Rajut Toleransi, Eratkan Persaudaraan: GKJW Kraksaan Bersilaturahmi ke Ponpes Nurul Jadid

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam semangat Hari Raya Idul Fitri 1446 H / 2025 M, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kraksaan kembali mengadakan kegiatan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Tradisi tahunan ini menjadi salah satu wujud nyata keharmonisan antarumat beragama yang terus terjaga di wilayah Tapal Kuda.

Rombongan GKJW Jemaat Kraksaan disambut hangat oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, beserta para pengurus pesantren. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mengiringi pertemuan yang berlangsung sederhana namun sarat makna ini.

Dalam sambutannya, KH. Moh. Zuhri Zaini menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas inisiatif dan kehadiran warga GKJW. Beliau menegaskan bahwa silaturahmi ini merupakan cermin indah dari semangat toleransi dan komitmen bersama dalam merawat persaudaraan antarumat beragama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Kami sangat bersyukur atas kunjungan ini. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar luhur untuk terus merawat kedamaian, saling menghormati, dan membangun negeri ini dengan kebersamaan,” tutur Kiai Zuhri.

Perwakilan GKJW Jemaat Kraksaan menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri serta harapan agar hubungan baik yang telah terjalin terus diperkuat demi menciptakan masyarakat yang damai dan saling mendukung. Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan tanda kasih dari GKJW kepada pihak pesantren sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan.

Tak hanya bertukar ucapan dan hadiah, kegiatan ini juga diisi dengan dialog singkat yang membahas pentingnya menjaga perdamaian dan kerukunan di tengah perbedaan. Nilai-nilai gotong royong, cinta kasih, dan saling menghormati menjadi titik temu yang mempererat ikatan dua komunitas besar ini.

Merayakan Perbedaan Sebagai Anugerah

Silaturahmi ini menegaskan bahwa perbedaan agama dan keyakinan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling memahami dan memperkaya kehidupan bersama. Tradisi tahunan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata dari upaya membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Perbedaan itu indah jika kita saling memahami. Dan hari ini, kami melihat keindahan itu nyata dalam pelukan silaturahmi,” ujar salah satu perwakilan GKJW.

Kegiatan silaturahmi GKJW ke Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi bukti bahwa masyarakat Kraksaan dan sekitarnya mampu merawat harmoni dalam keberagaman, serta terus berkomitmen menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang membangun dan menginspirasi. (pm)

Ekowisata: Jalan Tengah antara Pelestarian dan Pemberdayaan

penulis: Fajar Satrio Bangun Wibowo

Berdampak.net – Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata global, muncul kebutuhan mendesak untuk menciptakan model wisata yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga peduli pada keberlanjutan lingkungan dan sosial. Di sinilah ekowisata mengambil peran penting.

Meski hingga kini ekowisata masih mewakili sebagian kecil dari keseluruhan arus pariwisata internasional dan domestik, konsep ini terus tumbuh dan diimplementasikan oleh berbagai negara di dunia. Ekowisata menawarkan pendekatan alternatif yang lebih bertanggung jawab, dengan tujuan utama melindungi kelestarian alam dan budaya lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Daya tarik utama ekowisata bukan hanya keindahan alam yang ditawarkan, tetapi juga komitmen untuk menjaga ekologi dan memberikan manfaat langsung kepada komunitas lokal. Wisatawan tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga bagian dari solusi—melalui kontribusi langsung terhadap konservasi dan pengembangan masyarakat.

Lebih dari sekadar tren, ekowisata adalah bentuk kesadaran bahwa pariwisata masa depan harus mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan lingkungan. Ia hadir sebagai jalan tengah: wisata yang tetap menyenangkan, namun tidak merusak, melainkan merawat.

Dalam konteks inilah, ekowisata patut terus dikembangkan dan didukung, bukan hanya sebagai pilihan wisata, tetapi sebagai paradigma baru dalam membangun pariwisata yang adil, beretika, dan berkelanjutan.

