Ranwal RPJMD Probolinggo, Pansus DPRD Rekomendasikan Beberapa Poin, Termasuk Politik Anggaran

Probolinggo, Berdampak.net – Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Probolinggo, merekomendasikan beberapa poin dalam Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Ranwal RPJMD) untuk periode 2025–2029. Politik anggaran masuk dalam rekomendasi tersebut.

H. Khairul Anam, Ketua Pansus mengatakan, ada beberapa poin catatan dalam Ranwal RPJMD tersebut, diantaranya terkait integrasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) secara nyata, dalam dokumen RPJMD Kabupaten Probolinggo 2025–2029. Dokumen perencanaan pembangunan daerah harus selaras dan berbasis pada rencana tata ruang agar arah pembangunan memiliki kepastian legal dan spasial. Kamis (12/06/2025).

Selain itu penguatan koordinasi spasial antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga kajian ulang politik anggaran yang proporsional. “Perlu dilakukan kajian ulang terhadap kebijakan alokasi anggaran agar lebih proporsional dan sesuai dengan arah kebijakan nasional. Salah satu perhatian utama adalah kesiapan daerah menghadapi penerapan UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD) yang akan berlaku efektif pada tahun 2027,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Dalam konteks politik anggaran lanjut Anam, ada beberapa poin penting meliputi, Proyeksi belanja pegawai dalam RPJMD masih berada pada kisaran 45% dari total belanja daerah, padahal ketentuan dalam UU HKPD menetapkan batas maksimal sebesar 30%.

“Perlu dikaji apakah Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah memperhitungkan potensi tambahan dari opsen pajak kendaraan bermotor yang akan diberlakukan. Harus ada gambaran yang jelas terkait rencana pemenuhan belanja infrastruktur minimal 40%, sebagaimana amanat UU HKPD, diperlukan strategi konkret untuk menekan porsi belanja pegawai agar bertahap mencapai angka ideal di bawah 30%,” tambahnya.

Beberapa poin tersebut menurut mantan ketua HMI Jawa Timur itu, merupakan hal yang mendesak dan fundamental dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Probolinggo yang responsif terhadap dinamika kebijakan fiskal dan pembangunan daerah ke depan. (fiq)

Pengurus PWI Probolinggo Raya Periode 2025-2028 Resmi Dilantik, Ini Trobosan Babul Arifandi

Probolinggo, Berdampak.net – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo Raya resmi dilantik, pelantikan tersebut digelar di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Pemkab Probolinggo. Rabu (11/06/2025) Babul Arifandi resmi memimpin PWI Probolinggo Raya untuk periode 2025-2028.

Babul Arifandi, Ketua PWI Probolinggo Raya dalam sambutannya mengatakan, pentingnya peran wartawan menyajikan hasil jurnalistik yang informatif dan inovatif untuk masyarakat.

“Kompetisi itu penting, tetapi jangan bangga dulu jika tidak bisa menghasilkan karya jurnalistik yang menghadirkan hal baru. Kita harus bisa mengisi ruang kosong yang ada di masyarkat guna memenuhi kebutuhan informasi,” jelasnya.

Sebagai pimpinan PWI Probolinggo Raya ia berkomitmen untuk terus meningkatkan sumber daya manusia di tubuh PWI Probolinggo Raya, melalui pelatihan dan penguatan kapasitas seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Sementara itu, Plt Ketua PWI Jawa TImur, Mamud Suhermono dalam sambutannya memberikan pesan kepada jajaran pengurus yang baru dilantik, ia menegaskan keberadaan PWI harus menjadi penunjuk arah bagi masyarakat dalam membedakan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan informasi yang tidak jelas asal usulnya.

“PWI harus mendorong masyarakat untuk menjadikan media pers sebagai rujukan utama dalam mendapatkan informasi, bukan media sosial. Wartawan anggota PWI harus berpegang teguh pad kode etik jurnalistik, berita harus melalui proses verifikasi, validasi, dan konfirmasi,” ujarnya. (fiq)

Ketika Balita Ditimbang, Maka Harapan Ditumbuhkan

Probolinggo, Berdampak.net – Matahari belum tegak benar ditengah semilir pagi Kabupaten Probolinggo, meja-kursi dan mobil nuansa ungu tersebar di halaman Pendopo Kecamatan Dringu. Warna itu tak hanya mencolok, tetapi seolah menjadi simbol harapan harapan akan generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan terbebas dari ancaman stunting.

