MEMPERTAHANKAN ILMU, AKHLAK DAN HUKUM SYARIAH

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I . Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Mempertahankan ilmu, akhlak, dan hukum Syariah adalah tanggung jawab bersama. Dengan menjaga nilai-nilai ini, masyarakat dapat mencapai kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan.“Akhlak merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dituju oleh perbuatan manusia. Akidah, Syariah, dan Akhlak merupakan kesatuan yang integral dalam kepribadian seorang Muslim-Mukmin,”. Akhlak sangat diperhatikan dalam Islam. Dalam Al-Quran dijumpai banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang akhlak, diantaranya akhlak berbicara (QS. 17:53), akhlak berjalan (QS. 17:37) akhlak terhadap anak yatim (QS. 4:36), akhlak kepada orang tua (QS. 31:15), akhlak kepada karib kerabat (QS. 4:36) , akhlak kepada saudara dan tetangga (QS. 4:36), akhlak kepada kaum (bangsa) lain (QS. 49:11), sampai akhlak dalam memperlakukan binatang (QS. 5:2). AKHLAK (أخلاق) berasal dari kata Arab, yaitu sebuah istilah agama yang digunakan untuk menilai perbuatan manusia, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika kata ini dikaitkan dengan kata “ilmu” sehingga menjadi ilmu akhlak, maka akhlak menjadi sebuah bidang ilmu pengetahuan agama Islam yang memberikan tuntunan kepada manusia tentang cara-cara berbuat baik dan menghindarkan perbuatan buruk.

Etika dan moral adalah dua istilah yang berasal dari bahasa asing. Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos”, yang berarti adat, watak atau kesusilaan. Etika digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada, karena etika merupakan suatu ilmu. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin, yaitu “mos”, yang juga berarti adat atau cara hidup. Moral digunakan untuk memberikan kriteria perbuatan yang sedang dinilai. Moral bukanlah sebuah ilmu, tetapi merupakan suatu perbuatan manusia.
Kesopanan adalah bahasa Indonesia, yang artinya “tenang, beradab, baik, dan halus baik dalam perkataan maupun perbuatan. Suatu ketika KH. Bahauddin Nursalim bercerita ketika putra beliau minta uang untuk beli jajan,maka beliau minta di bangunkan meski sedang tidur bahkan beliau sempat di tegur oleh istrinya karena kesannya mengajarkan tidak sopan pada putra beliau dan beliau berkata ” hukum Syariah itu di atas Akhlak ” karena anak itu tanggung jawab kita (orang tua) ” Gus Baha.
Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis dan terbukti kebenarannya, berdasarkan metode ilmiah. Ilmu merupakan usaha manusia untuk memahami dunia dan lingkungannya.
Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al- Luma’ fî Ushûlil Fiqih (Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2010) halaman 4 menyebutkan bahwa secara definitif.

Ilmu dimaknai sebagai berikut:

فأما العلم فهو معرفة المعلوم على ما هو عليه. وقالت المعتزلة: هو اعتقاد الشيء على ما هو به مع سكون النفس إليه وهذا غير صحيح لأن هذا يبطل باعتقاد العاصي فيما يعتقده

“Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (kenyataan), sedangkan kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa ilmu ialah meyakini sesuatu sesuai dengan apa yang memuaskan hati seseorang. Definisi ini keliru karena bisa saja seorang pendosa meyakini bahwa ia berbuat benar.” Al-ghazali berpendapat bahwa akhlak bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan. Akan tetapi, akhlak harus menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan-perbuatan, dan situasi itu harus melekat sedemikian rupa sehingga perbuatan yang muncul darinya tidak bersifat sesaat melainkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kesempurnaan akhlak sebagai suatu keseluruhan tidak hanya bergantung kepada suatu aspek pribadi, akan tetapi terdapat empat kekuatan didalam diri manusia yang
menjadi unsur bagi terbentuknya akhlak baik dan buruk. Kekuatankekuatan itu ialah kekuatan ilmu, kekuatan nafsu syahwat, kekuatan amarah dan kekuatan keadilan diantara ketiga kekuatan ini.Puncak dari beriman ialah menjadikan manusia memiliki moral yang baik (akhlak) dan melahirkan sebuah amal perbuatan yang memiliki efek positif dalam hubungan antar manusia. Ibadah yang merupakan sebagai institusi iman hal itu harus melahirkan sebuah konsekuensi pada amal perbuatan. Dengan kata-kata lain, disamping bersifat serba transendental dan mahatinggi, menurut persepsi agama-agama samawi, tuhan juga bersifat etikal , dalam arti bahwa Dia menghendaki pada manusia tingkah laku yang akhlaki atau etis, bermoral (Nurcholis Madjid, 2008:61 ). Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat (Kepala Desa, Bupati, Gubernur dan Presiden) harusnya memberi contoh akhlak yang baik dan benar kepada masyarakat . Dalam buku Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach oleh Abdullah Saeed, syariat dalam Islam adalah panduan hukum dan etika yang diambil dari Al-Quran, Hadis (tradisi dan tindakan Nabi Muhammad), ijtihad (analogi dan penalaran), serta konsensus umat Islam.