Ning Dini Dorong CSR Siap Siaga Bencana dari Pelaku Usaha Pariwisata Bromo Tengger

Probolinggo, Berdampak.net– Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Hj. Dini Rahmania, menyoroti pentingnya peran bersama dalam penanggulangan bencana di kawasan Bromo Tengger yang dikenal sebagai wilayah dengan risiko bencana tinggi.

Dalam kunjungannya pada Kamis, 10 April 2024, di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Ning Dini menyapa langsung Tim Siaga Bencana, Kampung Siaga Bencana (KSB), dan Satgas Jaga Baya Tengger. Ia menyerap aspirasi serta memberikan dukungan terhadap kesiapsiagaan bencana di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk komitmennya, Ning Dini mengajak seluruh stakeholder, khususnya pelaku usaha di sektor pariwisata seperti hotel dan restoran besar, untuk turut berkontribusi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertema “Siap Siaga Kebencanaan”.

“Kami berharap para pelaku usaha bidang pariwisata seperti hotel dan resto besar agar memberikan CSR Siap Siaga Kebencanaan,” ujarnya kepada media, Senin (14/4/2025).

Politisi yang dikenal dekat dengan masyarakat ini menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi kewajiban bersama, termasuk pihak swasta.

“Jadi ini tanggung jawab bersama,” tegas Ning Dini. (fjr)

Petinggi Dubes Belanda Berkunjung ke FEB Unhas Jajaki Kerjasama Pendidikan dan Riset Ekonomi

MAKASSAR, berdampak.net – Perwakilan dari Kedutaan Besar Belanda di Indonesia berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan dan secara khusus melakukan diskusi dengan pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin menjajaki kerjasama bidang ekonomi, senin (14/4/2025) di kampus Tamalanrea.

Hadir pada kunjungan tersebut Andriaan Palm (Deputy Head of Mission and Head of Economic Department), Michael Mackloet (First Secretary Economic Affairs), Indy Kateriamalia (Senior Economic Affairs Officer).

Rombongan petinggi Dubes Belanda tersebut diterima jajaran pimpinan fakultas, Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir, SE., M.Si (Dekan), Prof. Dr. Mursalim Nohong, SE., M.Si (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan), Dr. Shinta Dedy Tikson (Penanggungjawab International Office FEB), Andi Aswan, SE.,MBA.,Ph. D (Ketua Departemen Manajemen).

Andriaan Palm menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk perkenalan serta diskusi terkait potensi kerjasama ekonomi dengan Belanda. Dalam pandangan mereka, Makassar khususnya dan Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang berkembang pesat di Indonesia sehingga memiliki daya tarik terutama bagi pemerintah Belanda.

Dari sisi sejarah, kerjasama Makassar dengan Belanda telah terjalin sejak dulu melalui Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, setelah berlangsungnya perang Makassar.

Sementara Wakil Dekan I, Mursalim Nohong menyampaikan bahwa kerjasama Makassar dengan Belanda berlanjut ketika Pemerintah Kota Makassar menjajaki kerja sama dengan pemerintah Kerajaan Belanda dalam bidang perikanan, energi dan pertanian sejak beberapa tahun terakhir.

“Keahlian yang dimiliki oleh pemerintah Belanda di bidang maritim, pengelolaan air, pengelolaan limbah, pertanian dan konsultan tentu menjadi alasan rasional untuk mengembangkan kerjasama diluar bidang pertanian, perikanan dan energi,” ujarnya.

Selanjutnya, Adriaan Palm juga menjelaskan concern mereka terhadap isu keberlanjutan yang saat ini menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis dan ekonomi suatu wilayah.

Menurutnya, perkembangan kota Makassar dan Sulawesi Selatan sebutlah misalnya New Port Makassar, geliat pertambangan di beberapa wilayah mengharuskan seluruh pihak ikut berkontribusi agar masa depan daerah ini tetap menjadi bagian penting dari negara-negara di dunia khususnya Belanda yang sangat peduli terhadap issu keberlanjutan.

