Gus Chasbullah Kafabie, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik

Probolinggo, Berdampak.net – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPR-D) Kabupaten Probolinggo, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Gus Chasbullah Kafabie (Gus Has), mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik, untuk menjaga kesuburan tanah, serta meningkatkan hasil panen, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk Kimia, legislator yang juga sebagai anggota Panitia Kerja (Panja) Pupuk Bersubsidi Kabupaten Probolinggo tersebut menyampaikan, dengan menggunakan pupuk kimia dalam jangka panjang, akan merusak kesuburan tanah.

“Dengan Pupuk Organik, itu bisa meminimalisir ketergantungan kita dalam penggunaan pupuk Kimia, dan tentu hasil panennya itu lebih healty lebih sehat untuk dikonsumsi,” jelas beliau, Rabu (26/05/2025) petang.

Pihaknya bersama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Paiton, Kotaanyaar, dan Pakuniran, serta Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Paiton berkomitmen akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap petani muda untuk menggunakan pupuk organik.

“Kami InsyaAllah akan selalu mengedukasi kepada para petani milenial, kita akan memulai dari tiga Kecamatan ini, Bismillah,” pungkasnya.

PPL Kecamatan Paiton, Abdul Haris Nasrullah, mengaku siap untuk membantu dan mendorong program yang akan dilaksanakan oleh Gus Has, dalam hal mengedukasi para petani milenial untuk bertani secara organik.

“Kami atasnama PPL di tiga Kecamatan, Paiton Kotaanyar dan Pakuniran, serta Koordinator BPP Paiton, siap mengawal dan membantu program dan Gus Has, sebagai Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, terutama dalam hal bagaiman mengedukasi pemuda supaya leboh cinta terhadap pertanian, terutama pertanian organik,” jelasnya. (fiq)

Refleksi Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dalam Perspektif Spiritual, Sosial, dan Ekonomi

Ditulis oleh Ainur Rofiq

Alumni PP. Salafiyah Miftahul Ulum Jetis Dau Malang.

Di penghujung Ramadan, waktu terasa melambat, memberikan kesempatan bagi setiap Muslim untuk merenungkan perjalanan ibadah yang telah dilalui. Sepuluh hari terakhir menjadi puncak dari perjuangan spiritual, di mana doa semakin khusyuk, sujud semakin dalam, dan harapan akan bertemu Lailatul Qadar semakin besar. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan meningkatkan intensitas ibadahnya, mengisi malam-malamnya dengan salat, doa, dan perenungan. Lailatul Qadar menjadi momen yang dinanti, karena keutamaannya melebihi seribu bulan. Sebagaimana Hadist Rasulullah SAW,  , Man shoma romadhon imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih, artinya “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan penuh harapan akan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari).

Dalam suasana penuh keheningan dan doa, muncul beragam perasaan yang menyertai penghujung Ramadan. Ada kebahagiaan karena berhasil menjalani bulan penuh berkah dengan meningkatkan ketakwaan dan kedisiplinan diri. Namun, di sisi lain, ada pula kesedihan karena Ramadan akan segera berakhir tanpa jaminan pertemuan kembali di tahun berikutnya. Sebagian Muslim berharap dapat memperpanjang kehangatan spiritual yang hanya dirasakan pada bulan ini. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, Man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi “Siapa yang mendirikan salat malam pada bulan Ramadan karena iman dan pengharapan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di luar ruang-ruang ibadah, kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan tantangannya. Ramadan tidak hanya menjadi ajang menahan godaan hawa nafsu, tetapi juga menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Kenaikan harga bahan pokok, meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri, serta kecemasan akan kondisi ekonomi menjadi bagian dari realitas yang dihadapi banyak orang. Di banyak rumah, doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya tentang keberkahan Ramadan, tetapi juga tentang harapan akan kestabilan hidup dan terpenuhinya kebutuhan keluarga setelah bulan suci berakhir.

