Menata Ulang Orentasi Pangan Kita Untuk lepas dari  Bayang-Bayang Beras

Oleh: Ainur Rofiq

Berdampak.net –Di pinggir-pinggir jalan desa di banyak sudut Indonesia, lahan sawah perlahan tinggal cerita. Ladang-ladang yang dulu hijau merunduk kini beringsut jadi deretan rumah-rumah beton, pabrik kecil, hingga perumahan bersubsidi. Sebagian bahkan sudah berubah wujud menjadi ruko-ruko yang terang benderang di malam hari, hal ini pertanda tanah tak lagi semata-mata dipandang sebagai sumber pangan lagi, melainkan suatu komoditas ekonomi yang cepat berganti baik penggunaan serta pemanfaatannya. 

Negara memang tidak tinggal diam. Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah terus menguatkan pagar kebijakan untuk melindungi lahan sawah dari ancaman alih fungsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, luas lahan sawah nasional terus mengalami penyusutan. Pada 2022, tercatat sekitar 7,46 juta hektare sawah tersisa. Setahun berikutnya, 2023, angkanya turun menjadi 7,1 juta hektare. Memasuki 2024, angka ini diperkirakan makin merosot, seiring gempuran urbanisasi dan kebutuhan lahan untuk infrastruktur sebagai penunjang Pembangunan dan kemudahan mobilitas yang bertujuan untuk menaikan taraf hidup dan naiknya kelas sosial.

Alih fungsi lahan memang bukan persoalan sepele yang tentunya akan berimbas pada sektor utama ekosistem pangan. Di baliknya, tersembunyi ancaman besar bagi sektor ketahanan pangan. Sementara di sisi lain, kebutuhan pangan nasional terus menanjak. Konsumsi beras penduduk Indonesia, menurut data BPS yang dirilis maret 2024, mencapai 78 kg per orang per tahun angka yang sangat tinggi untuk rata-rata konsumsi penduduk di dunia.

Di tengah ancaman menyusutnya lahan pertanian itu, pemerintah berupaya merespon lewat kebijakan perlindungan lahan sawah. Salah satunya melalui penerbitan Keputusan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1589/SK-HK.02.01/XII/2021 tentang Lahan Sawah dilindungi (LSD) sebagai perlindungan terhadap laju alih fungsi dan memperkuat perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) serta Lahan Baku Sawah di seluruh Indonesia. Tujuannya jelas: menjaga keberlangsungan sawah sebagai penyangga utama produksi padi nasional.
Namun, di balik langkah strategis ini, mengemuka satu persoalan yang lebih mendasar. Sampai kapan ketahanan pangan negeri ini akan terus bertumpu pada beras sebagai sumber pangan utama? Sebab, menyelamatkan sawah memang penting, tapi membangun kemandirian pangan tidak melulu harus bergantung pada padi semata.

Sebenarnya, Indonesia bukan negeri yang miskin sumber pangan. Beragam komoditas lokal seperti jagung, singkong, sagu, sorgum, talas, hingga sukun tumbuh subur di berbagai daerah. Potensi itu menyimpan kekuatan besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun dalam realitas sosial kita, beras terlanjur melekat bukan sekadar sebagai bahan pangan pokok, melainkan simbol status dan kesejahteraan hidup.

Beras telah menjadi standar sosial yang jamak dalam kultur konsumsi masyarakat. Di banyak keluarga, makan tanpa nasi sering dipandang belum lengkap atau belum mengenyangkan. Pola pikir ini membuat ketergantungan terhadap beras semakin sulit dilepaskan, sekalipun sumber pangan alternatif tersedia melimpah di sekitar kita. Padahal, membangun kemandirian pangan seharusnya dimulai dari perubahan cara pandang terhadap apa yang kita makan.

Ironisnya, pola pikir inilah yang membuat kebijakan pangan kita kerap terpaku pada intensifikasi pertanian yaitu bagaimana menaikkan produktivitas padi setinggi-tingginya. Padahal, ruang untuk ekstensifikasi yang berarti membuka lahan sawah baru semakin sempit. Sehingga kawasan pertanian harus berebut lahan dengan sektor industri, pemukiman, dan infrastruktur ataupun sebaliknya.

Ketika dua jalan itu antara intensifikasi dan ekstensifikasi mulai menemukan batasnya, maka diversifikasi pangan seharusnya menjadi jalan ketiga dan alternatif penyelesaian. Sayangnya, agenda ini seperti berjalan setengah hati. Inovasi beras analog  butiran pangan yang dibuat dari bahan non-padi sebenarnya dapat menjadi jawaban. Singkong, jagung, sagu, atau bahkan sukun, diolah sedemikian rupa menyerupai beras, tetapi lebih ramah lingkungan dan lebih fleksibel dalam produksi.