Menimpali pernyataan Adriaan Palm, Mursalim Nohong, menerangkan temuan dari penelitian yang telah dilakukan terkait dengan pengelolaan sampah sebagai salah satu point dalam issu keberlanjutan.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah tidak saja menjadi permasalahan saat ini tetapi juga ancaman di masa yang akan datang sehingga pemerintah harus memberikan insentif selain penguatan regulasi,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir menyambut baik kunjungan tim duta besar pemerintah Belanda. Dekan FEB dua periode tersebut mengajak pemerintah Belanda melalui Adriaan Palm untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan ekonomi dan bisnis di Universitas Hasanuddin.

“Kerjasama bisa ditindaklanjuti melalui kegiatan sharing session pendidikan dan pembelajaran termasuk kerjasama riset dengan pemerintah dan institusi pendidikan yang ada di Belanda,” katanya.

Selanjutnya kerjasama pemerintah Indonesia dengan Belanda yang telah terjalin lama juga dipertegas oleh Andi Aswan, sebagai salah seorang dosen FEB Unhas yang pernah mengenyam pendidikan di Belanda.

Ia menguraikan bagaimana perhatian pemerintah Belanda terhadap masyarakat Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan melalui short course, pendidikan lanjut magister dan doktor dengan beasiswa pemerintah Belanda.

Hadir pula menerima kunjungan tersebut, Dr. Shinta Tikson, pengelola international office FEB Unhas yang menyambut baik kedatangan mereka. “Kunjungan ini menjadi stimulus dalam pengembangan kelas berbahasa internasional di fakultas,” tuturnya.

Menurut Shinta, dengan kerjasama yang akan dijalankan akan menambah referensi bagi mahasiswa FEB Unhas untuk mengikuti kegiatan summer course dan studi lanjut selain yang telah ada selama ini seperti Malaysia, Australia, USA, Jepang dan Italia.

Pada bagian akhir pertemuan yang berlangsung sekira dua jam tersebut, Indy Kateriamalia menyampaikan rencana kunjungan mereka selanjutnya pada bulan Juni 2025. Kesempatan tersebut akan dimanfaatkan oleh pimpinan FEB Unhas untuk melakukan kegiatan Kuliah Umum bagi mahasiswa dan dosen serta mengundang pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar sebagai narasumber dan peserta.

Harapannya dari kegiatan ini akan lahir peta potensi kerjasama yang akan memberikan manfaat lebih besar bagi kedua belah pihak.

Menata Ulang Orentasi Pangan Kita Untuk lepas dari  Bayang-Bayang Beras

Oleh: Ainur Rofiq

Berdampak.net –Di pinggir-pinggir jalan desa di banyak sudut Indonesia, lahan sawah perlahan tinggal cerita. Ladang-ladang yang dulu hijau merunduk kini beringsut jadi deretan rumah-rumah beton, pabrik kecil, hingga perumahan bersubsidi. Sebagian bahkan sudah berubah wujud menjadi ruko-ruko yang terang benderang di malam hari, hal ini pertanda tanah tak lagi semata-mata dipandang sebagai sumber pangan lagi, melainkan suatu komoditas ekonomi yang cepat berganti baik penggunaan serta pemanfaatannya. 

Negara memang tidak tinggal diam. Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah terus menguatkan pagar kebijakan untuk melindungi lahan sawah dari ancaman alih fungsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, luas lahan sawah nasional terus mengalami penyusutan. Pada 2022, tercatat sekitar 7,46 juta hektare sawah tersisa. Setahun berikutnya, 2023, angkanya turun menjadi 7,1 juta hektare. Memasuki 2024, angka ini diperkirakan makin merosot, seiring gempuran urbanisasi dan kebutuhan lahan untuk infrastruktur sebagai penunjang Pembangunan dan kemudahan mobilitas yang bertujuan untuk menaikan taraf hidup dan naiknya kelas sosial.

