Hari Santri 2026: Menguatkan Negeri Lewat Jihad Ekologi dan Pengelolaan Sampah


Oleh: Taufiqur Rohim (Founder Pena Hijau)

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 kembali diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, mengusung tema resmi Kementerian Agama: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini memanggil ingatan sejarah saat KH Hasyim Asy’ari memekikkan Resolusi Jihad pada 1945 untuk membela tanah air. Namun, dalam konteks hari ini, ancaman terhadap kedaulatan bangsa tak lagi datang dari militer asing, melainkan dari krisis lingkungan, khususnya penumpukan sampah plastik yang menyelimuti sungai, laut, dan pemukiman kita.

Bagaimana santri dapat benar-benar “menguatkan negeri” menuju cita-cita Indonesia Emas 2045 jika fondasi bumi tempat kita berpijak mengalami degradasi lingkungan yang parah?

Indonesia saat ini masih berjibaku dengan timbulan sampah harian yang amat masif. Plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, hingga persoalan penutupan atau kelebihan kapasitas di berbagai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi potret nyata di berbagai daerah. Dampaknya bukan sekadar estetika, melainkan juga banjir berkala akibat sungai tersumbat, pencemaran mikroplastik pada sumber air minum, hingga emisi gas rumah kaca dari pembusukan limbah yang tak terkelola, dan pula akhir-akhir ini Indonesia digemparkan dengan kebakaran hutan terjadi di berbagai daerah, yang juga berdampak pada polusi udara mengancam yang mengancam kesehatan kita semua.

Dari data yang berhasil kami himpun melalui aksi river clean up yang komunitas kami lakukan (Komunitas Pena Hijau, red), dari bulan Juli hingga pertengahan September 2026, delapan kali aksi, terhitung sekitar 6,36 ton sampah berbagai jenis berhasil kita angkat dari beberapa sungai yang berada di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran.

Selanjutnya, dari pertengahan bulan September hingga akhir November dari empat kali aksi clean up pada empat sungai di Kecamatan Paiton, kami berhasil mengangkat sekitar 7,12 ton sampah. Dari data tersebut menunjukkan minimnya kesadaran kita sebagai warga tentang lingkungan, dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.

Dalam ajaran Islam, kebersihan dan kelestarian alam adalah bagian integral dari iman (An-Nadhifatu minal iman). Namun, kerap kali wacana kebersihan berhenti pada tataran kebersihan ritual semata, belum menyentuh kebersihan ekologis (ecological sanitation). Padahal, menjaga keseimbangan alam (hifdzul bi’ah) merupakan bagian terpenting dalam menjaga jiwa, keturunan, dan keberlanjutan hidup umat manusia.

Pesantren sebagai entitas pendidikan berbasis komunitas terbesar di Indonesia memiliki akar sosial yang sangat kuat. Dengan ribuan pondok pesantren dan puluhan juta santri di seluruh penjuru nusantara, pesantren memiliki potensi besar menjadi pilar penggerak transformasi lingkungan hidup.

Penguatan peran santri harus dimulai dari dalam tembok pesantren sendiri. Penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik di asrama, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan komposting, hingga pengolahan air limbah mandiri adalah bentuk nyata latihan kemandirian dan kedisiplinan santri.

Peringatan Hari Santri 2026 juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Inovasi pengelolaan sampah, seperti pembentukan Bank Sampah Santri, budidaya maggot (black soldier fly) untuk limbah sisa makanan, dan pengolahan daur ulang—dapat menjadi peluang ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi keuangan pesantren dan masyarakat sekitar.

Semangat dakwah santri kini saatnya dirasakan langsung oleh alam. Gerakan aksi sosial seperti river clean-up (bersih sungai), penanaman pohon mangrove di kawasan pesisir, serta advokasi bahaya pembakaran sampah liar menjadi sarana konkrit santri menyapa dan menyehatkan masyarakat.

Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan juga dari kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan dan peradaban masyarakat yang ramah lingkungan.

Logo Hari Santri 2026 menggambarkan bentuk jalinan dan ikatan dinamis sebuah simbol kebersamaan, persatuan, dan ikatan antarunsur yang saling menguatkan.Kebersamaan ini harus diwujudkan dalam kolaborasi antara santri, pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk menghentikan krisis sampah di tanah air.

Menjadi santri modern berarti menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, dan berilmu mendalam. Ketika seorang santri membawa kitab di tangan kanannya, ia juga membawa kepedulian terhadap kelestarian alam di tangan kirinya.

Memperingati Hari Santri 2026 bukan sekadar seremoni mengenang masa lalu, melainkan panggilan aksi untuk masa depan. Melalui jihad ekologi dan komitmen nyata dalam mengurangi serta mengelola sampah, para santri memegang peranan kunci dalam membentengi alam Indonesia dari kehancuran.

Mari jadikan peringatan Hari Santri tahun ini sebagai momentum kebangkitan gerakan hijau dari pesantren: Santri Resik, Pesantren Asri, Indonesia Menguat Menuju Masa Depan Emas!

Pena Hijau Apresiasi Dukungan PT POMI–Paiton Energy dan PT ISS dalam Aksi Bersih Sungai di Sukodadi Paiton

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Komitmen terhadap pelestarian lingkungan tidak hanya diwujudkan melalui aksi nyata membersihkan sungai, tetapi juga melalui dukungan dan kolaborasi berbagai pihak dalam memastikan sampah yang terkumpul dapat ditangani dengan baik. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan river clean up di aliran sungai Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Selasa (29/09/2026).

Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (Pena Hijau) bersama komunitas Jejaring Jaga Alam (Jenggala), PT POMI–Paiton Energy, PT ISS, serta siswa-siswi SMAN 1 Paiton berkolaborasi dalam aksi bersih sungai sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan upaya mengurangi pencemaran di wilayah aliran sungai.

Dalam kegiatan ini, Pena Hijau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PT POMI–Paiton Energy yang tidak hanya memberikan dukungan terhadap pelaksanaan aksi bersih sungai melalui penyediaan peralatan dan dukungan kegiatan, tetapi juga turut mendukung penanganan sampah hasil aksi melalui PT ISS, khususnya dalam proses pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan oleh para peserta.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan bersih sungai. Sebab, upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan memungut dan mengangkat sampah dari badan sungai, tetapi juga membutuhkan penanganan lanjutan agar sampah yang terkumpul dapat diangkut dan tidak kembali mencemari lingkungan sekitar.

Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengapresiasi sinergi yang terbangun antara komunitas lingkungan, dunia industri, dan dunia pendidikan dalam mendukung gerakan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Menurutnya, keterlibatan PT POMI–Paiton Energy beserta dukungan PT ISS menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi yang saling melengkapi, mulai dari dukungan peralatan, keterlibatan dalam aksi lapangan, hingga pengangkutan sampah hasil kegiatan.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada PT POMI–Paiton Energy yang tidak hanya mendukung kegiatan bersih sungai melalui peralatan dan dukungan pelaksanaan aksi, tetapi juga membantu memastikan sampah hasil kegiatan dapat diangkut melalui PT ISS. Bagi kami, dukungan ini sangat berarti karena penanganan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, tidak cukup hanya diangkat dari sungai, tetapi juga perlu ditindaklanjuti agar tidak kembali mencemari lingkungan,” ungkap Taufiqur Rohim.

Ia menambahkan, aksi bersih sungai merupakan agenda rutin mingguan yang secara konsisten dilakukan Pena Hijau di berbagai wilayah. Semakin banyaknya pihak yang terlibat menjadi energi positif untuk memperluas gerakan kepedulian lingkungan sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya membuang sampah sembarangan.

