an ).” (HR. Muslim). Ketika kaum Muslimin telah hijrah ke Madinah, Rasulullah menyatukan setiap kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar menjadi saudara. Pada hari persaudaraan itu, Rasulullah memilih Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya.
Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Karena kecerdasannya, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman sering datang kepadanya meminta pendapat dan bantuan untuk memecahkan masalah. Bahkan, Rasulullah menjulukinya sebagai Babul’ilmi yang berarti pintu ilmu.Selain cerdas,
Sifat-sifat mulia Ali Bin Abi Thalib yang layak diteladani oleh umat Muslim, dikutip dari buku 10 Sahabat Rasul Penghuni Surga oleh Ariany Syurfah.
- Pemberani
Ia adalah sosok yang memiliki keberanian yang sangat besar. Banyak peperangan besar yang telah ia ikuti seperti perang Badar, perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan sebagainya.
Dalam peperangan itu, Ali tidak pernah kalah apalagi melarikan diri. Saat perang Uhud, Ali termasuk dalam 12 orang yang melindungi Rasulullah dari serangan orang-orang kafir Quraisy yang berusaha membunuh Beliau.
- Rela Berkorban
Rela berkorban menjadi sifat Ali bin Abi Thalib yang patut diteladani umat Muslim. Ali adalah pribadi yang rela berkorban demi memperjuangkan kebenaran. Selain itu, ia dikenal sangat mencintai Allah dan Rasul.
Ali bahkan rela ketika Rasulullah memintanya menggantikannya untuk tidur di ranjangnya. Padahal, ia tahu risikonya adalah terbunuh oleh kafir Quraisy. Namun, Ali sama sekali tidak keberatan melakukan permintaan tersebut.
- Dapat Dipercaya
Ali mendapatkan kehormatan dari Rasulullah untuk mengembalikan barang-barang milik orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Nabi saat hendak hijrah. Barang itu kembali kepada miliknya dengan utuh tanpa kurang sedikitpun.
- Memiliki Pengetahuan yang Tinggi
Ali Bin Abi Thalib adalah seseorang yang sangat mencintai ilmu. Sifat ini tentunya wajib diteladani oleh umat Muslim. Ia rajin mencari ilmu dan sangat menguasai Alquran. Bahkan, tidak ada satu ayat pun di dalam Alquran yang tidak ia hafal. Ali bahkan mengetahui setiap makna dan asbabun nuzulnya.
- Sederhana
Ali adalah sosok manusia yang hidup sangat sederhana. Ia makan secukupnya dan tidak berlebihan. Ali bahkan memakai pakaian yang kasar, hanya untuk menutupi tubuhnya di saat panas dan menahan dingin di saat hujan. Pendapat beberapa tokoh muslim tentang jiwa kesatria Menurut Prof Dr M. Quraish Shihab, kesatria ( Knightliness ) bukanlah hanya tentang kekuatan fisik atau keberanian dalam pertempuran, tetapi juga tentang sifat-sifat moral dan kepribadian yang kuat. Ia menganggap kesatria sebagai representasi dari semangat untuk mengasihi, melayani, dan melindungi yang lemah, serta selalu bertindak dengan adil dan bijaksana. Lebih detailnya, Kekuatan Moral. Kesatria bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang memiliki kekuatan moral dan spiritual yang kuat. Ini mencakup kemampuan untuk mengendalikan emosi, bertindak dengan adil, dan selalu menepati janji,Kerja keras dan ketekunan.
Seorang kesatria harus memiliki semangat kerja keras dan ketekunan untuk mencapai tujuan. Ini mencerminkan kemampuan untuk terus belajar dan berjuang untuk kebaikan.
Melayani yang lemah,
Kesatria harus memiliki rasa empati dan belas kasih terhadap yang lemah. Ia harus selalu siap untuk melindungi dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan.Keberanian yang berlandaskan kebijaksanaan.
