Warung, Santri, dan Kapitalisme(Suatu hikmah dalam perjalanan Jalan Pulang)
Oleh : Ainur Rofiq
Berdampak.net – Setiap akhir pekan, saya mengendarai motor dari Malang ke Probolinggo, dan kembali lagi di awal pekan. Perjalanan ini, bagi sebagian orang dibanyak status whatsapp juga sering dilabeli sebagai siklus melelahkan yang dikenal dengan istilah “hate Monday”. Namun, saya melihatnya dari sisi yang lain. Setiap perjalanan menjadi ruang refleksi yang sunyi namun membuka simpul berpikir. Sehingga Jalan dalam pengertian fisik tidak hanya tentang aspal hitam yang panjang membentang dan marka putih menjadi garis demarkasinya, tapi dapat juga menjadi ruang membaca kehidupan: ayat-ayat kauniyah yang mengajarkan kita untuk memahami tanda-tanda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan muamalah.
Di tengah perjalanan, saya sering berhenti—kadang karena hujan, lapar, atau sekadar ingin rehat. Di situlah saya mulai memperhatikan munculnya beragam bentuk warung dan toko di sepanjang jalur ini: warung sate Madura, Warung Purnama, toko kelontong Madura, Toko Modern Basmalah milik jaringan koperasi pesantren Sidogiri, hingga Indomaret Bayt Al-Hikmah yang berdiri di sudut kota Pasuruan. Sekilas, semuanya menjual barang-barang serupa: makanan ringan, minuman, kebutuhan sehari-hari. Namun ketika diamati lebih dalam, masing-masing tempat ini merepresentasikan wajah ekonomi yang berbeda, lahir dari latar sosial dan kultural yang unik dan cukup dinamis.
Toko-toko Madura dan warung sederhana seperti Warung Purnama tumbuh dari akar masyarakat tradisional. Mereka tidak lahir dari institusi pendidikan bisnis, bukan pula hasil rancangan perusahaan besar. Melainkan tumbuh dari etos kerja dan nilai-nilai sosial masyarakat Madura yang kuat. Dalam bukunya Identitas Politik, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa masyarakat Madura memiliki karakteristik sosial yang menonjol dalam hal etos berdagang, daya tahan hidup, dan keberanian mengambil risiko. Relasi sosial dan kepercayaan menjadi modal utama yang menggantikan keterbatasan modal finansial.
Warung Madura umumnya sederhana, tanpa sistem kasir digital, tanpa etalase simetris, dan tanpa pendingin ruangan. Tapi di balik semua itu, ada relasi sosial yang akrab dengan konsumen: penjual dan pembeli bisa berinteraksi ringan dengan tema yang beragam yang bisa dijadikan pengantar dalam melakukan komunikasi, dan terlihat dari etalase tulisan dari kertas bekas kemasan rokok besar “tidak melayani bon” namun pesan ini dapat dipahami dan tidak mengurangi kerenyahan interaksi yang ada serta transaksi jual beli terus terjadi. Inilah bentuk ekonomi berbasis moral komunitas bisnis madura . Clifford Geertz menyebut model semacam ini sebagai bagian dari masyarakat abangan—kelompok masyarakat yang meskipun longgar dalam praktik ritual agama, justru sangat kuat dalam solidaritas sosial dan spontanitas ekonomi.
Sebaliknya, Toko Basmalah hadir dengan wajah santri yang lebih tertata. Rak-raknya rapi, kasirnya digital, dan desain tokonya mengikuti standar retail modern. Namun nilai-nilai yang melandasinya tetap religius dan komunal. Ia bagian dari jaringan koperasi pesantren yang membawa semangat kemandirian ekonomi umat. Dalam konteks Geertz, toko ini merepresentasikan golongan santri: religius, beretika, dan memiliki jaringan sosial berbasis nilai-nilai Islam tradisional. Maka kehadiran Basmalah bukan hanya soal bisnis semata, melainkan juga bentuk dakwah kultural yang merambah wilayah ekonomi “jihad ekonomi”.
Sementara itu, Indomaret Bayt Al-Hikmah adalah wajah kapitalisme modern yang sangat rasional. Sistem distribusinya nasional, manajemen berbasis data, efisiensi maksimal, dan semuanya serba profesional. Ini adalah artikulasi dari apa yang oleh Max Weber disebut sebagai “rasionalitas formal” dalam kapitalisme: sistem yang menjadikan efisiensi, keterukuran, dan kontrol sebagai fondasi utama. Menariknya, nama toko ini menggunakan istilah Islami Bayt Al-Hikmah, yang dalam sejarah merujuk pada pusat keilmuan Islam klasik di Baghdad, dan di Pasuruan merupakan nama Pesantren besar dan cukup terkenal. Namun kini menjadi simbol kelas menengah religius-priyayi yang lebih melek teknologi dan profesionalisme, sebagaimana dikatakan Geertz dalam klasifikasinya.
Perjalanan ini menjadi semacam pembacaan sosial yang berlapis. Dari satu toko ke toko lain, saya melihat bukan hanya jual-beli barang, melainkan juga nilai, kelas, dan sistem ekonomi_ yang bertumbuh bersama masyarakatnya. Kapitalisme tidak hadir dalam satu bentuk. Ia berbaur dengan nilai lokal, masuk dalam jaringan sosial, dan dimaknai secara berbeda oleh masyarakat yang menggunakannya.
Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism menekankan bahwa kapitalisme modern tidak sekadar tumbuh dari perkembangan teknologi atau pasar, tapi dapat muncul dari etika kerja yang rasional dan nilai religius yang mendukung kerja keras, efisiensi, dan akumulasi secara sustainable. Maka dalam konteks ini, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai religius dan sosial turut mendorong praktik ekonomi lokal, seperti dalam toko santri, warung Madura, hingga jaringan koperasi pesantren.
Namun semua bentuk itu juga menghadapi tantangan dari sistem retail besar yang lebih efisien dan terstandardisasi. Apakah warung kecil akan punah digilas mesin kapitalisme raksasa? Ataukah mereka akan menemukan bentuk adaptasi baru? Dalam krisis seperti pandemi yang pernah terjadi, warung Madura justru terbukti lebih lentur. Mereka tak tergantung pada sistem distribusi besar, dan mampu bertahan dengan modal sosial yang dimiliki.
Kekuatan ekonomi lokal ada pada fleksibilitas dan kedekatan emosional dengan konsumen. Di sinilah kita perlu membayangkan masa depan ekonomi yang bukan digerakkan oleh kompetisi semata, tapi oleh kolaborasi nilai dan etika komunitas. Kita tidak harus memilih antara modern atau tradisional, antara digital atau manual. Justru yang dibutuhkan adalah integrasi keduanya: warung Madura yang mulai menggunakan pencatatan digital, Basmalah yang terus memperluas jaringan dengan tetap menjaga nilai, atau Indomaret yang memberi ruang promosi produk UMKM lokal.
Setiap toko dan warung yang saya lewati dalam perjalanan ini adalah semacam cermin dari keberagaman wajah kapitalisme Indonesia. Mereka menyimpan pelajaran yang sangat berharga bahwa ekonomi bukanlah semata tentang angka, tetapi juga tentang nilai, jaringan, dan keberanian bertahan. Seperti perjalanan itu sendiri, yang terpenting bukan hanya pada tujuan semata, tapi juga jeda-jeda di tengahnya tempat kita berhenti sejenak, membaca kehidupan.
Wallahu A’lam bisshowab