Peternak Bebek Probolinggo Menjerit, Puluhan Ribu Telur Rusak Tak Terjual

Probolinggo, Berdampak.net – Sektor peternakan bebek di Kabupaten Probolinggo, Jatim, kini berada di titik nadir. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, para peternak dan pengepul kini terjepit di antara lonjakan harga pakan dan anjloknya daya serap pasar yang membuat ribuan butir telur berakhir di tempat sampah.

Krisis ini mengancam aset ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, populasi itik di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2023 mencapai 438.793 ekor. Angka populasi yang hampir menyentuh setengah juta ekor ini kini terancam tidak produktif akibat ketiadaan kepastian pasar.

Kondisi memprihatinkan ini merata di berbagai wilayah, mulai dari Kecamatan Gading hingga Pajarakan. Latif, peternak asal Desa Tanjung, Kecamatan Pajarakan, mengaku terkejut dengan kondisi saat ini.

“Saya sudah empat tahun berkecimpung di ternak bebek petelur, baru kali ini harga hancur seperti ini. Sementara pakan naiknya gila-gilaan. Saya setiap hari rugi 600 ribu rupiah. Semua teman-teman mengeluh. Kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengambil telur bebek lokal, tidak tahu lagi ke depannya. Bisa-bisa gulung tikar semua,” keluh Latif dengan nada putus asa.

Kecemasan serupa disampaikan Kamiluddin dari Desa Wangkal, Kecamatan Gading. “Bebek setiap hari bertelur dan butuh pakan yang harganya terus melambung, tapi telurnya tidak laku,” tambahnya.

Kerugian Mencapai 40 Persen

Dampak mandeknya serapan pasar ini dirasakan langsung oleh Muhammad Romli, pengepul asal Desa Patokan, Kecamatan Bantaran. Setiap pekannya, ia menampung sekitar 50.000 butir telur dari 10 peternak lokal untuk diolah menjadi telur asin.

Namun, lesunya pasar membuat stok menumpuk hingga membusuk di gudang. “Dari 50.000 butir produksi kami, tingkat kerusakannya bisa mencapai 20.000 butir karena tidak laku,” ungkap Romli. Kerugian yang mencapai 40 persen ini menjadi potret nyata rapuhnya ketahanan ekonomi peternak saat ini.

Solusi di Balik 147 Satuan Gizi

Menghadapi ancaman kebangkrutan massal, para peternak menaruh harapan besar pada intervensi Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui program MBG. Harapan ini didasarkan pada potensi kebutuhan pangan yang sangat masif di wilayah tersebut.

Merujuk pada data resmi bgn.go.id, Kabupaten Probolinggo memiliki 147 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan asumsi rata-rata setiap SPPG menyediakan 1.500 porsi, maka terdapat potensi 220.500 porsi yang diolah setiap hari.

Artinya, jika pemerintah daerah menginstruksikan penggunaan telur asin lokal dalam menu mingguan MBG, pasokan protein anak bangsa terpenuhi sekaligus menyelamatkan populasi 438.793 ekor itik serta hajat hidup ribuan peternak di Probolinggo.

“Kami sangat berharap pemerintah daerah membantu memasarkan. Minimal satu minggu sekali, telur asin bisa ada di menu MBG,” pungkas Romli. (fj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *