Mengapa Memilih Partai Gelora? Karena Partai Ini Punya Visi Misi yang Jelas dan Relevan

Oleh: Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Di tengah dinamika politik nasional yang kerap membingungkan rakyat, hadirnya Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) menjadi angin segar bagi masyarakat yang mendambakan arah baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan sekadar partai baru, Partai Gelora hadir dengan visi besar, misi nyata, dan orientasi perubahan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

Partai Gelora memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia. Ini bukan mimpi kosong, melainkan peta jalan yang dirancang dengan realistis dan penuh optimisme. Partai Gelora percaya bahwa Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi bangsa besar—sumber daya alam melimpah, demografi muda yang produktif, serta kekayaan budaya dan nilai luhur yang diwarisi dari para pendiri bangsa.

Partai Gelora tidak hadir untuk memperkuat polarisasi, tetapi untuk menyatukan. Partai ini menawarkan politik gagasan, bukan politik kebencian. Partai Gelora membangun narasi kolaborasi, bukan kompetisi destruktif. Misinya jelas: membangun kekuatan nasional yang berdaya saing global melalui penguatan ekonomi, pendidikan berkualitas, dan tata kelola pemerintahan yang bersih serta responsif.

Di tingkat lokal, khususnya di Kabupaten Probolinggo, DPD Partai Gelora berkomitmen menjadi ruang bagi aspirasi masyarakat akar rumput. Partai Gelora tidak hanya aktif menjelang pemilu, tetapi terus hadir membina kader, mendengarkan suara warga, dan merumuskan solusi konkret terhadap persoalan daerah—dari pertanian, UMKM, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Memilih Partai Gelora berarti memilih masa depan yang terarah. Sebuah pilihan yang didasari pada rasionalitas, bukan sekadar loyalitas. Partai Gelora bukan hanya kendaraan politik, tetapi gerakan moral untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, dan bermartabat di mata dunia.

Mari kita gelorakan semangat perubahan.
Mari bersama Partai Gelora, mewujudkan Indonesia yang lebih hebat dan Probolinggo yang lebih bermartabat.

Kesiapan Desa Menyongsong Koperasi Merah Putih, Belajar dari Kegagalan KUD dan Warisan Bung Hatta.

Oleh: Andreas Araydia

Praktisi financial dan hukum dalam bidang kesehatan sekaligus wakil ketua bidang kesra Apindo Probolinggo

Wacana pendirian Koperasi Merah Putih kembali menyeruak sebagai harapan baru di tengah stagnasi ekonomi desa. Gagasan ini, yang dikaitkan dengan semangat kedaulatan ekonomi lokal dan semangat gotong royong, tampaknya lahir dari keinginan untuk mengembalikan koperasi pada akar idealismenya, yaitu sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat.
Namun sebelum melangkah terlalu jauh, kita perlu bertanya secara jujur, apakah desa hari ini benar-benar siap?
Ataukah kita hanya akan mengulangi kegagalan masa lalu, seperti yang terjadi pada Koperasi Unit Desa (KUD)?
Tapi kita tahu, mimpi besar saja tidak cukup.

Mari kita dalami kembali bagaimana KUD, yang pernah digadang-gadang sebagai ujung tombak ekonomi desa, justru menjadi contoh tragis dari idealisme yang dibajak oleh birokrasi dan kepentingan politik. Di banyak tempat, KUD tumbuh bukan dari kebutuhan riil masyarakat desa, melainkan dari program sentralistik yang miskin partisipasi. Alih-alih menjadi milik warga, KUD menjelma menjadi milik segelintir elite lokal, kehilangan semangat koperasi sejati yaitu dari anggota, oleh anggota, untuk anggota. 😬

Pengelolaan yang tidak profesional, SDM yang belum siap dan paham Koprasi, intervensi politik, rendahnya literasi keuangan, dan budaya “asal jadi” menyebabkan sebagian besar KUD kolaps atau tinggal papan nama. Kegagalan ini bukan sekadar teknis, tapi mencerminkan ketidaksiapan ekosistem desa dalam mengelola badan usaha milik bersama ini. Itulah KUD yang pernah kita kenal. Dahulu saat saya masih berusia 14 tahun KUD adalah salah satu perusahaan besar yang berdiri megah di desa saya, bagaimana tidak hasil hasil pertanian, simpan pinjam sampai kepada distribusi hasil hasil bumi di tampung oleh KUD. Namun menjelang tahun 2000an dalam beberapa kasus, dijalankan lebih sebagai alat politik daripada alat ekonomi rakyat.