Secara umum, syariat mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk ibadah, moralitas, hukum pidana, hukum keluarga, dan lainnya. Kemudian, memandu cara seorang Muslim menjalani kehidupannya dan menjalankan kewajiban agamanya.Bagaimana caranya mempertankan akhlak mulia, mempertahankan ilmu dan Syariah itu. Tentu, jawabnya adalah sulit jika tidak mengetahui jalannya. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah adalah sama halnya dengan membangun atau membersihkan hati, ruh, atau jiwa. Sekedar menjadikan orang pintar mungkin saja dilakukan dengan cara dibuatkan sekolah. Akan tetapi membuat seseorang berhati bersih tidak cukup melalui sekolahan dan atau bahkan perguruan tinggi sekalipun.

Sebenarnya membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah sudah ada contoh, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul dan nabi. Selain melalui contoh kehidupan nyata, yaitu kehidupan Nabi itu sendiri juga terdapat pedoman berupa kitab suci. Sosok seorang Nabi, sekarang sudah tidak ada lagi. Muhammad sebagai Nabi terakhir sudah wafat dan tidak akan lahir nabi baru. Akan tetapi, para ulama yang mampu menjalankan keulamaannya adalah disebut sebagai pewaris para Nabi. Demikian pula kitab suci, hingga sekarang ini sudah dibukukan dengan sempurna dan bisa dibaca oleh siapapun pada setiap saat.

Oleh karena itu, membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah sebenarnya masih mungkin dilakukan, yaitu dengan cara mendekatkan masyarakat dan pemimpin dengan kitab suci, dengan tempat ibadah, dan dengan para tokoh yang bisa dijadikan tauladan. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah lewat cara-cara yang masih akan disusun, dalam arti menggunakan akal manusia biasa, hingga kini sebenarnya belum tersedia sejarah yang berhasil. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah harus dilakukan oleh orang yang menyandang akhlak,mempertahankan ilmu dan Syariah yang dimaksudkan itu. KESOPANAN LEBIH TINGGI NILAINYA DARI PADA KECERDASAN ( RKH.ABDUL MAJID ) Billahitaufiq Wal Hidayah Wallahu a’lam.

GURU,MURID DAN BONUS DEMOGRAFI TELADAN YANG FUTURISTIK

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI kabupaten Pamekasan.

