RS Graha Sehat Kraksaan Klarifikasi Mekanisme Penghasilan Tenaga Kesehatan dan Tegaskan Komitmen Pelayanan

Probolinggo, Berdampak.net – Menanggapi pemberitaan yang berkembang terkait mekanisme penghasilan tenaga kesehatan di lingkungan RS Graha Sehat Kraksaan, pihak manajemen akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus penjelasan resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih utuh dan berimbang.

Andreas selaku Kepala Bagian Umum dan Keuangan RS Graha Sehat Kraksaan menyampaikan bahwa pihaknya sangat menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai belum sepenuhnya mengedepankan prinsip cover both side sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat.

Menurutnya, sistem penghasilan di sektor pelayanan kesehatan memiliki mekanisme yang berbeda dengan sektor industri maupun perusahaan berbasis produksi.

“Rumah sakit bergerak di bidang jasa pelayanan kesehatan. Karena itu mekanisme penghasilan di dalamnya tentu berbeda dan tidak bisa disamakan secara langsung dengan sektor industri yang memiliki pola penghasilan tetap,” ujar Andreas saat memberikan keterangan.

Ia menjelaskan bahwa dalam pelayanan rumah sakit terdapat beberapa komponen penghasilan yang berkaitan dengan aktivitas pelayanan pasien dan produktivitas masing-masing profesi.

Sebagai contoh, dokter memiliki uang duduk atau komponen dasar yang nominalnya mungkin terlihat kecil, misalnya sekitar Rp2 juta, namun dokter juga memperoleh jasa medis dari visite pasien, tindakan medis, hingga pelayanan lainnya yang nilainya jauh lebih besar dan mengikuti aktivitas pelayanan setiap bulan.

Begitu juga dengan apoteker yang selain memiliki gaji pokok, juga memperoleh jasa pelayanan farmasi, telaah resep, dan pelayanan kefarmasian lainnya. Perawat pun demikian, selain memiliki gaji pokok juga terdapat jasa tindakan dan pelayanan keperawatan yang besarannya mengikuti aktivitas pelayanan pasien.

Sementara tenaga laboratorium memperoleh jasa pemeriksaan pelayanan lab, dan bagian administrasi maupun penunjang juga memiliki jasa pelayanan berdasarkan aktivitas pelayanan rumah sakit.

“Jadi kalau hanya melihat satu komponen saja tanpa memahami keseluruhan mekanisme penghasilan di rumah sakit, tentu narasinya menjadi tidak utuh. Di dunia rumah sakit memang ada sistem jasa pelayanan yang berbeda dengan sektor lain,” jelas Andreas.

Menurutnya, dinamika penghasilan di sektor pelayanan kesehatan juga sangat dipengaruhi jumlah kunjungan pasien yang berubah setiap bulan.

“Ada periode pasien ramai, ada juga periode kunjungan menurun. Karena itu sektor rumah sakit tidak bisa dibandingkan langsung dengan sektor produksi atau manufaktur yang pola pendapatannya cenderung tetap,” tambahnya.

Ia juga memastikan seluruh tenaga kesehatan di RS Graha Sehat Kraksaan bekerja sesuai regulasi serta berada dalam pengawasan organisasi profesi masing-masing, mulai dari IDI, PPNI, IAI, dan organisasi profesi kesehatan lainnya.

Selain itu, Andreas berharap masyarakat juga melihat keberadaan rumah sakit swasta sebagai bagian dari pengembangan pelayanan publik dan pertumbuhan investasi daerah.

“Rumah sakit swasta hadir bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan ikut mendukung perkembangan daerah. Karena itu iklim pelayanan dan investasi yang sehat sebaiknya sama-sama dijaga,” katanya.