Berdasarkan catatan kegiatan Pena Hijau, sejak pertengahan Juli hingga pertengahan September 2026, aksi bersih sungai di delapan lokasi di Kecamatan Paiton, Pakuniran, dan Kotaanyar telah berhasil mengumpulkan sebanyak 6,38 ton sampah. Sampah yang ditemukan didominasi oleh popok bayi bekas, plastik sekali pakai, serta berbagai jenis limbah rumah tangga.

Besarnya volume sampah tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan pencemaran sungai membutuhkan keterlibatan banyak pihak, baik komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, maupun lembaga pendidikan. Kolaborasi diperlukan tidak hanya untuk membersihkan sampah yang sudah mencemari sungai, tetapi juga untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Pena Hijau menilai dukungan PT POMI–Paiton Energy dan PT ISS merupakan contoh kolaborasi yang memberikan kontribusi nyata dalam mendukung gerakan lingkungan. Sinergi antara dukungan sarana, aksi bersih-bersih, dan pengangkutan sampah menjadi langkah penting untuk memastikan kegiatan berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Sementara itu, Founder Komunitas Jenggala, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, turut mengajak masyarakat untuk memulai kepedulian lingkungan dari rumah masing-masing, terutama melalui kebiasaan memilah dan mengelola sampah dengan benar agar tidak berakhir di sungai.

Melalui kegiatan ini, Pena Hijau berharap kolaborasi antara komunitas lingkungan, PT POMI–Paiton Energy, PT ISS, dan dunia pendidikan dapat terus terjalin serta menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Bagi Pena Hijau, sungai yang bersih bukan hanya hasil dari aksi memungut sampah, melainkan buah dari kepedulian bersama, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, dan kolaborasi berkelanjutan. Karena itu, apresiasi kepada PT POMI–Paiton Energy dan PT ISS menjadi bentuk pengakuan atas pentingnya dukungan lintas sektor dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari.

“Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan semakin banyak pihak yang tergerak untuk menjaga lingkungan. Sungai bukan tempat sampah, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

Edukasi Warga Jaga Lingkungan, Komunitas Pena Hijau dan Jenggala Gelar “Ngobrol Lingkungan” di Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (Pena Hijau) bersama Komunitas Jejaring Jaga Alam (Jenggala) menggelar kegiatan “Ngobrol Lingkungan” di lokasi Wisata Dapur Marni, Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan ini menghadirkan deretan pemateri ahli di bidangnya. Di antaranya Founder Komunitas Jenggala yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PKK Kabupaten Probolinggo, Ny. Hj. Umi Haniah Fahmi AHZ, perwakilan PT Paiton Energy / PT POMI, Nina Ari Wahyuni, serta perwakilan PT YTL Jawa Power, Syofi’i.

Puluhan peserta yang terdiri dari kader Posyandu, pengurus PKK, dan ibu-ibu rumah tangga se-Desa Pandean antusias mengikuti jalannya diskusi edukatif tersebut.

Founder Pena Hijau, Taufiqur Rohim, menjelaskan bahwa agenda ini dirancang untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai krusialnya menjaga kebersihan dan ekosistem sekitar.

“Selain kami turun langsung dalam aksi river clean up setiap minggunya, kami juga berharap edukasi semacam ini bisa menggugah hati para warga dalam menjaga lingkungan sekitar, minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Taufiqur Rohim.

Ia menambahkan, ke depan pihaknya berkomitmen untuk menjalankan program edukasi ini secara berkelanjutan (sustainable). “Harapannya, bersama komunitas Jenggala, kegiatan ini bisa kami gelar secara berkala satu bulan sekali di lokasi yang berbeda dengan cakupan yang lebih luas, selain ibu rumah tangga InsyaAllah kami juga akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah menengah atas untuk bersama mengedukasi siswa-siswi nya dalam hal menjaga lingkungan” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemuda yang juga sedang menjadi mahasiswa lingkungan pascasarjana Universitas Brawijaya itu juga turut memaparkan data mengejutkan terkait kondisi sungai-sungai di kawasan Probolinggo Timur. Sepanjang periode Juli hingga pertengahan September 2026, Komunitas Pena Hijau telah melaksanakan delapan kali aksi bersih sungai di berbagai titik di Kecamatan Paiton, Kotaanyar, dan Pakuniran.