Pesantren dalam bahasa sansekerta tempat untuk mencari ilmunya Allah SWT (Tuhan) pembina nya di sebut guru . Guru juga bahasa sansekerta GU artinya kegelapan RU artinya obor , jadi guru adalah obor yang mengusir kegelapan . Jangan mengaku seorang guru jika tidak bisa mengusir kegelapan. Guru dalam agama Hindu bukan guru sembarangan ,bukan guru biasa, bukan kyai biasa dan bukan ustadz biasa.Padananya murid itu mestinya disebut Mursyid, ketika di bahasa Indonesiakan menjadi murid, murid itu bukan anak sekolahan bukan siswa, murid itu bahasa tasawuf dari akar kata arada yuridu muridon artinya orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmunya Allah SWT, bukan ilmunya guru, bukan ilmunya dosen, itu tilmidz ((Thullab) lebih tinggi istilah murid daripada Thullab , padananya murid itu Mursyid itu seperti pipa penghubung antara mata air di sana dengan gelas murid murid disini. ( Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA Menteri Agama Republik Indonesia ) Dalam diri manusia kedalam ada tujuh lapisan 1 . Yang kelihatan adalah dada ( Sodrun ). 2 . Di dalam dada ada Hati ( Qolbun ). 3 . Di dalam Hati ada Ruh ( Ruhun ). 4 . Di dalam Ruh ada hidup “kehidupan “( Hayatun ). 5 . Di dalam kehidupan ada Sirrun ( Rahasia ). 6 . Di dalam Rahasia ada ngilmun ( ilmu ). 7 . Di dalam ilmu ada paham ( Fahmun ) orang yang tidak faham sulit di ajak untuk berkomunikasi. seseorang yang tidak mengerti suatu hal akan sulit untuk diberi tahu atau diberi informasi yang jelas. (Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama,Spd I) Ketika bingkai kehidupan kapitalisme dan materialisme yang berada di paradigma positivisme dan post positivisme yang saat ini mendominasi dengan
ideologi pasarnya, pendidikan seolah-olah hanya sekadar sebagai proses penyesuaian peserta didik untuk masuk dalam arus pasar ( industrialisasi ) yang berkembang. Akibatnya, pendidikan tidak lagi sebagai sarana bebas dan otonom
dalam memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, pembebasan dan lain-lain, melainkan hanya mengarah pada kepentingan-
kepentingan pragmatis politik-ekonomi tertentu. Bahkan, moralitas dan nilai-nilai kebajikan yang selama ini menjadi substansi dan dasar pendidikan telah
mengalami degradasi, digantikan dengan semangat pragmatisme ekonomi dan
politik. Padahal Pendidikan juga sepenuhnya membebaskan tidak hanya untuk bekal keahlian, namun bekal kebebasan untuk
menjadi manusia yang memiliki pemahaman yang baik dan luas tentang dunianya dan dunia di sekitarnya.Problematika di atas dalam bedah kritis tampak belum ada langkah ilmiah yang sistematis berbasis filosofis Islami yang disepakati sebagai landasan untuk menggagas wacana-wacana pemikiran alternatif. Karena itu, telaah kritis reflektif atas problematika epistemologis adalah tidak hanya menjadi driving force ke depan untuk diskursus paradigma integralistik menuju elemen ontologis, epistemologis, metodologis dan aksiologis yang holistik. Akan tetapi, juga menghimbau kepada para cendekiawan untuk
membangun sebuah “jembatan epistemologis” untuk menyeberang ke ranah worldview , sehingga kelak tidak lagi captive mind terhadap eurosentris dan
paradigma Barat.
Harapan ada ditangan pendidik dan peserta didik, karena Guru dan murid adalah komponen inti dari proses pendidikan dalam mencapai tujuan
pendidikan . Dalam mencapai tujuan proses pendidikan relasi guru dengan murid menjadi penentu, hanya saja interaksi dalam proses belajar mengajar sangat diperankan oleh seorang guru. Hal ini terlihat dalam teori pembelajaran behavorisme yang sangat menentukan guru yang hanya mempelajari psikologi empiris-positif. Karena itu, problematika hubungan guru dengan murid sering kali mengalami diskomunikasi sehingga ranah tujuan pembelajaran tidak tercapai, yang pada akhirnya mutu dan standar pendidikan tidak tercapai, padahal untuk tercapainya kualitas pembelajaran, maka kajian komunikasi pembelajaran dibangun secara efektif.Sebagai bukti profesionalisme guru untuk mencari tipe-tipe belajar dalam proses pembelajaran, di mana seorang pendidik sangat strategis dan berfungsi sebagai ujung tombak terjadinya perubahan ( the agent of change ) dari belum bisa menjadi bisa, dari belum menguasai menjadi menguasai dan belum mengerti menjadi mengerti. Bahkan keberhasilan perubahan suatu kualitas pengajaran suatu lembaga pendidikan apa pun tergantung kepada keberhasilan kualitas
pendidiknya, Artinya Kualitas belajar murid dan lulusannya banyak ditentukan oleh keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas.
Sehebat apa pun rencana dan tujuan yang ingin dicapai di atas kertas semuanya
akan ditentukan guru dalam ruangan ukuran 6×8 meter (kelas). Pengelolaan
kelas dapat terlaksana dengan maksimal apabila guru sebagai manajer dapat
melaksanakan komunikasi yang efektif di dalam kelas, hal ini dapat terlaksana
apabila guru sebagai manajer mengaktualisasikan tahapan-tahapan manajerial
dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas. Guru dengan murid dalam proses
pembelajaran dapat membentuk hubungan yang baik dan efektif. Analisa ini menjadi urgen dalam melihat relasi guru dengan murid
dalam perspektif pendidikan Islam, yang kemudian memiliki nilai-nilai profetik
dalam pembelajaran.Guru harus menjadi teladan yang baik untuk menyambut bonus demografi, karena mereka memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan keterampilan generasi muda, yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Keteladanan guru dapat mendorong murid untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.Bonus demografi adalah periode di mana suatu negara memiliki proporsi penduduk usia produktif yang tinggi. Untuk memaksimalkan potensi bonus demografi, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Guru berperan penting dalam mempersiapkan generasi muda dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan. Guru harus menjadi teladan yang baik untuk menyambut bonus demografi. Keteladanan guru sangat penting dalam membentuk karakter dan keterampilan generasi muda, yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Dengan menjadi teladan, guru dapat membantu murid menjadi individu yang bertanggung jawab, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.Guru harus memiliki pandangan futuristik agar mampu mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pandangan futuristik ini mencakup kemampuan untuk melihat perubahan, memahami teknologi baru, dan mempersiapkan siswa untuk menjadi problem solver yang inovatif dan adaptif. Wahai generasi Z Rengkuhlah masa depan dengan semangat dan ketekunan, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, teruslah berinovasi dan berkontribusi untuk meraih kegemilangan masa depan. Billahitaufiq Wal Hidayah