Dalam menghadapi dinamika sosial dan ekonomi, peran kebijakan publik sangat menentukan apakah Ramadan dapat dijalani dengan penuh ketenangan atau justru diwarnai kecemasan. Pemerintah (Ulil Amri) memiliki tanggung jawab dalam menjaga stabilitas harga, memastikan distribusi bantuan sosial tepat sasaran, serta meningkatkan pelayanan publik, terutama bagi para pemudik. Prinsip yang diajarkan Ramadan tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (Hablum Minallah), tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap sesama (Hablum Minannas). Keberhasilan dalam menerapkan nilai-nilai Ramadan juga tercermin dari kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat luas.

Selain aspek ibadah, sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi kesempatan untuk memperkuat kepedulian sosial. Momentum ini tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan zikir, tetapi juga sebagai waktu untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Tradisi i’tikaf mengajarkan seseorang untuk mengasah kepekaan batin, menata niat, dan memahami bahwa Ramadan bukan sekadar memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga memperkuat rasa empati terhadap sesama.

Mereka yang merasakan keberkahan Ramadan memanfaatkan sepuluh hari terakhir untuk memaksimalkan amal ibadah. Dalam sunyi malam, doa yang diajarkan Rasulullah SAW terus dipanjatkan dengan penuh harap, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” artinya (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai permintaan maaf, maka ampunilah aku). Setiap untaian doa membawa harapan akan penghapusan dosa, kesempatan baru, dan peningkatan kualitas diri setelah Ramadan berlalu.

Setelah Ramadan berakhir, tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana menjaga nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Saat gema takbir berkumandang dan suasana Idulfitri menyelimuti hati, penting untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci. Konsistensi dalam berbagi, kepedulian terhadap sesama, serta kedisiplinan dalam ibadah menjadi ukuran sejauh mana Ramadan memberikan perubahan nyata dalam kehidupan.

Ketika lembaran baru dibuka, nilai-nilai yang telah tertanam selama Ramadan seharusnya tetap terjaga. Jika kesabaran, keikhlasan, dan empati telah menjadi bagian dari diri, maka prinsip-prinsip ini harus terus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah proses pembentukan karakter yang mengajarkan kedisiplinan, ketulusan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Sepuluh hari terakhir bukan sekadar bagian penutup Ramadan, tetapi juga cerminan dari perjalanan spiritual, sosial, dan ekonomi yang perlu terus diperjuangkan. Keberkahan Ramadan tidak berakhir dengan berlalunya bulan suci ini, tetapi seharusnya mengalir dalam setiap tindakan dan keputusan sepanjang tahun. Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar diamalkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan dalam satu bulan, melainkan akan terus menginspirasi kehidupan di bulan-bulan berikutnya. 

Wallahu A’lam Bishowab

Kolaborasi Safari Dakwah Ramadan MUI Kabupaten Probolinggo, Baznas dan DMI

Proboinggo, Berdampak.net – MUI Kabupaten Probolinggo bareng Baznas Kabupaten Probolinggo dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan “Safari Dakwah Ramadan”. Kegiatan ini menyasar lima masjid di jalur Pantura Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan pertama bertempat di masjid Baitis Salam, jalan raya Pantura Desa Karanganyar, Paiton, Ahad (23/3/2025). Safari Dakwah Ramadan dilaksanakan usai salat Tarawih dan Witir.

Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo, KH Ahmad Muzamil, mengatakan bahwa kegiatan ini sinergi tiga organisasi sekaligus. “Kegiatannya kami kemas dalam Safari Dakwah Ramadan,” katanya.

Safari Ramadan tahun ini, lanjutnya, menyasar masjid-masjid yang ada di jalur Pantura Kabupaten Probolinggo. “Tahun ini lima masjid, mulai dari Paiton sampai Tongas,” ujarnya.

Selain menyampaikan dakwah terkait bulan Ramadan, MUI, Baznas dan DMI juga menyalurkan paket zakat dan sembako yang dikelola oleh Baznas Kabupaten Probolinggo. Total ada 50 paket yang diselurkan kepada jemaah masjid Baitis Salam.

