Bara Perlawanan Itu Masih Bernama Mahasiswa

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Setiap kali bangsa ini dihadapkan pada tirani kekuasaan, satu kelompok yang selalu ditunggu aksinya adalah mahasiswa. Bukan tanpa alasan. Mahasiswa memiliki rekam jejak historis sebagai penjaga nurani rakyat dan penjaga batas kekuasaan agar tak melampaui moralitas. Mereka adalah bara perlawanan yang menyala ketika rakyat mulai lesu dan harapan mulai pudar.

Oligarki kekuasaan, dalam berbagai bentuknya, selalu mencari cara untuk membungkam kritik dan meredam suara-suara yang menyakitkan telinga penguasa. Ketika lembaga formal lumpuh dan media disusupi kepentingan modal, mahasiswa menjadi kekuatan terakhir yang bisa diharapkan. Mereka tak terikat oleh kepentingan jabatan maupun transaksi kekuasaan. Yang mereka miliki hanya idealisme dan keberanian.

Namun menjadi mahasiswa bukan sekadar status akademik, melainkan mandat moral. Mandat yang tak diberikan oleh kampus, melainkan oleh sejarah dan oleh rakyat. Di tengah ketidakadilan yang terus dipelihara oleh segelintir elite, suara mahasiswa adalah harapan yang menggema. Kita tentu masih ingat, bagaimana mahasiswa menumbangkan Orde Lama, menggerogoti Orde Baru, dan mendorong Reformasi. Ketika semua pihak diam, mahasiswa menggugat.

Sayangnya, era reformasi yang semula dijanjikan sebagai gerbang keadilan justru membuka pintu baru bagi oligarki untuk bertransformasi. Para pemilik modal kini bukan hanya menjadi penyokong kekuasaan, tetapi juga menjadi pelaku politik itu sendiri. Kekuasaan dan uang bersatu, dan hasilnya adalah keputusan-keputusan yang makin jauh dari kepentingan rakyat.

Inilah saatnya mahasiswa kembali mengambil peran. Sebab demokrasi kita sedang dibajak. Ketika penguasa dan pengusaha duduk dalam satu meja untuk merancang masa depan tanpa rakyat, maka mahasiswa harus berdiri sebagai oposisi moral yang menyuarakan akal sehat. Jika tidak, maka bangsa ini akan terus dikendalikan oleh segelintir orang yang menganggap rakyat hanya angka dalam survei elektabilitas.

Gerakan mahasiswa sejati tidak muncul karena panggilan momentum, tetapi karena kesadaran historis dan kepedulian sosial. Mereka turun ke jalan bukan untuk eksistensi diri, tapi karena menyadari bahwa diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita bangsa. Tentu mahasiswa tak harus selalu demonstrasi. Mereka bisa mengisi ruang-ruang diskusi, advokasi, hingga kampanye digital yang bermartabat. Namun sikap kritis adalah keniscayaan.

Mahasiswa hari ini memang menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tak lagi melawan rezim otoriter tunggal, tetapi jaringan oligarki yang licik dan tersembunyi. Mereka tak sekadar menuntut reformasi politik, tetapi juga keadilan sosial, ekologis, dan digital. Maka, dibutuhkan kecerdasan, konsolidasi, dan keberanian yang lebih besar.

Kekhawatiran banyak orang terhadap melemahnya gerakan mahasiswa belakangan ini cukup beralasan. Tak sedikit yang memilih aman, nyaman, bahkan apatis. Tapi saya yakin, masih ada bara dalam sekam. Masih ada sekelompok mahasiswa yang sadar bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga medan perjuangan. Kita hanya butuh satu percikan api untuk menyalakan kembali bara itu.

Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tak boleh kehilangan arah perjuangan. Mereka harus merumuskan ulang visi perjuangannya sesuai konteks zaman, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberpihakan kepada yang lemah, dan keberanian menolak yang salah meskipun mayoritas membenarkannya.

Masyarakat menitipkan harapan besar pada mahasiswa. Di pundak mereka, suara-suara sunyi dari desa-desa, pasar-pasar, pabrik-pabrik, dan pinggiran kota menitipkan pesan: jangan biarkan suara kami tenggelam. Jangan biarkan keadilan menjadi barang langka. Jangan biarkan negara ini dibeli oleh mereka yang punya banyak uang.

Saya tidak mengatakan bahwa semua mahasiswa harus turun ke jalan. Tapi semua mahasiswa harus punya sikap. Dalam situasi bangsa yang makin dikuasai oleh oligarki, netralitas bukan pilihan bijak, tapi bentuk pembiaran. Dan pembiaran adalah pintu masuk ketidakadilan yang lebih besar.

Tentu saja, perjuangan mahasiswa bukan tanpa risiko. Rezim bisa saja menekan, menstigma, bahkan memenjarakan. Tapi sejarah membuktikan, suara mahasiswa selalu menang pada akhirnya. Mungkin tidak langsung, tetapi selalu ada dampak yang ditinggalkan: kesadaran yang menyebar, keberanian yang tumbuh, dan gerakan yang tak bisa dihentikan.

Apa yang dibutuhkan mahasiswa saat ini bukan hanya keberanian, tetapi juga kecerdikan. Gerakan yang hanya emosional akan cepat padam. Sebaliknya, gerakan yang berbasis data, gagasan, dan strategi akan jauh lebih menggugah dan berkelanjutan.

Mari kita dukung mahasiswa yang masih percaya bahwa kejujuran adalah kekuatan, bahwa kebenaran layak diperjuangkan, dan bahwa sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani bersuara. Bara itu masih ada. Dan selama mahasiswa tidak diam, oligarki tak akan pernah tenang.

Jelang Berakhirnya Libur Lebaran, Ini Pesan Anggota DPR-D Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam

Probolinggo, Berdampak.net – Menjelang berakhirnya masa libur panjang lebaran 2025, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR-D) Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam, menghimbau agar masyarakat tetap semangat dan terus waspada terhadap penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja.

Tak hanya itu politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu juga berpesan kepada para peserta didik yang pada Senin mendatang sudah mulai aktif belajar di sekolah kembali, untuk terus meningkatkan etos belajarnya untuk menggapai cita-cita yang gemilang.

“Saya ingin menyampaikan selamat belajar kembali kepada para peserta didik baik pendidikan umum dan Pesantren , pasca Ramadhan dan libur panjang kita harus lebih semangat belajar, kepada orang tua, untuk mendorong putra-putrinya untuk mempersiapkan kembali motivasi belajar anak dangan semangat yang fitri,” pesannya, Sabtu (05/04/2025).

Mantan ketua umum Badko HMI Jawa Timur itu juga berpesan kepada para pekerja rantau yang hendak kembali memulai aktifitasnya dalam mencari nafkah untuk keluarganya, agar tetap semangat serta terus meningkatkan etos kerjanya.

“Kedua bagi para pejuang keluarga yang akan kembali bekerja terutama para perantau, saya menyampaikan selamat kembali beraktifitas baik di Probolinggo maupun di tanah rantau. Apalagi dalam situasi perekonomian yang cenderung menurun hari ini, alangkah lebih baiknya kita lebih meningkatkan semangat dan etos kerja sebagai bagian dari menguatkan harapan dan prospek kerja,” jelasnya.

Tak lupa ia juga menghimbau kepada masyarakat yang akan mencari pekerjaan, untuk terus waspada terhadap penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja.

“Dan yang terakhir, bagi para pencari kerja baru dan yang akan memulai kerja di tanah perantauan untuk mempersiapkan mental, semangat, keahlian juga menambah wawasan pada lingkungan kerja yang di tuju, terutama terkait jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus di miliki oleh setiap pekerja, karena akhir-akhir ini sangat banyak modus penipuan dan kejahtan yang berkedok penyalur tenaga kerja, jangan sampai terbuai dan tertipu dengan janji-janji pekerjaan yang menggiurkan . Demi keamanan saat bekerja, sebelum berangkat merantau alangkah lebh baiknya masyarakat mencari informasi hal-hal terkait dunia kerja dan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja pada dinas tenaga kerja kabupaten Probolinggo,” imbaunya. (fiq)

Usai Lebaran 2025, Kajian Sirah Nabawi di Raluna Coffee Kembali Digelar

Probolinggo, Bedampak.net – Setelah sukses menggelar kajian sepanjang bulan Ramadan, Kelompok Kajian Sirah Nabawiyah di Raluna Coffee akan kembali digelar usai Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Hal ini disampaikan oleh Ketua Kajian, Mohammad Nurkholis Muslim, yang menegaskan bahwa kajian ini merupakan upaya memperdalam pemahaman umat Islam tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Sepanjang Ramadan, kelompok kajian ini telah berhasil mengkhatamkan buku Sirah Abu Bakar, yang mengulas perjalanan hidup khalifah pertama dalam Islam. Usai Lebaran, kajian akan berlanjut dengan pembahasan mendalam mengenai Sirah Umar bin Khattab, sosok pemimpin yang dikenal dengan ketegasan dan keadilannya.

