Penguatan Peran Humas, Pesantren Nurul Jadid Gelar Upgrading Bertema “Humas dan Personal Branding”

Probolinggo, Berdampak.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan tata kelola informasi dan komunikasi publik dengan menggelar kegiatan upgrading kehumasan, Sabtu (24/05/2025), bertempat di ruang rapat utama pesantren.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Sub Bagian Humas dan Infokom Pesantren Nurul Jadid dan diikuti oleh para staf humas dari unit-unit pendidikan serta lembaga internal pesantren. Tema yang diangkat adalah “Humas dan Personal Branding”, yang relevan dengan kebutuhan dunia komunikasi modern.
Ponirin Mika, Kepala Sub Bagian Humas dan Infokom, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan para praktisi humas di lingkungan pesantren.

“Institusi humas di pesantren sangat urgen dalam menjembatani keinginan pesantren dan publik, begitu juga sebaliknya. Maka penting bagi kita untuk memahami ilmu public relation secara mendalam,” ujar Ponirin.

Ia menekankan bahwa branding lembaga tak lepas dari kemampuan humas dalam mengelola pesan, membangun jejaring, dan menciptakan citra positif di tengah masyarakat. Humas adalah ujung tombak citra institusi.

Lebih lanjut, Ponirin menyebut bahwa humas tidak hanya bekerja di balik layar, tetapi juga menjadi wajah pesantren dalam ruang publik—baik secara daring maupun luring.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula narasumber utama, Dr. Rochman Hidayat, Kepala SDM PT POMI Paiton, yang memberikan materi penguatan kapasitas humas dalam membangun komunikasi strategis dan branding institusional. Dr. Rochman menegaskan bahwa kemampuan humas dalam membentuk persepsi publik sangat menentukan kualitas interaksi pesantren dengan stakeholder-nya.

“Citra sebuah lembaga, apakah baik atau tidak, sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam mengelola informasi publik secara cerdas dan profesional,” terangnya di hadapan para peserta.
Menurutnya, peran public relation (PR) bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penghubung strategis antara lembaga dan masyarakat luas. PR harus mampu menyusun narasi, mengelola krisis, serta menjangkau akar rumput secara efektif.

Ia juga menyoroti perbedaan mendasar antara perusahaan dan pesantren. Jika di perusahaan tidak ada tokoh sentral, maka di pesantren, posisi kiai menjadi sentral dalam komunikasi kelembagaan

“Di pesantren, keberadaan kiai adalah bagian dari identitas lembaga. Maka humas harus bisa menyinergikan peran tersebut dalam membentuk komunikasi yang kuat dan bernilai,” ujar Dr. Rochman

Humas, lanjutnya, harus mampu mengajak mitra eksternal untuk berkontribusi membangun citra lembaga. Ini mencakup kerja sama media, sinergi dengan tokoh masyarakat, serta membangun kepercayaan publik.

Dr. Rochman juga mengingatkan pentingnya kemampuan menjawab dan merespons pertanyaan publik secara cepat, cermat, dan akurat. “Respons cepat itu bagian dari reputasi,” tegasnya.
Dalam materinya, ia menguraikan aspek-aspek penting dalam tugas kehumasan: society engagement, pemberitaan, pengelolaan media sosial, iklan, komunikasi massa, manajemen acara (event management), publikasi, informasi publik, dan hubungan masyarakat (community relation).
Peserta upgrading juga diberikan simulasi tentang bagaimana membangun personal branding sebagai representasi profesionalisme humas, termasuk cara berpakaian, berkomunikasi, serta etika menyampaikan informasi.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi antar peserta tentang tantangan humas di lingkungan pesantren, termasuk dinamika komunikasi dengan wali santri, stakeholder pendidikan, dan publik luas. Upgrading ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan humas yang adaptif, profesional, dan mampu mengikuti arus perkembangan teknologi informasi serta tantangan komunikasi publik era digital.

