ARAH MASA DEPAN SIDRAP: MENUNGGU ATAU MEMBENTUK?

Oleh: Mursalim Nohong
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin)

Ditengah gelombang perubahan global yang melanda dunia, seperti perubahan iklim, transformasi digital, krisis energi, dan tekanan sosial ekonomi, muncul satu pertanyaan mendasar.

“Apakah akan menunggu masa depan terjadi ataukah ikut membentuknya?”

Tanya ini makin relevan saat kita bicara tentang daerah-daerah yang punya kekayaan alam dan kultural seperti kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan dan seringkali menjadi sumber keunggulan.

Sidrap tidak hanya dikenal karena sejarah dan keislamannya tetapi juga karena potensinya yang besar dalam sektor pertanian (bahkan menjadi lumbung pangan nasional), energi terbarukan, dan sumber daya manusia yang kuat.

Sidrap bukan hanya sekadar nama administratif. Ia adalah tanah warisan nilai, tanah perjuangan, dan simbol transformasi. Dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Sidrap tumbuh dengan identitas agraris yang kuat.

Beberapa dekade terakhir, Sidrap menunjukkan langkah progresif melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) terbesar di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Sidrap tidak hanya menunggu perubahan, tetapi mulai merintis jalan sebagai pelaku dalam transformasi energi nasional.

Pembangunan infrastruktur besar ini belum cukup jika tidak dibarengi dengan pembangunan karakter manusianya. Tapi juga butuh inovasi berbasis kearifan lokal, dan pengelolaan sumber daya secara adil dan lestari.

Namun, ditengah potensi dan keunggulan tersebut, apakah Sidrap akan menjadi penonton dalam kancah perubahan atau mengambil peran dan menjadi aktor utama dalam membentuk masa depannya sendiri yang berkelanjutan?

Menunggu masa depan atau menyusunnya?

Dalam realitas pembangunan daerah, pemerintah dan masyarakat seringkali tampil dengan sikap menunggu. Menunggu instruksi dari pusat, menunggu bantuan dari luar, menunggu investor datang.

Padahal, menunggu tanpa bertindak adalah jalan pelan tapi pasti menuju stagnasi apalagi ditengah issu efisiensi yang seharusnya dijadikan momentum melakukan perubahan.

Dalam konteks ini, Sidrap tidak bisa lagi hanya menunggu. Perubahan iklim sudah merusak siklus pertanian. Anak-anak muda (Gen Z) meninggalkan kampung halaman dan tata nilai yang telah menjadi pondasi peradaban generasi “nene mallomo”.

Ketergantungan pada beras tanpa diversifikasi membuat ekonomi lokal rentan terhadap gejolak harga. Kini saatnya untuk menempatkan Sidrap sebagai subjek perubahan bukan objek pembangunan.

Masa depan bukan sesuatu yang jatuh dari langit ibarat pepatah durian runtuh. Mada depan harus dibangun dengan kesadaran, strategi, dan aksi nyata—mulai dari desa hingga tingkat kabupaten.

Keberlanjutan ditanah kelahiran

Isu keberlanjutan telah berkembang luas sehingga pembicaraan tidak bisa hanya soal lingkungan tetapi lebih luas dari itu. Di Sidrap, keberlanjutan adalah soal:

Pertama, Keberlanjutan lingkungan. Timbul pertanyaan, bagaimana menjaga dan merawat danau Sidenreng dari pencemaran? Bagaimana mencegah banjir akibat alih fungsi lahan? Apakah hutan di wilayah pegunungan tetap lestari, ataukah menjadi korban ekspansi? Masyarakat dan pemerintah secara proporsional mengambil peran bukan menunggu peran.

Kedua , Keberlanjutan sosial. Apakah generasi muda Sidrap masih mewarisi nilai-nilai Nene’ Mallomo yang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab? Apakah budaya lokal masih hidup atau sudah tergeser budaya instan?

Ketiga , Keberlanjutan ekonomi. Bisakah Sidrap bertahan sebagai penghasil pangan ketika sawah mulai tergantikan oleh properti? Bisakah petani mendapatkan nilai tambah dari produksi, bukan hanya sebagai produsen primer?

Riset Yusriah Arief (2022) menemukan bahwa alih fungsi lahan yang terjadi di Sidrap terutama di kecamatan Maritengngae dan Panca Rijang dengan melihat data 2021 terus meningkat disebabkan oleh pertambahan penduduk dan faktor ekonomi yang membuat masyarakat menjual dan mengalihfungsikan lahan yang dimiliki untuk peruntukkan lain.

