Propinsi Luwu Raya Janji Sang Proklamator ke Raja Luwu Opu Andi Djemma

Luwu, Berdampak.net – Spanduk sepanjang 15 meter bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Luwu, Provinsi Luwu Raya” terbentang mencolok dibeberapa sudut jalan strategis sejak beberapa hari terakhir. Asap hitam mengepul dari ban bekas yang dibakar tanda perlawanan tak lagi disuarakan dengan bisik-bisik.

Pemandangan tersebut sebagai salahsatu bentuk perjuangan warga memperingati Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 pada 23 Januari 2026,sekaligus menjadi penanda usia dan sejarah.

“Perjuangan kita tidak akan berhenti di sini. Kita pastikan aspirasi ini terus digaungkan hingga meyakinkan ke otoritas pemerintah pusat di Jakarta,” kata Ketua DPRD kabupaten Luwu, Ahmad Gazali.

Hal senada juga ditegaskan Darwis Ismail Ketua BPP DOB Luwu Raya bahwa esensi tuntutan pemekaran ini adalah Rakyat Luwu Menagih Janji Bung Karno kepada Yang Mulai (YM) Opu Datu Andi Djemma.

“Dimana kemandirian Luwu Raya menjadi Propinsi yang mandiri, dan Luwu Raya ingin mengelola sumber dayanya sendiri guna meningkatkan kesejahteraannya dan lebih berkontribusi untuk Indonesia,” tegas Darwis yang juga Ketua BPW Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKRL) DKI Jakarta.

Di tengah massa, selain Ketua DPRD Luwu Ahmad Gazali hadir juga sejumlah anggota dewan lintas fraksi.Mereka datang mengenakan kemeja putih, turun langsung ke jalan, menyatu dengan barisan demonstran.

Turut mendampingi, perwakilan Fraksi NasDem Basaruddin dan Irvan, Fraksi PPP Akbar Sunali dan Arfan Basmin, Fraksi Demokrat Summang dan Sudirman Bala, Fraksi PKB Sukardi, serta Fraksi PDI Perjuangan Yan Samma.

Tuntutan mereka merujuk jauh ke belakang dimana janji Presiden Soekarno kepada Datu Luwu Andi Djemma pasca kemerdekaan RI tentang berdirinya Provinsi Luwu Raya. Dan mereka ingin menegaskan kembali bahwa perjuangan ini bukan sekadar agenda politik, melainkan titah adat.

Tagih Janji Proklamator

Sementara itu Datu Luwu Andi Maradang Machulau mengungkapkan bahwa janji sang proklamator Soekarno yang dinilai belum pernah ditepati terhadap Tana Luwu. Ia menegaskan akan terus memperjuangkan pembentukan Provinsi Luwu Raya selama dirinya masih hidup.

Pernyataan itu disampaikan Datu Luwu dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) II Wija To Luwu di Ruang Ratona, Kantor Wali Kota Palopo, Selasa (20/1/2026).

Di hadapan tokoh adat, politisi, akademisi, pengusaha, dan diaspora Wija To Luwu, Datu Luwu mengulas kembali sejarah permintaan Raja Luwu Andi Djemma kepada Presiden pertama RI Soekarno agar Tana Luwu dijadikan daerah istimewa sebagai syarat bergabung ke NKRI.

Namun, permintaan tersebut tak pernah diwujudkan. Bahkan, menurut Datu Luwu, hingga puluhan tahun berlalu dan presiden silih berganti, hak historis Tana Luwu itu tak kunjung diberikan.

“Janji itu tidak dipenuhi, atau janji itu tidak dipenuhi oleh Bung Karno. Namun beliau tidak mengurangi semangat, karena dia yakin betul bahwa seluruh keturunannya kelak, seluruh Wija To Luwu akan terus memperjuangkan pendirian Provinsi Luwu Raya,” ungkap Datu Luwu.

Ia menegaskan, janji tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan janji negara yang wajib diperjuangkan oleh generasi Wija To Luwu.

Datu Luwu pun menyerukan persatuan seluruh Wija To Luwu lintas sektor politik, pendidikan, dunia usaha, hingga masyarakat adat untuk bergerak bersama mewujudkan Provinsi Luwu Raya.
“Saatnya bersatu, tidak hanya dalam batin, tapi juga dalam sikap dan tindakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, perjuangan pemekaran dengan nilai filosofi Kedatuan Luwu, bahwa kesejahteraan tidak boleh hanya bersifat spiritual, tetapi juga harus nyata secara sosial dan ekonomi. (fj)

PITI Kabupaten Probolinggo Raya Perkuat Konsolidasi dan Branding Organisasi

Probolinggo, Berdampak.net – Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Probolinggo Raya kembali menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang aktif membangun harmoni, dakwah inklusif, serta persaudaraan lintas etnis dan budaya.

