Silaturahmi dengan Mas Dar, Ra Fahmi Sambut Dukungan Kementan untuk Ketahanan Pangan dan Agrowisata

Berdampak.net, Jakarta – Dalam momen penuh kehangatan, Ra Fahmi bersilaturahmi dengan Wakil Menteri Pertanian yang juga dikenal sebagai “Mas Dar”. Pertemuan ini bukan sekadar ajang temu tokoh, melainkan menjadi jembatan penting dalam menyatukan langkah menuju penguatan ketahanan pangan nasional serta pengembangan sektor agrowisata yang berkelanjutan.

Ra Fahmi menyampaikan apresiasi atas dukungan dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang selama ini konsisten mendorong berbagai program strategis, termasuk pengembangan potensi pertanian lokal. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan solusi nyata atas tantangan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui sektor agrowisata.

Dalam diskusi hangat tersebut, Mas Dar juga menegaskan komitmennya untuk terus menjembatani aspirasi masyarakat daerah dengan kebijakan nasional. Ia menilai bahwa daerah dengan potensi pertanian yang besar harus menjadi pusat inovasi dan edukasi agrowisata, yang tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat lokal.

SRI DAN MIMPI MELAMPAUI BATAS

HARI itu, seorang perempuan muda berjalan menuju mimbar kecil. Mengenakan jilbab coklat muda dan baju biru. Ia didaulat memberi kuliah umum di hadapan peserta training raya HMI cabang Ciputat, Senin 28 Juli 2025. Namanya: Sri Suparni.

Menengok latarbelakang Sri Suparni sungguh inspiratif. Rasanya tak salah panitia mengundangnya. Namanya sangat “Jawa”, tapi jejak hidupnya menembus batas geografi. SD sampai SMA di desa pedalaman Sragen, Jawa Tengah. Lalu merantau ke Sorong Papua- sebuah daerah nun jauh di ujung timur-lalu menembus Jakarta, pusat pemerintahan dan ekonomi terbaik negeri ini.

Melalui video pendek yang dikirimkan teman, saya melihat Sri- begitu ia akrab disapa- menyampaikan materi penuh semangat, terstruktur dan efektif dalam menyampaikan poin-poin pesannya. Tanpa menggunakan teks apalagi power poin. Semuanya mengalir. Bahasanya pun sederhana dan terkesan sebagai motivasi yang mudah dipahami para audiens.

“Kalau manusia ingin sekedar hidup, babi di hutan pun hidup,” ujarnya. Ia memantik perhatian para peserta dengan mengutip kalimat dari Buya Hamka tersebut.

“Lalu, apa yang membedakan?” tanyanya melanjutkan. Wajah peserta penasaran, mereka saling tatap menerka-nerka jawaban.

Menurut Sri, yang membedakan karena manusia memiliki “akal” dan “hati” untuk mencapai tujuan hidupnya.

Dalam kesempatan itu, Sri ingin menjelaskan kepada para kader muda HMI itu bahwa akal adalah alat untuk berpikir, memahami, dan menganalisis informasi yang diterima dari indra dan pengalaman. Sedangkan hati adalah dimensi spiritualitas dalam diri manusia.

“Meskipun punya fungsi yang berbeda, namun keduanya dalam pengambilan keputusan, bekerja secara seimbang dan saling melengkapi, sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tepat dan bijaksana.”

Di akhir acara terlihat Bu Sri berdialog interaktif dengan peserta dan tak lupa ia membagikan buku biografinya yang berisi proses perjalanan hidupnya yang berliku dan terjal. Seorang gadis dari desa yang merantau, jadi pedagang keliling, lanjut kuliah jadi aktivis HMI, dan akhirnya menembus Jakarta.

Dari ruang hikmah di Ciputat itu, saya mencatat Sri ingin menitipkan jejak pesan kuat. Tentang sebuah keberanian untuk bermimpi melampaui batas. *** (Rusman Madjulekka).