Pada Rabu, 11 Juni 2025, kegiatan bakti sosial yang digelar di bawah program nasional Mobi Screening Generasi Maju Bebas Stunting menghadirkan lebih dari sekadar layanan kesehatan. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, empati, dan cita-cita bersama akan masa depan anak-anak Indonesia.

Yang menjadi berkesan program ini adalah program SAE Kesehatan. Buah kolaborasi tim lintas institusi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Puskesmas Dringu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur-Perwakilan Probolinggo, serta tidak kalah Instansi Swasta dari Tim Anti Stunting Rumah Sakit Graha Sehat (RSGS) turut hadir mendampingi, mensukseskan jalannya acara dengan penuh dedikasi.

Setiap pos layanan dari pengukuran tinggi dan berat badan, plotting ke dalam grafik pertumbuhan dilakukan oleh para tenaga ahli gizi, celoteh edukasi pola asuh dari para bidan dan perawat, hingga konsultasi langsung dengan dokter umum serta dokter spesialis anak. Suara tangis balita menjadi senyum lega para ibu efek suguhan hiburan dari badut serta sulap sembari menunggu antrian pemeriksaan, semua kondisi riuh ini bercampur jadi harmoni pagi yang sibuk namun penuh kasih.

“Stunting ini adalah masalah besar yang harus kita tangani bersama. Anak-anak di desa juga berhak punya masa depan cerah seperti mereka yang tinggal di kota. Karena itu, kami hadir mendekat membawa layanan spesialisasi ke desa, agar tak ada lagi jarak yang menghalangi akses kesehatan mereka,” ujar salah satu dokter anak dari tim IDAI, dr Muhammad Reza, M.Biomed, CHMC, AIFO-K, Sp.A, Subsp.Neo(K)

Lebih dari 165 balita menjalani pemeriksaan hari itu. Beberapa anak yang ditemukan terindikasi stunting, langsung mendapatkan akses ke dokter spesialis anak untuk intervensi komperhensif lanjutan. Para ibu mendapatkan edukasi tentang pentingnya gizi, pola makan seimbang, serta rekomendasi rujukan yang bisa mereka laksanakan ke depannya di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.

Kegiatan ini tidak hanya memberi layanan, tetapi juga menggerakkan para tenaga kesehatan kembali ke komunitas dasar dengan pengetahuan baru. Para orang tua pulang membawa edukasi dan harapan, dan anak-anak, meski belum bisa berkata-kata, telah didengarkan lewat pertumbuhan mereka yang dipantau secara ilmiah dan penuh empati.

SAE Kesehatan ini masih akan berlanjut di Puskesmas Glagah, Jorongan, Kraksaan, dan Jabung Sisir. Lima tempat, satu tujuan mencetak generasi bebas stunting.

Tentu saja, tak semua berjalan kaku dan formal. Anak-anak pulang dengan goodie bag berisi souvenir, susu pertumbuhan dan makanan bergizi. Para ibu pulang dengan brosur, senyum, dan bekal ilmu baru. Para petugas pulang dengan lelah yang bermakna.

Dan seperti yang disampaikan oleh Tim Anti Stunting RS Graha Sehat, “Kami hadir bukan hanya sebagai rumah sakit, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang peduli.”

Terlihat pojok layanan stunting yang unik berupa mobil berwarna ungu sangat menarik pengunjung itu pun akan dibongkar. Tapi pesan yang tertinggal akan terus tinggal bahwa di Dringu, pagi itu, anak-anak tak hanya diukur berat dan tingginya, tapi juga dipastikan ruang untuk tumbuh mereka tetap terbuka lebar optimis menuju masa depan yang lebih cerah.

Diujung Tikungan Dunia Kerja, Menyusuri Jejak Mereka yang Bertahan dan Berjuang di 2025

Pagi itu, udara bulan Juni di kabupaten Probolinggo belum benar-benar terang. Sinar mentari masih tertahan mendung, namun deru motor ojek online sudah bersahut-sahutan. Di sebuah gang kecil, Salam (37) memeriksa aplikasinya sambil menyesap kopi sachet yang dia seduh di depan rumah nya di sebuah gang dekat dengan pasar semampir. Dulu, salam adalah karyawan pengambil sample untuk uji analisa batu bara dan sawdust di sebuah perusahaan pembangkit listrik. Tapi pandemi mengubah jalannya. Pabrik itu melakukan efisiensi. Dan kini salam menggantungkan harap pada notifikasi pengantaran yang kadang riuh, kadang sepi seperti senyapnya WhatsApp grup alumni SMA nya yang dulu sibuk tawar-menawar lowongan kerja.