“Dari total sampah yang terkumpul, sebanyak 55,97% didominasi oleh sampah popok bayi sekali pakai, 27,52% sampah plastik, dan sisanya merupakan sampah rumah tangga. Ini menjadi cerminan bahwa sebagian masyarakat kita masih menjadikan sungai sebagai tempat sampah,” ungkap Taufiq.

Menurutnya, kebiasaan buruk membuang sampah ke sungai memberikan dampak berlapis yang merugikan. “Selain mencemari lingkungan dan menjadi sumber penyakit, sampah yang menumpuk di sungai juga menyumbat aliran air sehingga berpotensi besar memicu banjir saat musim penghujan tiba,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pandean, Fathol Wari, menyambut positif dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif Komunitas Pena Hijau dan para pemateri yang hadir memberikan pencerahan kepada warga desanya.

“Alhamdulillah, harapannya nanti pasca-acara Ngobrol Lingkungan ini, para ibu-ibu warga Desa Pandean bisa lebih menyayangi alam, khususnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai,” pungkas Fathol Wari.

melalu kegiatan edukasi yang menyasar kaum ibu-ibu sebagai pilar utama pengelola sampah rumah tangga, diharapkan budaya membuang sampah pada tempatnya dapat tertanam kuat di tengah masyarakat Kabupaten Probolinggo. (rd)

Aksi Bersih Sungai di Sukodadi Paiton: Gandeng Korporasi hingga Pelajar, Pena Hijau dan Jenggala Ajak Masyarakat Kelola Sampah dari Rumah

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (Pena Hijau) bersama komunitas Jejaring Jaga Alam (Jenggala), PT POMI, PT ISS, serta siswa-siswi SMAN 1 Paiton sukses menggelar aksi bersih sungai (river clean up) di aliran sungai Desa Sukodadi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Selasa (29/09/2026).

Kegiatan kolaboratif ini mendapat sambutan antusias dari para peserta, mulai dari pegiat lingkungan, karyawan perusahaan, hingga generasi muda yang bahu-membahu mengangkat tumpukan sampah dari badan sungai demi mengembalikan fungsi ekologisnya.

Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengungkapkan bahwa aksi bersih sungai ini merupakan agenda rutin mingguan yang secara konsisten digalakkan di berbagai wilayah. Ia juga mengapresiasi tingginya kepedulian berbagai pihak yang kini semakin masif turut serta.

“Kegiatan river clean up ini merupakan kegiatan mingguan yang konsisten kita lakukan di berbagai sungai, dan Alhamdulillah sekarang banyak pihak yang bergabung dan turut serta ikut bersih-bersih sungai,” ujar Taufiqur Rohim.

Menurutnya, aksi nyata ini dilandasi oleh keprihatinan mendalam terhadap kondisi pencemaran sungai saat ini. Masih banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan berdampak buruk langsung pada kelangsungan hidup biota air serta kesehatan masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan yang sama, Taufiqur Rohim membeberkan data yang cukup mengkhawatirkan terkait volume sampah di wilayah kerja mereka. Tercatat dari pertengahan Juli hingga pertengahan September 2026, aksi di delapan lokasi sungai di Kecamatan Paiton, Pakuniran, dan Kotaanyar berhasil mengumpulkan total 6,38 ton sampah.

Jenis sampah yang mendominasi sangat beragam, mulai dari popok bayi bekas, sampah plastik sekali pakai, hingga limbah rumah tangga.