Pihak manajemen menegaskan bahwa kritik dan evaluasi merupakan hal yang wajar dalam proses perbaikan pelayanan. Namun demikian, informasi yang disampaikan kepada publik diharapkan tetap objektif, berimbang, dan tidak menimbulkan keresahan maupun persepsi yang dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

“Kami terbuka terhadap evaluasi dan masukan konstruktif. Tetapi kami juga berharap setiap informasi yang berkembang dapat dipahami secara utuh dan tidak sepihak, karena dampaknya bukan hanya kepada institusi rumah sakit, tetapi juga kepada tenaga kesehatan dan pelayanan masyarakat,” tegas Andreas.

Di akhir keterangannya, Andreas memastikan RS Graha Sehat Kraksaan tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan terus melakukan pembenahan serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan. (fj)

Geliat Investasi Kabupaten Probolinggo, Pembangunan Hotel Azana Style Mulai di Kraksaan

Probolinggo, Berdampak.net – Pembangunan Hotel Azana Style Probolinggo resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking/peletakan batu pertama di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo pada Jumat (8/5/2026). Kehadiran hotel bintang empat ini diharapkan menjadi penggerak baru bagi investasi, pariwisata serta pembukaan lapangan kerja di Kabupaten Probolinggo.

Acara dihadiri langsung oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dan Wakil Bupati Fahmi AHZ, bersama jajaran Forkopimda, Direktur Bina Indo Grup Ekao Saputra Wijaya, Vice Director Operation Azana Hospitality Ardi Mali, Irjen Pol Agus Djaka Santoso, Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH Hafidzul Hakim Noer, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh. Zuhri Zaini serta sejumlah Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

Bupati Haris menyampaikan bahwa pembangunan hotel bukan hanya proyek fisik, tetapi juga tanda kepercayaan investor terhadap perkembangan ekonomi Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo. Ia berharap hotel dapat selesai dalam waktu sekitar satu tahun dan memicu tumbuhnya sektor lain seperti restoran serta investasi baru.

Sementara itu, Direktur Bina Indo Grup Ekao Saputra Wijaya menargetkan pembangunan selesai dalam 12 bulan, dengan rencana hotel tujuh lantai di lahan sekitar 5.500 m² dan total luas bangunan sekitar 9.878 m². Azana Hospitality juga menegaskan rekrutmen tenaga kerja akan dilakukan secara profesional dan terbuka.

Dengan dimulainya proyek ini, Pemkab Probolinggo berharap investasi baru terus berdatangan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah Kraksaan. (rh)

Mengawal Misi Dagang: Menembus “Middleman Trap” dan Mendorong Kedaulatan Nilai Ekonomi Pemuda

Oleh: Irfan Effendi (Wasekum BADKO Himpunan Mahasiswa Islam Jawa Timur)

Surabaya, 2026 — Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Jawa Timur memandang pelaksanaan Misi Dagang dan Investasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai langkah progresif dalam memperluas konektivitas ekonomi, mempertemukan kepentingan antarwilayah, serta memperkuat posisi daerah dalam lanskap perdagangan nasional dan global.

Capaian transaksi bernilai triliunan rupiah tidak dapat dipungkiri sebagai indikator adanya pergerakan ekonomi yang semakin intensif. Ia menunjukkan bahwa Jawa Timur tidak berada dalam posisi pasif, melainkan aktif dalam menjalin jejaring ekonomi yang lebih luas.

Namun, justru karena program ini strategis, maka ia harus dibaca secara lebih mendalam.
Apakah kita sedang membangun kekuatan ekonomi, atau hanya mempercepat sirkulasi dalam sistem yang nilai tambahnya dikendalikan pihak lain?

Pertanyaan ini penting diajukan, karena dalam banyak pengalaman pembangunan, daerah yang aktif berdagang belum tentu menjadi daerah yang berdaulat secara ekonomi.

Dari Euforia Transaksi ke Risiko “Middleman Trap”

Dalam praktik ekonomi modern, terdapat fenomena yang kerap luput disadari: middleman trap—jebakan sebagai perantara.