Ponirin berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan secara berkelanjutan agar humas di lingkungan pesantren tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi pilar penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap pesantren. Dengan kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menegaskan visinya sebagai lembaga yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan keagamaan, tetapi juga dalam pengelolaan komunikasi publik yang strategis dan berkelanjutan. (pm)

PC Pergunu Kraksaan Masa Khidmat 2025–2030 Resmi Dilantik

Probolinggo, Berdampak.net – Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kraksaan masa khidmat 2025–2030 resmi dilantik pada Selasa, 20 Mei 2025. Prosesi pelantikan berlangsung di Aula Kampoeng Kita, Probolinggo, Jawa Timur, dan dihadiri sejumlah tokoh penting serta tamu undangan dari berbagai kalangan.

Acara pelantikan dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH Ahmad Muzammil, M.Pd., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Gerindra K. Moh. Mahrus, serta perwakilan Pengurus Wilayah (PW) Pergunu Jawa Timur, Syamsul Anam. Sebanyak 108 tamu undangan turut memeriahkan agenda tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pelaksana Ernawiyadi, M.Pd., menyampaikan harapan agar PC Pergunu Kraksaan terus bergerak maju di bawah bimbingan dan sinergi dengan Pimpinan Wilayah. Ia menegaskan bahwa Pergunu merupakan wadah strategis bagi para pendidik Nahdlatul Ulama untuk mengembangkan kapasitas dan ide-ide inovatif dalam dunia pendidikan.

“Hal ini tercermin dari kualitas sumber daya manusia dalam kepengurusan, yang didominasi lulusan S1, S2, hingga S3. Kami optimistis, dengan ide-ide kreatif di bidang pendidikan, Pergunu akan terus melangkah maju,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan PW Pergunu Jawa Timur, Syamsul Anam, menekankan bahwa pelantikan bukan hanya seremoni, melainkan awal dari komitmen dan tanggung jawab besar dalam mengabdi kepada pendidikan di lingkungan NU.

“Menjadi bagian dari Pergunu tidak cukup hanya dibanggakan. Yang utama adalah membangun komunikasi dan sinergi yang kuat dengan PCNU, Syuriyah, Tanfidziyah, dan seluruh perangkat organisasi NU lainnya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program kerja Pergunu sangat bergantung pada kolaborasi dengan lembaga-lembaga NU seperti LP Ma’arif NU yang mengelola pendidikan formal serta Muslimat NU yang fokus pada pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Tekad dan semangat untuk maju bersama menjadi kekuatan besar dalam membangun NU di tengah masyarakat,” tambahnya.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan, KH Ahmad Muzammil, M.Pd., dalam kesempatan yang sama, mendorong PC Pergunu untuk segera merealisasikan program pengkaderan bagi guru-guru NU sebagai prioritas. Menurutnya, penguatan kapasitas dan pemahaman ideologis para guru sangat penting untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA).

“Tanggung jawab guru tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga membina dan memperkuat pemahaman keislaman di kalangan guru sendiri,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya bimbingan antarguru dalam memahami akidah, agar nilai-nilai itu tidak terputus dan terus diwariskan kepada peserta didik.

“Kalau gurunya tidak memahami akidah dengan baik, bagaimana mungkin anak didiknya bisa menjadi penerus gerakan Ahlussunnah wal Jamaah?” pungkasnya. (fiq)

Dari Kritik ke Aksi: Anak Muda, Rebut Kembali Makna Politik

Oleh: Ponirin Mika – Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Di tengah derasnya arus informasi dan membesarnya ketidakpercayaan publik terhadap elite politik, satu hal yang tak bisa dibantah: politik tetap menjadi ruang paling strategis dalam menciptakan perubahan. Sayangnya, ruang ini terlalu lama ditinggalkan oleh generasi muda. Mereka lebih memilih mengkritik dari kejauhan ketimbang masuk dan membersihkan dari dalam. Kini saatnya mengubah haluan. Saatnya anak muda berpolitik.

Politik bukanlah kata kotor. Ia hanya sering dikotori oleh tangan-tangan rakus yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menindas, bukan membebaskan. Padahal, politik sejatinya adalah seni mengelola keadilan sosial. Ia adalah cara paling terstruktur untuk memperjuangkan hak yang sama bagi semua warga negara.
Kita tidak bisa berharap perubahan akan datang dari mereka yang telah nyaman di kursi kekuasaan. Anak muda harus hadir, tidak hanya sebagai suara protes, tapi sebagai aktor utama dalam membentuk kebijakan. Bila kita menginginkan masa depan yang adil dan beradab, maka generasi muda harus mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.