Melalui gerakan kolektif ini, komunitas Pena Hijau tidak hanya berfokus pada pembersihan fisik semata, tetapi juga membangun kesadaran moral masyarakat agar lebih bijak memperlakukan lingkungan.

“Semoga kegiatan kecil ini bisa memberikan kesadaran kepada warga untuk tidak buang sampah ke sungai, karena sungai bukanlah tempat sampah,” pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, Founder Komunitas Jenggala, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, turut memberikan pesan kuat mengenai pentingnya kesadaran menjaga lingkungan yang harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga. Beliau mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah agar tidak lagi mencemari ekosistem perairan.

“Ayo bersama kita jaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, dari sekarang pilah sampah dari rumah, dan kelola dengan baik, jangan dibuang ke sungai lagi, sayangi alam kita,” pesan beliau.

Aksi kolaborasi antara pemuda, dunia industri, dan dunia pendidikan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi wilayah lain dalam menjaga kelestarian daerah aliran sungai secara berkelanjutan. (rd)

Pena Hijau dan Jenggala Gelar Aksi Bersih Sungai di Plampang Paiton, Dominasi Sampah Popok Bayi Jadi Perhatian

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh gerakan kaum muda di Kabupaten Probolinggo. Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) bersama Komunitas Jejaring Jaga Alam (JENGGALA) menggelar aksi bersih sungai (river clean up) di aliran sungai Desa Plampang, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Selasa (22/09/2026) sore.

Aksi kolaboratif ini tidak hanya melibatkan para relawan, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap kebersihan ekosistem perairan dari ancaman pencemaran sampah rumah tangga. Dalam kegiatan tersebut, tumpukan sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai didominasi oleh limbah popok bayi serta bungkus plastik makanan dan minuman.

Founder Komunitas Jenggala, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, turut hadir langsung di lokasi untuk memotivasi para relawan dan masyarakat sekitar. Ia mengajak masyarakat agar memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan mulai dari unit terkecil, yakni rumah tangga.

“Ayo bersama menjaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, terutama di sungai. Ayo kita dari sekarang harus bisa memilah sampah dari rumah, buanglah sampah di tempat sampah,” jelas Ning Umi Haniah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan masyarakat luas agar terhindar dari berbagai potensi ancaman penyakit.

“Jaga lingkungan kita, agar tetap baik dan tidak menjadi sumber penyakit,” tambahnya.

Sementara itu, Founder Komunitas Pena Hijau, Taufiqur Rohim, mengungkapkan bahwa kegiatan bersih sungai ini merupakan agenda rutin yang terus digalakkan oleh komunitasnya setiap pekan. Melalui aksi nyata di lapangan, pihaknya berharap dapat membangun kesadaran moral masyarakat sekitar agar tidak lagi memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

“Ini merupakan kegiatan rutin setiap pekan kami, dan semoga melalui aksi kecil ini bisa mengedukasi masyarakat untuk tidak kembali membuang sampah ke sungai, karena sungai bukan tempat sampah,” tegas Taufiq.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya kepada rekan-rekan dari Komunitas Jenggala yang telah bersinergi dan turun tangan bersama dalam aksi pembersihan sungai kali ini.

“Kami sampaikan terimakasih kepada teman-teman komunitas Jenggala, yang sudah berkenan bersama dengan kami dalam melaksanakan aksi river clean up ini,” tutupnya.

Melalui sinergi lintas komunitas dan elemen masyarakat ini, diharapkan kesadaran warga Desa Plampang dan Kabupaten Probolinggo pada umumnya semakin meningkat dalam merawat kebersihan daerah aliran sungai demi mewujudkan lingkungan yang asri, sehat, dan bebas dari sampah. (rd)

Sungai Bukan Tempat Sampah: Pena Hijau Bersama Pemdes dan Komunitas Lokal Gelar Aksi Bersih Sungai di Pandean

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Pemuda Nusantara Peduli Lingkungan Hijau (PENA HIJAU) kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian alam melalui aksi river clean up (bersih sungai). Kegiatan clean up ini dilaksanakan di aliran Sungai Desa Pandean, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, pada Selasa (15/09/2026). Aksi peduli lingkungan ini semakin istimewa karena mendapat dukungan penuh serta diikuti langsung oleh jajaran Pemerintah Desa Pandean beserta sejumlah unsur komunitas lokal.