“Kata orang, 2025 ini tahun pemulihan. Tapi buat kami, ini tahun pertarungan.”

Tahun 2025 disebut banyak pengamat sebagai era percepatan digitalisasi AI di kantor, otomasi di pabrik, dan sistem kerja hybrid jadi norma. Tapi tidak semua bisa menari dalam irama yang baru ini. Di Paiton, Sari (33), seorang mantan staf administrasi, kini mengajar kursus online dari rumah. Ia dipaksa belajar desain canva, SEO, dan manajemen media sosial hanya agar tetap relevan.

“Saat kantor bilang mereka tidak butuh staf admin karena semua sudah pakai sistem otomatis, rasanya saya seperti dibuang zaman,” ujarnya lirih. Tapi dia tidak mau tenggelam. “Saya ambil pelatihan daring dari Kartu Prakerja. Itu titik baliknya.”

Namun tidak semua seberuntung Sari. Data dari BPS awal tahun menunjukkan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia masih berada di atas 5%, dan kabupaten probolinggo TPT berada pada 3,4% dengan dominasi usia produktif. Lulusan baru baik SMK maupun sarjana berebut kursi yang terus menyusut.

Di pinggir jalan Kraksaan samping Rumah Sakit Graha Sehat, Warung Sambal Mbok Eni tetap buka meski dengan meja plastik yang semakin jarang terisi. Eni (45) baru saja menolak tawaran “franchise digital” yang menjanjikan sistem online, branding, dan cloud kitchen. Eni ragu, takut tidak paham, dan takut terjebak utang.

“Sekarang semua serba medsos. Katanya harus viral, harus endorse. Tapi saya cuma bisa masak,” katanya. Anak sulungnya sedang kuliah di Malang, dan warung kecil itu adalah nyawa keluarganya.

Usaha mikro seperti milik Eni tak hanya bertarung dengan algoritma media sosial, tapi juga harus melawan kompetisi harga dari aplikasi makanan daring. Konsumen makin banyak pilihan, dan loyalitas jadi barang langka. Meski pemerintah terus menggencarkan program pendampingan UMKM, banyak pelaku usaha merasa mereka sendirian di medan tempur yang tak mereka pahami.

Sedangkan Mira (19), siswi SMK jurusan Tata Busana di Kraksaan, sudah pesimis jauh sebelum wisuda. “Kami belajar menjahit, tapi lowongannya lebih banyak jadi admin atau content creator,” katanya sambil menunjukkan akun TikTok tempat imengunggah hasil karyanya. “Guru saya bilang, sekarang skill harus bisa dijual, bukan hanya ditunjukkan.”

mira benar. Dunia kerja hari ini menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan berpikir lintas disiplin yang kadang belum sempat diajarkan di ruang kelas. Padahal, saat dunia bergerak cepat, kurikulum tak selalu bisa mengikutinya.

Sementara itu, di sisi lain spektrum, para pekerja formal juga menghadapi tekanan baru target makin tinggi, jam kerja makin fleksibel tapi tak terbatas, dan PHK makin mudah. Banyak yang pindah ke pekerjaan lepas, bergantung pada gig economy yang tak menjamin keamanan jangka panjang.

Di tengah tantangan itu, muncul generasi baru pejuang mereka yang belajar ulang, membangun ulang, dan berpikir ulang. Seorang buruh bangunan menjadi tukang las online, seorang ibu rumah tangga menjadi dropshipper, seorang guru honorer membuka kelas daring berbayar.
Tidak ada satu jalan yang pasti. Di 2025 ini, tidak cukup hanya punya ijazah, tidak cukup pula hanya punya usaha. Dunia kerja telah menjadi labirin yang butuh kompas baru keterampilan digital, jaringan sosial, dan kemauan untuk terus berubah.

NamunMereka yang Tak Menyerah,
Matahari mulai menyengat ketika Salam akhirnya mendapat pesanan antar kopi dari sebuah kantor baru. “Kadang cuma satu dua order, tapi lumayan buat bertahan, katanya sambil mengenakan helm. Salam tahu, dunia yang dia jalani sekarang jauh dari ideal. Tapi diajuga tahu, diam bukan pilihan.
Di tahun 2025 ini, mungkin dunia kerja bukan lagi tentang siapa yang paling pintar. Tapi siapa yang paling mau berubah

Begitulah wajah dunia kerja dan usaha di 2025 berubah, menantang, dan penuh ketidakpastian. Tapi di dalamnya, tetap ada yang konstan keberanian untuk bertahan, dan harapan yang terus disulam dalam diam.