Kajian ini semakin diminati, terutama oleh mahasiswa dan para pecinta diskusi Islam. Jumlah peserta yang hadir terus bertambah, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap kajian sejarah Islam yang disajikan secara akademis dan dialogis.

Selain menghidupkan kajian rutin, Nurkholis juga tengah merancang proyek literasi berupa taman baca di wilayah Paiton, Probolinggo. Menurutnya, kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada tingkat literasi masyarakatnya. Oleh karena itu, inisiatif ini diharapkan mampu mendorong minat baca dan diskusi di kalangan masyarakat setempat.

Ia menuturkan bahwa taman baca yang direncanakannya akan menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk membaca dan berdiskusi. Tak hanya itu, fasilitas ini juga akan dilengkapi dengan musala guna menunjang kenyamanan pengunjung yang ingin beribadah.

“Saya akan membuat taman baca yang lengkap dengan musalanya. Insya Allah, di area Paiton,” ujar Nurkholis saat diwawancarai.

Sebagai mantan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Malang dan Yogyakarta, Nurkholis mengaku bahwa semangat berkaryanya tidak terlepas dari proses kaderisasi yang ia jalani selama menjadi bagian dari organisasi tersebut.

“Di HMI, saya dibentuk untuk menjadi insan pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Hal ini yang memotivasi saya untuk terus mencetak kader-kader potensial,” ungkapnya.

Kajian Sirah Nabawiyah yang ia rintis merupakan bagian dari cita-cita luhurnya dalam membentuk masyarakat yang meneladani sosok manusia paripurna, yakni Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, umat Islam perlu memahami perjalanan hidup Rasulullah agar dapat meniru keteladanan beliau dalam berbagai aspek kehidupan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa membaca Sirah Nabawiyah bukan sekadar memahami sejarah, melainkan juga menemukan inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sejarah para sahabat, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, kejujuran, dan pengorbanan dalam membangun peradaban Islam.

Nurkholis berharap kajian ini dapat terus berkembang, tidak hanya di Raluna Coffee tetapi juga di berbagai tempat lainnya. Ia membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Selain itu, ia juga mengajak berbagai pihak untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan taman baca yang tengah ia rancang. Dengan semakin banyaknya fasilitas literasi di Paiton, ia optimistis bahwa daerah tersebut akan melahirkan generasi yang lebih cerdas dan berdaya saing tinggi.

“Kalau masyarakat Paiton dan Probolinggo secara umum ingin naik kelas, maka mereka harus mencintai literasi, mulai dari membaca hingga diskusi. Tanpa keduanya, SDM yang ada tidak akan berkembang dengan optimal,” tegasnya.

Menurutnya, semangat literasi harus dibangun sejak dini. Oleh karena itu, taman baca yang ia rintis tidak hanya akan menyediakan koleksi buku-buku Islam, tetapi juga literatur umum yang dapat memperkaya wawasan masyarakat.

Dengan adanya inisiatif kajian dan taman baca ini, diharapkan akan lahir lebih banyak generasi yang memiliki pemahaman keislaman yang kuat serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Nurkholis optimistis bahwa literasi dan diskusi yang terus berkembang akan membawa perubahan positif bagi masyarakat Paiton dan sekitarnya.

Sebagai penutup, Nurkholis menegaskan bahwa kajian Sirah Nabawiyah bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari misi dakwah untuk membangun umat yang lebih baik. “Semoga dengan kajian ini, kita semua semakin dekat dengan teladan Rasulullah dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (pm)

Gus Chasbullah Kafabie dan Pemuda Jabung Sisir Paiton Bagikan Takjil ke Pengguna Jalan Pantura

Probolinggo, Berdampak.net – Dipenghujung Bulan Suci Ramadhan, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Gus Chasbullah Kafabie bersama dengan Pemuda Jabung Sisir membagikan takjil kepada pengendara yang melintas di Jalan Raya Pantura Desa Jabung Sisir Kecamatan Paiton, Sabtu (29/03/2025) sore.