Sebuah daerah tampak berkembang karena aktivitas perdagangannya tinggi, tetapi pada saat yang sama tidak memiliki kendali atas:

  • produksi bahan baku,
  • teknologi pengolahan,
  • maupun distribusi bernilai tinggi.

Akibatnya, daerah hanya berperan sebagai penghubung dalam rantai nilai global, sementara keuntungan terbesar tetap terkonsentrasi pada pihak yang menguasai produksi dan inovasi.

Dalam konteks ini, Misi Dagang berpotensi menjadi pisau bermata dua.
Di satu sisi, ia membuka peluang ekonomi.
Namun di sisi lain, tanpa strategi struktural, ia dapat memperkuat posisi daerah sebagai “perantara aktif”, bukan “produsen berdaulat”.

Sebagaimana diingatkan oleh Ibn Khaldun, kekuatan ekonomi tidak terletak pada banyaknya transaksi, tetapi pada kemampuan menciptakan dan mempertahankan nilai dari aktivitas tersebut.

Pemuda dan Keterjebakan Peran Pinggiran

Di tengah arus besar ekonomi ini, posisi pemuda menjadi pertanyaan yang tidak kalah penting.

Selama ini, narasi pelibatan pemuda sering kali berhenti pada ajakan untuk “turun ke sektor riil”. Namun ajakan tersebut jarang disertai dengan desain struktural yang memastikan posisi pemuda dalam rantai nilai ekonomi.

Realitasnya, sebagian besar pemuda:

  • tidak memiliki akses terhadap modal produktif,
  • belum terhubung dengan ekosistem industri,
  • serta berada di luar lingkaran distribusi bernilai tinggi.

Akibatnya, pemuda berisiko hanya masuk ke sektor ekonomi sebagai pelaku kecil—tanpa daya tawar dan tanpa kontrol atas nilai yang dihasilkan.

Dalam kondisi seperti ini, keterlibatan pemuda tidak menghasilkan transformasi, melainkan hanya memperluas partisipasi dalam struktur yang tetap timpang.

Oleh karena itu, transformasi yang dibutuhkan bukan sekadar “mengikutsertakan pemuda”, tetapi memindahkan posisi mereka ke pusat penciptaan nilai.

Misi Dagang sebagai Titik Balik Kedaulatan Nilai

Badko HMI Jawa Timur melihat bahwa Misi Dagang dapat menjadi momentum strategis untuk keluar dari jebakan tersebut—jika diarahkan dengan visi yang lebih jauh.

Program ini harus melampaui logika perdagangan dan mulai masuk ke wilayah:

  • industrialisasi berbasis komoditas lokal,
  • penguatan hilirisasi produk daerah,
  • serta pembangunan kapasitas produksi generasi muda.

Tanpa langkah ini, transaksi akan terus meningkat, tetapi kedaulatan ekonomi akan tetap tertunda.

Sebaliknya, jika diarahkan dengan tepat, Misi Dagang dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi baru pelaku ekonomi—yang tidak hanya berdagang, tetapi juga menciptakan nilai dan menguasai prosesnya.

Catatan Kritis dan Agenda Strategis

Sebagai bentuk dukungan yang konstruktif, Badko HMI Jawa Timur menyampaikan beberapa catatan:

Pertama, indikator keberhasilan Misi Dagang harus diperluas, tidak hanya berbasis nilai transaksi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas produksi lokal dan distribusi manfaat ekonomi.

Kedua, perlu ada desain kebijakan yang memastikan pemuda masuk ke sektor strategis, terutama dalam pengolahan dan industri berbasis komoditas unggulan daerah.

Ketiga, pemerintah perlu membangun skema afirmatif yang konkret, mencakup akses pembiayaan produktif, transfer teknologi, serta integrasi pelaku usaha muda ke dalam rantai pasok hasil Misi Dagang.