Melalui forum silaturahmi dan konsolidasi pengurus yang digelar dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, PITI Probolinggo Raya menegaskan komitmennya untuk memperkuat branding organisasi sebagai rumah besar bagi Muslim Tionghoa sekaligus jembatan persatuan umat.

Acara yang dihadiri oleh para tokoh, pengurus, dan anggota PITI ini berlangsung khidmat namun cair. Para peserta tampak berdiskusi aktif mengenai arah gerak organisasi, program dakwah, serta penguatan peran PITI di tengah masyarakat Probolinggo Raya.

Mengokohkan Identitas & Peran Strategis

Dalam pertemuan tersebut, PITI Probolinggo Raya menegaskan beberapa fokus utama:

  • Penguatan branding organisasi sebagai wadah Muslim Tionghoa yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin
  • Konsolidasi internal antar pengurus dan anggota
  • Penguatan peran sosial-keumatan melalui dakwah, edukasi, dan kegiatan kemasyarakatan
  • Menjadi mitra strategis pemerintah dan ormas Islam lainnya dalam menjaga harmoni sosial

Ketua PITI Kabupaten Probolinggo Raya, Sufyan Sauri Molisi, menegaskan bahwa PITI bukan sekadar organisasi berbasis etnis, melainkan organisasi dakwah dan persaudaraan yang menjunjung tinggi nilai Islam moderat dan kebangsaan.

“PITI hadir untuk memperkuat ukhuwah, merawat keberagaman, dan menjadi bagian dari solusi umat. Di Probolinggo Raya, kami ingin PITI dikenal bukan hanya oleh komunitas Tionghoa Muslim, tetapi oleh seluruh masyarakat,” ujar Sufyan.

PITI Simbol Harmoni & Dakwah Inklusif

Dengan mengusung semangat Islam rahmatan lil ‘alamin, PITI Probolinggo Raya terus meneguhkan diri sebagai:
Simbol harmoni antara etnis Tionghoa dan pribumi, Wadah dakwah yang santun, moderat, dan berorientasi persatuan
Organisasi yang aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan

Ke depan, PITI Probolinggo Raya akan memperluas program-program strategis seperti kajian rutin, bakti sosial, kolaborasi lintas ormas, hingga penguatan peran generasi muda PITI.

Menjadi Pilar Persatuan di Probolinggo Raya

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum rebranding PITI Kabupaten Probolinggo Raya sebagai organisasi yang terbuka, progresif, dan siap berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.

Dengan sinergi seluruh pengurus dan anggota, PITI Probolinggo Raya optimistis dapat menjadi pilar persatuan, dakwah, dan harmoni di wilayah Probolinggo Raya. (fj)

Tinjau Lokasi Banjir, Wakil Walikota Probolinggo Ina Buchori Berikan Semangat untuk Warga di Jrebenglor

Probolinggo, Berdampak.net – Wakil Walikota Probolinggo, Ina Buchori, melaksanakan peninjauan di berbagai lokasi yang terkena dampak banjir akibat curah hujan ekstrem yang melanda kota Probolinggo sejak Sabtu 17 Januari 2025 malam. Kunjungan ini bertujuan untuk mengevaluasi situasi dan mendengar langsung keluhan serta kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Dalam peninjauan tersebut, Ina mencermati kondisi lingkungan dan infrastruktur yang terendam banji serta berinteraksi dengan warga, memberikan dukungan dan semangat. Menemani kunjungan tersebut tim BPPD dan juga camat Kedopok.

Banjir telah menyebabkan berbagai dampak beberapa rumah warga di jrebeng lor tepat nya di RT/RW 004/008 terendam air, termasuk mengganggu aktivitas keseharian warga. Berkaitan dengan penanganan bencana ini, Ina menekankan perlunya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah kota hadir untuk memberikan dukungan bersama tim relawan dan termasuk Bu ina juga memberikan bantuan makanan dan logistic lainnya kepada para relawan dan warga di lokasi. Ina juga mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrim kedepan dan terus koordinasi dengan pemerintah.

Melalui tindakan responsif ini, Ina Buchori berharap dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam menghadapi bencana. Dengan semangat solidaritas, diharapkan semua elemen masyarakat dapat bersatu untuk membantu sesama. Mari kita doakan agar situasi segera membaik dan dapat di temukan solusi yang di harapkan warga agar kedepan banjir serupa tidak terjadi lagi. (rh)

PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo: Merayakan HUT ke-53 prioritas Memperkuat Komitmen Sosial

Probolinggo, Berdampak.net – PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo merayakan Hari Ulang Tahun ke-53 , bersamaan dengan momen Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara ini menekankan pencapaian partai yang berorientasi pada keadilan sosial, serta komitmen untuk menjunjung etika dan nilai-nilai spiritual.

Dalam sambutannya, ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo, Khoirul Anam, menekankan bahwa perjalanan partai selama 53 tahun adalah sebuah proses yang membentuk komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, terutama wong cilik.

Tema HUT ke-53 sejalan dengan tujuan utama dalam menegaskan kesetiaan partai dan elemennya pada ideologi, terinspirasi oleh pendirian sang proklamator Bung Karno.

Momentum HUT ke-53 juga dianggap sebagai kesempatan untuk konsolidasi internal partai. Semua elemen dari jajaran pengurus, mulai dari DPC hingga ranting, diajak untuk bersatu dengan satu tujuan: memajukan PDI Perjuangan untuk melayani rakyat.

Bersamaan dengan momentum Isra Mi’raj, Anam mengajak semua elemen partai untuk refleksi tentang arti ketahanan dan perjuangan sebagaimana ujian yang dihadapi Rasulullah SAW di mana ketekunan dan kesabaran bisa membawa kepada kemajuan dan kemenangan sosial.

Melalui momen tersebut, PDI Perjuangan kabupaten Probolinggo menekankan perlunya politik yang berakar pada masyarakat dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, agar semakin dekat dengan rakyat dan tak menyimpang dari visi keadilan sosial. Selanjut nya partai juga akan berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjaga warisan ideologi Bung Karno, dan berkontribusi aktif untuk kemajuan Indonesia. (rh)

Mental Health Remaja Gen Z: Menjadikan Sholat sebagai Tempat Curhat

Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri
Ketua FKUB & Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo

Tema menarik tersaji saat peringatan Isro’ Mi’roj di salah satu Sekolah dimana saya hadir sebagai pembicara. Diikuti oleh kurang lebih 900 orang peserta didik dan guru, suasana penuh khidmat dan duka. Duka menyelimuti keluarga besar tersebut seiring dengan meninggalnya salah satu siswa yang sempat mengagetkan dan viral. Kesempatan ini yang saya manfaatkan untuk menyampaikan materi mental spritual berkenaan dengan momentum Isro mi’raj dan sholat.

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW acap kali dianggap sebatas agenda seremonial tahunan yang dipenuhi tausiyah dan peringatan simbolik. Padahal, peristiwa agung ini menyimpan pesan spiritual yang sangat mendalam dan relevan dengan tantangan kehidupan modern, khususnya bagi remaja Generasi Z (Gen Z). Isra’ Mi’raj seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk meneguhkan kembali komitmen dalam menunaikan sholat secara istiqamah.
Makna Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah perjalanan Rasulullah SAW, melainkan tonggak perintah sholat yang menjadi tiang agama. Sholat diperintahkan secara langsung oleh Allah SWT sebagai sarana utama membangun hubungan antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, sholat tidak cukup diposisikan sebagai rutinitas ibadah, tetapi perlu dijadikan sebagai lifestyle dan solusi kehidupan. Dengan sholat, akan lahir kebaikan-kebaikan dan manusia dijauhkan dari berbagai keburukan, baik secara moral maupun mental.

Saat ini, isu kesehatan mental di kalangan remaja Gen Z menjadi tantangan serius. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta derasnya arus media digital sering kali membuat remaja berada dalam situasi psikologis yang sangat rentan. Media sosial yang awalnya menjadi ruang berekspresi justru kerap berubah menjadi ruang perbandingan, penghakiman, bahkan bullying dan hate speech. Tidak sedikit remaja yang merasa cemas, tidak percaya diri, dan kehilangan arah akibat standar-standar semu yang terbangun di dunia maya.