Alih fungsi lahan memang bukan persoalan sepele yang tentunya akan berimbas pada sektor utama ekosistem pangan. Di baliknya, tersembunyi ancaman besar bagi sektor ketahanan pangan. Sementara di sisi lain, kebutuhan pangan nasional terus menanjak. Konsumsi beras penduduk Indonesia, menurut data BPS yang dirilis maret 2024, mencapai 78 kg per orang per tahun angka yang sangat tinggi untuk rata-rata konsumsi penduduk di dunia.

Di tengah ancaman menyusutnya lahan pertanian itu, pemerintah berupaya merespon lewat kebijakan perlindungan lahan sawah. Salah satunya melalui penerbitan Keputusan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1589/SK-HK.02.01/XII/2021 tentang Lahan Sawah dilindungi (LSD) sebagai perlindungan terhadap laju alih fungsi dan memperkuat perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) serta Lahan Baku Sawah di seluruh Indonesia. Tujuannya jelas: menjaga keberlangsungan sawah sebagai penyangga utama produksi padi nasional.
Namun, di balik langkah strategis ini, mengemuka satu persoalan yang lebih mendasar. Sampai kapan ketahanan pangan negeri ini akan terus bertumpu pada beras sebagai sumber pangan utama? Sebab, menyelamatkan sawah memang penting, tapi membangun kemandirian pangan tidak melulu harus bergantung pada padi semata.

Sebenarnya, Indonesia bukan negeri yang miskin sumber pangan. Beragam komoditas lokal seperti jagung, singkong, sagu, sorgum, talas, hingga sukun tumbuh subur di berbagai daerah. Potensi itu menyimpan kekuatan besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun dalam realitas sosial kita, beras terlanjur melekat bukan sekadar sebagai bahan pangan pokok, melainkan simbol status dan kesejahteraan hidup.

Beras telah menjadi standar sosial yang jamak dalam kultur konsumsi masyarakat. Di banyak keluarga, makan tanpa nasi sering dipandang belum lengkap atau belum mengenyangkan. Pola pikir ini membuat ketergantungan terhadap beras semakin sulit dilepaskan, sekalipun sumber pangan alternatif tersedia melimpah di sekitar kita. Padahal, membangun kemandirian pangan seharusnya dimulai dari perubahan cara pandang terhadap apa yang kita makan.

Ironisnya, pola pikir inilah yang membuat kebijakan pangan kita kerap terpaku pada intensifikasi pertanian yaitu bagaimana menaikkan produktivitas padi setinggi-tingginya. Padahal, ruang untuk ekstensifikasi yang berarti membuka lahan sawah baru semakin sempit. Sehingga kawasan pertanian harus berebut lahan dengan sektor industri, pemukiman, dan infrastruktur ataupun sebaliknya.

Ketika dua jalan itu antara intensifikasi dan ekstensifikasi mulai menemukan batasnya, maka diversifikasi pangan seharusnya menjadi jalan ketiga dan alternatif penyelesaian. Sayangnya, agenda ini seperti berjalan setengah hati. Inovasi beras analog  butiran pangan yang dibuat dari bahan non-padi sebenarnya dapat menjadi jawaban. Singkong, jagung, sagu, atau bahkan sukun, diolah sedemikian rupa menyerupai beras, tetapi lebih ramah lingkungan dan lebih fleksibel dalam produksi.

Namun, keberadaan beras analog masih dipandang sebelah mata. Ia hadir di pojok rak supermarket, toko klontong, atau dalam program pemerintah yang belum menyentuh dapur rakyat secara luas.
Sejatinya, pengembangan beras analog tidak sekadar dimaknai sebagai upaya menggantikan beras konvensional di meja makan. Lebih dari itu, produksi beras alternatif ini merupakan bagian penting dari strategi membangun kedaulatan pangan nasional berbasis potensi keanekaragaman hayati lokal. Dengan perencanaan yang serius dan kebijakan yang terintegrasi, beras analog bisa menjadi simbol transformasi sistem pangan yang lebih inklusif dan beragam. Dalam konteks ini, negara tidak cukup hanya berperan sebagai pembuat aturan di atas kertas. Negara justru dituntut hadir lebih aktif sebagai motor penggerak perubahan, membangun ekosistem produksi, distribusi, hingga mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat agar lebih adaptif terhadap pangan lokal.