PEMIMPIN IDAMAN YANG IDEAL BUTUH PUJANGGA

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Pada titik genting krisis multidimensi, para pemimpin seperti kehilangan rasa krisis dan rasa tanggung jawab. Kepemimpinan eksekutif, legislatif, dan yudikatif lebih memedulikan “ apa yang dapat diambil dari apa yang sudah kita menangkan ”, bukan “ apa yang dapat diberikan pada kepada masyarakat ”. Kepemimpinan hidup dalam penjara narsisme yang tercerabut dari suasana kebatinan rakyatnya. Para pemimpin kita terjebak dalam short-termism, di mana segala sesuatu harus diselesaikan untuk keuntungan hari ini saja,Dalam kondisi terburuknya, pola pikir jangka pendek dapat mengarah pada perilaku yang tidak etis atau ilegal. Namun, bahkan dalam kondisi terbaiknya, pola pikir jangka pendek dapat menghambat jalan pemimpin menuju kesuksesan ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I )Tingginya biaya kekuasaan membuat banyak partai lebih mendukung orang semenjana yang populer dan berani bayar ketimbang orang eksentrik yang tidak bermodal. Ada juga paradoks antara preferensi pada pemilihan langsung yang mengarahkan masyarakat menuju individualisme dengan ketiadaan pranata sosial yang dapat mengembangkan otonomi dan karakter individu.

Menurut John Stuart Mill, kreativitas sosial memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Lantas ia tambahkan, ”Jumlah eksentrisitas dalam suatu masyarakat pada umumnya proporsional dengan jumlah genius, kekuatan mental, dan keberanian moral yang dikandung masyarakat tersebut.”Dalam lemahnya logika pencerahan, kepastian hukum, dan ekosistem kreativitas, ruang otonomi individu dipersempit oleh keharusan keguyuban. Kebanyakan individu tumbuh dengan mentalitas konformis, bukan subyek berdaulat yang bisa memilih atas dasar daya pikirnya dan melakukan pembelajaran untuk tidak belajar (meniru) dari tradisi buruk.

Pergeseran ke arah individualisme tanpa kekuatan individualitas melahirkan buih kerumunan di ruang publik. Mentalitas kerumunan tanpa kapasitas nalar publik inilah yang rentan dimanipulasi oleh mesin pencitraan dan politik uang atau dipersuasi oleh sentimen pemujaan identitas.Dalam situasi demikian, yang diperlukan bukanlah pemimpin konformis, yang gestur politiknya mengikuti ekspektasi kemapanan yang korosif. Yang dibutuhkan justru pemimpin eksentrik yang berani menawarkan pilihan berbeda dari arus utama.

