Resmi Dipecat! Kompol Cosmas Penabrak Ojol Affan Kurniawan Tak Kuasa Menahan Tangis


Jakarta, Berdampak.net – Komandan Batalyon Resimen IV Korps Brimob Polri, Kompol Cosmas Kaju Gae, resmi diberhentikan dengan tidak hormat (PTDH) setelah dinyatakan melanggar kode etik profesi terkait kasus tabrakan yang menewaskan pengemudi ojek online, Affan Kurniawan.
Keputusan tersebut dibacakan dalam sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) di Mabes Polri pada Rabu (3/9). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa majelis etik menyatakan perbuatan Cosmas termasuk kategori tercela.
“Menjatuhkan sanksi etika, yaitu perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela,” ujar Trunoyudo.
Dalam sidang tersebut, Cosmas tidak kuasa menahan tangis ketika majelis membacakan putusan pemecatan.
Insiden bermula pada 28 Agustus 2025, ketika kendaraan taktis (rantis) Brimob yang dipimpin Cosmas menabrak dan melindas Affan Kurniawan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Kejadian tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian beredar luas di media sosial dan menimbulkan perhatian publik.
Majelis KKEP menilai Cosmas melakukan pelanggaran etik berat karena insiden terjadi saat ia bertugas sebagai komandan. Selain dijatuhi PTDH, Cosmas sebelumnya juga telah menjalani sanksi administratif berupa penempatan khusus (patsus) selama enam hari, sejak 29 Agustus hingga 3 September 2025.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara transparan. Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan kekecewaannya atas peristiwa ini dan meminta agar proses hukum berjalan secara tegas. Sementara itu, komunitas pengemudi ojek online bersama masyarakat luas menuntut agar kasus ini tidak hanya berhenti pada sanksi etik, melainkan juga dilanjutkan ke ranah pidana. (tim)

Silaturahmi Kebangsaan Bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forkompimda Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net 4 September 2025 – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menggelar Silaturahmi Kebangsaan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Kota Probolinggo pada Kamis malam (4/9), bertempat di Gedung Puri Manggala Bhakti pukul 19.30 WIB. Acara ini bertemakan ” Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian dan penyikapan atas peristiwa meninggalnya 10 orang akibat unjuk rasa anarkis di beberapa daerah di tanah air dalam beberapa waktu terakhir. Silaturahmi ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi untuk mempererat ukhuwah islamiyah sekaligus memperkokoh komitmen kebangsaan di tengah suasana kebatinan bangsa yang sedang berduka.

Hadir secara lengkap jajaran Forkompimda Kota Probolinggo, di antaranya Walikota Probolinggo dr. Aminudin, Sp.OG.(K), MM.Kes, Wakil Walikota Probolinggo Ina Dwi Lestari, S.AP., MM, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Rico Yumasri, Dandim 0820 Letkol Iwan Hermaya, Pj. Sekda Kota Probolinggo Rey Suwigtyo, serta perwakilan dari Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, dan Pengadilan Agama.

Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. KH. M. Sulthon, dalam sambutannya menekankan pentingnya suasana damai dan sejuk agar masyarakat tetap tenang.

“Silaturahmi ini sebagai ajang konsolidasi untuk merekatkan kembali ukhuwah islamiyah. Dalam suasana kebatinan yang berduka, perlu upaya menyejukkan dan damai agar masyarakat tetap tenang. Sebagai mitra pemerintah sekaligus pembina dan pelayan umat, MUI memandang upaya-upaya ini sangat penting,” ungkapnya.

Sementara itu, Walikota Probolinggo, dr. Aminudin, menegaskan bahwa silaturahmi kebangsaan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat persatuan.
“Acara ini bukan sekadar pertemuan, melainkan momentum penting untuk merajut ukhuwah dan memperkokoh komitmen kebangsaan. Bangsa ini dibangun atas dasar semangat persatuan, gotong royong, serta keikhlasan para pendiri bangsa yang telah merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Tugas kita saat ini adalah menjaga warisan tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Walikota Aminudin mengajak seluruh elemen bangsa, baik ulama, umara, tokoh agama, maupun masyarakat, untuk mempererat sinergi, menolak perpecahan, radikalisme, intoleransi, serta ujaran kebencian yang dapat merusak persatuan.

“Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan utama bangsa ini, termasuk di Kota Probolinggo yang majemuk dengan berbagai agama, budaya, dan tradisi. Mari kita terus menjaga harmoni sosial agar kota ini tetap aman, damai, dan menjadi contoh kerukunan. Semoga silaturahmi ini membawa berkah, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan tekad kita semua dalam merawat keutuhan bangsa,” tambahnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kebangsaan yang menghadirkan Walikota Probolinggo, Kapolres Probolinggo Kota, dan Dandim 0820, bersama dengan pimpinan ormas Islam, organisasi kepemudaan, serta organisasi kemahasiswaan. Dialog ini dipandu oleh Dr. Ahmad Hudri dengan suasana hangat, penuh kebersamaan, dan semangat persatuan.

Silaturahmi Kebangsaan ini diharapkan dapat menjadi pijakan nyata bagi seluruh elemen masyarakat Kota Probolinggo dalam memperkokoh ukhuwah, menjaga keutuhan bangsa, serta menumbuhkan optimisme menuju Indonesia yang damai, maju, dan berdaya saing.

Keteladanan Nabi Muhammad dan Altruisme Pemimpin

Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Dalam sejarah peradaban manusia, Nabi Muhammad SAW adalah teladan paripurna bagi umatnya, bukan hanya dalam aspek ibadah spiritual, tetapi juga dalam kepemimpinan sosial dan politik. Kepemimpinan beliau ditandai dengan sikap rendah hati, keberpihakan kepada kaum lemah, serta keberanian menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Sikap ini mencerminkan esensi altruisme — suatu nilai luhur yang menuntun seorang pemimpin untuk rela berkorban demi orang lain.

Altruisme Nabi Muhammad tercermin dalam kesehariannya. Beliau hidup sederhana, meski memiliki kekuasaan besar. Saat Madinah berkembang menjadi kota peradaban, beliau tidak pernah membangun istana megah. Bahkan, Rasulullah tidur di atas tikar kasar, makan secukupnya, dan selalu berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Sikap ini menjadi simbol kuat bahwa kepemimpinan bukan soal kemewahan atau privilese, melainkan tanggung jawab moral terhadap rakyat.

Di tengah realitas kontemporer, nilai ini sangat relevan. Banyak pemimpin terjebak dalam pragmatisme politik dan kepentingan kekuasaan. Altruisme kerap terkikis oleh hasrat mempertahankan jabatan atau memenuhi kepentingan kelompok. Padahal, kepemimpinan yang sejati menuntut keberanian untuk mendahulukan kepentingan rakyat, bahkan jika itu berarti mengurangi kenyamanan pribadi.

Nabi Muhammad menegaskan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Prinsip inilah yang seharusnya menjadi fondasi altruisme seorang pemimpin. Pemimpin ideal bukan sekadar hadir dalam wacana, melainkan nyata dalam tindakan yang membela kepentingan rakyat: mendengar suara yang lemah, menegakkan keadilan, dan menolak segala bentuk penindasan.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa altruisme bukanlah sikap pasif, melainkan energi penggerak untuk menciptakan perubahan sosial. Pemimpin yang altruistik tidak hanya menenangkan rakyat dengan janji, tetapi juga membangun harapan dengan tindakan nyata.

Kini, masyarakat mendambakan pemimpin yang rela menanggalkan ego demi kesejahteraan publik, sebagaimana Rasulullah menanggalkan kepentingan pribadinya demi kejayaan umat. Bila altruisme dapat menjadi karakter utama pemimpin bangsa, niscaya tercipta kepemimpinan yang tidak hanya memerintah, tetapi juga menebar rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Raluna Coffee Peringati Maulid Nabi, Ratusan Jamaah Larut dalam Shalawat

Probolinggo, Berdampak.net – Raluna Coffee kembali menghadirkan suasana berbeda pada Kamis (04/08/25) malam. Jika biasanya dipenuhi kajian Sirah Nabawiyah, kali ini ruang tersebut menjadi tempat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ketua Kajian Sirah Nabawiyah, Muhammad Nurkholis Muslim, menjelaskan bahwa kegiatan rutin seharusnya berupa kajian yang digelar tiap malam Jumat. Namun, karena bertepatan dengan momentum kelahiran Nabi, agenda tersebut diganti dengan acara maulid.