Sekarang, dengan munculnya ide Koperasi Merah Putih, pertanyaannya sederhana tapi mendalam yaitu siapa yang akan menjalankan? Apakah masyarakat desa hari ini sudah cukup memahami nilai-nilai koperasi? Sudahkah para pemuda desa disiapkan untuk menjadi manajer yang transparan dan profesional? Apakah akan ada sistem pengawasan yang mencegah kesalahan lama terulang?

Bicara tentang koperasi, tidak bisa tidak, kita harus menyebut nama Bung Hatta. Ia bukan hanya Bapak Koperasi Indonesia secara gelar, tapi juga secara pemikiran. Baginya, koperasi adalah gerakan moral. Sebuah sistem yang lahir dari solidaritas, bukan dari subsidi. Sebuah alat perjuangan, bukan alat pencitraan.

Koperasi Merah Putih seharusnya berakar dari pemikiran itu. Ia bukan sekadar nama nasionalis, tapi konsep etis. Jika Bung Hatta hidup hari ini, mungkin beliau akan bertanya, “Apakah koperasi ini didirikan dengan semangat perjuangan atau hanya mengejar proyek?” Dan ini pertanyaan yang layak kita renungkan sebelum bicara soal pendanaan dan struktur.

Untuk menjawab “siapkah desa?”, kita harus mulai dari akar nya seperti, Edukasi koperasi di sekolah desa dan forum warga, Regenerasi kepemimpinan koperasi yang transparan, profesional, dan muda.
Membuat sistem digitalisasi pencatatan dan pelaporan koperasi, Kolaborasi antara koperasi, BUMDes, dan pelaku ekonomi lokal dan pendampingan berkelanjutan, bukan hanya pelatihan sekali jalan

Pendirian koperasi seharusnya seperti menanam pohon, harus ada tanah yang subur, benih yang baik, dan petani yang sabar. Tanpa itu semua, pohon itu akan layu sebelum berbuah.

Dalam konteks sekarang, di mana desa dihadapkan pada tantangan digitalisasi, perubahan iklim, dan urbanisasi, pertanyaan berikutnya muncul: bagaimana koperasi bisa tetap relevan? Di mana posisi koperasi di tengah dominasi pasar bebas dan platform digital yang masuk hingga pelosok desa dengan tanpa keterbatasan akses informasi.

Jika koperasi masih ingin menjadi tulang punggung ekonomi desa, maka harus berani beradaptasi. Belajar dari kegagalan KUD bukan berarti alergi terhadap koperasi, tetapi berarti membenahi dari akarnya. Menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat. Memastikan bahwa koperasi bukan hanya papan nama, tetapi benar-benar menjadi rumah bersama untuk tumbuh.

Ingat jangan hanya nama yang berganti

Apakah kita benar-benar siap?
Ataukah ini hanya repackaging dari model lama yang gagal?
UKoperasi Merah Putih bisa menjadi jalan keluar, tapi juga bisa menjadi jebakan baru jika tidak dibarengi dengan perubahan cara berpikir. Mari jangan hanya bermimpi tentang ekonomi kerakyatan, tapi mulai membangunnya dengan cerdas, sabar, dan berani belajar dari masa lalu.

Bila desa ingin bangkit, koperasi harus dimulai bukan dari papan nama di kantor, tapi dari kesadaran di hati warganya kumpulkan mereka yakinkan akan ekonomi koprasi desanya ajak mereka menjadi anggota.