Demokrasi individualisme di tengah mentalitas kerumunan menyuburkan dua tipe pemimpin, satu mereka yang gila kuasa dua berkuasa gila. Padahal, yang cocok untuk memulihkan krisis dan membawa transformasi keadaan ke depan adalah pemimpin eksentrik ” . Pemimpin yang ideal harus memiliki karakteristik yang kokoh, yaitu kejujuran , kecerdasan , dan keberanian , ketiga hal ini merupakan fondasi dalam menciptakan pemerintahan yang berintegritas dan bermanfaat bagi rakyat. Ia menegaskan bahwa kualitas-kualitas ini sangat penting dalam menjaga kredibilitas dan efektivitas seorang pemimpin. Jujur: Integritas sebagai Dasar Kepemimpinan Kejujuran adalah kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat. John C. Maxwell, mengatakan, “Kepercayaan adalah mata uang dalam kepemimpinan.” Tanpa kepercayaan, setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin akan diragukan dan dianggap tidak efektif. Misalnya, berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik menunjukkan pentingnya integritas dalam pemerintahan. Ketidakjujuran hanya akan menambah penderitaan rakyat dan merusak struktur sosial. Kejujuran adalah salah satu pilar utama yang harus dimiliki oleh pemimpin. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa pemimpin harus memiliki hati yang bersih dan tidak menipu rakyatnya, karena kejujuran adalah syarat utama mencapai ketenangan dan kesejahteraan masyarakat. Khalifah Umar bin Khattab juga terkenal dengan integritasnya. Ia pernah berkata, “ Seandainya ada seekor keledai terperosok di jalanan Baghdad, maka aku takut Allah akan menanyai aku kenapa aku tidak meratakan jalan tersebut.” Ini menunjukkan betapa pentingnya tanggung jawab dan kejujuran seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya. Cerdas : Kepemimpinan yang Berbasis Pengetahuan Kecerdasan adalah syarat utama dalam menghadapi tantangan zaman. Pemimpin yang cerdas dapat menganalisis situasi, merumuskan kebijakan inovatif, dan melaksanakan solusi yang efektif. Plato, seorang filsuf Yunani, menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan dalam mengelola pemerintahan (The Republic). Al-Mawardi, menyebutkan bahwa kecerdasan adalah syarat utama seorang pemimpin ideal. Pemimpin harus memiliki pengetahuan luas agar mampu memerintah dengan baik dan adil. Wawasan yang dalam tentang agama, politik, serta kemampuan untuk memecahkan masalah kompleks menjadi modal utama bagi seorang pemimpin. Di tengah masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan, pemimpin yang dapat membuat kebijakan berbasis data akan membawa perubahan berarti. Misalnya, Kebijakan yang berfokus pada peningkatan infrastruktur dan pendidikan berkualitas, dapat mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Berani : Keberanian dalam Mengambil Keputusan Keberanian adalah kemampuan untuk mengambil keputusan penting meski tidak selalu populer. Nelson Mandela pernah berkata, “Keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, tetapi kemampuan untuk mengatasinya.” Pemimpin yang berani mampu mendorong perubahan positif dan memperjuangkan keadilan sosial meski harus menghadapi tekanan. Dari sudut pandang filosofis, keberanian adalah kebajikan yang terletak di antara dua ekstrem: ketakutan dan kenekatan (Aristoteles, Nicomachean Ethics). Pemimpin yang berani menimbang risiko dan manfaat, bertindak demi kepentingan bersama. Keberanian dalam kepemimpinan ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Islam. Beliau pernah berkata, “Jangan takut pada kebenaran meskipun hal itu akan membahayakanmu.” Ini menunjukkan bahwa pemimpin harus berani mengambil keputusan yang benar, walau mungkin tidak populer atau berisiko bagi dirinya. Keberanian juga merupakan karakteristik penting dalam fiqh siyasah ( politik Islam ), di mana pemimpin dituntut bersikap tegas dan berani menghadapi ketidakadilan, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Artinya, kepemimpinan tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, tetapi juga aspek spiritual. Seorang pemimpin harus sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah serta tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pemimpin dengan visi yang jauh ke depan perlu didukung oleh pujangga yang mencatat dan mendokumentasikan pemikiran serta gagasannya. Hal ini penting agar ide-ide tersebut tidak hanya menjadi wacana lisan, tetapi tertulis sebagai bagian dari sejarah yang bisa menjadi panduan bagi generasi mendatang.visi yang kokoh harus berakar pada nilai-nilai spiritual dan ilahi, bukan hanya ambisi politis semata. Dengan visi ini memiliki fondasi yang mendalam dan bisa memberi arah yang jelas bagi perjalanan kepemimpinan ke depan, serupa dengan bagaimana Kesultanan Mataram Islam bertahan lebih dari 400 tahun berkat visi yang kokoh. Dalam buku The Power of Vision karya George Barna untuk menjelaskan lebih jauh bahwa visi bukan hanya sekadar mimpi, tetapi merupakan wahyu dari Tuhan yang memiliki gambaran mental jelas tentang masa depan. “Visi itu cirinya yang pertama adalah ada gambaran mental yang jelas tentang masa depan yang jelas. Jadi, ada konsep, ada gambaran mentalnya. Itu memang imajinasi, tetapi visi, yang membedakannya dengan cita-cita atau obsesi, menurut George Barna, adalah bahwa visi itu diimpartasikan atau ditanamkan atau diwangsitkan oleh Tuhan,”Visi ilahi berbeda dengan visi politis yang berdasarkan ambisi pribadi. Visi illahi harus menjalani topo broto, atau meditasi, sebagai bagian dari proses spiritual untuk mendapatkan inspirasi ilahi.Last but not least, Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.” Menurut Mohammad Roem, Dalam bahasa Belanda, ada dua kata yang berbunyi sama, tapi ditulis berbeda: leiden ( memimpin ) dan lijden ( menderita )” (Mohammad Roem, Prisma, No. 8, 1977). Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a’lam

