Disnaker Kabupaten Probolinggo dan DPK APINDO ajak Perwakilan Perusahaan Kunjungi PT Smelting Gresik: Fokus 5S untuk Produktivitas

Gresik, Berdampak.net – Dinas Tenaga Kerja dan DPK APINDO melakukan kunjungan benchmark ke PT Smelting Gresik untuk mempelajari penerapan 5S sebagai upaya peningkatan produktivitas. Kunjungan ke PT Smelting yang berlokasi di Desa Roomo, Kecamatan Manyar yang perusakan Perusahaan pengolahan dan pemurnian tembaga pertama di Indonesia yang mulai beroperasi pada 1996. Pabrik ini mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga dan terus mengalami peningkatan kapasitas melalui ekspansi hilirisasi. Smelting menjadi tujuan karena sudah meraih peringkat emas dalam penerapan budaya kerja 5S.

Dalam peninjauan, peserta membahas implementasi lima prinsip 5S : Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke terutama bagaimana standar 5S dijalankan secara konsisten di area kerja, termasuk kebijakan, pengaturan organisasi 5S, standarisasi, serta implementasi dan evaluasi pelaksanaan baik harian , bulanan dan tahunannya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Saniwar, S.Sos., M.Si mengharapkan, praktik terbaik 5S dari Smelting Gresik dapat menjadi referensi perusahaan anggota APINDO dalam membangun lingkungan kerja yang lebih efektif dan berorientasi pada produktivitas dan bisa menjadi wakil Probolinggo di kejuaraan provinsi dan nasional.

Zubaidi perwakilan anggota K3, lindung lingkungan dan produktivitas menyampaikan apresiasi kolaborasi DPK Apindo dan Dinas Tenaga kerja dalam mendampingi perwakilan Perusahaan yang terlibat sebagai salah satu bagian pembinaan dalam bidang produktivitas dan selaras dengan program Apindo provinsi Jawa Timur.

Rochman Hidayat mewakili Apindo Probolinggo juga berharap dengan agenda seperti ini merupakan peningkatan kapasitas perusahaan perusahaan termasuk disnaker sehingga lebih siap dalam mempersiapkan apabila ada kesempatan untuk berkompetisi dalam bidang 5S kedepan. (fj)

RS Graha Sehat Kraksaan Klarifikasi Mekanisme Penghasilan Tenaga Kesehatan dan Tegaskan Komitmen Pelayanan

Probolinggo, Berdampak.net – Menanggapi pemberitaan yang berkembang terkait mekanisme penghasilan tenaga kesehatan di lingkungan RS Graha Sehat Kraksaan, pihak manajemen akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus penjelasan resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih utuh dan berimbang.

Andreas selaku Kepala Bagian Umum dan Keuangan RS Graha Sehat Kraksaan menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai belum sepenuhnya mengedepankan prinsip cover both side sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat.

Menurutnya, sistem penghasilan di sektor pelayanan kesehatan memiliki mekanisme yang berbeda dengan sektor industri maupun perusahaan berbasis produksi.

“Rumah sakit bergerak di bidang jasa pelayanan kesehatan. Karena itu mekanisme penghasilan di dalamnya tentu berbeda dan tidak bisa disamakan secara langsung dengan sektor industri yang memiliki pola penghasilan tetap,” ujar Andreas saat memberikan keterangan.

Ia menjelaskan bahwa dalam pelayanan rumah sakit terdapat beberapa komponen penghasilan yang berkaitan dengan aktivitas pelayanan pasien dan produktivitas masing-masing profesi.

Sebagai contoh, dokter memiliki uang duduk atau komponen dasar yang nominalnya mungkin terlihat kecil, misalnya sekitar Rp2 juta, namun dokter juga memperoleh jasa medis dari visite pasien, tindakan medis, hingga pelayanan lainnya yang nilainya jauh lebih besar dan mengikuti aktivitas pelayanan setiap bulan.

Begitu juga dengan apoteker yang selain memiliki gaji pokok, juga memperoleh jasa pelayanan farmasi, telaah resep, dan pelayanan kefarmasian lainnya. Perawat pun demikian, selain memiliki gaji pokok juga terdapat jasa tindakan dan pelayanan keperawatan yang besarannya mengikuti aktivitas pelayanan pasien.

Sementara tenaga laboratorium memperoleh jasa pemeriksaan pelayanan lab, dan bagian administrasi maupun penunjang juga memiliki jasa pelayanan berdasarkan aktivitas pelayanan rumah sakit.

“Jadi kalau hanya melihat satu komponen saja tanpa memahami keseluruhan mekanisme penghasilan di rumah sakit, tentu narasinya menjadi tidak utuh. Di dunia rumah sakit memang ada sistem jasa pelayanan yang berbeda dengan sektor lain,” jelas Andreas.

Menurutnya, dinamika penghasilan di sektor pelayanan kesehatan juga sangat dipengaruhi jumlah kunjungan pasien yang berubah setiap bulan.

“Ada periode pasien ramai, ada juga periode kunjungan menurun. Karena itu sektor rumah sakit tidak bisa dibandingkan langsung dengan sektor produksi atau manufaktur yang pola pendapatannya cenderung tetap,” tambahnya.

Ia juga memastikan seluruh tenaga kesehatan di RS Graha Sehat Kraksaan bekerja sesuai regulasi serta berada dalam pengawasan organisasi profesi masing-masing, mulai dari IDI, PPNI, IAI, dan organisasi profesi kesehatan lainnya.

Selain itu, Andreas berharap masyarakat juga melihat keberadaan rumah sakit swasta sebagai bagian dari pengembangan pelayanan publik dan pertumbuhan investasi daerah.