**Segala bentuk judul dan isi opini merupakan tanggungjawab mutlak penulis

Sosialisasi UCJ BPJS Ketenagakerjaan, Ra Fahmi, Ajak Peningkatan Angka Coverage untuk Kesejahteraan Pekerja dan Masyarakat

Probolinggo, Berdampak.net – Sosialiasi Optimalisasi Universal Coverage Jaminan Sosial / UCJ Ketenagakerjaan di Kabupaten Probolinggo yang di selenggarakan oleh BPJS ketenagakerjaan di aula madakaripura (28/05/2025) di hadiri dan di buka langsung oleh wakil bupati Probolinggo KH Fahmi AHZ. Dalam sambutan nya Ra Fahmi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sosialisasi ini untuk mendukung program SAE terkait peningkatan kesejahteraan di kabupaten Probolinggo dan bentuk upaya dalam memastikan kepatuhan dan kepastian jaminan fasilitas sesuai regulasi di lakukan oleh perusahaan di Probolinggo.

Tidak hanya itu Ra Fahmi juga menyampaikan bahwa dengan memastikan hak dan kewajiban dari pekerja dan pengusaha secara seimbang maka harapannya kondisi ketenagakerjaan di Probolinggo harmonis dalam mendukung terciptanya investasi di Probolinggo .

Dalam kesempatan ini juga di berikan penghargaan 3 perusahaan Terbaik terkait kepatuhan kepada jaminan ketenagakerjaan yaitu : Peringkat pertama PT Paiton Operations and Maintenace Indonesia (POMI) dan Peringkat 2. Dharma Sukses Niaga serta Peringkat 3. RS.Rizani . Dalam momen yang sama Ra Fachmi juga menyerahkan santunan kepada 3 ahli waris dari perwakilan karyawan di Probolinggo yang meninggal dunia .

Acara yang di lanjutkan oleh pemaparan oleh kepala dinas tenaga kerja Dr Anang Budi Yoelijanto, ketua Apindo kabupaten Probolinggo Rochman Hidayat dan kepala BPJS ketanagakerjaan bapak Nur Rahman yang mengenalkan lebih lanjut terkait program , manfaat dan gambaran kedepan dalam bidang ketenagakerjaan. (rh)

Calon PKC PMII Jatim, Abdur Razak Bawa Visi Bergerak dan Mengabdi

Surabaya, Berdampak.bet – Hajatan demokrasi pemilihan Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) dan Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bakal digelar.

Pelbagai sosok calon mulai mendaftarkan diri. Salah satunya adalah Abdur Razak. Kader potensial PMII Cabang Probolinggo itu membawa visi “Bergerak dan Mengabdi”. Razak menawarkan arah baru kepemimpinan yang memadukan kekokohan ideologi dengan terobosan strategis berbasis digital serta kemandirian ekonomi.

Razak mengaku ikhtiar untuk turut mengikuti kontestasi tersebut bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab moral sebagai kader yang lahir dari rahim pergerakan. Ia menegaskan PMII Jawa Timur tak hanya butuh pemimpin yang paham sejarah.

“Tapi juga siap merespons tantangan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tegasnya.

Visi “Bergerak dan Mengabdi” menjadi semangat utama dari lima misi besar yang ia tawarkan kepada PMII Jawa Timur. Pertama, Razak berkomitmen mengembalikan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai pondasi utama gerakan.

“PMII harus kembali pada khittah-nya sebagai gerakan intelektual yang religius dan progresif. Tanpa pijakan ideologis yang kokoh, arah gerakan kita akan mudah goyah,” katanya.

Kedua, ia merancang peta jalan kaderisasi (roadmap kaderisasi) yang fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas kader. Sistem kaderisasi yang ia tawarkan bersifat berjenjang, dinamis, dan kontekstual.

“Sudah saatnya kaderisasi tidak hanya jadi ritual formal. Kita butuh sistem yang mampu menjawab tantangan sosial di setiap lapisan masyarakat,” tutur Razak.

Ketiga, ia menawarkan tata kelola organisasi yang modern dan akuntabel melalui digitalisasi. Menurutnya, transformasi digital adalah keniscayaan yang harus dimanfaatkan secara strategis.

“PMII harus hadir dalam ruang digital sebagai kekuatan intelektual dan gerakan sosial. Bukan hanya eksis, tapi juga memimpin narasi,” ujarnya.