FKUB Kota Probolinggo Hadiri Doa Bersama Lintas Agama dalam Rangka Hari Bhayangkara POLRI ke-79

Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-79 yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2025, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo memenuhi undangan dari Kapolresta Probolinggo untuk menghadiri dan turut serta dalam kegiatan Doa Bersama Lintas Agama. Acara ini dilaksanakan pada Senin, 30 Juni 2025 bertempat di Ruang Eksekutif Mapolres Probolinggo Kota.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh semangat kebersamaan ini dihadiri oleh Kapolresta Probolinggo AKBP Rico Yumasri, SIK., MIK. beserta jajaran kepolisian, Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP., KH. Samsul Anam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo, serta para tokoh agama dari berbagai umat beragama di antaranya perwakilan Romo Yohanes Paulus Bapa dari agama Katolik,    Pdt. Argo Daniel Satwiko, S.T., M.Div. dari Kristen, Erfan Sutjianto, S.H. dari Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD), dan dari Hindu I Nengah Windia, B.Sc.

Dalam sambutannya, Kapolresta Probolinggo menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh lintas agama dan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi dan komitmen bersama dalam menjaga keamanan, kedamaian, dan kerukunan di tengah masyarakat. Ia berharap momentum Hari Bhayangkara ini dapat memperkuat semangat pengabdian Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, dengan dukungan spiritual dan moral dari seluruh elemen umat beragama.

Sementara itu, Ketua FKUB Kota Probolinggo menekankan pentingnya membangun komunikasi lintas iman yang harmonis demi terwujudnya masyarakat yang rukun, damai, dan toleran. “Doa bersama ini bukan hanya ritual seremonial, tetapi juga simbol kuat dari persatuan dan solidaritas kita semua dalam menjaga Probolinggo tetap kondusif,” ujarnya.

Acara ditutup dengan doa secara bergiliran dari masing-masing perwakilan agama yang hadir, dengan harapan agar Polri senantiasa diberi kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas negara demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Menjaga Harmoni Lanskap Desa Wisata Cafe Sawah Pujon Kidul


Oleh: Ainur Rofiq
Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, tak hanya menyuguhkan lanskap perbukitan dan udara sejuk yang menjadi dambaan pelancong kota. Sejak tahun 2016, desa ini menjelma menjadi percontohan desa wisata melalui keberadaan Café Sawah yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Berbekal semangat kemandirian, desa seluas 330 hektare dengan jumlah penduduk lebih dari empat ribu jiwa ini kini bergerak maju dalam skema pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berupa Café Sawah.
Café Sawah berdiri di atas lahan seluas enam hektare, menjadi ikon sekaligus simpul utama pertumbuhan ekonomi desa. Pengelolaannya tidak semata-mata berorientasi bisnis, tetapi menjadi ruang kolaboratif antara BUMDes dan masyarakat sekitar. Tidak ada pungutan retribusi kepada warga yang membuka warung atau toko oleh-oleh di kawasan wisata ini. Bahkan setiap tiket masuk senilai Rp15.000 dilengkapi dengan voucher Rp5.000 yang dapat ditukar di gerai milik warga. Inisiatif ini membuat perputaran uang tidak berhenti di pintu masuk, melainkan menyebar ke tangan-tangan warga yang menjadi pelaku langsung ekonomi desa.
Namun, seiring berkembangnya sektor wisata, kebutuhan akan legalitas dan regulasi menjadi tak terhindarkan. Pemerintah Desa tengah mengurus berbagai perizinan seperti PKKPR, dokumen lingkungan, serta SIMBG sebagai prasyarat kelangsungan usaha. Salah satu hambatan administratif yang masih dihadapi adalah ketiadaan sertifikat tanah atas lahan yang dikelola BUMDes. Oleh karena itu, pemetaan bidang tanah dan proses pendaftaran aset desa menjadi kebutuhan mendesak. Sertifikasi atas nama Pemerintah Desa dan yang dikelola BUMDes tidak hanya memberi kepastian hukum, tetapi juga menjadi dasar dalam mengakses program-program penguatan kelembagaan.
Kunjungan wisatawan yang semula konsisten kini mengalami fluktuasi. Rata-rata kunjungan harian berkisar 860 hingga 938 orang, dan melonjak hingga 1.160 saat akhir pekan. Namun, tren penurunan jumlah kunjungan tahunan turut menurunkan kontribusi pajak BUMDes kepada daerah, dari semula Rp500 juta pada 2023 menjadi Rp300 juta di tahun 2024. Persaingan dari tumbuhnya desa-desa wisata tematik lain di Kabupaten Malang turut memengaruhi situasi ini. Meski demikian, pengelola tetap optimistis. Mereka meyakini bahwa kekuatan Pujon Kidul terletak pada “keberlanjutan kolaborasi warga dan keberagaman inovasi berbasis lingkungan.”
Langkah penting lainnya telah dimulai di Dusun Tulungrejo. Pada tahun 2022, sebanyak 148 bidang tanah hasil pelepasan kawasan hutan disertifikatkan dan telah diserahkan kepada warga. Langkah ini menjadikan desa ini sebagai salah satu Kampung Reforma Agraria, sebagaimana ditetapkan melalui SK Bupati Malang Nomor 188/409.06/KPTS/2024. Melalui pendekatan sosial berupa pemetaan partisipatif dan kegiatan Akses Reform, masyarakat perlahan mulai memperoleh kekuatan legal atas ruang hidupnya. Namun tantangan masih menghadang. Lahan-lahan yang saat ini digunakan warga untuk bertani masih berstatus sewa kepada Perhutani, sehingga menyulitkan akses terhadap subsidi pupuk. Kepala Desa telah mengupayakan kerja sama formal melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), namun hingga kini belum mendapat respon afirmatif dari otoritas kehutanan.
Mayoritas penerima manfaat reforma agraria merupakan peternak sapi perah dengan rata-rata kepemilikan tiga sampai lima ekor sapi per keluarga. Hasil perahan—sekitar 15 liter per ekor per hari—disalurkan ke koperasi KOP SAE dengan skema pembiayaan yang bervariasi, mulai dari penggantian indukan hingga potongan hasil produksi. Di tengah geliat pertanian dan peternakan, desa ini juga mengembangkan pendekatan ekologi dalam pengelolaan sampah. Salah satunya melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup serta TPA Randuagung.