Diversifikasi pangan memang bukan pekerjaan semalam. Ia membutuhkan kerja simultan: kebijakan produksi di hulu, insentif bagi petani lokal, dukungan industri pengolahan, hingga kampanye budaya makan di hilir. Yang lebih penting, negara harus berani merumuskan ulang narasi besar: bahwa pangan Indonesia bukan hanya tentang beras, tetapi tentang keberagaman yang menjadi kekuatan kita sejak lama. Dengan jalan diversifikasi, Indonesia tidak hanya memperluas pilihan makan bagi rakyatnya, tetapi juga memperkokoh ketahanan pangan di tengah gempuran perubahan iklim, krisis lahan, dan dinamika pasar global.

Sebab, pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya tentang ketersediaan beras di gudang Bulog. Ketahanan pangan adalah tentang keberanian sebuah bangsa menata ulang jalan pangannya melepaskan diri dari ketergantungan dari negara lain dan kembali kepada kekayaan alam dan budaya makannya sendiri. Barangkali, semua itu harus dimulai dari piring makan kita sendiri, hari ini, bukan esok.
Wallahu A’lam Bishowab

Mudik, Silaturrahmi, dan Jalan Pulang Spiritual

Oleh: Ainur Rofiq
(Alumni PP. Miftahul Ulum Jetis Dau Malang)

Berdampak.net – Mudik selalu menjadi peristiwa besar di negeri ini. Bukan sekadar gelombang manusia yang bergerak serentak, menyesaki jalanan dari kota ke desa. Di balik peluh perjalanan jauh itu, ada rindu yang ditabung bertahun-tahun untuk bertemu orang tua dan sanak saudara. Ada denyut ekonomi lokal yang kembali hidup, warung kecil hingga pasar tradisional yang tersenyum menerima berkah musiman. Dan lebih dari itu, ada nilai spiritual yang diwariskan: silaturrahmi sebagai jalan pulang, yang tak pernah lekang oleh zaman.

Mudik bukanlah tradisi baru. Dalam catatan sejarah, istilah “mudik” berasal dari bahasa Betawi dari kata “udik” yang berarti kampung atau hulu. Sejak era kolonial, warga yang merantau ke Batavia menyebut pulang kampung sebagai “mudik ke udik”. Namun, mudik dalam skala nasional sebagai fenomena sosial besar baru menonjol sekitar awal 1970-an, seiring dengan meningkatnya arus urbanisasi dan pembangunan kota.

Hari ini, mudik telah menjadi bagian dari “ritual sosial nasional” yang terus bertahan bahkan di tengah modernisasi dan teknologi. Jalan-jalan macet, stasiun dan terminal penuh sesak, tempat wisata padat oleh pengunjung — semua itu bukan sekadar pemandangan rutin Lebaran, tetapi menjadi “perayaan peradaban” masyarakat Indonesia yang masih memegang kuat akar kulturalnya.
Sebagai tradisi tahunan umat Muslim di Indonesia maka mudik bukan sekadar peristiwa perjalanan fisik menuju kampung halaman, melainkan mengandung makna sosial dan spiritual yang sangat dalam. Dalam kultur masyarakat, khususnya di pedesaan, mudik adalah momentum sakral untuk mempertemukan kembali tali silaturrahmi yang mungkin renggang oleh jarak dan kesibukan hidup di perantauan. Orang tua kerap mengajak anak-anak mereka untuk ikut serta dalam perjalanan mudik, bukanlah sekadar mengenalkan pada kampung halaman, tetapi lebih dari itu yaitu untuk mengajarkan etika sosial dan adab silaturrahmi (sonjo) sebagai bekal hidup. Ada pesan tersirat bahwa kelak ketika orang tua telah tiada, anak-anak inilah yang diharapkan mampu menjaga, merawat, dan melanjutkan tradisi silaturrahmi di antara kerabat dan sanak saudara.