Namun, keberadaan beras analog masih dipandang sebelah mata. Ia hadir di pojok rak supermarket, toko klontong, atau dalam program pemerintah yang belum menyentuh dapur rakyat secara luas.
Sejatinya, pengembangan beras analog tidak sekadar dimaknai sebagai upaya menggantikan beras konvensional di meja makan. Lebih dari itu, produksi beras alternatif ini merupakan bagian penting dari strategi membangun kedaulatan pangan nasional berbasis potensi keanekaragaman hayati lokal. Dengan perencanaan yang serius dan kebijakan yang terintegrasi, beras analog bisa menjadi simbol transformasi sistem pangan yang lebih inklusif dan beragam. Dalam konteks ini, negara tidak cukup hanya berperan sebagai pembuat aturan di atas kertas. Negara justru dituntut hadir lebih aktif sebagai motor penggerak perubahan, membangun ekosistem produksi, distribusi, hingga mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat agar lebih adaptif terhadap pangan lokal.

Diversifikasi pangan memang bukan pekerjaan semalam. Ia membutuhkan kerja simultan: kebijakan produksi di hulu, insentif bagi petani lokal, dukungan industri pengolahan, hingga kampanye budaya makan di hilir. Yang lebih penting, negara harus berani merumuskan ulang narasi besar: bahwa pangan Indonesia bukan hanya tentang beras, tetapi tentang keberagaman yang menjadi kekuatan kita sejak lama. Dengan jalan diversifikasi, Indonesia tidak hanya memperluas pilihan makan bagi rakyatnya, tetapi juga memperkokoh ketahanan pangan di tengah gempuran perubahan iklim, krisis lahan, dan dinamika pasar global.

Sebab, pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya tentang ketersediaan beras di gudang Bulog. Ketahanan pangan adalah tentang keberanian sebuah bangsa menata ulang jalan pangannya melepaskan diri dari ketergantungan dari negara lain dan kembali kepada kekayaan alam dan budaya makannya sendiri. Barangkali, semua itu harus dimulai dari piring makan kita sendiri, hari ini, bukan esok.
Wallahu A’lam Bishowab

Mudik, Silaturrahmi, dan Jalan Pulang Spiritual

Oleh: Ainur Rofiq
(Alumni PP. Miftahul Ulum Jetis Dau Malang)

Berdampak.net – Mudik selalu menjadi peristiwa besar di negeri ini. Bukan sekadar gelombang manusia yang bergerak serentak, menyesaki jalanan dari kota ke desa. Di balik peluh perjalanan jauh itu, ada rindu yang ditabung bertahun-tahun untuk bertemu orang tua dan sanak saudara. Ada denyut ekonomi lokal yang kembali hidup, warung kecil hingga pasar tradisional yang tersenyum menerima berkah musiman. Dan lebih dari itu, ada nilai spiritual yang diwariskan: silaturrahmi sebagai jalan pulang, yang tak pernah lekang oleh zaman.

Mudik bukanlah tradisi baru. Dalam catatan sejarah, istilah “mudik” berasal dari bahasa Betawi dari kata “udik” yang berarti kampung atau hulu. Sejak era kolonial, warga yang merantau ke Batavia menyebut pulang kampung sebagai “mudik ke udik”. Namun, mudik dalam skala nasional sebagai fenomena sosial besar baru menonjol sekitar awal 1970-an, seiring dengan meningkatnya arus urbanisasi dan pembangunan kota.

Hari ini, mudik telah menjadi bagian dari “ritual sosial nasional” yang terus bertahan bahkan di tengah modernisasi dan teknologi. Jalan-jalan macet, stasiun dan terminal penuh sesak, tempat wisata padat oleh pengunjung — semua itu bukan sekadar pemandangan rutin Lebaran, tetapi menjadi “perayaan peradaban” masyarakat Indonesia yang masih memegang kuat akar kulturalnya.
Sebagai tradisi tahunan umat Muslim di Indonesia maka mudik bukan sekadar peristiwa perjalanan fisik menuju kampung halaman, melainkan mengandung makna sosial dan spiritual yang sangat dalam. Dalam kultur masyarakat, khususnya di pedesaan, mudik adalah momentum sakral untuk mempertemukan kembali tali silaturrahmi yang mungkin renggang oleh jarak dan kesibukan hidup di perantauan. Orang tua kerap mengajak anak-anak mereka untuk ikut serta dalam perjalanan mudik, bukanlah sekadar mengenalkan pada kampung halaman, tetapi lebih dari itu yaitu untuk mengajarkan etika sosial dan adab silaturrahmi (sonjo) sebagai bekal hidup. Ada pesan tersirat bahwa kelak ketika orang tua telah tiada, anak-anak inilah yang diharapkan mampu menjaga, merawat, dan melanjutkan tradisi silaturrahmi di antara kerabat dan sanak saudara.