Sudah terlalu lama kita menyerahkan ruang politik pada mereka yang memandang kekuasaan sebagai harta warisan. Padahal, politik adalah milik semua. Termasuk milik mereka yang baru mengenal idealisme dan keinginan untuk melihat negeri ini lebih baik. Anak muda memiliki energi, keberanian, dan mimpi besar—tiga bahan dasar dalam membangun perubahan.
Banyak anak muda hari ini lebih akrab dengan aktivisme digital. Mereka lantang di media sosial, aktif dalam gerakan sosial, dan cepat merespons ketimpangan. Tapi perubahan sejati tidak cukup berhenti di layar ponsel. Ia harus dibawa ke ruang-ruang kebijakan, ke meja legislatif, dan ke kantor-kantor pemerintahan.
Politik bukan sekadar pencalonan diri saat pemilu. Ia adalah kerja panjang yang melibatkan strategi, etika, dan keberpihakan pada rakyat. Politik adalah soal mendengar suara-suara yang tak terdengar, dan menjadikannya kebijakan yang berpihak pada keadilan. Itulah sebabnya anak muda harus mulai mempersiapkan diri, bukan menjauh.

Anggapan bahwa politik kotor hanya akan terus hidup jika orang-orang baik menjauhinya. Jika anak muda terus meminggirkan diri, maka ruang politik akan terus dikuasai oleh mereka yang menjadikan jabatan sebagai ladang bisnis dan relasi kuasa. Maka, masuklah. Dan bersihkan dari dalam.
Anak muda tidak harus menunggu “tua” untuk masuk politik. Justru pada usia mudalah energi perlawanan dan kreativitas tertinggi bisa dimanfaatkan. Lihatlah sejarah—banyak revolusi besar lahir dari ide dan keberanian anak-anak muda yang tidak takut salah, dan tidak takut gagal.
Ketika anak muda memilih untuk apatis, maka ia sedang membiarkan keputusan penting tentang masa depan ditentukan oleh mereka yang belum tentu memikirkan masa depan itu sendiri. Diamnya anak muda adalah dukungan diam-diam terhadap status quo.
Kita butuh lebih banyak pemuda yang berani turun ke lapangan, belajar politik dari akar rumput, dari penderitaan rakyat, dari suara buruh, nelayan, petani, dan guru di desa-desa. Bukan belajar politik dari lobi hotel dan pesta-pesta elit.

Politik yang membumi itulah yang akan menyelamatkan bangsa ini dari jurang kesenjangan.
Jika politik adalah pisau, maka siapa yang memegangnya akan menentukan apakah ia menjadi alat memasak atau alat melukai. Maka mari rebut pisau itu. Peganglah dengan tangan bersih dan hati yang jernih. Gunakan untuk menyuapi rakyat dengan kebijakan yang adil.
Sudah saatnya politik dimaknai kembali sebagai ruang pengabdian. Tempat di mana ide besar dijalankan dengan keberanian moral, bukan hanya dengan hitungan elektoral. Dan tidak ada kelompok yang lebih siap membawa semangat itu selain generasi muda.
Kita sudah bosan dengan politik transaksional. Kita butuh politik yang visioner. Politik yang mampu memandang masa depan dan berani membuat keputusan meski tidak populer. Anak muda tidak punya beban masa lalu. Mereka hanya punya harapan.

Inilah saatnya kita berhenti menjadi penonton dalam drama politik nasional. Anak muda harus menjadi sutradara yang menulis skenario baru untuk bangsa ini. Sebuah naskah tentang keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan.
Bukan berarti perjuangan akan mudah. Tapi inilah jalan paling mulia. Jalan politik yang ditapaki oleh mereka yang ingin melihat bangsa ini berdiri tegak tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Jalan panjang, tapi layak diperjuangkan.
Berpolitik bukan berarti melupakan idealisme. Justru dengan idealismelah politik dibersihkan dari pragmatisme. Politik bukan soal kompromi yang kotor, tapi soal merumuskan cara terbaik agar semua warga bisa hidup layak.
Anak muda yang cerdas harus berani masuk partai, mengubah dari dalam, atau membangun partai alternatif yang lebih bersih. Anak muda harus berani mencalonkan diri di pemilu, bukan sekadar menjadi tim sukses. Harus berani bersuara di parlemen, bukan hanya di kafe atau kolom komentar.
Bayangkan jika semua anak muda terbaik bangsa ini memilih diam, apatis, dan menjauh dari panggung politik. Maka selamanya panggung itu akan diisi oleh mereka yang bermain untuk diri sendiri, bukan untuk rakyat.