Di dalam tradisi ini, nilai sosial yang paling kuat adalah upaya mempertahankan jaringan kekeluargaan agar tidak tercerabut oleh modernitas dan individualisme. Silaturrahmi bukan semata pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang perjumpaan batin yang mempererat rasa persaudaraan dan memelihara rasa hormat kepada sesama keluarga besar. Dalam pertemuan itu, sering kali diperkenalkan kembali garis-garis nasab atau keturunan, sesuatu yang di masyarakat urban mulai terlupakan. Dalam budaya Jawa, Sunda, Madura, dan daerah-daerah lain, pengenalan istilah kekerabatan seperti eyang, abah, bani, atau bujuk memiliki fungsi sosial penting: menunjukkan asal-usul, leluhur, dan jaringan sosial yang harus dihormati dan dijaga kesinambungannya.

Maka nilai ajaran dari  mudik itu tidak hanya perjalanan pulang yang bersifat ritual atau seremonial belaka. Ia adalah jalan pulang menuju akar budaya dan spiritual masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat membentuk kesadaran kolektif bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Ada jejak leluhur, ada nama besar keluarga, ada sejarah panjang silaturrahmi yang membentang dari masa lalu untuk diwariskan ke generasi mendatang. Maka, menjaga tradisi mudik dan silaturrahmi adalah menjaga keberlanjutan identitas sosial kita sebagai bangsa yang menempatkan hubungan kekeluargaan di atas kepentingan pribadi. Di sanalah inti dari budaya sonjo menemukan ruang hidupnya dan memperkokoh identitas akar budaya masyarakat kita.

Nilai spiritual mudik
Nilai spiritual mudik sebagai bagian dari silaturrahmi memiliki landasan yang sangat kuat dalam ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam Al-Qur’an, perintah untuk menyambung tali silaturrahmi (menjaga hubungan kekerabatan) sangat jelas, bahkan dikaitkan langsung dengan keberkahan hidup dan ketakwaan seseorang. Salah satu ayat yang sering menjadi rujukan adalah:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1).
Dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, keutamaan silaturrahmi disebutkan secara eksplisit sebagai salah satu jalan untuk memperpanjang umur, melapangkan rezeki, dan mendatangkan keberkahan hidup.
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nilai spiritual dari mudik sangat erat kaitannya dengan referensi tersebut. Sehingga mudik bukan hanya soal kembali ke kampung halaman secara fisik dan materi semata, tetapi juga menjalankan perintah agama untuk menyambung kembali ikatan batin, hubungan keluarga, dan keharmonisan sosial yang mungkin terputus karena waktu, kesibukan, atau jarak. Dalam konteks budaya Indonesia, perjalanan mudik menjadi “ibadah sosial” ruang untuk melatih kesabaran di tengah kemacetan, mengalah dalam antrian, dan berbagi dalam kesederhanaan. Lebih dari itu, orang tua sering kali menjadikan mudik sebagai media pendidikan sosial dan spiritual kepada anak-anaknya, agar kelak ketika mereka dewasa dan orang tua sudah tiada, tradisi silaturrahmi tetap terjaga lintas generasi.

