Bangkit Bersama, Mewujudkan Indonesia Kuat

Oleh Ainur Rofiq

Setiap tahun, tanggal 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu momentum penting: Kebangkitan Nasional. Tahun ini, tepat 117 tahun lalu, lahir semangat Boedi Oetomo yang menandai awal gerakan sadar bangsa untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan Imperialisme. Namun, kebangkitan yang sesungguhnya tak berhenti di sana. Kini, kita diajak bangkit bersama untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, merata, dan berkeadilan.
Tema “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat” bukan sekadar jargon politik atau slogan di spanduk yang terpasang di tembok, tiang papa reklame instansi, tiang papan jalan protokol. Ini adalah janji dan tugas yang harus kita pegang bersama, khususnya di tengah berbagai program strategis yang tengah dijalankan pemerintah hari ini.
Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam proses kebangkitan ini. Bayangkan sebuah Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang sepenuhnya gratis dan diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini bukan sekadar memberikan ilmu, tapi juga kesempatan untuk bermimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mengungkung. Ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa dan jaminan kemajuan serta kesejahteraan kedepan.
Dalam konteks ini, kita tak bisa melepas dari ajaran Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia mengingatkan kita bahwa:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya, pemimpin harus bisa memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Prinsip ini sangat relevan dalam upaya memperkuat sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Tak hanya pendidikan, pemerintah juga bergerak di sektor lain yang krusial: kesehatan, perumahan, dan pangan. Akses kesehatan yang gratis dan berkualitas diharapkan bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Perumahan bersubsidi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan hunian layak bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, serta memberikan kesempatan yang sama bagi para buruh untuk mendapatkan pemukiman yang layak dan terjangkau dengan upah yang diterima. Sementara itu, ketahanan pangan diperkuat dengan mendorong koperasi Merah Putih dan pelaksanaan Reforma Agraria.
Reforma Agraria bukan hanya soal pembagian tanah dan legalitas asetnya. Akan tetapi kebijakan serta pemaknaan yang lebih luas merupakan upaya membangun kedaulatan petani kecil, memastikan sumber daya dapat dinikmati secara adil, dan menumbuhkan ekonomi rakyat yang mandiri. Ini adalah bagian penting dari kebangkitan yang menghunjam ke akar rumput.
Prof. Arief Rachman, tokoh pendidikan yang juga mantan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menambahkan:
“Kebangkitan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi bagaimana mencerdaskan manusia agar merdeka dalam berpikir dan bertindak.”
Maka, kebangkitan nasional hari ini adalah “gerakan kolektif”. Gerakan yang menuntut kita bersama-sama memperbaiki layanan dasar, menjamin akses pendidikan dan kesehatan yang merata, dan menguatkan ekonomi rakyat. Indonesia kuat bukan hanya sekadar mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa kita capai jika semua pihak pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bersatu dalam semangat kebersamaan dan keadilan sosial.
Mari kita satukan langkah dengan penuh semangat dan keyakinan membangun Indonesia yang lebih baik. Sebuah negeri yang berkeadilan sosial, di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama meraih kesejahteraan. Indonesia yang bermartabat bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang harus kita raih bersama. Kebangkitan ini bukan sekadar mengenang masa lalu yang heroik. Melainkan sebuah panggilan untuk memperkuat fondasi masa depan bangsa.
Kebangkitan Nasional bukan pula sekadar peringatan sejarah yang rutin kita rayakan tiap tahun. Ia adalah momentum nyata untuk bertindak dan bergerak bersama membangun kemajuan. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada langkah kita hari ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangkit bersama, bersatu padu, untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Demi Indonesia yang kuat, adil, dan berdaulat sepenuhnya.
Wallahu A’lam Bisshowab
Malang 20 Mei 2025

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Kebangkitan Nasional: Hidup tanpa Medsos

oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST. ,MAP.,*

Dalam lanskap teknologi yang berkembang pesat saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, konsep” Kebangkitan Nasional ” atau Kebangkitan Bangsa dapat ditelaah melalui lensa kehidupan tanpa media sosial. Gagasan Kebangkitan Nasional erat kaitannya dengan semangat keterlibatan aktif dalam masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Ketika Indonesia mengalami kebangkitannya di awal abad ke-20 melalui gerakan-gerakan yang mengadvokasi kemerdekaan dari kekuasaan kolonial, peran komunikasi menjadi hal yang mendasar. Surat kabar dan pamflet mengedarkan gagasan dan menumbuhkan rasa persatuan di antara masyarakat. Saat ini, media sosial berfungsi sebagai mitra modern untuk media tradisional ini. Hidup tanpanya menginspirasi refleksi tentang bagaimana keterlibatan dan aktivisme dapat berkembang melalui cara yang lebih pribadi dan langsung, mirip dengan metode mobilisasi historis.

