Santri dan Anak Asuh Hidayatul Islam Bersuka Cita Terima Kurban dari DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Probolinggo, Berdampak.net — Suasana penuh kebahagiaan dan rasa syukur terlihat di lingkungan Yayasan Pendidikan dan Pesantren Hidayatul Islam, Desa Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, saat menerima hewan kurban dari DPD PDI Perjuangan Jawa Timur pada momentum Hari Raya Idul Adha tahun ini.

Satu ekor sapi kurban yang disalurkan melalui DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo tersebut disembelih di lingkungan yayasan dan dibagikan untuk kebutuhan santri, anak asuh, serta masyarakat sekitar.

Kehadiran hewan kurban itu disambut antusias para santri yang sejak pagi ikut menyaksikan proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Bagi sebagian santri dan anak asuh, momen tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri karena dapat merasakan suasana Idul Adha dengan penuh kebersamaan.

Salah satu santri, Fawaid menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan oleh PDI Perjuangan.

“Kami sangat senang dan bersyukur menerima kurban ini. Terima kasih kepada DPD PDI Perjuangan Jawa Timur dan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo yang sudah peduli kepada santri dan anak asuh di Hidayatul Islam,” ujarnya.

Fawaid juga menyampaikan doa agar seluruh pihak yang berkurban diberikan keberkahan dan kemudahan dalam segala urusan.

“Semoga PDI Perjuangan diberikan kesehatan, rezeki yang lancar, dan selalu diberi kekuatan untuk membantu masyarakat kecil dan pesantren,” tambahnya.

Penyaluran kurban tersebut menjadi bagian dari semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang terus dibangun PDI Perjuangan kepada masyarakat, termasuk lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan. Selain membantu kebutuhan pangan, kegiatan itu juga mempererat hubungan sosial antara partai, pesantren, dan masyarakat sekitar. (fiq)

Disnaker Kabupaten Probolinggo dan DPK APINDO ajak Perwakilan Perusahaan Kunjungi PT Smelting Gresik: Fokus 5S untuk Produktivitas

Gresik, Berdampak.net – Dinas Tenaga Kerja dan DPK APINDO melakukan kunjungan benchmark ke PT Smelting Gresik untuk mempelajari penerapan 5S sebagai upaya peningkatan produktivitas. Kunjungan ke PT Smelting yang berlokasi di Desa Roomo, Kecamatan Manyar yang perusakan Perusahaan pengolahan dan pemurnian tembaga pertama di Indonesia yang mulai beroperasi pada 1996. Pabrik ini mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga dan terus mengalami peningkatan kapasitas melalui ekspansi hilirisasi. Smelting menjadi tujuan karena sudah meraih peringkat emas dalam penerapan budaya kerja 5S.

Dalam peninjauan, peserta membahas implementasi lima prinsip 5S : Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke terutama bagaimana standar 5S dijalankan secara konsisten di area kerja, termasuk kebijakan, pengaturan organisasi 5S, standarisasi, serta implementasi dan evaluasi pelaksanaan baik harian , bulanan dan tahunannya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Saniwar, S.Sos., M.Si mengharapkan, praktik terbaik 5S dari Smelting Gresik dapat menjadi referensi perusahaan anggota APINDO dalam membangun lingkungan kerja yang lebih efektif dan berorientasi pada produktivitas dan bisa menjadi wakil Probolinggo di kejuaraan provinsi dan nasional.

Zubaidi perwakilan anggota K3, lindung lingkungan dan produktivitas menyampaikan apresiasi kolaborasi DPK Apindo dan Dinas Tenaga kerja dalam mendampingi perwakilan Perusahaan yang terlibat sebagai salah satu bagian pembinaan dalam bidang produktivitas dan selaras dengan program Apindo provinsi Jawa Timur.

Rochman Hidayat mewakili Apindo Probolinggo juga berharap dengan agenda seperti ini merupakan peningkatan kapasitas perusahaan perusahaan termasuk disnaker sehingga lebih siap dalam mempersiapkan apabila ada kesempatan untuk berkompetisi dalam bidang 5S kedepan. (fj)

Rajut Kebersamaan, Brigif 2 Marinir Gelar Shalat Idul Adha 1447 H dan Salurkan Puluhan Hewan Kurban

Sidoarjo, Berdampak.net – Dispen Kormar, TNI AL (Sidoarjo). Lapangan apel Kesatrian Marinir R. Suhadi, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (27/05/2026), berubah menjadi lautan jamaah. Keluarga besar Brigade Infanteri (Brigif) 2 Marinir bersama masyarakat sekitar memadati area tersebut untuk melaksanakan ibadah Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah / 2026 Masehi dengan khidmat.

Kegiatan keagamaan tahun ini mengusung tema yang mendalam: “Jadikan Hikmah Idul Adha Sebagai Motivasi Untuk Meningkatkan Iman Dan Takwa Prajurit TNI Yang Prima Dalam Melaksanakan Tugas Dan Pengabdian Untuk Indonesia Maju”.

