Tantangan Pendidikan, Link and Match Industri, dan Green Jobs Jadi Fokus Kopi Soride IKA UM Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Tantangan pendidikan menengah dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja, penguatan link and match dengan dunia industri, hingga peluang green jobs sebagai profesi masa depan menjadi sorotan dalam kegiatan yang digelar di Toga Mas Probolinggo, Sabtu (31/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Doni Tri Prasetio, S.Pd., M.Pd, yang merupakan alumni fakultas Teknik UM yang juga sebagai sebagai instruktur di kemendikdasmen memaparkan berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pendidikan, khususnya dalam menjembatani kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dengan kompetensi lulusan.

Menurutnya, persoalan utama bukan lagi sekadar jumlah lulusan yang tersedia, melainkan kesesuaian keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja. Ia menyebut masih terjadi paradoks rekrutmen, di mana perusahaan membutuhkan tenaga kerja, tetapi banyak lulusan belum memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.

Dalam materi yang disampaikan, tingkat pengangguran lulusan SMK pada 2025 tercatat mencapai 8,63 persen. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia kerja. Doni menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab kondisi tersebut, yakni kesenjangan kompetensi antara teori dan praktik, rendahnya penguasaan soft skills dan komunikasi profesional, serta cepatnya perubahan kebutuhan industri yang tidak selalu diikuti pembaruan sistem pendidikan.

Selain isu ketenagakerjaan, ia juga menyoroti pentingnya adaptasi pendidikan terhadap perkembangan teknologi digital. Menurutnya, visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, dan akses pembelajaran yang merata.

Doni juga mengulas pentingnya transformasi konsep link and match antara sekolah dan industri. Ia menilai pola kolaborasi lama sudah tidak lagi cukup menghadapi perubahan industri yang berlangsung sangat cepat.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep Link and Match 8+i yang menitikberatkan pada sinkronisasi kurikulum, magang industri, sertifikasi kompetensi bersama, hingga penguatan berbagai aspek yang mendukung kesiapan kerja lulusan.
Menurutnya, kurikulum tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif, melainkan harus menjadi ruang pembelajaran yang terhubung langsung dengan kebutuhan dunia kerja.

Untuk mengurangi kesenjangan keterampilan, Doni juga mendorong penguatan kompetensi bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pemrograman, serta pengalaman belajar berbasis proyek dan penyelesaian masalah nyata. Selain itu, sertifikasi kompetensi dan portofolio proyek dinilai penting sebagai bukti kemampuan yang dapat diakui industri.

Topik lain yang mendapat perhatian adalah peluang green jobs atau pekerjaan hijau. Dalam paparannya, green jobs dijelaskan sebagai pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian dan pemulihan lingkungan, mulai dari sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga ekonomi sirkular.

Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja hijau diproyeksikan mencapai sekitar 1,8 juta orang hingga tahun 2030, seiring meningkatnya komitmen menuju ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan. Untuk menyiapkan talenta hijau, dunia pendidikan didorong mengintegrasikan green skills ke dalam proses pembelajaran melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), penguatan kompetensi teknis, serta kolaborasi lintas sektor.

Menurut Doni, keberhasilan pengembangan talenta hijau membutuhkan sinergi model triple helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri secara berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan daerah, Universitas Negeri Malang juga dinilai memiliki peran strategis melalui program pengabdian masyarakat, kerja sama dengan pemerintah daerah, serta penguatan jejaring alumni.Kegiatan tersebut ditutup dengan diskusi santai , ramah tamah sambil mengenal cerita jaman mahasiswa dan refleksi program berdampak kedepannya dari IKA UM Probolinggo Raya. (fj)

Gelar Pelantikan PAC PDI Perjuangan Se-Kabupaten Probolinggo; Ketua DPC Tegaskan Manifesto Gerakan Baru

Probolinggo, Berdampak.net – Jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo resmi melantik serentak Pengurus Anak Cabang (PAC) dari 24 kecamatan. Momentum pasca-Hari Raya Idul Adha ini dimanfaatkan oleh partai sebagai tonggak konsolidasi total, sekaligus meluncurkan pesan ideologis utama yang menjadi komitmen dasar gerak perjuangan partai ke depan.

Acara sakral ini dihadiri oleh jajaran fungsionaris teras, di antaranya Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bung Deni Witjaksono beserta rombongan DPD, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Gus dr. H. Mufti Anam, serta Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur H. Edi Paripurna. Panggung pelantikan ini juga dihormati oleh kehadiran tokoh keagamaan terkemuka, seperti Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Ketua PCNU Kraksaan, dan Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo.

Sinergi horizontal antar partai dan birokrasi daerah turut tercermin lewat kehadiran Bupati Probolinggo Gus Haris, Wakil Bupati sekaligus Ketua DPC PKB Lora Fahmi AHZ, Ketua DPRD sekaligus Ketua DPD Golkar Mas Oka, Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC Gerindra H. Zubaidi, serta para pimpinan dari Partai Nasdem, Ketua DPC PPP Kang Mahdi, dan Ketua DPD PKS Mas Rifki.

Dalam orasi politiknya, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam menyampaikan apresiasi mendalam kepada pengurus periode sebelumnya yang berhasil merampungkan tahapan Musancab secara konstitusional mulai dari akar rumput hingga Pleno DPD. Ia menekankan bahwa kerja politik kepengurusan baru wajib dilandasi oleh semangat ketulusan gotong royong.

Anam menjabarkan secara rinci makna di balik pesan utama tersebut. menurutnya, frasa “seni melayani masyarakat” menempatkan kepentingan wong cilik di atas segala-galanya, mempertegas watak bahwa politik tidak melulu soal perebutan kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan profil kepengurusan yang sangat inklusif, merangkul kader dari lintas ormas keagamaan (NU, Muhammadiyah, Hindu Tengger, serta Kristiani), serta memberikan panggung strategis bagi kaum muda yang nyata terbukti lewat 7 anggota fraksi PDI Perjuangan di parlemen daerah saat ini.

Sementara itu, pilar “struktur yang kuat” dipresentasikan lewat komposisi demografi fungsionaris PAC yang baru dilantik, yang terdiri dari 40,8% Generasi Z (Gen Z), 23,2% Millenial, dan 36,8% Generasi X. Komposisi gender pun sangat kokoh dengan angka keterwakilan perempuan mencapai 41,2% dan laki-laki 58,8%, sebuah ketetapan yang melampaui regulasi kuota perempuan 30% berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi serta selaras dengan amanat UUD NRI 1945.

Terakhir, mengenai “kemandirian yang bermartabat”, Ketua DPC mengingatkan fungsionaris untuk teguh memegang prinsip suci dari Kitab Bhagavad Gita, “Karmanye Vadhikaraste Ma Phaleshu Kadachana” yang berarti fokus pada kewajiban kerja nyata melayani rakyat, bukan pada hasil akhir atau pamrih sepihak. Berbekal soliditas dan kemandirian inilah, DPC PDI Perjuangan mematok target terukur untuk mengamankan 10 Kursi pada Pemilu 2029. (fiq)