Karena itu, mari ubah cara pandang kita. Politik bukan kubangan lumpur. Ia bisa jadi taman harapan jika kita mau menanaminya dengan niat baik. Dan anak muda adalah benih terbaik untuk menumbuhkan pohon keadilan itu.
Politik bukan jalan kotor jika ditempuh dengan niat tulus. Maka, jangan takut berpolitik. Justru takutlah jika ruang politik dibiarkan kosong dari nilai-nilai luhur. Dan generasi mudalah yang harus datang membawa nilai itu.

Segala bentuk judl dan isi dari Opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis

Lagu “Cantik” Buat Pengunjung Terhanyut dalam Melodi, di Bromo Sunset Music and Culture 2

Probolinggo, Berdampak.net – Kabut tipis turun perlahan menyelimuti Amphitheater Seruni Point, Sabtu (17/5/2025) sore. Semburat jingga senja beradu dengan rintik hujan yang jatuh malu-malu, menciptakan suasana syahdu di panggung Bromo Sunset Music and Culture 2.

Di tengah atmosfer penuh kehangatan itu, DPM Project Band asal Probolinggo, membawakan lagu legendaris Kahitna “Cantik” sebagai lagu ketiga dalam setlist mereka.

Dengan formasi Faris Fahrusi (gitar), Radite Purnomo (bass), Rudi (drum), Diva (vokal), dan Zacky (keyboard), DPM Project menyulap lagu lawas tersebut menjadi persembahan romantis di kaki Gunung Bromo. 

Iringan keyboard Zacky membuka tembang itu dengan lembut, diikuti petikan gitar Faris yang mendayu. Saat Diva mulai menyanyikan bait, “Ingin rasa hati berbisik, untuk melepas keresahan dirimu, oh cantik…” suasana pun seolah larut dalam rindu.

Bukan sekadar nostalgia, lagu “Cantik” menjadi pengikat rasa antara penonton, pegunungan, dan musik. Penonton tampak larut, beberapa menyandarkan kepala ke bahu pasangan, yang lain menutup mata menikmati melodi.

“Kalau mentari bisa terbit di utara, maka cinta pun bisa hadir di tempat dan waktu yang tak biasa. Lagu ini cocok banget dinyanyikan di sini,” ucap Diva, Sabtu (17/5/2025).

Salah satu penonton, Alexander, pria asal Malang yang mengaku sudah lebih dari 10 kali naik ke Bromo, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemasan acara.

“Biasanya saya ke Bromo buat liat sunrise. Tapi ini beda banget. Musiknya, kabutnya, rintiknya hujan, lengkap sudah. Lagu ‘Cantik’ barusan benar-benar bikin merinding,” ujar Alexander yang datang bersama rekannya dari BNI.

Acara Bromo Sunset Music and Culture 2 sendiri merupakan bagian dari rangkaian promosi wisata budaya dan musik yang digelar rutin untuk menghidupkan kawasan wisata Gunung Bromo, khususnya di kawasan Seruni Point. Event ini dikemas apik oleh Bright Pantura, event organizer yang dikenal piawai meramu elemen seni, musik, dan keindahan alam menjadi satu kesatuan pengalaman yang tak terlupakan. Tak hanya sebagai pengisi acara, DPM Project menunjukkan kapasitas sebagai band lokal yang siap tampil di panggung nasional.

Dengan musikalitas lintas genre dan penampilan yang energik namun peka suasana, mereka berhasil menjembatani antara keindahan alam dan romantisme musik.

Lebih dari sekadar hiburan, gelaran ini juga menjadi salah satu strategi promosi unggulan yang diusung Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata atau Dinasporapar Kabupaten Probolinggo untuk memperkenalkan potensi wisata daerah secara lebih luas.