Sejumlah perwira tinggi dan tokoh penting tampak hadir di barisan shaf depan, di antaranya Komandan Pasmar 2 Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, Brigjen TNI (Mar) Purn. Wurjianto, Kolonel Marinir Edi Prayitno, serta Komandan Pangkalan Marinir (Danlanmar) Surabaya Kolonel Marinir Argo Setiono. Hadir pula para Pejabat Utama (PJU) Pasmar 2, Dankolak, Dansatlak jajaran Pasmar 2, serta para Perwira Staf Brigif 2 Marinir.

Bertindak sebagai imam dan khatib dalam shalat Idul Adha kali ini adalah Ustaz Muhammad Irfan, S.Q., seorang ulama asal Surabaya. Dalam khotbahnya yang menyentuh hati, Ustaz Muhammad Irfan mengajak seluruh umat Muslim untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan secara nyata dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

“Hari ini adalah hari yang sangat istimewa karena mempertemukan dua ibadah besar, yaitu ibadah haji dan ibadah kurban. Jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia berkumpul di tanah suci dengan pakaian yang sama. Ini adalah simbol kuat bahwa di hadapan Allah SWT, kita semua adalah sama, tidak ada perbedaan derajat,” ungkap Ustaz Muhammad Irfan dalam khotbahnya.

Nuansa kepedulian sosial langsung terasa usai pelaksanaan shalat. Agenda langsung dilanjutkan dengan penyerahan hewan kurban secara resmi kepada Ketua Panitia Kurban, Kapten Marinir Abdul Ghofur.

Tahun ini, Brigif 2 Marinir mengoordinasikan total 21 ekor sapi dan 6 ekor kambing. Ketua Panitia, Kapten Marinir Abdul Ghofur, merincikan bahwa khusus untuk di Brigif 2 Marinir, disembelih sebanyak 10 ekor sapi dan 6 ekor kambing yang berasal dari berbagai gotong-royong dan sumbangan para pimpinan serta prajurit.

Hewan kurban tersebut bersumber dari Panglima Korps Marinir sebanyak 1 ekor sapi, Danpasmar 2 sebanyak 2 ekor sapi, Danlanmar Surabaya sebanyak 1 ekor sapi, Brigif 2 Marinir sebanyak 3 ekor sapi dan 2 ekor kambing dari Komandan Brigif 2 Marinir, Yonif 1 Marinir & Yonif 3 Marinir: masing-masing 1 ekor sapi, Kolonel Laut (P) Adam: 1 ekor kambing, Prajurit (Koptu Rum Okta) 1 ekor sapi dan Masyarakat sekitar 3 ekor kambing.
Sebagai bentuk penghormatan dan tali asih, Komandan Brigif 2 Marinir Kolonel Marinir Aang Andy Warta, M.Tr.Opsla., didampingi oleh Ketua Jalasenastri Cabang 2 Korcab Pasmar 2, Ny. Aang Andy Warta, menyerahkan potongan daging kurban secara simbolis kepada para Warakawuri (janda prajurit) Brigif 2 Marinir.

Melalui ibadah qurban ini, diharapkan nilai-nilai keikhlasan dan pengorbanan dapat menyatu dalam jiwa setiap prajurit, sekaligus mempererat kemanunggalan TNI dengan masyarakat sekitar Bhumi Marinir Gedangan. (fj)

Ekspor Benur Lobster Satu Pintu Melalui BUMN Budidaya, Pengamat: Solusi Alternatif dan Butuh Tata Kelola yang Baik

Jakarta, Berdampak.net – Wacana penerapan kebijakan ekspor benur lobster satu pintu melalui melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang budidaya mendapat beragam respon dari berbagai kalangan terkait.

Salah satunya datang dari kalangan pengamat yang juga sekaligus praktisi sektor kelautan dan perikanan Darwis Ismail.

“Saya kira ini salah satu wacana dan strategi yang sangat rasional serta memungkinkan diterapkan secara regulasi, terutama untuk menekan angka penyelundupan Benih Bening Lobster (BBL),” ujarnya saat dihubungi, Selasa (26/5) malam di Jakarta.

Menurut Darwis yang juga Ketua Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin secara konsep strategi ini memiliki potensi besar, namun lebel keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola di lapangan.

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan analisis yang komprehensif beberapa faktor mengenai bagaimana sistem ini bisa diterapkan, keuntungan, serta tantangan yang harus dihadapi.

Yang pertama, Darwis menyoroti soal mekanisme penerapan saat sistem ini bekerja. Jika skema ekspor satu pintu melalui BUMN seperti PT Perikanan Indonesia/Perindo atau BUMN perikanan lainnya diterapkan, alurnya akan berubah menjadi kontrol terpusat.

Dalam kaitan hal tersebut, maka sejumlah mesti diperhatikan. Pertama, kemitraan dengan nelayan. Dimana nelayan penangkap BBL wajib menjual hasil tangkapannya kepada BUMN atau koperasi yang ditunjuk dengan harga yang adil dan transparan.