Menggerakkan Ekonomi Desa
Sebagaimana dilaporkan Media Indonesia, 2025 bahwa Perputaran uang selama musim mudik Lebaran 2025 diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini, jumlah uang yang beredar selama periode Lebaran diprediksi mencapai Rp137,97 triliun, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp157,3 triliun. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya jumlah pemudik tahun ini. Survei Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta orang, atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia, menurun 24% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 193,6 juta pemudik. (CNN Indonesi, 2025)
Kampung halaman yang sepanjang tahun kerap sunyi, mendadak hidup kembali saat musim mudik tiba. Jalanan desa yang biasanya lengang, kini padat oleh deru kendaraan pemudik yang datang dari kota-kota jauh. Rumah-rumah tua yang nyaris tertutup debu seakan bernapas lagi, disapu tawa cucu-cucu yang pulang membawa rindu. Aroma masakan dapur nenek kembali semerbak, menjadi pengikat kenangan masa kecil yang sulit dicari di tengah hiruk pikuk kota besar.
Pasar tradisional mendadak riuh. Para pedagang tersenyum lebar, melayani pembeli yang memborong kebutuhan Lebaran. Warung-warung makan sederhana di pinggir jalan desa laris manis, melayani perut-perut lapar para perantau yang merindukan cita rasa kampung halaman. Sopir angkutan lokal yang biasanya parkir berjam-jam tanpa penumpang, kini sibuk mengantar orang-orang dari terminal kecil menuju dusun-dusun pelosok. Bahkan, objek wisata desa yang sebelumnya sepi, mendadak sesak oleh rombongan keluarga yang sekadar ingin menikmati kesejukan alam sambil melepas lelah perjalanan.

Mudik, dalam narasi ini, bukan semata soal nostalgia sosial. Ia adalah ritual pulang yang turut mendistribusikan perputaran uang ke daerah. Ekonomi lokal bergerak. Warung kopi kecil, jasa cuci kendaraan, tukang parkir, hingga pedagang keliling ikut kecipratan berkah Lebaran. Kota mungkin menjadi tempat mencari penghidupan, tapi kampung halaman tetap menjadi tempat berbagi kehidupan. Mudik adalah cara paling sederhana dan manusiawi untuk merawat ekonomi kerakyatan, menjaga denyut sosial, dan meneguhkan kembali identitas kultural sebuah bangsa.

Perubahan Sosial dan Tantangan Masa Depan
Namun, seperti wajah kampung halaman yang perlahan berubah, tradisi mudik pun tak luput dari sentuhan zaman. Jalan-jalan desa yang dulu hanya berupa tanah berbatu, kini telah disulap menjadi aspal mulus yang terhubung langsung ke gerbang tol. Perjalanan berhari-hari dengan bus antarkota atau kereta ekonomi kini bisa dipersingkat hanya dalam hitungan jam. Infrastruktur baru membelah hutan, sawah, dan pegunungan memperpendek jarak, tapi juga perlahan mengubah lanskap alam dan budaya perjalanan itu sendiri.
Di sisi lain, teknologi digital mempercepat cara orang bersilaturahmi. Video call, grup WhatsApp keluarga, hingga media sosial menjadi ruang pertemuan baru tanpa harus saling bertatap muka. Ada yang memilih menunda mudik, karena pekerjaan atau biaya, dengan alasan “yang penting komunikasi tetap jalan.” Tetapi di balik kemudahan itu, ada kekosongan batin yang tak tergantikan. Sebab, silaturrahmi bukan sekadar saling sapa di layar kaca, melainkan pengalaman batin yang hadir dalam pelukan, cium tangan orang tua, dan tawa bercampur haru di teras rumah masa kecil.
Inilah tantangan masa depan mudik: bagaimana merawat tradisi pulang di tengah modernisasi yang serba cepat dan praktis. Mudik bukan hanya soal perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan jiwa. Anak-anak yang diajak orang tua pulang kampung sejatinya sedang diwarisi peta sosial dan akar sejarah keluarganya. Sebab ketika nanti orang tua telah tiada, jalan pulang itu tak lagi ditunjukkan oleh infrastruktur jalan raya, melainkan oleh ingatan dan kesadaran bahwa ada kampung halaman tempat di mana silaturrahmi bermula, dan identitas sosial seseorang kembali menemukan rumahnya.
Tetapi pertanyaannya, akankah mudik kehilangan makna jika semua itu serba virtual?
Ketika teknologi semakin canggih dan jarak seolah lenyap oleh sebuah layar elektronik, silaturrahmi perlahan berubah menjadi sekadar pertemuan daring. Video call mungkin bisa mempertemukan wajah, tapi tidak mampu menggantikan getar tangan saat berjabat, atau haru yang membasahi pelukan di beranda rumah masa kecil. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh sinyal dan gambar bergerak dunia maya. Sebab, tidaklah hanya soal komunikasi, tetapi tentang pengalaman batin yang tumbuh dari perjalanan fisik menuju akar kehidupan seseorang.
Sosiolog agama dari UIN Jakarta, Dr. Asep Saepudin Jahar, dalam jurnalnya menulis bahwa mudik di Indonesia adalah ekspresi kultural masyarakat Muslim dalam menjalankan ajaran agama secara sosial dan emosional. Ia bukan ritual formal seperti salat atau puasa, tetapi pengalaman spiritual yang merawat ikatan sosial, meneguhkan nasab keluarga, dan memperpanjang silaturrahmi sebagaimana anjuran Rasulullah SAW. Dalam konteks modernitas yang makin menekan relasi manusia menjadi individu yang sibuk dan terasing, mudik adalah ruang kontemplasi sekaligus perayaan atas identitas sosial kita sebagai makhluk yang lahir dari komunitas keluarga, kampung, dan tanah kelahiran.
Menjaga tradisi mudik adalah menjaga karakter sosial bangsa ini. Pulang ke kampung halaman merupakan peristiwa tahunan atau ritual yang tidak hanya tentang giat ekonomi semata, melainkan juga bentuk perlawanan terhadap gejala individualisme dan alienasi kota besar. Mudik mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hidup hanya dengan pencapaian material, tetapi juga butuh pulang untuk merawat silaturrahmi, meneguhkan akar, dan memperbarui kembali rasa syukur sebagai makhluk yang berasal dari keluarga dan kampung halaman. Sebab sejauh apapun kaki melangkah, kampung halaman selalu menjadi tempat jiwa kembali belajar menjadi manusia seutuhnya.