Hujan belum juga reda. Tapi di tengah rintik, rindu, dan lagu, satu hal terasa nyata, Bromo tak hanya tentang lanskap yang megah, tapi juga tentang rasa yang hidup seperti lagu “Cantik” yang mengalun di amfiteater alam itu. (*)

Sumber https://www.bromotoday.id/

Menghidupkan Gerakan Politik Islam

Oleh: Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Dalam lintasan sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang rasul yang membawa risalah keagamaan, tetapi juga seorang negarawan ulung. Ia mendirikan negara Madinah dengan prinsip keadilan, musyawarah, dan toleransi antargolongan. Maka, menghidupkan gerakan politik Islam bukanlah inovasi baru, melainkan melanjutkan mata rantai perjuangan kenabian.

Politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ikhtiar untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Pemikir klasik seperti Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah menegaskan bahwa imamah (kepemimpinan) adalah kewajiban agama untuk menjaga tatanan dunia agar selaras dengan syariat.

Sayyid Quthb, pemikir kontemporer, menegaskan bahwa Islam adalah sistem hidup total yang tak dapat dipisahkan antara aspek spiritual dan sosial-politik. Menurutnya, Islam datang untuk menghapus tirani dan menegakkan keadilan, sehingga politik adalah sarana menuju tujuan Ilahiah.

Namun, penting untuk membedakan antara politik yang Islami dengan politik yang sekadar berlabel Islam. Politik yang Islami menjunjung etika, kejujuran, dan tanggung jawab. Sebaliknya, politik yang menghalalkan segala cara adalah penyimpangan dari nilai-nilai Islam.

Ibn Khaldun menyebut negara sebagai institusi yang tumbuh dari naluri sosial manusia. Menurutnya, kekuasaan bukan sekadar alat dominasi, melainkan amanah yang menuntut pertanggungjawaban moral. Di sinilah urgensi gerakan politik Islam yang mengedepankan moralitas.

Di masa kini, gerakan politik Islam sering dipersempit hanya pada simbol dan jargon keagamaan, bukan pada substansi. Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Fazlur Rahman, esensi Islam terletak pada keadilan sosial dan reformasi moral.

Politik Islam bukanlah politik identitas yang eksklusif, tetapi politik peradaban. Prof. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa Islam sebagai nilai harus mampu mewarnai demokrasi, bukan mengungguli atau mengganti sistem demokrasi dengan kekuasaan teokratis tertutup.

Karenanya, menghidupkan gerakan politik Islam adalah menghidupkan nilai-nilai Qur’ani dalam ruang publik: amanah, adil, dan transparan. Nilai-nilai ini bisa hidup dalam institusi demokratis selama para pelakunya konsisten pada prinsip etis Islam.

Partisipasi umat Islam dalam politik tidak bisa ditawar. Al-Ghazali menyebutkan dalam Al-Iqtishad fi al-I’tiqad bahwa kerusakan politik akan menyeret kerusakan agama, karena keduanya saling berkelindan. Maka, apatisme politik dalam Islam adalah bentuk kezaliman terhadap diri dan umat.

Dalam konteks Indonesia, gerakan politik Islam harus bersifat inklusif dan merangkul. Islam adalah rahmat bagi semesta, bukan hanya untuk umat Islam. Prinsip ini menjadi fondasi penting agar gerakan politik Islam tidak terjebak dalam eksklusivisme sempit.

Kembali pada jejak Nabi, kita melihat bahwa Piagam Madinah adalah contoh awal konstitusi politik inklusif. Di sana, umat Islam, Yahudi, dan suku-suku lain hidup berdampingan dalam sistem pemerintahan yang saling menghormati hak dan kewajiban.

Tugas gerakan politik Islam hari ini adalah menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi, dan berpihak pada rakyat kecil. Ini sesuai dengan maqashid syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Harus diakui, sebagian gerakan Islam pernah gagal karena menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan sebagai amanah. Hal ini dikritik keras oleh Ali Shariati, yang melihat bahaya ketika agama dikomodifikasi untuk kepentingan politik sesaat.

Gerakan politik Islam seharusnya menjadi pendorong transformasi sosial yang berkelanjutan, bukan sekadar mesin elektoral. Ia harus menyiapkan kader yang intelektual, spiritual, dan organisatoris, yang sanggup menjadi pelayan umat, bukan penguasa umat.