Di dalam tradisi ini, nilai sosial yang paling kuat adalah upaya mempertahankan jaringan kekeluargaan agar tidak tercerabut oleh modernitas dan individualisme. Silaturrahmi bukan semata pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang perjumpaan batin yang mempererat rasa persaudaraan dan memelihara rasa hormat kepada sesama keluarga besar. Dalam pertemuan itu, sering kali diperkenalkan kembali garis-garis nasab atau keturunan, sesuatu yang di masyarakat urban mulai terlupakan. Dalam budaya Jawa, Sunda, Madura, dan daerah-daerah lain, pengenalan istilah kekerabatan seperti eyang, abah, bani, atau bujuk memiliki fungsi sosial penting: menunjukkan asal-usul, leluhur, dan jaringan sosial yang harus dihormati dan dijaga kesinambungannya.

Maka nilai ajaran dari  mudik itu tidak hanya perjalanan pulang yang bersifat ritual atau seremonial belaka. Ia adalah jalan pulang menuju akar budaya dan spiritual masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat membentuk kesadaran kolektif bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Ada jejak leluhur, ada nama besar keluarga, ada sejarah panjang silaturrahmi yang membentang dari masa lalu untuk diwariskan ke generasi mendatang. Maka, menjaga tradisi mudik dan silaturrahmi adalah menjaga keberlanjutan identitas sosial kita sebagai bangsa yang menempatkan hubungan kekeluargaan di atas kepentingan pribadi. Di sanalah inti dari budaya sonjo menemukan ruang hidupnya dan memperkokoh identitas akar budaya masyarakat kita.

Nilai spiritual mudik
Nilai spiritual mudik sebagai bagian dari silaturrahmi memiliki landasan yang sangat kuat dalam ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam Al-Qur’an, perintah untuk menyambung tali silaturrahmi (menjaga hubungan kekerabatan) sangat jelas, bahkan dikaitkan langsung dengan keberkahan hidup dan ketakwaan seseorang. Salah satu ayat yang sering menjadi rujukan adalah:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1).
Dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, keutamaan silaturrahmi disebutkan secara eksplisit sebagai salah satu jalan untuk memperpanjang umur, melapangkan rezeki, dan mendatangkan keberkahan hidup.
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nilai spiritual dari mudik sangat erat kaitannya dengan referensi tersebut. Sehingga mudik bukan hanya soal kembali ke kampung halaman secara fisik dan materi semata, tetapi juga menjalankan perintah agama untuk menyambung kembali ikatan batin, hubungan keluarga, dan keharmonisan sosial yang mungkin terputus karena waktu, kesibukan, atau jarak. Dalam konteks budaya Indonesia, perjalanan mudik menjadi “ibadah sosial” ruang untuk melatih kesabaran di tengah kemacetan, mengalah dalam antrian, dan berbagi dalam kesederhanaan. Lebih dari itu, orang tua sering kali menjadikan mudik sebagai media pendidikan sosial dan spiritual kepada anak-anaknya, agar kelak ketika mereka dewasa dan orang tua sudah tiada, tradisi silaturrahmi tetap terjaga lintas generasi.

Menggerakkan Ekonomi Desa
Sebagaimana dilaporkan Media Indonesia, 2025 bahwa Perputaran uang selama musim mudik Lebaran 2025 diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini, jumlah uang yang beredar selama periode Lebaran diprediksi mencapai Rp137,97 triliun, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp157,3 triliun. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya jumlah pemudik tahun ini. Survei Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta orang, atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia, menurun 24% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 193,6 juta pemudik. (CNN Indonesi, 2025)
Kampung halaman yang sepanjang tahun kerap sunyi, mendadak hidup kembali saat musim mudik tiba. Jalanan desa yang biasanya lengang, kini padat oleh deru kendaraan pemudik yang datang dari kota-kota jauh. Rumah-rumah tua yang nyaris tertutup debu seakan bernapas lagi, disapu tawa cucu-cucu yang pulang membawa rindu. Aroma masakan dapur nenek kembali semerbak, menjadi pengikat kenangan masa kecil yang sulit dicari di tengah hiruk pikuk kota besar.
Pasar tradisional mendadak riuh. Para pedagang tersenyum lebar, melayani pembeli yang memborong kebutuhan Lebaran. Warung-warung makan sederhana di pinggir jalan desa laris manis, melayani perut-perut lapar para perantau yang merindukan cita rasa kampung halaman. Sopir angkutan lokal yang biasanya parkir berjam-jam tanpa penumpang, kini sibuk mengantar orang-orang dari terminal kecil menuju dusun-dusun pelosok. Bahkan, objek wisata desa yang sebelumnya sepi, mendadak sesak oleh rombongan keluarga yang sekadar ingin menikmati kesejukan alam sambil melepas lelah perjalanan.