Yang menarik, desa ini mulai merintis budidaya cacing tanah sebagai solusi atas tumpukan limbah organik. Bersama CV RAJ, sebanyak 1,6 ton bibit cacing senilai Rp70 juta telah ditebar di bedengan-bedengan sepanjang 32 meter dengan lebar 1 meter. Lokasi budidaya berdampingan dengan area parkir Café Sawah dan dikelola dalam sistem greenhouse beratap paranet. Pada bulan kelima, budidaya ini ditargetkan menghasilkan empat ton panen, yang akan ditampung oleh mitra dengan harga Rp20.000 per kilogram. Program ini juga mendapat sokongan dari PT Nestlé melalui skema CSR berupa pengolahan limbah kohe sapi menjadi media ternak cacing, dengan satu bak budidaya untuk setiap kandang berukuran 16 meter persegi.
BUMDes mengalokasikan dana pengelolaan sampah sebesar Rp100 juta per tahun, di samping subsidi Rp65 juta untuk operasional TPST. Tak hanya itu, lembaga ini juga membiayai iuran BPJS bagi warga senilai Rp50 juta serta membantu tagihan kebutuhan dasar lainnya melalui alokasi PAD dari 100 desa. Semua ini dirancang untuk memperkuat fondasi sosial agar usaha desa tidak hanya menjadi mesin pendapatan, tetapi juga jaring pengaman sosial bagi warga.
Meski banyak yang telah dilakukan, pekerjaan rumah tetap menanti. Pemerintah Desa berharap adanya pendampingan dalam penerbitan sertifikat tanah aset desa agar perizinan PKKPR dapat segera dilanjutkan. Selain itu, pengajuan pelepasan kawasan hutan melalui mekanisme PPTKH telah diajukan ke Dinas Pertanahan Kabupaten Malang, sembari mendorong pengalokasian program PTSL yang ditargetkan untuk 2.500 bidang tanah. Di tengah perjalanan panjang dan tantangan zaman ini, Pujon Kidul menjadi bukti bahwa desa bisa hidup dari tanah dan ruang, tumbuh dari kolaborasi, dan berdiri dari ragam inovasi.
Wallahu A’lam Bishowab