Ketua DMI sekaligus Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Probolinggo Ustaz Ahmad Barzan, memberikan zakat. (Foto: Admin)
Kiai Muzamil menyampaikan bahwa zakat tersebut merupakan hasil pengumpulan dari para ASN di lingkungan Pemkab Probolinggo. Sampai Jumat (21/3/2025), total zakat yang terkumpul sebanyak 8160. “Sementara untuk paket sembako hasil dari pengumpulan sodaqoh Baznas,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua DMI Kabupaten Probolinggo Ustaz Ahmad Barzan menyampaikan terima kasih atas sinergi MUI, Baznas dan DMI. “Mudah-mudahan kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan manfaat,” katanya. (don)

GP Ansor Kraksaan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an

Probolinggo, Berdampak.net – Ribuan jamaah , warga dan Forkopimda mengikuti peringatan Nuzulul Quran di Alun-Alun Kota Kraksaan, Sabtu (22/3/2025). Momen paling penting di tengah perjalanan ibadah puasa, setiap 17 Ramadhan dan Sekaligus mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW itu digelar oleh GP Ansor Jawa Timur bersama Majelis Dzikir dan Shalawat Syubbanul Muslimin.  Memimpin langsung lantunan sholawat oleh KH Hafidzul Hakiem Noer, yang juga menjabat sebagai Bendahara PW MDS Rijalul Ansor Jawa Timur.

Ribuan jamaah dari berbagai daerah hadir termasuk Bupati Probolinggo, Mohammad Haris (Gus Haris); Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi AHZ serta Kapolres Probolinggo, AKBP Wisnu Wardana; Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Musaffa Safri, bersama jajaran pengurus larut dalam lantunan dzikir dan shalawat. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang peringatan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat Ukhuwah Islamiyah antara warga di kabupaten Probolinggo dengan semua elemen.

Bupati Probolinggo, Gus Haris mengapresiasi penyelenggaraan peringatan Nuzulul Qur’an oleh GP Ansor Jawa Timur dan memilih digelar di Kabupaten Probolinggo dan bagian yang tidak terpisahkan dari visi gus haris dan RA Fahmi membangun Kabupaten Probolinggo dengan nafas Qur’ani. Dengan adanya kegiatan keagamaan seperti ini, tidak hanya infrastrukturnya yang maju, tetapi hati masyarakatnya juga dekat dengan nilai-nilai Islam. (rh)

Ra Fahmi AHZ Hadiri Baksos Khitan Massal PC LKNU bersama Baznas Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Ra Fahmi AHZ menghadiri pelaksanaan baksos khitan masal yang merupakan program kerja PC LKNU bersama Baznas dan dukungan IDI, PPNI serta Ikatan Alumni Fikes UMM Malang. RA Fahmi juga menyampaikan apresi dan Terimakasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam hal penanganan masalah kesehatan di Kabupaten Probolinggo. Wabup Ra Fahmi juga berharap kepada LKNU dan seluruh pihak juga berharap sinergi yang serupa kedepannya untuk upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan stunting.

Kegiatan Khitan NU Pengurus Cabang Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Kraksaan di laksanakan di “Roma Sunat Saiful Anwar” Desa Asembakor Kecamatan Kraksaan.
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya diselenggarakan di Desa Kamalkuning Kecamatan Krejengan beberapa waktu lalu. Untuk kali ini sedikitnya 30 anak yang mayoritas dari golongan kurang mampu akan di khitan.

Hadir dalam acara ini selain Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Ra Fahmi AHZ beserta Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ juga Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Muzammil serta Forkopimka Kraksaan.