Idul Qurban: Momentum Memperkuat Nasionalisme dan Moderasi Beragama


Oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP.*

Setiap kali perayaan Idul Qurban tiba, umat Islam di seluruh dunia diajak kembali pada sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Memaknai Idul Qurban tidak terbatas hanya refleksi pada sejarah itu semata. Idul Qurban dalam perspektif lebih luas terimplementasikan dalam perilaku sosial yang lebih nyata: kepedulian terhadap sesama, sikap empati, dan persatuan umat. Idul Qurban juga dimaknai sebagai sarana menuju inklusifitas nasionalisme dan moderasi beragama, bukan sebatas menjadi ritual keagamaan semata.

Di tengah derasnya arus polarisasi identitas dan meningkatnya tensi sosial berbasis perbedaan agama, nilai-nilai yang terkandung dalam Qurban sesungguhnya menawarkan formula damai yang relevan. Ritual penyembelihan  hewan qurban dan membagikan daging bukan hanya bentuk ritual ibadah saja, namun juga penegasan solidaritas sosial. Di sinilah letak kekuatan Qurban: ia mengikis jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, serta memelihara rasa keadilan sosial.

Keadilan sosial adalah fondasi dari dua pilar penting kebangsaan, yaitu agama dan nasionalisme. Keduanya tidak dapat dipertentangkan lebih-lebih di Indonesia dengan populasi Mayoritas Muslim terbesar di dunia. Menempatkan momentum Idul Qurban sebagai panggung pembuktian bahwa agama dan nasionalisme menjadi dua pilar yang saling menguatkan. Nilai-nilai religiusitas dalam Idul Qurban dapat mewujudkan keadilan sosial. Sehingga masyarakat yang beraneka ragam dari berbagai suku, budaya, bahkan agama, bisa menyatu dalam semangat peduli dan empati dalam bingkai kemanusiaan.

Selain itu Idul Qurban juga bisa menjadi alat pendidikan sosial dan keagamaan.Fenomena pragmatisme politik yang memanfaatkan narasi fundametalisme keagamaan, eksklusifisme, bahkan ekstrem, Idul Qurban mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap sesama. Aktualisasi nilai-nilai yang seharusnya diperkuat oleh otoritas keagamaan, khususnya melalui dakwah dan pendidikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan ke depan sangat komplek. Narasi intoleransi masih kerap mendapatkan panggung, baik di ruang publik maupun di media sosial seiring dengan masih adanya daya tarik Politik identitas. Namun, Idul Qurban menawarkan momen reflektif untuk melawan tantangan tersebut. Jika dimanfaatkan dengan baik dengan pemahaman mendalam, maka momentum Idul Qurban bisa menjadi media dialog antaragama, ruang sinergi lintas identitas, serta sarana memperkokoh kohesi sosial keberagaman.

Kohesi sosial dapat tercapai dengan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan untuk mendorong laku sosial keagamaan untuk menciptakan kerukunan dan persatuan. Momentum Idul Qurban bisa menjadi titik pertemuan keberagaman yang menyatukan semua elemen bangsa dalam semangat kemanusiaan dan kebangsaan. Dan di era disrupsi informasi seperti saat ini, narasi-narasi kebaikan semacam ini harus menyebar melalui media sosial agar dapat menjangkau generasi muda yang akan menjadi wajah Indonesia masa depan.

Pada akhirnya, Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan kurban. Akan tetapi juga menjadi momentum pengingat bahwa pengorbanan dan kepedulian adalah dasar kehidupan bersama. Apabila berhasil memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Qurban secara kontekstual, maka kita bukan hanya memperkuat keimanan, akan tetapi juga meneguhkan identitas kebangsaan yang moderat dan berperikemanusiaan.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Tunjukkan Komitmen Melayani, Desa Bhinor Menyapa Warga dengan Selamat Hari Raya Idul Adha dan Program Kurban

Probolinggo, Berdampak.net – Desa bhinor dalam mewarnai semangat kebersamaan dan ketaqwaan melalui penyembelihan hewan kurban yang merupakan bagian dari peringatan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah serta mendistribusikan  daging kurban kepada masyarakat setempat.

Pendistribusian Hewan kurban ke beberapa dusun di antara nya Pesisir, Krajan, dan Klompangan. Hewan-hewan kurban tersebut merupakan hasil sumbangan warga dan dukungan penuh dari beberapa perusahaan di lingkungan desa Bhinor.

Tentunya Pelaksanaan kurban ini adalah bentuk teladan kita dari apa yang sudah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagai bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan selain semangat berbagi atau sosial bersama masyarakat. (rh)