Kegiatan yang bertajuk semangat berbagi ini merupakan bentuk kekompakan para kaum muda untuk berbagi dengan sesama di penghujung bulan Ramadhan.

“Ini merupakan bentuk tanggung jawab dan semangat kami para pemuda Jabung Sisir untuk terus melakukan kegiatan positif salah satunya berbagi dengan sesama,” jelas Muhammad Rasub, koordinator kegiatan.

Dengan menggelar kegiatan ini, diharapkan bisa meminimalisir kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan pemuda sehingga bisa menodai kesucian bulan Ramadhan.

“Takjil yang kami bagikan ini tidak seberapa, namun dampak yang kami harapkan bisa menekan kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan oleh pemuda terutama saat menunggu waktu berbuka puasa, seperti trek-trekan di jalan dan lain sebagainya,” ungkap Rasub.

Sementara itu, Gus Chasbullah Kafabie (Gus Has) mengungkapkan, pihaknya akan terus mendukung dan mensupport kegiatan kepemudaan yang bermuara kepada hal-hal yang positif.

“Ini merupakan salah satu contoh kegiatan pemuda yang baik, dan kami akan terus mensupport kegiatan-kegiatan baik lainnya yang dilakukan oleh teman-teman pemuda Kabupaten Probolinggo, terutama di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran,” ungkap Gus Has.

Hal itu merupakan komitmen dalam membangun generasi muda yang eksis unggul dan berdaya saing, sehingga diharapkan pemuda dapat berperan sebagai agen perubahan dalam berbagai bidang, seperti pembangunan, pemberdayaan masyarakat, dan pergerakan nasional.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan kelompok-kelompok pemuda guna mencetak generasi yang eksis eksis unggul dan berdaya saing, berguna bagi Agama nusa dan Bangsa,” harapnya. (fiq) 

Gus Chasbullah Kafabie, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik

Probolinggo, Berdampak.net – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPR-D) Kabupaten Probolinggo, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Gus Chasbullah Kafabie (Gus Has), mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik, untuk menjaga kesuburan tanah, serta meningkatkan hasil panen, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk Kimia, legislator yang juga sebagai anggota Panitia Kerja (Panja) Pupuk Bersubsidi Kabupaten Probolinggo tersebut menyampaikan, dengan menggunakan pupuk kimia dalam jangka panjang, akan merusak kesuburan tanah.

“Dengan Pupuk Organik, itu bisa meminimalisir ketergantungan kita dalam penggunaan pupuk Kimia, dan tentu hasil panennya itu lebih healty lebih sehat untuk dikonsumsi,” jelas beliau, Rabu (26/05/2025) petang.

Pihaknya bersama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Paiton, Kotaanyaar, dan Pakuniran, serta Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Paiton berkomitmen akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap petani muda untuk menggunakan pupuk organik.

“Kami InsyaAllah akan selalu mengedukasi kepada para petani milenial, kita akan memulai dari tiga Kecamatan ini, Bismillah,” pungkasnya.

PPL Kecamatan Paiton, Abdul Haris Nasrullah, mengaku siap untuk membantu dan mendorong program yang akan dilaksanakan oleh Gus Has, dalam hal mengedukasi para petani milenial untuk bertani secara organik.

“Kami atasnama PPL di tiga Kecamatan, Paiton Kotaanyar dan Pakuniran, serta Koordinator BPP Paiton, siap mengawal dan membantu program dan Gus Has, sebagai Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, terutama dalam hal bagaiman mengedukasi pemuda supaya leboh cinta terhadap pertanian, terutama pertanian organik,” jelasnya. (fiq)

Refleksi Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dalam Perspektif Spiritual, Sosial, dan Ekonomi

Ditulis oleh Ainur Rofiq

Alumni PP. Salafiyah Miftahul Ulum Jetis Dau Malang.