Kedua, karantina dan standardisasi. Semua BBL dikumpulkan di-hub- logistik resmi milik BUMN untuk memastikan kualitas, kesehatan benih, dan pencatatan kuota yang ketat.
Ketiga, kuota ekspor vs budidaya dalam negeri. BUMN bertindak sebagai “gatekeeper”. Sesuai semangat hilirisasi, sebagian BBL wajib dialokasikan untuk pembudidaya lokal di dalam negeri terlebih dahulu, sementara sisanya baru diekspor secara legal untuk mendanai ekosistem tersebut.

Keempat, ekspor “business-to-business”(B2B). Dimana BUMN menjadi satu-satunya entitas yang memegang izin ekspor resmi ke negara tujuan (seperti Vietnam), sehingga tidak ada celah bagi eksportir swasta nakal untuk memanipulasi dokumen.

Faktor berikutnya, menurut Darwis, soal keuntungan sistem satu pintu BUMN. Dalam hal ini, yang mesti diperhatikan terkait transparansi logistik dan pendapatan.

“Dengan satu pintu, tracing (penelusuran) asal-usul barang menjadi sangat mudah. Pemerintah bisa memastikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) masuk 100% ke kas negara,” ujarnya.

Selain itu, memotong rantai tengkulak/penyelundup. Selama ini penyelundupan marak karena adanya disparitas harga yang tinggi antara yang diterima nelayan lokal dengan harga di luar negeri. Jika BUMN mampu membeli BBL dari nelayan dengan harga yang layak dan stabil, insentif nelayan untuk menjual ke jaringan ilegal akan drastis berkurang.

Dan juga, tambahnya, mesti dilakukan kontrol kuota budidaya lokal. Dimana pemerintah bisa menjamin bahwa ekspor tidak akan menguras stok untuk kebutuhan budidaya lobster dalam negeri.

Faktor kedua, tantangan nyata di lapangan. Meskipun secara teori sangat ideal, penerapan ekspor satu pintu melalui BUMN memiliki tantangan besar yang harus diantisipasi.

Misalnya soal kecepatan logistik dan birokrasi BUMN. Selam aini BBL adalah komoditas hidup dengan tingkat mortalitas (kematian) yang sangat tinggi.

Sistem birokrasi BUMN yang sering kali dianggap kaku dan lambat bisa menjadi bumerang. Jika proses administrasi di satu pintu tersebut memakan waktu lama, benih lobster bisa mati masal, yang akhirnya merugikan nelayan dan negara.

Selain itu, kapasitas finansial untuk menyeraph hasil tangkapan. BUMN harus memiliki modal kerja yang besar dan likuid untuk langsung membayar tunai hasil tangkapan nelayan. Jika pembayaran dari BUMN tertunda (menggunakan sistem tempo), nelayan akan kembali berpaling ke jaringan penyelundup yang selalu siap membayar tunai di tempat.

Tantangan selanjutnya, potensi monopoli negatif dan korupsi internal. Satu pintu berarti pemusatan kekuasaan ekonomi. Jika tidak diawasi dengan ketat oleh instansi seperti KPK, KPPU, dan KKP, hak eksklusif yang dimiliki BUMN tersebut justru bisa memicu praktik korupsi baru atau penetapan harga beli yang merugikan nelayan karena tidak adanya kompetisi sehat.

“Walaupun demikian BUMN ini bisa membentuk cabang disetiap propinsi untuk menyalurkan benur benur yang dikumpulkan pengusaha dan pembudidaya lokal,” jelasnya.
.
Kemudian hal tak kalah penting adalah jaringan penyelundup yang sudah mengakar. Jalur tikus penyelundupan BBL di Indonesia sangat luas (melalui jalur laut ke Singapura atau Malaysia sebelum ke Vietnam).

Mengubah sistem hilir menjadi satu pintu tidak akan efektif jika pengawasan fisik di “jalur-jalur tikus” pantai selatan Jawa, Lombok, atau Sumatera tidak diperketat.

Dengan mencermati berbagai analisis dan tantangan tersebut, Darwis Ismail yang juga Waketum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) berpandangan, ekspor satu pintu melalui BUMN budidaya sangat bisa dilakukan dan efektif untuk menghentikan kebocoran devisa akibat penyelundupan. Namun, kebijakan ini tidak boleh berdiri sendiri.

Agar supaya berhasil, sarannya, BUMN yang ditunjuk harus bertransformasi menjadi entitas yang fleksibel, memiliki manajemen logistik “cold chain” yang cepat, punya cabang cabang disemua propinsi dan didukung penuh oleh penegakan hukum (patroli laut) yang tanpa kompromi.

Selain itu, lanjutnya, fokus utama jangka panjang harus tetap pada budidaya di dalam negeri, dimana ekspor satu pintu ini hanya dijadikan instrumen transisi untuk mengontrol pasar sebelum industri pembesaran lobster domestik benar-benar matang.

Dan BUMN budidaya menurutnya akan menjadi jalan tengah untuk mencegah penyelundupan benur lobster yang terjadi selama ini. (fj)