Dalam kondisi tersebut, sholat memiliki peran strategis sebagai sarana menjaga keseimbangan mental dan spiritual. Sholat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi ruang dialog batin yang menghadirkan ketenangan dan solusi mencerahkan. Sholat adalah tempat paling aman untuk “curhat” kepada Allah atas segala problematika kehidupan. Dalam sholat, seseorang bebas mengadu tanpa takut dihakimi, dibandingkan, atau direndahkan. Sholat yang merupakan doa akan selalu menjadi pondasi kuat untuk menopang kekuatan diri agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Fenomena curhat di media sosial yang kini menjadi tren justru sering berujung pada persoalan baru. Jangankan mendapatkan solusi, yang muncul justru bullying, komentar negatif, dan ketidakpastian yang semakin menambah kegelisahan. Curhat yang disebarkan ke ruang publik digital sering kali meninggalkan luka batin yang lebih dalam, karena respons manusia tidak selalu menghadirkan empati.
Sebaliknya, curhat dalam sholat menghadirkan ketenangan dan harapan. Dalam sujud, seorang hamba diajak untuk jujur pada dirinya sendiri dan berserah sepenuhnya kepada Allah. Dari sholat, lahir ketentraman jiwa, kejernihan berpikir, dan kekuatan untuk bangkit menghadapi persoalan hidup. Sholat mengajarkan bahwa solusi sejati tidak selalu datang seketika, tetapi ketenangan hati adalah awal dari setiap jalan keluar.

Momentum Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi refleksi bersama untuk mengajak remaja Gen Z kembali menemukan makna sholat dalam kehidupan mereka. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjadikan sholat sebagai kebutuhan jiwa dan sumber kekuatan mental. Ketika sholat dijadikan sebagai tempat curhat dan sandaran hidup, remaja akan memiliki pondasi spiritual yang kokoh untuk menghadapi tekanan zaman.

Sholat adalah jalan pulang bagi jiwa yang lelah dan gelisah. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan kompleksitas persoalan remaja Gen Z, sholat hadir sebagai ruang sunyi yang menenangkan, solusi yang mencerahkan, serta penjaga kesehatan mental dan spiritual. Inilah makna Isra’ Mi’raj yang relevan sepanjang zaman.

Peringati Isra’ Mi’raj 1447 H, SMA Negeri 4 Probolinggo Tekankan Pentingnya Sholat bagi Kesehatan Mental Gen Z

Probolinggo, Berdampak.net – SMA Negeri 4 Probolinggo menggelar kegiatan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah pada Kamis, 15 Januari 2026, bertempat di Masjid Ar-Rohman SMA Negeri 4 Probolinggo, mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 900 siswa dan guru dengan penuh khidmat.
Mengusung tema “Mental Health Remaja Gen Z: Menjadikan Sholat sebagai Tempat Curhat”, peringatan Isra’ Mi’raj kali ini menghadirkan Dr. KH. Ahmad Hudri, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo, sebagai penceramah dalam sesi Mauidhotul Hasanah.
Dalam ceramahnya, KH. Ahmad Hudri yang akrab disapa Gus Hudri menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj tidak seharusnya dimaknai sebatas seremoni tahunan, melainkan sebagai momentum spiritual untuk meneguhkan komitmen dalam menunaikan sholat secara istiqamah.

“Makna Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi momentum penting untuk selalu istiqamah menjalankan sholat. Jadikan sholat sebagai lifestyle dan solusi. Dengan sholat akan lahir kebaikan-kebaikan dan terhindar dari keburukan,” jelas Gus Hudri.

Lebih lanjut, Gus Hudri menyoroti isu kesehatan mental di kalangan remaja Gen Z, yang saat ini menjadi tantangan serius di tengah tekanan akademik, sosial, dan pengaruh media digital. Menurutnya, sholat memiliki peran strategis sebagai sarana menjaga keseimbangan mental dan spiritual.
“Sholatlah tempat untuk curhat kepada Allah atas segala problematika kehidupan. Sholat yang merupakan doa akan selalu menjadi pondasi kuat untuk menopang kekuatan diri agar senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah,” tegasnya.

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa tren perilaku gen z yang cenderung curhat melalui media sosial perlu di arahkan agar memanfaatkan sholat sebagai media untuk curhat. Karena dengan curhat melalui sholat akan menemukan solusi dan pencerahan atas kegelisahan dan kegalauan yang dihadapi oleh gen z dengan segala persolan yang dihadapi.

Di akhir Mauidhotul Hasanah, suasana haru menyelimuti Masjid Ar-Rohman ketika Gus Hudri mengajak seluruh siswa dan guru untuk mendoakan almarhum Fajar, salah satu siswa SMA Negeri 4 Probolinggo yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya. Kepergian almarhum sempat mengagetkan publik dan menjadi perhatian luas di berbagai media massa serta media sosial.
Kegiatan Peringatan Isra’ Mi’raj ini diharapkan tidak hanya memperkuat keimanan dan ketakwaan warga sekolah, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya sholat sebagai penopang kesehatan mental dan karakter generasi muda.