Di penghujung Ramadan, waktu terasa melambat, memberikan kesempatan bagi setiap Muslim untuk merenungkan perjalanan ibadah yang telah dilalui. Sepuluh hari terakhir menjadi puncak dari perjuangan spiritual, di mana doa semakin khusyuk, sujud semakin dalam, dan harapan akan bertemu Lailatul Qadar semakin besar. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan meningkatkan intensitas ibadahnya, mengisi malam-malamnya dengan salat, doa, dan perenungan. Lailatul Qadar menjadi momen yang dinanti, karena keutamaannya melebihi seribu bulan. Sebagaimana Hadist Rasulullah SAW,  , Man shoma romadhon imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih, artinya “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan penuh harapan akan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari).

Dalam suasana penuh keheningan dan doa, muncul beragam perasaan yang menyertai penghujung Ramadan. Ada kebahagiaan karena berhasil menjalani bulan penuh berkah dengan meningkatkan ketakwaan dan kedisiplinan diri. Namun, di sisi lain, ada pula kesedihan karena Ramadan akan segera berakhir tanpa jaminan pertemuan kembali di tahun berikutnya. Sebagian Muslim berharap dapat memperpanjang kehangatan spiritual yang hanya dirasakan pada bulan ini. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, Man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi “Siapa yang mendirikan salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan pengharapan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di luar ruang-ruang ibadah, kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan tantangannya. Ramadan tidak hanya menjadi ajang menahan godaan hawa nafsu, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Kenaikan harga bahan pokok, meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri, serta kecemasan akan kondisi ekonomi menjadi bagian dari realitas yang dihadapi banyak orang. Di banyak rumah, doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya tentang keberkahan Ramadan, tetapi juga tentang harapan akan kestabilan hidup dan terpenuhinya kebutuhan keluarga setelah bulan suci berakhir.

Dalam menghadapi dinamika sosial dan ekonomi, peran kebijakan publik sangat menentukan apakah Ramadan dapat dijalani dengan penuh ketenangan atau justru diwarnai kecemasan. Pemerintah (Ulil Amri) memiliki tanggung jawab dalam menjaga stabilitas harga, memastikan distribusi bantuan sosial tepat sasaran, serta meningkatkan pelayanan publik, terutama bagi para pemudik. Prinsip yang diajarkan Ramadan tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (Hablum Minallah), tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap sesama (Hablum Minannas). Keberhasilan dalam menerapkan nilai-nilai Ramadan juga tercermin dari kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas.

Selain aspek ibadah, sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi kesempatan untuk memperkuat kepedulian sosial. Momentum ini tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan zikir, tetapi juga sebagai waktu untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Tradisi i’tikaf mengajarkan seseorang untuk mengasah kepekaan batin, menata niat, dan memahami bahwa Ramadan bukan sekadar memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga memperkuat rasa empati terhadap sesama.

Mereka yang merasakan keberkahan Ramadan memanfaatkan sepuluh hari terakhir untuk memaksimalkan amal ibadah. Dalam sunyi malam, doa yang diajarkan Rasulullah SAW terus dipanjatkan dengan penuh harap, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” artinya (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai permintaan maaf, maka ampunilah aku). Setiap untaian doa membawa harapan akan penghapusan dosa, kesempatan baru, dan peningkatan kualitas diri setelah Ramadan berlalu.

Setelah Ramadan berakhir, tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana menjaga nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Saat gema takbir berkumandang dan suasana Idulfitri menyelimuti hati, penting untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci. Konsistensi dalam berbagi, kepedulian terhadap sesama, serta kedisiplinan dalam ibadah menjadi ukuran sejauh mana Ramadan memberikan perubahan nyata dalam kehidupan.

Ketika lembaran baru dibuka, nilai-nilai yang telah tertanam selama Ramadan seharusnya tetap terjaga. Jika kesabaran, keikhlasan, dan empati telah menjadi bagian dari diri, maka prinsip-prinsip ini harus terus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah proses pembentukan karakter yang mengajarkan kedisiplinan, ketulusan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Sepuluh hari terakhir bukan sekadar bagian penutup Ramadan, tetapi juga cerminan dari perjalanan spiritual, sosial, dan ekonomi yang perlu terus diperjuangkan. Keberkahan Ramadan tidak berakhir dengan berlalunya bulan suci ini, tetapi seharusnya mengalir dalam setiap tindakan dan keputusan sepanjang tahun. Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar diamalkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan dalam satu bulan, melainkan akan terus menginspirasi kehidupan di bulan-bulan berikutnya. 

Wallahu A’lam Bishowab