Mudik, dalam narasi ini, bukan semata soal nostalgia sosial. Ia adalah ritual pulang yang turut mendistribusikan perputaran uang ke daerah. Ekonomi lokal bergerak. Warung kopi kecil, jasa cuci kendaraan, tukang parkir, hingga pedagang keliling ikut kecipratan berkah Lebaran. Kota mungkin menjadi tempat mencari penghidupan, tapi kampung halaman tetap menjadi tempat berbagi kehidupan. Mudik adalah cara paling sederhana dan manusiawi untuk merawat ekonomi kerakyatan, menjaga denyut sosial, dan meneguhkan kembali identitas kultural sebuah bangsa.

Perubahan Sosial dan Tantangan Masa Depan
Namun, seperti wajah kampung halaman yang perlahan berubah, tradisi mudik pun tak luput dari sentuhan zaman. Jalan-jalan desa yang dulu hanya berupa tanah berbatu, kini telah disulap menjadi aspal mulus yang terhubung langsung ke gerbang tol. Perjalanan berhari-hari dengan bus antarkota atau kereta ekonomi kini bisa dipersingkat hanya dalam hitungan jam. Infrastruktur baru membelah hutan, sawah, dan pegunungan memperpendek jarak, tapi juga perlahan mengubah lanskap alam dan budaya perjalanan itu sendiri.
Di sisi lain, teknologi digital mempercepat cara orang bersilaturahmi. Video call, grup WhatsApp keluarga, hingga media sosial menjadi ruang pertemuan baru tanpa harus saling bertatap muka. Ada yang memilih menunda mudik, karena pekerjaan atau biaya, dengan alasan “yang penting komunikasi tetap jalan.” Tetapi di balik kemudahan itu, ada kekosongan batin yang tak tergantikan. Sebab, silaturrahmi bukan sekadar saling sapa di layar kaca, melainkan pengalaman batin yang hadir dalam pelukan, cium tangan orang tua, dan tawa bercampur haru di teras rumah masa kecil.
Inilah tantangan masa depan mudik: bagaimana merawat tradisi pulang di tengah modernisasi yang serba cepat dan praktis. Mudik bukan hanya soal perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa. Anak-anak yang diajak orang tua pulang kampung sejatinya sedang diwarisi peta sosial dan akar sejarah keluarganya. Sebab ketika nanti orang tua telah tiada, jalan pulang itu tak lagi ditunjukkan oleh infrastruktur jalan raya, melainkan oleh ingatan dan kesadaran bahwa ada kampung halaman tempat di mana silaturrahmi bermula, dan identitas sosial seseorang kembali menemukan rumahnya.
Tetapi pertanyaannya, akankah mudik kehilangan makna jika semua itu serba virtual?
Ketika teknologi semakin canggih dan jarak seolah lenyap oleh sebuah layar elektronik, silaturrahmi perlahan berubah menjadi sekadar pertemuan daring. Video call mungkin bisa mempertemukan wajah, tapi tidak mampu menggantikan getar tangan saat berjabat, atau haru yang membasahi pelukan di beranda rumah masa kecil. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh sinyal dan gambar bergerak dunia maya. Sebab, tidaklah hanya soal komunikasi, tetapi tentang pengalaman batin yang tumbuh dari perjalanan fisik menuju akar kehidupan seseorang.
Sosiolog agama dari UIN Jakarta, Dr. Asep Saepudin Jahar, dalam jurnalnya menulis bahwa mudik di Indonesia adalah ekspresi kultural masyarakat Muslim dalam menjalankan ajaran agama secara sosial dan emosional. Ia bukan ritual formal seperti salat atau puasa, tetapi pengalaman spiritual yang merawat ikatan sosial, meneguhkan nasab keluarga, dan memperpanjang silaturrahmi sebagaimana anjuran Rasulullah SAW. Dalam konteks modernitas yang makin menekan relasi manusia menjadi individu yang sibuk dan terasing, mudik adalah ruang kontemplasi sekaligus perayaan atas identitas sosial kita sebagai makhluk yang lahir dari komunitas keluarga, kampung, dan tanah kelahiran.
Menjaga tradisi mudik adalah menjaga karakter sosial bangsa ini. Pulang ke kampung halaman merupakan peristiwa tahunan atau ritual yang tidak hanya tentang giat ekonomi semata, melainkan juga bentuk perlawanan terhadap gejala individualisme dan alienasi kota besar. Mudik mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hidup hanya dengan pencapaian material, tetapi juga butuh pulang untuk merawat silaturrahmi, meneguhkan akar, dan memperbarui kembali rasa syukur sebagai makhluk yang berasal dari keluarga dan kampung halaman. Sebab sejauh apapun kaki melangkah, kampung halaman selalu menjadi tempat jiwa kembali belajar menjadi manusia seutuhnya.