Keempat, Keberlanjutan energi dan inovasi. Dengan hadirnya PLTB, akankah masyarakat lokal hanya menjadi penonton ataukah juga terlibat sebagai pelaku ekonomi hijau?

Kelima, Keberlanjutan spiritual dan moral. Nilai religius yang tertanam kuat di Sidrap harus menjadi energi moral dalam menghadapi zaman. Tidak cukup hanya membangun fisik, tapi juga membangun jiwa dan akhlak masyarakatnya.

Reorientasi dan reaktualisasi menjadi penting dilakukan sebagai upaya mempertahankan tatanan hidup masyarakat. Keduanya sangat dibutuhkan oleh karena penurunan kualitas moral akibat pengaruh negatif globalisasi, teknologi, dan modernisasi dan masyarakat kehilangan arah dalam menentukan baik-buruk karena adanya relativisme nilai.

Keberhasilan diukur hanya dengan pertimbangan ekonomi padahal dipahami bersama bahwa ekonomi selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan lingkungan.

Agar tidak hanya menunggu, Sidrap perlu strategi transformasi keberlanjutan jangka panjang berbasis empat pilar:
Pilar pertama , pendidikan dan literasi masa depan. Pendidikan di Sidrap harus melampaui kurikulum nasional yang normatif dengan memberikan penguatan pada:Pendidikan lingkungan hidup berbasis lokal (ekosistem danau, pertanian ramah lingkungan), Literasi teknologi untuk generasi muda, Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kearifan lokal seperti pesan-pesan Nene’ Mallomo misalnya dengan memasukkan kedalam bahan ajar di SD hingga SMP.

Pilar kedua , ekonomi hijau dan inovatif. Transformasi ekonomi Sidrap harus menuju:Agroindustri berbasis teknologi yang tidak hanya menjual hasil panen tapi juga produk olahan, Pertanian organik dan sistem tanam ramah iklim, Pengembangan ekowisata dan wisata spiritual di kawasan-kawasan religius yang selama ini belum tergarap maksimal.

Pilar ketiga , Digitalisasi dan kewirausahaan lokal.Generasi muda Sidrap harus digerakkan untuk menjadi:Wirausahawan digital bukan hanya pencari kerja apalagi menggeluti profesi Passobis, Pelopor platform lokal berbasis komunitas untuk memasarkan produk, jasa, dan budaya, Pengembang konten digital yang merepresentasikan Sidrap secara positif ke dunia luar.

Pilar keempat , kepemimpinan transformasional dan partisipatif. Sidrap membutuhkan pemimpin yang:Visioner dan tidak hanya berorientasi pada periode jabatan, Membangun partisipasi masyarakat bukan dominasi elit, Mengedepankan etika publik dan keberanian membuat keputusan strategis meskipun tidak populis seperti tindakan berani kepala daerah terhadap praktik-praktik 4S.

Spirit nene’ Mallomo dan Menyatukan Narasi

Tokoh legendaris Nene’ Mallomo meninggalkan pesan yang sangat dalam “Resopa natemmangingngi namalomo naletei pammase dewata.”

Pesan ini harus dijadikan etos pembangunan keberlanjutan. Artinya, membentuk masa depan bukan hanya tentang teknologi atau infrastruktur. Tumpuannya pada warisan nilai, komitmen, dan integritas. Tinggal bagaimana warisan tersebut dijadikan fondasi untuk membentuk masa depan yang lebih hijau, adil, dan manusiawi.

Membentuk masa depan bukanlah kerja satu orang atau satu lembaga. Ia adalah kerja kolaboratif. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, tokoh adat, dan masyarakat sipil harus bersatu.

Pembangunan yang hanya berorientasi pada proyek akan cepat lapuk. Tapi pembangunan yang berbasis narasi bersama akan langgeng. Maka perlu disusun “Narasi Besar Sidrap Masa Depan” yang dijadikan acuan lintas sektor yang mengedepankan keadilan generasi, menyatukan tradisi dan inovasi dan menjadikan keberlanjutan sebagai misi utama.

Apa yang terjadi di Sidrap hari ini, adalah cermin dari pilihan kolektif masyarakatnya. Apakah memilih untuk menunggu dan bersikap reaktif, ataukah memilih untuk membentuk dan menjadi pelaku sejarah?

Masa depan tidak datang sebagai hadiah. Ia datang sebagai hasil dari keberanian, kerja keras, dan imajinasi. Sidrap memiliki semua potensi sumber daya alam, modal sosial, nilai religius, dan semangat kearifan lokal.

Tugas bersama adalah memastikan bahwa semuanya diarahkan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Masa depan Sidrap bukan untuk ditunggu, tapi untuk dibentuk.