Mempertimbangkan dampak dari kehidupan bebas media sosial, bahwa hal itu dapat mengarah pada interaksi yang lebih bermakna. Tanpa gangguan notifikasi dan sifat dangkal dari interaksi online, individu dapat mengembangkan hubungan yang lebih dalam. Hubungan pribadi yang terjalin melalui percakapan tatap muka memiliki dampak psikologis yang mendalam, meningkatkan empati dan pengertian. Individu seperti R. A. Kartini, yang mengadvokasi hak-hak perempuan di Indonesia pada masanya, sangat bergantung pada korespondensi pribadi dan pertemuan komunitas. Pendekatan ini menumbuhkan rasa tujuan bersama yang tulus yang dapat dicerminkan dalam konteks modern tanpa dunia online.

Selain itu, ketiadaan media sosial menumbuhkan pemikiran kritis. Saat ini, banyaknya informasi yang tersedia di platform media sosial sering kali menciptakan ruang gema, di mana pengguna dihadapkan pada perspektif yang terbatas, memperkuat keyakinan yang ada. Tanpa akses langsung ke beragam pendapat, individu perlu mencari pengetahuan melalui buku, diskusi, dan menganalisis sumber berita secara kritis. Metode ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengedepankan pendidikan dan integritas moral. Diskusi yang hidup seputar pendidikan di awal tahun 1900-an mendorong proses berpikir dan perspektif kritis yang berkontribusi pada kebangkitan intelektual Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya media sosial dapat menghambat aspek advokasi dan kesadaran tertentu. Media sosial telah terbukti menjadi alat yang ampuh untuk memobilisasi kelompok besar dan menyebarkan informasi dengan cepat. Gerakan-gerakan seperti Black Lives Matter dan climate activism telah mendapatkan momentum melalui kemampuan menjangkau khalayak secara global hanya dalam hitungan detik. Tidak adanya platform semacam itu dapat berarti berkurangnya jangkauan dan upaya organisasi yang lebih lambat untuk tujuan sosial. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gerakan dapat berkembang bahkan tanpa adanya teknologi, hanya didorong oleh semangat dan komitmen. Gerakan kemerdekaan Indonesia merupakan bukti mobilisasi akar rumput yang efektif tanpa kenyamanan modern.

Selain itu, implikasi hidup tanpa media sosial meluas ke ranah privasi dan kesehatan mental. Maraknya masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan media sosial yang berlebihan, seperti kecemasan dan depresi, menyoroti perlunya mundur dari dunia digital. diperlukan adanya ikhtiar secara sistematis untuk membahas solusi tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Lingkungan tanpa media sosial dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dan kerangka mental yang lebih jelas, yang didorong sebagai bagian kesadaran sosial yang bermuara pada kebangkitan nasional yang berfokus pada pembangunan karakter mental anak-anak bangsa.

Media tradisional menawarkan pandangan sekilas yang menarik ke dalam dunia media pasca-sosial. Surat kabar, papan buletin komunitas, dan keterlibatan langsung dapat mewakili kembalinya ke bentuk komunikasi yang lebih bijaksana, yang berpotensi menghasilkan konesitas masyarakat sipil yang lebih erat. Diskusi dalam lingkungan sosial yang nyata akan mendorong inklusivitas dan partisipasi. Civil Society dapat mengambil peran yang berbeda dalam lanskap yang sedang berkembang ini, melayani sebagai mentor dan pendidik, bukan hanya pemberi pengaruh media sosial. Pergeseran ini dapat menciptakan babak baru dalam keterlibatan sipil, mengingatkan pada upaya kolektif yang dilakukan selama awal abad ke-20.

Kebangkitan Nasional melalui lensa living without social media membutuhkan perenungan tentang dampak sosial dari era digital saat ini. Keberadaan media sosial tidak dapat disangkal memfasilitasi konektivitas dan kesadaran yang luas, kesejajaran sejarah menekankan potensi interaksi yang bermakna, pemikiran kritis, dan gerakan berbasis komunitas. Dengan paradigma ini akan menguatkan sejarah Indonesia bahwa hubungan yang tulus, wacana yang sehat, dan tindakan yang terinformasi dapat muncul menjadi katalisator dari penyimpangan kebisingan digital media sosial. Pendekatan ini mungkin menandakan gelombang kebangkitan nasional berikutnya, menyelaraskan individu menuju tujuan bersama, memperkaya jalinan komunitas, dan membina masyarakat yang lebih bersatu.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.