Jalan Pulang yang Perlu Dirawat
Saat musim mudik tiba, jalanan yang biasanya lengang mendadak dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan, sementara rest area menjadi saksi kehangatan keluarga yang berhenti sejenak dalam perjalanan. Suara tawa anak-anak yang kembali mengisi kampung-kampung yang sepi menyiratkan bahwa peradaban kita masih hidup dengan denyut yang tak pernah padam, meskipun didera tantangan modernitas.
Peradaban tidak semata tercermin dari gemerlap gedung-gedung tinggi di kota, melainkan juga terwujud dalam kesederhanaan rumah-rumah di desa tempat orang tua dengan sabar menunggu kedatangan anak-anak mereka. Di sana, pelukan hangat dari kerabat yang lama terpisah dan pertemuan di warung kopi kampung menciptakan momen-momen yang menyatu dengan jiwa, melestarikan nilai-nilai kekeluargaan yang telah ada sejak lama.
Mudik merupakan simbol perjalanan pulang yang mengintegrasikan dimensi sosial, ekonomi, dan spiritual. Ini lebih dari sekadar ritual tahunan; ia adalah panggilan untuk memperkuat tali persaudaraan dan melestarikan warisan budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai ini dihadirkan dalam setiap langkah kehidupan, bukan hanya sebagai seremonial, tetapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseharian.
Di tengah arus modern yang membawa manusia melangkah jauh, selalu ada tempat yang menjadi pelabuhan hati, rumah yang menanti untuk kembali menyambut. Meskipun teknologi mempercepat komunikasi dan mobilitas, kehadiran fisik dan kehangatan pertemuan tetap memiliki nilai yang tak tergantikan, mengingatkan kita bahwa akar kemanusiaan selalu memerlukan sentuhan nyata.
Di sanalah, di persimpangan antara masa lalu dan masa depan, silaturrahmi dapat menemukan maknanya yang paling dalam. Sehingga perjalanan dapat mudik menyatukan elemen-elemen kehidupan yang sering terlupakan, menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan harapan baru. Itulah jalan pulang yang harus terus kita rawat dan pelihara sebagai warisan peradaban, agar semangat kekeluargaan dan kehangatan sosial tak pernah pudar.

Taqabbalallahu minna wa minkum”
Wallahu a’lam bishawab

Bara Perlawanan Itu Masih Bernama Mahasiswa

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Setiap kali bangsa ini dihadapkan pada tirani kekuasaan, satu kelompok yang selalu ditunggu aksinya adalah mahasiswa. Bukan tanpa alasan. Mahasiswa memiliki rekam jejak historis sebagai penjaga nurani rakyat dan penjaga batas kekuasaan agar tak melampaui moralitas. Mereka adalah bara perlawanan yang menyala ketika rakyat mulai lesu dan harapan mulai pudar.

Oligarki kekuasaan, dalam berbagai bentuknya, selalu mencari cara untuk membungkam kritik dan meredam suara-suara yang menyakitkan telinga penguasa. Ketika lembaga formal lumpuh dan media disusupi kepentingan modal, mahasiswa menjadi kekuatan terakhir yang bisa diharapkan. Mereka tak terikat oleh kepentingan jabatan maupun transaksi kekuasaan. Yang mereka miliki hanya idealisme dan keberanian.

Namun menjadi mahasiswa bukan sekadar status akademik, melainkan mandat moral. Mandat yang tak diberikan oleh kampus, melainkan oleh sejarah dan oleh rakyat. Di tengah ketidakadilan yang terus dipelihara oleh segelintir elite, suara mahasiswa adalah harapan yang menggema. Kita tentu masih ingat, bagaimana mahasiswa menumbangkan Orde Lama, menggerogoti Orde Baru, dan mendorong Reformasi. Ketika semua pihak diam, mahasiswa menggugat.