Reuni Akbar IKA UM Jakarta 2025: Merajut Koneksi, Menyambut Dunia Baru


Jakarta, Berdampak.net– Dunia terus bergerak dengan cepat. Perkembangan teknologi, dinamika dunia kerja, hingga perubahan gaya hidup telah menciptakan tantangan baru—sekaligus membuka peluang yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah perubahan besar ini, para alumni dituntut untuk terus beradaptasi. Bukan hanya dalam hal keahlian teknis, tetapi juga dalam membangun pola pikir yang terbuka, daya tahan mental yang kuat, serta semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.
Dalam semangat itulah, Reuni Akbar Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang (IKA UM) Jakarta diselenggarakan pada Sabtu, 28 Juni 2025 di Aula Kemenko PMK, Jakarta. Mengusung tema “Temu Karsa dan Temu Rasa”, reuni ini menjadi lebih dari sekadar ajang nostalgia. Ia hadir sebagai ruang bertemu yang inspiratif—mempertemukan lintas generasi alumni dalam semangat kolaborasi dan pembelajaran bersama.
Dibuka dengan Hangat, Disambut dengan Semangat
Acara dimulai dengan sambutan penuh kehangatan dari Bapak Moerdibyo, Pembina IKA UM Pusat, yang menekankan pentingnya silaturahmi sebagai kekuatan kolektif untuk terus bergerak dan memberi makna.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua IKA UM Jakarta, Mahmud Samuri, S.Pd., M.Si., seorang alumni sekaligus pengusaha sukses di bidang pertambangan. Dalam pesannya, ia mendorong agar momen reuni ini menjadi awal dari sinergi dan kolaborasi nyata antaralumni.
“Reuni ini bukan akhir dari pertemuan, melainkan awal dari terbentuknya jaringan kekuatan alumni yang solid, lintas angkatan dan lintas profesi,” ujarnya mantap.
Talkshow Alumni Reconnect: Menghadapi Dunia yang Terus Berubah
Bagian utama dari kegiatan ini adalah sesi talkshow bertajuk “Alumni Reconnect: Transformasi Alumni Hadapi Dunia Baru”. Sesi ini dipandu oleh Doni Tri Prasetio, S.Pd., M.Pd., seorang widyaiswara Kemdikdasmen sekaligus alumni UM, yang mengarahkan diskusi dengan hangat dan penuh energi.
Talkshow menghadirkan dua pembicara inspiratif:
• Prof. Dr. Asep Sunandar, S.Pd., M.AP, Asisten Deputi Bina Keagamaan di Kemenko PMK, dan
• Ning Wahyu A., S.Pd., M.M., Ketua Umum APINDO Jawa Barat, sekaligus pengusaha nasional yang telah merintis bisnis lintas negara.
Prof. Asep membahas pentingnya kesiapan alumni menghadapi era digital dan disrupsi teknologi, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja.
“AI bukan musuh, tetapi mitra. Yang akan bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling adaptif,” tegasnya.
Sementara itu, Ning Wahyu mengajak peserta merenungi perjalanan usaha yang tidak mudah. Ia membagikan sisi keberuntungan dari proses membangun bisnis, sembari mengingatkan pentingnya nilai-nilai keluarga.
“Sabar, terus belajar, dan jangan lupa doa ibu. Itu yang selalu menjadi kekuatan saya hingga hari ini,” ucapnya haru.
Talkshow ini tidak hanya mengupas karier dan kewirausahaan, tapi juga menyentuh aspek keseimbangan hidup, ketahanan pribadi, dan pentingnya komunitas alumni sebagai ruang bertumbuh bersama.
Kuis Interaktif dan Suasana Kekeluargaan yang Menghangatkan
Menjelang penutupan, suasana semakin cair dan hangat. Panitia menghadirkan sesi kuis interaktif “Tebak Gambar”, yang mengangkat tema sejarah dan lingkungan seputar UM.
Gelak tawa, saling memberi semangat dengan penuh keakraban, hingga sorakan antusias menjadi momen-momen kecil yang justru memperkuat rasa kebersamaan. Bukan sekadar permainan, kuis ini menjadi pengingat bahwa silaturahmi juga bisa menyenangkan sekaligus bermakna.
Reuni: Titik Temu dan Titik Tumbuh
Lebih dari sekadar pertemuan, Reuni Akbar IKA UM Jakarta 2025 adalah titik temu dan titik tumbuh. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, kehadiran komunitas alumni menjadi jangkar yang menstabilkan—tempat untuk berbagi, saling menguatkan, dan menumbuhkan semangat baru.
Dengan semangat Temu Karsa dan Temu Rasa, para alumni pulang bukan hanya dengan oleh-oleh berupa foto atau cerita nostalgia, tetapi juga membawa energi baru: untuk tetap terhubung, terus belajar, saling menginspirasi, dan memberi dampak positif dalam kehidupan profesional maupun sosial.
Penulis:
Doni Tri Prasetio
Widyaiswara & Alumni Universitas Negeri Malang