Doktor Mengabdi UB 2026 Ubah Koperasi Wanita “Perempuan Mandiri” dengan Model Bisnis Unit Usaha sebagai Capital Buffer Koperasi

MALANG, Berdampak.net – Tim Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2026 yang terintegrasi dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menggulirkan pendampingan transformasi kelembagaan ekonomi di Koperasi Wanita (KopWan) “Perempuan Mandiri”, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program yang diketuai Dr. Jaisy Aghniarahim Putritamara, S.Pt., MP dari Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB ini mengusung satu gagasan inti pada sisi bisnis: menjadikan unit usaha koperasi sebagai capital buffer penyangga permodalan yang memperkuat ketahanan keuangan dan kemandirian ekonomi koperasi.

KopWan “Perempuan Mandiri” berdiri sejak 2009 dengan 350 anggota aktif dan 25 pengurus. Selama ini koperasi masih bertumpu pada layanan simpan pinjam dan belum memiliki unit usaha produktif kolektif. Akibatnya, permodalan koperasi bergantung pada perputaran simpanan anggota, sementara anggota kerap berada pada posisi price taker dengan margin rendah. Tata kelola usaha juga belum tertata: tidak ada pembukuan terpisah, belum ada legalitas usaha, dan belum tersedia analisis kelayakan usaha. Program Doktor Mengabdi hadir untuk menjawab persoalan mendasar ini dari sisi model bisnis.

Inti model bisnis yang dikembangkan adalah pembentukan divisi usaha koperasi yang produktif dan tercatat terpisah dari kas simpan pinjam. Surplus yang dihasilkan divisi usaha ini diposisikan sebagai capital buffer — cadangan permodalan yang menyangga koperasi. Dengan skema ini, koperasi tidak lagi hanya mengandalkan simpanan anggota sebagai sumber modal, melainkan memiliki aliran pendapatan usaha sendiri yang memperkuat modal cadangan, meredam risiko likuiditas pada layanan simpan pinjam, dan membuka ruang bagi Sisa Hasil Usaha (SHU) yang lebih sehat bagi anggota. Pembukuan usaha yang terpisah menjadi fondasi tata kelola agar unit bisnis benar-benar terukur dan akuntabel.

Pada sisi bisnis, program mendorong hilirisasi menjadi produk olahan bernilai tambah yang dikelola koperasi antara lain nugget lele, lele frozen, stik kelor, dan telur puyuh olahan. Untuk menaikkan posisi tawar anggota dari price taker menjadi penentu harga, koperasi didampingi mengurus legalitas usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta membangun merek kolektif dan kemasan produk. Dengan identitas produk dan legalitas yang jelas, unit usaha koperasi dapat menembus pasar yang lebih luas dengan margin yang lebih layak.

Penguatan pemasaran dilakukan secara hybrid, memadukan penjualan langsung dengan kanal digital: WhatsApp Business untuk layanan pelanggan, marketplace Shopee, serta social commerce TikTok. Strategi ini menyiapkan koperasi untuk memasarkan produk secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus membangun basis data pelanggan sebagai aset usaha jangka panjang.

“Kami tidak berhenti pada produksi. Yang kami dorong adalah model bisnisnya, agar unit usaha koperasi menjadi capital buffer penyangga modal yang membuat koperasi lebih tangguh dan mandiri, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada simpanan anggota,” ujar Ketua Tim Doktor Mengabdi, Dr. Jaisy Aghniarahim Putritamara, S.Pt., MP.

Kepala Desa Klampok, Jefry Arnast, menyambut baik pendampingan ini. Menurutnya, kehadiran unit bisnis koperasi yang tertata akan memperkuat ekonomi warga desa, khususnya perempuan, dan mendorong perputaran ekonomi lokal yang lebih mandiri. “Kami mendukung penuh agar koperasi tumbuh menjadi motor ekonomi desa,” katanya.
Perwakilan koperasi, Ibu Ruchila, selaku Sekretaris KopWan “Perempuan Mandiri”, menyatakan bahwa selama ini koperasi belum memiliki unit usaha produktif sehingga model bisnis capital buffer ini sangat dinantikan. “Dengan unit usaha sendiri dan pembukuan yang terpisah, kami berharap koperasi punya sumber pendapatan baru yang memperkuat modal dan kesejahteraan anggota,” ungkapnya.

Program ini dipimpin oleh Dr. Jaisy Aghniarahim Putritamara, S.Pt., MP (Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan) selaku ketua, dengan anggota tim Dr. Mochammad Syamsulhadi, SP., MP (Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan), Firda Alfiani, S.P., M.Sc (Fakultas Ilmu Administrasi), dan Ajik Siswantoro, SP., M.Si (Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan).

Melalui integrasi dengan KKN, sebanyak sembilan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB terlibat langsung mendampingi koperasi di lapangan, yaitu: Nakeisha Oktavio Ramadhani, Muhammad Sholihudin Rozaq, Nadia Yasmin Alya, Galang Yusuf Ramadhan, Annisha Nur Indah Syafi’i, Annisa Sekar Dwi Cahyani Putri, Muhammad Taqiyyuddin Fairuz Hidayat, Muhammad Irfan Zuhdi, dan Novita Amanda. Kesembilan mahasiswa berperan dalam pendampingan tata kelola usaha, penyusunan pembukuan, pengembangan produk dan kemasan, serta pemasaran digital koperasi.

Dari sisi bisnis dan pemberdayaan, program ini berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi perguruan tinggi–koperasi. Program juga menyentuh SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), serta sejalan dengan agenda Asta Cita pada penguatan ekonomi kerakyatan berbasis desa dan pemberdayaan perempuan.

Melalui model bisnis unit usaha sebagai capital buffer, tim Doktor Mengabdi UB 2026 menargetkan lahirnya satu divisi usaha resmi dengan laporan keuangan terpisah, produk olahan berkemasan dan berlegalitas, serta kanal pemasaran digital koperasi yang aktif. Harapannya, KopWan “Perempuan Mandiri” tumbuh menjadi koperasi yang mandiri secara ekonomi dan menjadi contoh model penguatan koperasi perempuan berbasis unit bisnis produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *