Randutatah Menjaga Napas Pesisir (Ekowisata Berbasis Warga yang Menghidupkan Kembali Pesisir Probolinggo)
Oleh Ainur Rofiq
Probolinggo, Berdampak.net – Langit Randutatah pagi itu tak pernah sepi. Di sela-sela rimbunan pohon bakau, suara cekakak sungai bersahut-sahutan, bersaing dengan lengking raja udang biru yang melesat rendah di atas air. Di tempat ini, di ujung pesisir Probolinggo, alam masih bernapas, berkat tangan-tangan warga yang merawatnya sepenuh hati dan tanpa kenal lelah bersatu memadukan tujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir pantai.
Kawasan Konservasi Cemara Laut (casuarina equisetifolia) dan Mangrove Randutatah, atau akrab disebut Duta, kini menjadi oase hijau di tengah pesisir Jawa Timur yang makin padat. Didirikan tahun 2012, kawasan ini membentang seluas 75 hektare, menyatu dengan denyut hidup masyarakat yang perlahan belajar bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang.
Benteng Abrasi, Rumah Burung
Dulu, kawasan ini tergerus abrasi setiap tahun. Garis pantai terus mundur, meninggalkan cerita suram bagi warga pesisir. Tanah-tanah pertanian rusak, rumah-rumah nyaris tersapu gelombang. Namun segalanya mulai berubah ketika bibit bakau ditanam serentak, disusul Cemara Laut yang berjajar rapat di tepi pantai. Sejak itu, pesisir perlahan aman. Burung-burung yang sempat menghilang, kini kembali berseliweran di langit Randutatah.
Kini, lebih dari 30 jenis burung menjadikan kawasan ini rumah. Udara Randutatah dipenuhi sayap-sayap yang menari di atas rimbun bakau dan cemara laut. Raja udang biru (Alcedo atthis) kerap terlihat melesat cepat di atas air payau, mengejar ikan kecil di sela akar bakau. Bangau kecil (Egretta garzetta) berdiri tenang di tepian lumpur, menanti mangsa sambil menjaga keseimbangan di atas satu kaki. Sementara burung cekakak sungai (Todiramphus chloris) bersahut-sahutan dari pucuk dahan, memberi tanda bahwa kawasan ini bukan lagi tempat sunyi seolah menyambut setiap burung untuk hinggap bersautan saling menyapa nan bahagia.
Kembalinya burung-burung liar ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan sinyal ekologi yang penting. Mereka hadir karena rantai makanan kembali utuh, karena pohon-pohon kembali tumbuh, dan karena ruang hidup mereka tak lagi terganggu. Di mata warga dan wisatawan, keberadaan burung-burung itu menjadi bukti hidup bahwa ekosistem pesisir Randutatah telah pulih dan layak dirawat bersama.
Di atas lahan berlumpur yang dulunya kosong, kini tumbuh subur bakau Rhizophora mucronata yang mendominasi kawasan. Tanaman bakau ini mencengkeram kuat tanah seluas 50 hektare, menciptakan benteng hidup yang melindungi pesisir dari kikisan ombak. Menyusuri kawasan ini, pengunjung akan melewati jembatan kayu sepanjang 1,2 kilometer yang membelah rimbunan, menyaksikan langsung bagaimana akar-akar bakau menahan lumpur dan menjadi rumah bagi biota kecil seperti kepiting bakau dan udang.
Dari Konservasi ke Ekowisata
Di tengah hamparan hijau itu, Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) tumbuh menjulang, menjadi ikon kawasan sekaligus pelindung alami dari terpaan angin laut. Pohon-pohon ini tak hanya menyejukkan lanskap pesisir, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan masyarakat Randutatah yang perlahan bangkit dari keterpurukan. Kesadaran kolektif Masyarakat pesisir Randutatah telah dibuktikan dengan Gerakan Bersama menanam, merawat dan tidak tergoda dengan harapan semu yang merugikan dalam jangka Panjang yaitu menebang kayu pohon bakau yang berada di lahan konservasi tersebut.