Sayangnya, era reformasi yang semula dijanjikan sebagai gerbang keadilan justru membuka pintu baru bagi oligarki untuk bertransformasi. Para pemilik modal kini bukan hanya menjadi penyokong kekuasaan, tetapi juga menjadi pelaku politik itu sendiri. Kekuasaan dan uang bersatu, dan hasilnya adalah keputusan-keputusan yang makin jauh dari kepentingan rakyat.

Inilah saatnya mahasiswa kembali mengambil peran. Sebab demokrasi kita sedang dibajak. Ketika penguasa dan pengusaha duduk dalam satu meja untuk merancang masa depan tanpa rakyat, maka mahasiswa harus berdiri sebagai oposisi moral yang menyuarakan akal sehat. Jika tidak, maka bangsa ini akan terus dikendalikan oleh segelintir orang yang menganggap rakyat hanya angka dalam survei elektabilitas.

Gerakan mahasiswa sejati tidak muncul karena panggilan momentum, tetapi karena kesadaran historis dan kepedulian sosial. Mereka turun ke jalan bukan untuk eksistensi diri, tapi karena menyadari bahwa diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita bangsa. Tentu mahasiswa tak harus selalu demonstrasi. Mereka bisa mengisi ruang-ruang diskusi, advokasi, hingga kampanye digital yang bermartabat. Namun sikap kritis adalah keniscayaan.

Mahasiswa hari ini memang menghadapi tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tak lagi melawan rezim otoriter tunggal, tetapi jaringan oligarki yang licik dan tersembunyi. Mereka tak sekadar menuntut reformasi politik, tetapi juga keadilan sosial, ekologis, dan digital. Maka, dibutuhkan kecerdasan, konsolidasi, dan keberanian yang lebih besar.

Kekhawatiran banyak orang terhadap melemahnya gerakan mahasiswa belakangan ini cukup beralasan. Tak sedikit yang memilih aman, nyaman, bahkan apatis. Tapi saya yakin, masih ada bara dalam sekam. Masih ada sekelompok mahasiswa yang sadar bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga medan perjuangan. Kita hanya butuh satu percikan api untuk menyalakan kembali bara itu.

Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tak boleh kehilangan arah perjuangan. Mereka harus merumuskan ulang visi perjuangannya sesuai konteks zaman, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan, keberpihakan kepada yang lemah, dan keberanian menolak yang salah meskipun mayoritas membenarkannya.

Masyarakat menitipkan harapan besar pada mahasiswa. Di pundak mereka, suara-suara sunyi dari desa-desa, pasar-pasar, pabrik-pabrik, dan pinggiran kota menitipkan pesan: jangan biarkan suara kami tenggelam. Jangan biarkan keadilan menjadi barang langka. Jangan biarkan negara ini dibeli oleh mereka yang punya banyak uang.

Saya tidak mengatakan bahwa semua mahasiswa harus turun ke jalan. Tapi semua mahasiswa harus punya sikap. Dalam situasi bangsa yang makin dikuasai oleh oligarki, netralitas bukan pilihan bijak, tapi bentuk pembiaran. Dan pembiaran adalah pintu masuk ketidakadilan yang lebih besar.

Tentu saja, perjuangan mahasiswa bukan tanpa risiko. Rezim bisa saja menekan, menstigma, bahkan memenjarakan. Tapi sejarah membuktikan, suara mahasiswa selalu menang pada akhirnya. Mungkin tidak langsung, tetapi selalu ada dampak yang ditinggalkan: kesadaran yang menyebar, keberanian yang tumbuh, dan gerakan yang tak bisa dihentikan.

Apa yang dibutuhkan mahasiswa saat ini bukan hanya keberanian, tetapi juga kecerdikan. Gerakan yang hanya emosional akan cepat padam. Sebaliknya, gerakan yang berbasis data, gagasan, dan strategi akan jauh lebih menggugah dan berkelanjutan.

Mari kita dukung mahasiswa yang masih percaya bahwa kejujuran adalah kekuatan, bahwa kebenaran layak diperjuangkan, dan bahwa sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani bersuara. Bara itu masih ada. Dan selama mahasiswa tidak diam, oligarki tak akan pernah tenang.

Jelang Berakhirnya Libur Lebaran, Ini Pesan Anggota DPR-D Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam

Probolinggo, Berdampak.net – Menjelang berakhirnya masa libur panjang lebaran 2025, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR-D) Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam, menghimbau agar masyarakat tetap semangat dan terus waspada terhadap penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja.