“Momentum maulid adalah kesempatan bagi kita untuk meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah. Karena itu, malam ini kita fokus pada peringatan kelahiran Nabi,” ujar Nurkholis.

Acara ini dihadiri sekitar 100 peserta yang memenuhi ruang kafe. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda, pelajar, hingga masyarakat umum yang tertarik mengikuti rangkaian kegiatan.

Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan surah Yasin bersama. Bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an menghadirkan suasana tenang dan penuh kekhusyukan.

Setelah itu, hadirin bersama-sama melantunkan tahlil. Doa dan dzikir bergema, menciptakan iklim religius yang terasa akrab meski berada di ruang publik.

Puncak peringatan berlangsung ketika shalawat maulid Diba dibacakan. Suara lantang dan merdu para peserta membuat acara semakin hidup, seolah menghadirkan suasana perayaan kelahiran Nabi yang penuh semangat.

Para jamaah larut dalam lantunan shalawat. Sebagian bahkan berdiri dengan penuh khidmat ketika kisah kelahiran Rasulullah dibacakan.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Nurkholis Muslim menyampaikan penjelasan singkat tentang perjalanan hidup Nabi. Ia menguraikan bagaimana Rasulullah melewati fase di Makkah dan Madinah, hingga berhasil membangun peradaban Islam.

Menurutnya, mengenal sejarah hidup Nabi sangat penting agar umat Islam bisa meneladani keteguhan akidah dan keindahan akhlaknya. “Nabi adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan,” ujarnya.

Peserta terlihat menyimak dengan antusias. Beberapa mencatat penjelasan yang disampaikan, menunjukkan bahwa acara tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga sarat dengan nilai edukasi.

Selain memperingati kelahiran Nabi, acara ini juga menjadi sarana silaturahmi. Seusai acara, banyak peserta yang saling bertegur sapa, berbagi cerita, dan mempererat ikatan persaudaraan.

Sejumlah jamaah mengaku bersyukur bisa hadir dalam acara tersebut. Mereka menilai peringatan maulid di ruang kafe menjadi pengalaman baru yang tetap khidmat namun terasa lebih dekat dengan generasi muda.

Panitia berharap kegiatan semacam ini bisa terus digelar setiap tahun. Bagi mereka, Maulid Nabi adalah tradisi yang harus dilestarikan agar nilai-nilai perjuangan Rasulullah tetap hidup di tengah masyarakat.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Para peserta berharap peringatan ini menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta semangat meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. (pm)

Menghadapi Ancaman Megathrust: Edukasi Mitigasi Bencana Gempa untuk Santri dan Santriwati Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor Mataram Bersama Universitas Mataram

Mataram, Berdampak.net – Mahasiswa dan dosen Unversitas Mataram melakukan kegiatan pendampingan untuk edukasi mitigasi bencana gempa pada santri dan santriwati yayasan pendidikan islam Al – Intishor Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 23 Agustus 2025.

Kurangnya kesadaran masyarakat tentang cara menanggulangi bencana,terutama bencana gempa.”Kegiatan ini pada dasarnya dilakukan untuk memberitahu masyarakat terutama genereasi muda tentang pentingnya mengetahui cara atau langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana (gempa bumi).Karenanya Mahasiswa dan dosen Universitas Mataram hadir untuk memberikan edukasi kepada generasi muda dengan harapan : Generasi muda yang siap dan tangguh menghadapi bencana.
Pemberian edukasi dilakukan dengan cara penyuluhan santri dan santriwati  Yayasan Pendidikan Islam Al-Intishor mengenai informasi dan langkah – langkah mitigasi gempa oleh Mahasiswa fisika,Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram Rozita dan Sofiana. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai bahaya gempa dan langkah – langkah apa saja yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana gempa bumi, serta dilakukan kegiatan latihan evakuasi gempa bumi bersama santri dan santriwati. Kemudian dilakukan juga sesi tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman santri dan santriwati mengenai apa saja yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana gempa bumi seperti yang telah disampaikan oleh pemateri.

Pemberian edukasi mengenai mitigasi bencana gempa ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kesiapan generasi muda dalam menghadapi bencana alam. Dengan adanya penyuluhan dan latihan praktik generasi muda diharapkan tahu langkah apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi dan mengurangi dampak bencana tersebut. (rh)