Keempat, penting untuk membangun ekosistem kaderisasi ekonomi yang berkelanjutan melalui inkubasi bisnis berbasis kolaborasi antara negara, pasar, dan organisasi kepemudaan.

Kelima, perlu adanya pengawasan terhadap potensi konsentrasi ekonomi, agar ekspansi perdagangan tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi benar-benar menghadirkan keadilan ekonomi yang luas.

Menentukan Posisi, Menentukan Masa Depan

Misi Dagang adalah peluang. Namun peluang tidak pernah netral—ia bisa melahirkan kemandirian, atau justru memperdalam ketergantungan.

Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan hanya angka transaksi, tetapi posisi ekonomi Jawa Timur di masa depan.

Apakah akan menjadi:

  • produsen yang menguasai nilai,
    atau
  • perantara yang bergantung pada sistem yang lebih besar?

Bagi Badko HMI Jawa Timur, jawaban atas pertanyaan ini sangat ditentukan oleh sejauh mana generasi muda dilibatkan—bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai pengendali proses ekonomi itu sendiri.

Kami mendukung penuh Misi Dagang ini sebagai langkah strategis.
Namun lebih dari itu, kami berkomitmen untuk terus mengawal agar ia tidak berhenti sebagai euforia ekonomi, melainkan benar-benar menjadi jalan menuju kedaulatan nilai ekonomi yang berpihak pada pemuda dan keadilan sosial.

Karena pada akhirnya, ekonomi yang kuat bukan hanya tentang bergerak cepat, tetapi tentang siapa yang mengendalikan arah geraknya.

Ubah Limbah Keripik Jadi Pakan Ternak, Tim FEB Unair Gelar Pelatihan di Desa Bagaganlimo Mojokerto

MOJOKERTO, Berdampak.net – Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sukses menggelar Program Kemitraan Masyarakat di Desa Bagaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto pada Sabtu, 2 Mei 2026. Program ini difokuskan pada pelatihan pengelolaan limbah keripik singkong dan talas dari “Usaha Keripik Karang Taruna Desa Bagaganlimo” untuk disulap menjadi pakan alternatif ternak kambing warga setempat.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. (Cand) Akhmad Jayadi, S.E., M.Ec.Dec., pakar dari FEB Universitas Airlangga. Ia memaparkan bagaimana potensi ekonomi dan efisiensi biaya pakan dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan limbah produksi rumahan yang selama ini belum teroptimalkan dengan baik.

Tak hanya berfokus pada pengolahan pakan, kegiatan ini juga menghadirkan serangkaian narasumber ahli untuk memberikan edukasi yang komprehensif bagi warga desa, diantaranya, Dr. Rer. Pol. Lyla R. menyampaikan materi strategis mengenai digital marketing guna memperluas jangkauan pasar produk Usaha Keripik Karang Taruna. Dr. Ni Made Sukartini memberikan pemaparan mendalam terkait manajemen dan pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Serta drh. Fikri mengulas materi krusial seputar kesehatan ternak, memastikan warga memahami cara menjaga kondisi hewan ternak yang mengonsumsi pakan alternatif tersebut.

Kepala Desa Bagaganlimo, Suroso, memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Dr. (Cand) Akhmad Jayadi beserta tim dari FEB Unair Surabaya. Suroso menilai kehadiran para akademisi ini membawa solusi konkret bagi tantangan yang dihadapi warganya.

“Kami selaku pemerintah desa sangat bersedia dan terbuka untuk terus menjadi mitra dalam pelaksanaan program kemitraan masyarakat seperti ini. Kami menilai pelaksanaan program ini sudah sangat tepat sasaran dan sesuai dengan permasalahan riil yang selama ini ada di desa kami, terutama terkait penanganan limbah usaha dan kebutuhan pakan ternak warga,” ujar Suroso.

Guna memastikan program ini berjalan secara berkelanjutan (sustainable), tim Universitas Airlangga Surabaya tidak hanya memberikan bekal teori, tetapi juga menyerahkan bantuan stimulan berupa peralatan penunjang produksi pakan alternatif.