Tak hanya itu politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu juga berpesan kepada para peserta didik yang pada Senin mendatang sudah mulai aktif belajar di sekolah kembali, untuk terus meningkatkan etos belajarnya untuk menggapai cita-cita yang gemilang.

“Saya ingin menyampaikan selamat belajar kembali kepada para peserta didik baik pendidikan umum dan Pesantren , pasca Ramadhan dan libur panjang kita harus lebih semangat belajar, kepada orang tua, untuk mendorong putra-putrinya untuk mempersiapkan kembali motivasi belajar anak dangan semangat yang fitri,” pesannya, Sabtu (05/04/2025).

Mantan ketua umum Badko HMI Jawa Timur itu juga berpesan kepada para pekerja rantau yang hendak kembali memulai aktifitasnya dalam mencari nafkah untuk keluarganya, agar tetap semangat serta terus meningkatkan etos kerjanya.

“Kedua bagi para pejuang keluarga yang akan kembali bekerja terutama para perantau, saya menyampaikan selamat kembali beraktifitas baik di Probolinggo maupun di tanah rantau. Apalagi dalam situasi perekonomian yang cenderung menurun hari ini, alangkah lebih baiknya kita lebih meningkatkan semangat dan etos kerja sebagai bagian dari menguatkan harapan dan prospek kerja,” jelasnya.

Tak lupa ia juga menghimbau kepada masyarakat yang akan mencari pekerjaan, untuk terus waspada terhadap penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja.

“Dan yang terakhir, bagi para pencari kerja baru dan yang akan memulai kerja di tanah perantauan untuk mempersiapkan mental, semangat, keahlian juga menambah wawasan pada lingkungan kerja yang di tuju, terutama terkait jaminan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus di miliki oleh setiap pekerja, karena akhir-akhir ini sangat banyak modus penipuan dan kejahtan yang berkedok penyalur tenaga kerja, jangan sampai terbuai dan tertipu dengan janji-janji pekerjaan yang menggiurkan . Demi keamanan saat bekerja, sebelum berangkat merantau alangkah lebh baiknya masyarakat mencari informasi hal-hal terkait dunia kerja dan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja pada dinas tenaga kerja kabupaten Probolinggo,” imbaunya. (fiq)

Usai Lebaran 2025, Kajian Sirah Nabawi di Raluna Coffee Kembali Digelar

Probolinggo, Bedampak.net – Setelah sukses menggelar kajian sepanjang bulan Ramadan, Kelompok Kajian Sirah Nabawiyah di Raluna Coffee akan kembali digelar usai Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Hal ini disampaikan oleh Ketua Kajian, Mohammad Nurkholis Muslim, yang menegaskan bahwa kajian ini merupakan upaya memperdalam pemahaman umat Islam tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Sepanjang Ramadan, kelompok kajian ini telah berhasil mengkhatamkan buku Sirah Abu Bakar, yang mengulas perjalanan hidup khalifah pertama dalam Islam. Usai Lebaran, kajian akan berlanjut dengan pembahasan mendalam mengenai Sirah Umar bin Khattab, sosok pemimpin yang dikenal dengan ketegasan dan keadilannya.

Kajian ini semakin diminati, terutama oleh mahasiswa dan para pecinta diskusi Islam. Jumlah peserta yang hadir terus bertambah, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap kajian sejarah Islam yang disajikan secara akademis dan dialogis.

Selain menghidupkan kajian rutin, Nurkholis juga tengah merancang proyek literasi berupa taman baca di wilayah Paiton, Probolinggo. Menurutnya, kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada tingkat literasi masyarakatnya. Oleh karena itu, inisiatif ini diharapkan mampu mendorong minat baca dan diskusi di kalangan masyarakat setempat.

Ia menuturkan bahwa taman baca yang direncanakannya akan menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk membaca dan berdiskusi. Tak hanya itu, fasilitas ini juga akan dilengkapi dengan musala guna menunjang kenyamanan pengunjung yang ingin beribadah.

“Saya akan membuat taman baca yang lengkap dengan musalanya. Insya Allah, di area Paiton,” ujar Nurkholis saat diwawancarai.

Sebagai mantan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Malang dan Yogyakarta, Nurkholis mengaku bahwa semangat berkaryanya tidak terlepas dari proses kaderisasi yang ia jalani selama menjadi bagian dari organisasi tersebut.

“Di HMI, saya dibentuk untuk menjadi insan pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Hal ini yang memotivasi saya untuk terus mencetak kader-kader potensial,” ungkapnya.