Kini, kawasan ini tak sekadar ruang konservasi, melainkan saat ini telah menjelma menjadi destinasi ekowisata edukatif. Wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga ikut menanam bakau (kala itu), belajar mengenal jenis-jenis mangrove, hingga mengamati burung yang hilir mudik di sela dedaunan. Harapannya, setiap pengunjung pulang membawa lebih dari sekadar gambar di gawai, tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga alam yang merupakan tujuan edukasi itu sendiri yang secara langsung menggugah alam bawah sadar para wisatawan.
Maka upaya konservasi ini berjalan seiring dengan regulasi daerah yang mendukung. Pemerintah setempat menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Pesisir, memberi pijakan hukum yang kuat bagi masyarakat untuk mengelola kawasan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Menanam Harapan, Merawat Masa Depan
Bagi warga Randutatah, kawasan konservasi ini bukan sekadar hutan bakau atau deretan cemara laut di tepi pantai. Ia telah menjelma menjadi napas kehidupan yang menghidupi banyak sisi dari ekologi hingga ekonomi. Di bawah rindangnya, tumbuh peluang baru yang dulu tak pernah mereka bayangkan. Sebagian warga kini menggantungkan penghasilan dari jasa wisata lokal, mengelola perahu susur mangrove, membangun gazebo sederhana, hingga menyambut tamu dari berbagai kota yang ingin belajar tentang alam dan ketangguhan masyarakat pesisir.
Sisi lain kehidupan tumbuh dari pembibitan mangrove. Bibit-bibit muda dirawat dengan cermat di pembibitan swadaya warga, lalu dikirim ke daerah pesisir lain yang tengah berjuang melawan abrasi. Dari Randutatah, harapan menjalar ke banyak pantai di Jawa Timur. Pohon-pohon yang dulu ditanam dengan cemas, kini menjadi komoditas Lestari tak sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga ekologis. Mereka menjual perlawanan terhadap kerusakan lingkungan, dalam wujud yang paling sederhana: batang-batang muda pohon bakau.
Anak-anak muda pun tak tinggal diam. Mereka turun tangan, menjadi pemandu wisata, fasilitator edukasi lingkungan, hingga pengelola media sosial yang memperkenalkan wajah baru kampung mereka. Kampung pesisir yang dulunya nyaris tenggelam oleh abrasi dan tertinggal dalam pembangunan, kini ramai oleh kegiatan warga, kunjungan pelajar, dan pertemuan komunitas lingkungan. Di tangan mereka, konservasi bukan sekadar kegiatan musiman, tapi gerakan sosial yang menyatu dengan identitas kolektif.
Setiap musim tanam mangrove tiba, warga bersama pelajar dan relawan dari berbagai kota datang menyusuri lumpur. Mereka menancapkan bibit-bibit baru sambil tertawa, meski kaki tenggelam hingga betis. Di sini, pelajaran sederhana diwariskan lintas generasi: bahwa sebatang pohon bisa menjadi benteng, seekor burung yang kembali bisa jadi tanda, dan sehelai dedaun Cemara Laut bisa menjaga ribuan napas pesisir tetap hidup. Di Randutatah, warga tak hanya menanam pohon, mereka sedang menanam masa depan.
Di ujung hari, saat matahari mulai tenggelam perlahan di balik barisan Cemara Laut yang menjulang, kawasan ini seolah mengirim pesan diam. Tak dengan pidato panjang atau papan pengumuman, tetapi lewat desir angin, nyanyian burung, dan riak air pasang yang tenang. Pesan itu sederhana namun dalam: “bahwa merawat alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang tak bisa ditawar”. Di Randutatah Pantai duta, masyarakat sudah memahami bahwa ekowisata bukan sekadar bisnis, tetapi tujuan utama keberadaan kawasan konservasi yang lestari.
Wallahu A’lam Bisshowab.
Probolinggo 12 Mei 2025