Menurut Rachid Ghannouchi, pemimpin Ennahda di Tunisia, Islam dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Demokrasi adalah alat, bukan musuh Islam, selama digunakan untuk menegakkan keadilan, memberi ruang pada kritik, dan melindungi hak semua warga negara.

Dalam praktiknya, gerakan politik Islam harus menjauhi fanatisme golongan. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang mengajak pada ‘ashabiyyah” (fanatisme kelompok). Artinya, politik Islam harus melampaui sekat-sekat ideologis sektarian.

Pendidikan politik umat juga menjadi bagian penting. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Hasan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, bahwa dakwah politik harus dimulai dengan tarbiyah (pembinaan) individu, keluarga, masyarakat, lalu negara.

Maka, orientasi utama gerakan politik Islam adalah perbaikan menyeluruh (islah) dalam bingkai nasionalisme dan kemanusiaan. Ini bukan agenda kekuasaan, tapi agenda pembebasan manusia dari kezaliman, kemiskinan, dan kebodohan.

Gerakan ini harus menjawab tantangan zaman: ketimpangan sosial, krisis moral, kerusakan lingkungan, serta alienasi generasi muda dari nilai-nilai spiritual. Politik Islam hadir bukan untuk nostalgia kejayaan masa lalu, tetapi untuk memberi solusi masa depan.

Kini saatnya gerakan politik Islam bangkit dalam wajah baru—bukan sebagai momok atau ancaman, tetapi sebagai energi perubahan. Islam adalah rahmat. Dan politik Islam yang sejati adalah politik yang membawa rahmat: bagi bangsa, bagi sesama manusia, dan bagi dunia.

segala bentuk judl dan isi Opini merupakan tanggungjawab mutlak penulis

Partai Gelora: Partai Masa Depan Anak Muda

Oleh: Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Probolinggo- Perjalanan demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran partai politik. Sejak kemerdekaan, partai-partai politik telah menjadi wadah perjuangan aspirasi rakyat. Dari era perjuangan kemerdekaan hingga masa Reformasi, partai politik terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan politik bangsa.

Namun, dari masa ke masa, masyarakat kerap menunjukkan sikap kritis terhadap partai politik. Banyak yang menilai bahwa partai hanya aktif saat pemilu tiba, kurang memperjuangkan kepentingan rakyat secara konsisten, dan cenderung elitis.
Kepercayaan masyarakat terhadap partai politik mengalami pasang surut. Di era digital seperti saat ini, publik—terutama generasi muda—semakin menuntut transparansi, kejujuran, dan aksi nyata dari para politisi. Sayangnya, masih banyak partai politik yang belum mampu menjawab tantangan tersebut.
Munculnya sikap skeptis dan apatis terhadap dunia politik menjadi indikator bahwa ada yang perlu diubah dalam sistem dan pendekatan politik di Indonesia.

Dibutuhkan partai politik yang mampu menjadi jembatan harapan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap masa depan bangsa.
Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) hadir dengan semangat baru untuk menjawab tantangan zaman. Lahir dari gagasan perubahan dan pembaruan, Partai Gelora membawa visi besar: menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia. Untuk mewujudkan visi ini, Gelora menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi nasional, dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Partai Gelora tidak hanya menawarkan platform politik, tetapi juga membangun gerakan sosial dan edukatif yang menyentuh lapisan masyarakat bawah hingga atas. Kami percaya bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tentang pelayanan dan kontribusi nyata bagi rakyat.
Salah satu kekuatan utama Gelora adalah komitmennya terhadap keterlibatan generasi muda. Anak muda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga aktor utama perubahan hari ini. Karena itu, Partai Gelora membuka ruang seluas-luasnya bagi kaum muda untuk terlibat, belajar, berinovasi, dan bahkan menjadi pemimpin.

Kami mendorong hadirnya kader muda yang visioner, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan kreatif serta berbasis solusi. Gelora menjadi rumah besar bagi para pemuda yang ingin berpolitik secara sehat, inklusif, dan membangun.
Di tengah krisis kepercayaan terhadap partai politik, Partai Gelora hadir sebagai alternatif yang segar dan penuh semangat. Kami mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama bergelora membawa perubahan positif bagi Indonesia.
Mari kita bangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Bersama Gelora, kita gelorakan semangat perubahan!

Ponirin Mika
Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo

Segala bentuk judul dan isi dari opini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.