Keempat, ia mengusulkan optimalisasi advokasi berbasis pendampingan dan riset partisipatif. Hal ini ia anggap penting untuk membangun budaya intelektual dan kepekaan sosial yang lebih membumi.

“Kita harus turun ke bawah, mendengar langsung suara rakyat. PMII tidak boleh kehilangan keberpihakan,” ungkapnya.

Terakhir, Razak menggagas pembangunan ekonomi alternatif sebagai bentuk ikhtiar kemandirian organisasi.

“Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mandiri. Kita tidak bisa terus bergantung pada donatur. PMII harus punya ekosistem ekonomi sendiri, berbasis potensi kader,” tandasnya.

Pencalonan Abdur Razak mendapat sambutan positif dari berbagai elemen kader dan alumni PMII di sejumlah cabang Jawa Timur. Banyak yang menilai kehadiran Razak menawarkan semangat pembaruan tanpa meninggalkan akar tradisi.

Dengan latar belakang kepemimpinan yang matang di tingkat cabang dan rekam jejak pengabdian yang konsisten, Razak hadir bukan hanya sebagai calon ketua, melainkan simbol harapan baru.

“Saya tidak datang membawa janji, saya datang membawa kerja. Jika amanah ini diberikan, maka seluruh daya dan upaya akan saya kerahkan untuk memajukan PMII Jatim,” pungkasnya.

Pesantren Walisongo Gelar Acara Dzikir, Sholawat, dan Tasyakuran di Rowotengah, Jember

Jember, Berdampak.net – Yayasan Pondok Pesantren Walisongo Rowotengah-Sumberbaru menggelar acara Walisongo Bershalawat dalam rangka dzikir, tausiyah, dan do’a bersama, yang terbuka untuk umum. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat malam hingga Sabtu, 30-31 Mei 2025, bertempat di halaman Gedung Bersama MA Walisongo & SMK 09 Ma’arif NU, samping Kantor Balai Desa Rowotengah.

Acara ini akan dimeriahkan oleh Majelis Sholawat Al-Wishol serta para tokoh ulama dan habib. Pada pagi harinya, akan digelar acara khusus bertajuk Tasyakuran & Do’a Bersama yang hanya diperuntukkan bagi tamu undangan, dengan menghadirkan Dr. KH. Akh. Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si., motivator nasional sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir Al Afkar Kota Malang.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Walisongo dan didukung oleh berbagai lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan setempat. (fj)

Wabup Ra Fahmi Tinjau Langsung Pelayanan dan Potensi Ekonomi di Kecamatan Maron

Probolinggo, Berdampak.net – Wakil Bupati Probolinggo, Ra Fahmi AHZ, kembali turun ke lapangan untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat. Kali ini, Wabup berkantor di Kecamatan Maron, melakukan serangkaian agenda penting yang menyentuh berbagai sektor pelayanan dan potensi ekonomi desa.

Kegiatan dimulai dengan dialog bersama warga setempat, guna menyerap aspirasi dan menyampaikan program-program pembangunan daerah. Selanjutnya, Wabup Ra Fahmi meninjau peternakan milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Puspan. Peternakan ini dinilai sebagai salah satu contoh pengelolaan potensi desa yang produktif dan berkelanjutan.

Dalam sektor kesehatan, Wabup juga menyempatkan diri mengunjungi Puskesmas Suko. Ia memastikan layanan berjalan optimal serta meninjau rencana relokasi fasilitas kesehatan tersebut demi peningkatan layanan kepada masyarakat.

Di Balai Desa Suko, Wabup berdiskusi langsung dengan para petani terkait pengembangan pertanian Edamame dan Okra. Diskusi ini menjadi upaya untuk mendorong inovasi dan diversifikasi hasil pertanian lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Langkah kecil yang kami yakini membawa perubahan besar,” ujar Ra Fahmi AHZ usai kegiatan.

Kehadiran langsung Wabup di tengah masyarakat menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk terus mendekatkan layanan dan mempercepat pembangunan berbasis potensi lokal. (fj)