Seorang kesatria harus berani dalam menghadapi bahaya, tetapi juga harus berani bertindak dengan bijaksana. Ini berarti selalu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka dan menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Kesatria harus memiliki rasa keadilan dan harus selalu bertindak dengan adil, baik dalam urusan pribadi maupun urusan publik. Ini termasuk memperlakukan semua orang dengan adil, tidak membedakan berdasarkan status sosial atau keyakinan.Kesatria harus memiliki rasa persaudaraan dan harus selalu berusaha untuk menjalin persatuan dengan orang lain. Ini berarti selalu terbuka untuk dialog dan mencari solusi bersama untuk masalah yang dihadapi.Quraish Shihab melihat kesatria sebagai ideal yang mencakup berbagai kualitas baik yang dapat meningkatkan kualitas hidup individu dan masyarakat. Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur) tidak secara langsung membahas “kesatria” dalam pengertian ksatria dalam budaya Hindu atau dalam narasi tertentu. Namun, ia memiliki pemikiran yang relevan dengan nilai-nilai kesatria dalam konteks Islam.Cak Nur menekankan pentingnya “fitrah manusia” dan “sunnatullah” (hukum Allah) dalam berfikir dan bertindak. Fitrah manusia adalah kecenderungan alami manusia menuju kebenaran dan keadilan, sedangkan sunnatullah adalah hukum yang berlaku di alam semesta. Dalam pandangan Cak Nur, seorang Muslim yang “modern” (dalam arti rasional dan ilmiah) harus memahami dan berpegang pada sunnatullah, serta bertindak berdasarkan fitrahnya. Ini mencakup semangat untuk berjuang demi kebenaran, melindungi yang lemah, dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka. Selain itu, Cak Nur juga menekankan pentingnya etos kerja dalam Islam. Ia melihat kerja sebagai bagian integral dari tujuan hidup seorang Muslim, yaitu meraih keridhaan Allah SWT. Ini juga sejalan dengan nilai-nilai ksatria, di mana seorang ksatria tidak hanya berjuang dengan pedang, tetapi juga berjuang untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat melalui pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Jadi, meskipun Cak Nur tidak menggunakan istilah ” kesatria “, pemikirannya mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan semangat kesatria, seperti keberanian dalam berjuang untuk kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab dalam bertindak.Dalam buku Kehidupan Masyarakat Pada Masa Praaksara, Masa Hindu Buddha, dan Masa Islam (2019) karya Tri Worosetyaningsih, pada masa Hindu-Buddha masyarakat Hindu terbagi dalam empat golongan yang disebut kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Brahmana , kasta Kesatria , kasta Waista , dan kasta Sudra . Di luar kasta tersebut masih ada golongan masyarakat yang tidak termasuk dalam kasta, yaitu mereka yang masuk dalam kelompok Paria.Kasta Brahmana merupakan kasta tertinggi . Kaum Brahmana bertugas menjalankan upacara- upacara keagamaan . Kasta Kesatria merupakan kasta yang bertugas menjalankan pemerintahan . Golongan kasta kesatria seperti raja, bangsawan, dan prajurit masuk dalam kelompok tersebut. Kasta Waisya merupakan kasta dari rakyat biasa, yaitu petani dan pedagang . Kasta Sudra adalah kasta dari golongan hamba sahaya dan para budak . Setelah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha pelan- pelan mulai mengalami kemunduran dan runtuh. Kesatria mesti tegas dan tanpa kompromi menegakkan kebenaran meski lawannya adalah saudaranya sendiri.Jika 1000 HARIMAU di pimpin oleh kambing, maka harimau akan embek semua, jika 1000 kambing di pimpin oleh harimau maka kambing akan mengaung semua dan apalagi HARIMAU di pimpin oleh HARIMAU itu akan tambah kuat.( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. ) “Seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian,” ( Jenderal TNI (HOR) (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo Presiden Republik Indonesia Ke 8 ). Dalam Surat Yasin Ayat 20 menjelaskan secara eksplisit menggunakan kata ” KESATRIA ” tindakan seorang laki-laki yang terdapat dalam kronologi ayat itu dapat di hubungkan dengan semangat kesatrian, kesatria di sini dapat di artikan sebagai keberanian , kesetiaan ,dan keperdulian terhadap kebenaran , setia kepada kepercayaan . Semoga bermanfaat. Billahitaufiq Wal Hidayah. Wallahu a’lam bisshawab.