Bantuan yang diserahkan secara simbolis kepada perwakilan warga dan Karang Taruna tersebut meliputi, satu unit Mesin pencacah rumput, dua buah Drum khusus untuk proses fermentasi, lima botol (ukuran 1,5 liter) Bakteri EM4, serta lima botol (ukuran 1,5 liter) Tetes tebu (molase).

Melalui sinergi antara akademisi FEB Unair dan Pemerintah Desa Bagaganlimo ini, diharapkan Usaha Keripik Karang Taruna dapat menekan eksternalitas negatif limbahnya, sekaligus membantu para peternak kambing lokal dalam menekan biaya operasional pakan melalui metode fermentasi yang tepat. (fiq)

May Day Guyub, Bentuk Sinergisitas Lintas Sektor Kabupaten Probolinggo, Pertegas Komitmen untuk Investasi

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui rangkaian kegiatan May Day yang penuh dengan suasana Guyub kembali menegaskan komitmen dalam membangun sinergi lintas sektor demi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta penguatan iklim investasi di daerah.

Kegiatan ini menjadi forum penyelarasan peran dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah, unsur perangkat daerah terkait, dunia usaha/industri dan perwakilan pekerja. Melalui semangat kebersamaan yang dibangun dalam peringatan May Day, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk memperkuat kerja kolaboratif yang berdampak pada penguatan iklim investasi di kabupaten Probolinggo yang harapannya berdampak pada kesejahteraan buruh dan ujungnya ke pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam sambutannya Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif mengajak untuk menjadikan peringatan May Day sebagai momentum memperkuat kesadaran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan kontribusi dalam pembangunan dan memberikan apresiasi kepada seluruh serikat pekerja di Kabupaten Probolinggo yang dinilai turut menjaga keamanan dan kondusivitas daerah dengan sinergi di setiap kegiatan seperti may day.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyampaikan bahwa Probolinggo sedang menuju daerah industri yang berkembang. Karena itu, semua pihak harus menjaga situasi tetap kondusif agar investor nyaman datang ke Kabupaten Probolinggo. Gus haris juga mengatakan keberadaan serikat merupakan mitra strategis dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan para pekerja dengan tetap harus menjaga situasi tetap kondusif agar investor datang dan Probolinggo menjadi daerah industri yang berkembang.

Keguyupan semakin terasa setelah senam bersama juga di lakukan pemberian menyerahkan klaim jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris, pemotongan tumpeng dan sarapan bersama Forkopimda dan perwakilan serikat pekerja serta penyerahan piagam penghargaan oleh Bupati Haris kepada DPC APINDO Kabupaten Probolinggo atas prestasi peringkat lima terbaik se-Jawa Timur dalam ajang Rakerkonprov) APINDO Jawa Timur tahun 2026.

Kegiatan ini diakhiri dengan pemeriksaan Kesehatan gratis oleh Bupati Haris bersama jajaran Forkopimda yang disediakan oleh Rumah Sakit Rizani Paiton dan Rumah Sakit Wonolangan serta pengundian door prize kegiatan kepada peserta yang hadir. (rh)

Harapan Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo Menyongsong Hari Buruh

Probolinggo, Berdampak.net – Hari Buruh Internasional bukan sekadar rutinitas kalender tahunan, melainkan momentum sakral untuk merefleksikan kembali sejauh mana negara dan kita semua telah memberikan penghormatan kepada mereka yang menjadi tulang punggung ekonomi bangsa. Di Kabupaten Probolinggo, geliat industri dan pertanian tak lepas dari tetesan keringat para buruh yang tak kenal lelah demi menghidupi keluarga.

Kami di DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo melihat bahwa buruh adalah aset paling berharga dalam struktur pembangunan daerah. Tanpa kesejahteraan yang layak bagi pekerja, stabilitas ekonomi daerah akan rapuh. Oleh karena itu, peringatan May Day tahun ini harus menjadi titik balik bagi perbaikan ekosistem ketenagakerjaan di wilayah kita.

Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo menegaskan bahwa harapan utama kita adalah melihat transformasi buruh dari sekadar objek produksi menjadi mitra strategis pembangunan. Kita ingin para buruh di Probolinggo tidak hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas dengan dukungan jaminan sosial dan perlindungan hukum yang kuat.

Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang sehat, namun tetap mengedepankan hak-hak dasar pekerja. Keseimbangan antara kemudahan berusaha dan perlindungan buruh adalah kunci utama untuk memajukan Kabupaten Probolinggo menuju arah baru yang lebih sejahtera.

Partai Gelora menyadari bahwa tantangan di masa depan, seperti otomatisasi dan digitalisasi, akan berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Maka, kami mendorong adanya program upskilling dan reskilling bagi para buruh di Probolinggo agar mereka tetap relevan dan memiliki daya tawar yang tinggi di pasar kerja global.

Kami juga menyoroti pentingnya dialog bipartit yang harmonis antara pengusaha dan pekerja. Jangan sampai ada sumbatan komunikasi yang mengakibatkan konflik. Kita harus mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap sengketa industrial yang terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Harapan kami, upah minimum yang ditetapkan tidak hanya sekadar angka formalitas, tetapi benar-benar mencerminkan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok yang kian meningkat. Kesejahteraan buruh secara langsung akan meningkatkan konsumsi domestik, yang pada gilirannya akan memutar roda ekonomi lokal kita lebih kencang.

Kepada seluruh buruh di Kabupaten Probolinggo, kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Dedikasi kalian di pabrik-pabrik, di sawah-sawah, dan di sektor jasa adalah energi utama yang menjaga denyut nadi kabupaten ini tetap berdetak di tengah berbagai tantangan ekonomi dunia.

Partai Gelora berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan publik yang pro-rakyat dan pro-pekerja. Kami akan menjadi jembatan bagi aspirasi buruh untuk sampai ke meja pengambil kebijakan, memastikan suara dari akar rumput tidak hanya didengar, tetapi juga dilaksanakan.

Momentum Hari Buruh ini juga harus menjadi pengingat bagi para pengusaha untuk memperlakukan pekerja sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar angka di laporan keuangan. Lingkungan kerja yang aman, sehat, dan manusiawi adalah hak yang tidak boleh ditawar dalam kondisi apa pun.

Kita juga berharap adanya perhatian khusus bagi buruh perempuan dan buruh lepas di Probolinggo. Perlindungan terhadap hak-hak maternitas dan kesetaraan upah harus ditegakkan tanpa diskriminasi, demi menciptakan keadilan sosial yang merata bagi seluruh elemen pekerja.

Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan moral kepada para buruh. Menghargai produk lokal dan menghargai jasa pekerja adalah langkah sederhana namun bermakna dalam memperkuat solidaritas sosial di tengah-tengah kita.

Ke depan, kami memimpikan Kabupaten Probolinggo menjadi pusat industri yang ramah pekerja, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan peningkatan indeks kebahagiaan para buruhnya. Ini bukan mimpi yang mustahil jika kita semua bersedia berkolaborasi dan membuang ego sektoral.

Mari kita jadikan Hari Buruh ini sebagai energi positif untuk bangkit. Kita lupakan sejenak perbedaan, dan fokus pada satu tujuan: menjadikan buruh Indonesia, khususnya di Probolinggo, sebagai kelas menengah baru yang mandiri secara ekonomi dan kuat secara martabat.

Akhir kata, selamat Hari Buruh Internasional. Teruslah berkarya dengan semangat “Gelombang Rakyat”. Bersama-sama, kita akan membawa Probolinggo dan Indonesia menuju kekuatan ekonomi baru dunia yang berkeadilan bagi seluruh rakyatnya. (pm)