Kajian Sirah Nabawiyah yang ia rintis merupakan bagian dari cita-cita luhurnya dalam membentuk masyarakat yang meneladani sosok manusia paripurna, yakni Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, umat Islam perlu memahami perjalanan hidup Rasulullah agar dapat meniru keteladanan beliau dalam berbagai aspek kehidupan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa membaca Sirah Nabawiyah bukan sekadar memahami sejarah, melainkan juga menemukan inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sejarah para sahabat, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, memberikan banyak pelajaran tentang kepemimpinan, kejujuran, dan pengorbanan dalam membangun peradaban Islam.

Nurkholis berharap kajian ini dapat terus berkembang, tidak hanya di Raluna Coffee tetapi juga di berbagai tempat lainnya. Ia membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Selain itu, ia juga mengajak berbagai pihak untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan taman baca yang tengah ia rancang. Dengan semakin banyaknya fasilitas literasi di Paiton, ia optimistis bahwa daerah tersebut akan melahirkan generasi yang lebih cerdas dan berdaya saing tinggi.

“Kalau masyarakat Paiton dan Probolinggo secara umum ingin naik kelas, maka mereka harus mencintai literasi, mulai dari membaca hingga diskusi. Tanpa keduanya, SDM yang ada tidak akan berkembang dengan optimal,” tegasnya.

Menurutnya, semangat literasi harus dibangun sejak dini. Oleh karena itu, taman baca yang ia rintis tidak hanya akan menyediakan koleksi buku-buku Islam, tetapi juga literatur umum yang dapat memperkaya wawasan masyarakat.

Dengan adanya inisiatif kajian dan taman baca ini, diharapkan akan lahir lebih banyak generasi yang memiliki pemahaman keislaman yang kuat serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Nurkholis optimistis bahwa literasi dan diskusi yang terus berkembang akan membawa perubahan positif bagi masyarakat Paiton dan sekitarnya.

Sebagai penutup, Nurkholis menegaskan bahwa kajian Sirah Nabawiyah bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari misi dakwah untuk membangun umat yang lebih baik. “Semoga dengan kajian ini, kita semua semakin dekat dengan teladan Rasulullah dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (pm)

Gus Chasbullah Kafabie dan Pemuda Jabung Sisir Paiton Bagikan Takjil ke Pengguna Jalan Pantura

Probolinggo, Berdampak.net – Dipenghujung Bulan Suci Ramadhan, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Gus Chasbullah Kafabie bersama dengan Pemuda Jabung Sisir membagikan takjil kepada pengendara yang melintas di Jalan Raya Pantura Desa Jabung Sisir Kecamatan Paiton, Sabtu (29/03/2025) sore.

Kegiatan yang bertajuk semangat berbagi ini merupakan bentuk kekompakan para kaum muda untuk berbagi dengan sesama di penghujung bulan Ramadhan.

“Ini merupakan bentuk tanggung jawab dan semangat kami para pemuda Jabung Sisir untuk terus melakukan kegiatan positif salah satunya berbagi dengan sesama,” jelas Muhammad Rasub, koordinator kegiatan.

Dengan menggelar kegiatan ini, diharapkan bisa meminimalisir kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan pemuda sehingga bisa menodai kesucian bulan Ramadhan.

“Takjil yang kami bagikan ini tidak seberapa, namun dampak yang kami harapkan bisa menekan kegiatan-kegiatan negatif yang dilakukan oleh pemuda terutama saat menunggu waktu berbuka puasa, seperti trek-trekan di jalan dan lain sebagainya,” ungkap Rasub.

Sementara itu, Gus Chasbullah Kafabie (Gus Has) mengungkapkan, pihaknya akan terus mendukung dan mensupport kegiatan kepemudaan yang bermuara kepada hal-hal yang positif.

“Ini merupakan salah satu contoh kegiatan pemuda yang baik, dan kami akan terus mensupport kegiatan-kegiatan baik lainnya yang dilakukan oleh teman-teman pemuda Kabupaten Probolinggo, terutama di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran,” ungkap Gus Has.

Hal itu merupakan komitmen dalam membangun generasi muda yang eksis unggul dan berdaya saing, sehingga diharapkan pemuda dapat berperan sebagai agen perubahan dalam berbagai bidang, seperti pembangunan, pemberdayaan masyarakat, dan pergerakan nasional.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan kelompok-kelompok pemuda guna mencetak generasi yang eksis eksis unggul dan berdaya saing, berguna bagi Agama nusa dan Bangsa,” harapnya. (fiq)