Jalan Pulang yang Perlu Dirawat
Saat musim mudik tiba, jalanan yang biasanya lengang mendadak dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan, sementara rest area menjadi saksi kehangatan keluarga yang berhenti sejenak dalam perjalanan. Suara tawa anak-anak yang kembali mengisi kampung-kampung yang sepi menyiratkan bahwa peradaban kita masih hidup dengan denyut yang tak pernah padam, meskipun didera tantangan modernitas.
Peradaban tidak semata tercermin dari gemerlap gedung-gedung tinggi di kota, melainkan juga terwujud dalam kesederhanaan rumah-rumah di desa tempat orang tua dengan sabar menunggu kedatangan anak-anak mereka. Di sana, pelukan hangat dari kerabat yang lama terpisah dan pertemuan di warung kopi kampung menciptakan momen-momen yang menyatu dengan jiwa, melestarikan nilai-nilai kekeluargaan yang telah ada sejak lama.
Mudik merupakan simbol perjalanan pulang yang mengintegrasikan dimensi sosial, ekonomi, dan spiritual. Ini lebih dari sekadar ritual tahunan; ia adalah panggilan untuk memperkuat tali persaudaraan dan melestarikan warisan budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai ini dihadirkan dalam setiap langkah kehidupan, bukan hanya sebagai seremonial, tetapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keseharian.
Di tengah arus modern yang membawa manusia melangkah jauh, selalu ada tempat yang menjadi pelabuhan hati, rumah yang menanti untuk kembali menyambut. Meskipun teknologi mempercepat komunikasi dan mobilitas, kehadiran fisik dan kehangatan pertemuan tetap memiliki nilai yang tak tergantikan, mengingatkan kita bahwa akar kemanusiaan selalu memerlukan sentuhan nyata.
Di sanalah, di persimpangan antara masa lalu dan masa depan, silaturrahmi dapat menemukan maknanya yang paling dalam. Sehingga perjalanan dapat mudik menyatukan elemen-elemen kehidupan yang sering terlupakan, menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan harapan baru. Itulah jalan pulang yang harus terus kita rawat dan pelihara sebagai warisan peradaban, agar semangat kekeluargaan dan kehangatan sosial tak pernah pudar.

Taqabbalallahu minna wa minkum”
Wallahu a’lam bishawab