“Rumah sakit swasta hadir bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan ikut mendukung perkembangan daerah. Karena itu iklim pelayanan dan investasi yang sehat sebaiknya sama-sama dijaga,” katanya.

Pihak manajemen menegaskan bahwa kritik dan evaluasi merupakan hal yang wajar dalam proses perbaikan pelayanan. Namun demikian, informasi yang disampaikan kepada publik diharapkan tetap objektif, berimbang, dan tidak menimbulkan keresahan maupun persepsi yang dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

“Kami terbuka terhadap evaluasi dan masukan konstruktif. Tetapi kami juga berharap setiap informasi yang berkembang dapat dipahami secara utuh dan tidak sepihak, karena dampaknya bukan hanya kepada institusi rumah sakit, tetapi juga kepada tenaga kesehatan dan pelayanan masyarakat,” tegas Andreas.

Di akhir keterangannya, Andreas memastikan RS Graha Sehat Kraksaan tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan terus melakukan pembenahan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan. (fj)

May Day Guyub, Bentuk Sinergisitas Lintas Sektor Kabupaten Probolinggo, Pertegas Komitmen untuk Investasi

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui rangkaian kegiatan May Day yang penuh dengan suasana Guyub kembali menegaskan komitmen dalam membangun sinergi lintas sektor demi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta penguatan iklim investasi di daerah.

Kegiatan ini menjadi forum penyelarasan peran dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah, unsur perangkat daerah terkait, dunia usaha/industri dan perwakilan pekerja. Melalui semangat kebersamaan yang dibangun dalam peringatan May Day, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk memperkuat kerja kolaboratif yang berdampak pada penguatan iklim investasi di kabupaten Probolinggo yang harapannya berdampak pada kesejahteraan buruh dan ujungnya ke pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam sambutannya Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif mengajak untuk menjadikan peringatan May Day sebagai momentum memperkuat kesadaran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan kontribusi dalam pembangunan dan memberikan apresiasi kepada seluruh serikat pekerja di Kabupaten Probolinggo yang dinilai turut menjaga keamanan dan kondusivitas daerah dengan sinergi di setiap kegiatan seperti may day.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyampaikan bahwa Probolinggo sedang menuju daerah industri yang berkembang. Karena itu, semua pihak harus menjaga situasi tetap kondusif agar investor nyaman datang ke Kabupaten Probolinggo. Gus haris juga mengatakan keberadaan serikat merupakan mitra strategis dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan para pekerja dengan tetap harus menjaga situasi tetap kondusif agar investor datang dan Probolinggo menjadi daerah industri yang berkembang.

Keguyupan semakin terasa setelah senam bersama juga di lakukan pemberian menyerahkan klaim jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris, pemotongan tumpeng dan sarapan bersama Forkopimda dan perwakilan serikat pekerja serta penyerahan piagam penghargaan oleh Bupati Haris kepada DPC APINDO Kabupaten Probolinggo atas prestasi peringkat lima terbaik se-Jawa Timur dalam ajang Rakerkonprov) APINDO Jawa Timur tahun 2026.

Kegiatan ini diakhiri dengan pemeriksaan Kesehatan gratis oleh Bupati Haris bersama jajaran Forkopimda yang disediakan oleh Rumah Sakit Rizani Paiton dan Rumah Sakit Wonolangan serta pengundian door prize kegiatan kepada peserta yang hadir. (rh)

Jelang May Day, Ketua Pansus Khairul Anam Dorong Raperda Ketenagakerjaan Probolinggo yang Adaptif Hadapi Krisis

Probolinggo, Berdampak.net – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Ketenagakerjaan Kabupaten Probolinggo, Khairul Anam, menegaskan pentingnya menghadirkan regulasi ketenagakerjaan yang responsif, adaptif, dan berpihak pada pekerja di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, momentum May Day bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat kolektif bahwa negara—melalui pemerintah daerah—harus hadir memberi kepastian, perlindungan, dan keadilan bagi para pekerja. Terlebih, saat ini masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat, naiknya kebutuhan hidup sehari-hari, serta dampak konflik geopolitik global yang turut memengaruhi stabilitas dunia kerja di daerah.

“Ancaman penurunan kelas menengah, meningkatnya angka pengangguran, hingga potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (layoff) menjadi realitas yang tidak bisa kita abaikan. Karena itu, Raperda Ketenagakerjaan harus disusun dengan perspektif krisis, agar mampu menjadi solusi, bukan sekadar regulasi administratif,” tegasnya.

Dalam proses penyusunan naskah akademik, Pansus telah melakukan belanja masalah dengan melibatkan OPD terkait serta elemen pekerja, di antaranya Sarbumusi, SPSI, dan SBMI. Forum ini menjadi ruang penting untuk menggali persoalan riil yang dihadapi pekerja, mulai dari perlindungan tenaga kerja, kepastian kerja, hingga tantangan daya saing di tengah perubahan global.

Pansus berkomitmen melanjutkan proses belanja masalah pada pekan depan, sekaligus menginisiasi pertemuan daring guna memperluas jangkauan aspirasi masyarakat. Hal ini dilakukan agar setiap suara pekerja dapat terakomodasi secara utuh dalam penyusunan naskah akademik.

“Semangat May Day harus kita terjemahkan dalam kerja-kerja nyata. Kita ingin Raperda ini benar-benar menjadi fondasi kuat bagi perlindungan pekerja, peningkatan kesejahteraan, dan kepastian dunia kerja di Kabupaten Probolinggo,” imbuhnya.

Dengan semangat kolaborasi dan keberpihakan, diharapkan Raperda Ketenagakerjaan ini mampu menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat hari ini, sekaligus memberi arah bagi masa depan ketenagakerjaan yang lebih adil, berdaya, dan berkelanjutan. (fiq)