Kepala Desa Pandean, Fathol Wari, menyampaikan apresiasi serta rasa bangganya terhadap kepedulian para pemuda yang tergabung dalam PENA HIJAU. Menurutnya, inisiatif ini menjadi pengingat penting di tengah mulai memudarnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah saya sangat senang sekali, karena ada pemuda yang sangat peduli dengan lingkungan, karena kenapa, hari ini kesadaran masyarakat sudah mulai hilang terkait dengan lingkungan,” jelas Fathol Wari.

Ia juga mengingatkan kembali esensi hubungan harmonis antara manusia dan alam. “Sebenarnya lingkungan ini adalah sahabat kita, yang mana alam semesta ini memberikan nuansa kepada kita dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Fathol Wari berpesan kepada seluruh warganya agar mulai membiasakan diri mengelola sampah dengan benar. “Saya berharap kepada warga Desa Pandean untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga alam kita ini bisa kita rawat dan bermanfaat untuk anak cucu kita,” harapnya.

Sementara itu, Founder PENA HIJAU, Taufiqur Rohim, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang melibatkan kolaborasi lintas elemen ini. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Pandean atas sambutan, izin, serta keikutsertaan aktif perangkat desa di lapangan.

“Ini merupakan kegiatan rutin komunitas kami, dan Alhamdulillah pada kegiatan river clean up kali ini, kami didukung oleh Pemerintah Desa Pandean, Bapak Kepala Desa beserta seluruh aparatur pemerintah desa, yang sudah memberikan izin kepada kami dalam melakukan clean up, tidak hanya itu beliau-beliau juga turut ikut serta bersama kami dalam melakukan clean up,” ujar Taufiqur Rohim.

Taufiq juga menyoroti sinergi yang kian meluas dengan dukungan dari perusahaan di Paiton, serta hadirnya berbagai komunitas lain yang turut bergabung dalam beberapa pekan terakhir. “Alhamdulillah kami juga sampaikan terimakasih kepada PT POMI Paiton, karena sudah mensupport kita peralatan dan APD dalam melakukan clean up, dan juga dalam beberapa pekan terakhir ini, ada beberapa komunitas yang berkenan untuk join dengan kita dalam river clean up, kami sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya,” tambahnya.

Melalui gerakan konsisten ini, PENA HIJAU optimis bahwa pesan moral kepedulian lingkungan dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat luas, khususnya dalam menghentikan kebiasaan buruk membuang limbah ke badan air.

“Kami tidak putus harap, karena kami yakin, dengan kegiatan kami ini, pastinya nanti bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan, terutama membuang sampah pada tempatnya, dan tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai batas waktu pelaksanaan gerakan peduli sungai ini, Taufiq menegaskan bahwa aksi kolektif tersebut akan terus berjalan hingga visi utama tercapai sepenuhnya.

“Kalau ditanya sampai kapan kita akan melakukan bersih-bersih sungai? Kami akan membersihkan sungai selama sampah masih mencemari aliran air kita. Namun, target utama kami bukan sekadar mengangkat sampah setiap minggu, melainkan menginspirasi dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Selesainya tugas kami adalah ketika menjaga sungai sudah menjadi kebiasaan sehari-hari setiap warga, dan sadar bahwa sungai bukanlah tempat sampah,” tukasnya.

Aksi ini ditutup dengan pembersihan tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai, dengan harapan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa merawat sungai adalah wujud nyata menjaga masa depan peradaban. (rd)