Selanjutnya Ketua Rumah Khitan NU PC LKNU Kota Kraksaan Sugianto dalam laporannya menjelaskan bhakti sosial khitan gratis kali ini cukup spesial. Pasalnya metode kali ini menggunakan metode lem super ring dan peserta khitan juga mendapatkan paket khitan berupa celana dalam khusus khitan, paket obat serta souvenir lainnya. (rh)

Transformasi Terminal: Perubahan Sosial dan Teknologi dalam Perjalanan Probolinggo – Malang

Oleh: Ainur Rofiq

Berdampak.net – Setiap kali seseorang meninggalkan rumah untuk bekerja atau belajar, pada akhirnya mereka akan kembali, membentuk sebuah siklus rutin yang telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Begitu pula dengan perjalanan mingguan saya dari Probolinggo ke Malang, yang menjadi saksi bisu atas perubahan signifikan dalam sistem transportasi dan dinamika terminal.

Dua dekade lalu, perjalanan dengan bus antarkota penuh tantangan. Saat pertama kali kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2000, terminal selalu dipadati penumpang, terutama pada Jumat sore dan Minggu sore, ketika mahasiswa pulang ke kampung halaman. Bus sering kali penuh sesak, memaksa banyak penumpang untuk berdiri sepanjang perjalanan demi menghindari ketidakpastian mendapatkan bus berikutnya. Kondektur dan makelar penumpang (Manul) turut berperan dalam membentuk dinamika ini, meyakinkan calon penumpang bahwa bus berikutnya akan lebih padat, mendorong mereka untuk segera naik.

Namun, kondisi tersebut kini telah berubah drastis. Terminal Bayuangga di Probolinggo, yang berstatus sebagai terminal tipe A dan melayani berbagai moda transportasi, kini jauh lebih sepi. Setiap Senin pagi, jumlah penumpang yang berangkat dari terminal ini tidak lebih dari 20 orang. Pergeseran ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan transportasi umum.

Fenomena serupa juga terjadi di Malang. Terminal Arjosari yang dahulu menjadi titik utama perhentian bus kini kehilangan perannya. Banyak bus lebih memilih berhenti di dekat Patung Kendedes, lokasi yang lebih strategis karena berdekatan dengan titik kumpul ojek online. Perubahan ini menggambarkan bagaimana disrupsi teknologi telah menggeser peran terminal sebagai pusat transportasi menjadi sekadar tempat transit. Kini, banyak penumpang memilih menunggu bus di luar terminal atau beralih ke kendaraan pribadi untuk menunjang mobilitas mereka.

Dampaknya pun terasa di berbagai aspek kehidupan. Terminal yang dahulu ramai kini sepi, berdampak pada pendapatan para ojek, warung makan, dan pedagang asongan. Sekitar tahun 1998 hingga 2000, saya sendiri pernah menjadi pedagang asongan di dalam bus, menjual permen, kacang, dan minuman. Pengalaman itu membentuk kepercayaan diri saya, yang kemudian menjadi modal berharga saat melanjutkan pendidikan dan bergabung dalam organisasi mahasiswa. Kini, para pedagang asongan semakin berkurang, menandakan perubahan besar dalam ekosistem terminal.

Disrupsi teknologi dan pandemi COVID-19 mempercepat perubahan ini. Berbagai aspek kehidupan, dari komunikasi hingga perdagangan, mengalami transformasi. Salah satu contoh nyata adalah warung milik Mak Yo di Jalan Ir. Sutami, tempat saya dahulu mendapatkan barang dagangan. Warung yang dulu ramai kini tampak kosong, bangunan kayunya mulai rapuh, menandakan tiadanya generasi penerus yang melanjutkan usaha di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, perubahan adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana yang diungkapkan filsuf Yunani kuno, Heracletos “Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.” Transformasi terminal dan perjalanan Probolinggo-Malang menjadi bukti nyata bagaimana perubahan sosial dan teknologi membentuk kembali pola interaksi dan kehidupan sehari-hari kita. Untuk bertahan di tengah perubahan, kita harus terus beradaptasi dan menemukan cara baru dalam menghadapi tantangan zaman. Wallahu A’lam Bishawab