Ketika Sidrap memilih membentuk masa depannya sendiri, ia tidak hanya menyelamatkan tanahnya tetapi ikut menyumbangkan bab penting dalam pembangunan Indonesia yang berkelanjutan sekiranya 2045 memang ada. (fj)

Pamit dari Grup WA dan manifestasi Hijrah di Era Digital


Oleh : Ainur Rofiq

Berdampak.net – Dalam suatu notifikasi WhatsApp pagi itu terdengar biasa saja. Tapi ketika dibuka, ada yang berbeda. Seorang rekan kerja menulis: “Mohon izin pamit dari grup ini. Terima kasih atas kebersamaan dan segala dukungannya selama ini. Mohon maaf bila ada salah kata atau perbuatan. Semoga senantiasa dalam rahmat-Nya.”

Tak lama kemudian, balasan demi balasan mengalir. Ucapan terima kasih. Doa-doa terpanjatkan mengiringi waktu yang kian berlalu. Emotikon tangan berdoa dan bunga. Lalu, diam. Beberapa saat kemudian, ikon notifikasi berubah: Anda bukan lagi bagian dari grup ini.

Fenomena ini makin sering terjadi. Di grup kantor, grup alumni, hingga komunitas kerja lintas instansi. Ucapan pamit yang disampaikan dengan hati-hati dan penuh tata krama digital kini menjadi bagian dari dinamika percakapan modern. Meski hanya dalam ruang maya, kehadiran dan kepergian seseorang tetap menyisakan kesan yang tak sedikit.

Lebih dari sekadar sopan santun dalam dunia digital, proses pamit itu merepresentasikan suatu momen penting dalam kehidupan profesional dan personal yaitu: transisi, perpindahan, atau dalam istilah yang lebih bermakna secara spiritual “hijrah”.

Dalam Islam, hijrah bukan hanya berpindah tempat. Ia adalah proses meninggalkan sesuatu untuk menuju sesuatu yang lebih baik. Ia adalah perjalanan niat, langkah perubahan, dan upaya menggapai kehidupan yang lebih bermakna. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar pelarian dari tekanan, tetapi bagian dari strategi dakwah yang lebih terarah dan kontekstual. Di kota itu, kaum Anshar menyambut kaum Muhajirin dengan kehangatan dan keikhlasan, menciptakan komunitas baru yang berdiri di atas fondasi ukhuwah dan visi peradaban.

Kini, dalam era kerja modern yang serba cepat, bentuk hijrah bisa bermetamorfosis. Tidak selalu harus melibatkan jarak geografis. Ia bisa sesederhana berpindah unit kerja, mutasi jabatan, atau mengakhiri peran dalam satu kelompok lalu memulai peran baru di tempat lain. Bahkan, keluar dari grup WA kantor pun bisa menjadi bagian dari proses itu bila disertai niat untuk menata ulang hidup dengan lebih baik.

Ada seorang pejabat menengah di instansi pemerintah yang merasakan pergolakan batin saat harus menyusun kalimat pamit dari grup WA divisinya setelah dipindah tugaskan ke daerah. Disangka mudah, ternyata sulit. Di grup itu bukan hanya terdapat informasi kerja. Ada kisah kerja keras, canda, konflik, bahkan perjuangan bersama di tengah situasi sulit.

Menulis kalimat pamit bukan hanya soal basa-basi. Itu semacam penutup babak. Sebagaimana tiap babak, ia harus ditutup dengan baik agar bab berikutnya bisa dimulai tanpa beban. Tak heran bila butuh waktu berhari-hari untuk menyusun pesan yang pas penuh hormat, tidak berlebihan, namun cukup menyentuh.

Pamit semacam itu seringkali menjadi momen kontemplatif. Hal ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan profesional, perpindahan adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada yang menetap selamanya dalam satu posisi, satu ruang, satu lingkaran. Ada masa datang, ada masa pergi dan dalam Islam, waktu adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan.

Surat Al-‘Asyr mengajarkan: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Ayat ini menekankan pentingnya waktu sebagai medan ujian. Ia adalah sumber daya yang tak bisa diulang. Maka siapa pun yang bergerak tanpa tujuan, atau melewatkan waktunya tanpa makna, akan merugi karena telah berada dalam keadaan kesiaan.
Perpindahan, dalam bentuk apa pun, seharusnya menjadi upaya untuk memperbaiki diri. Meninggalkan sesuatu yang kurang baik, lalu berjalan menuju yang lebih baik. Sehingga makna hijrah bukan semata meninggalkan, tapi juga mengisi ruang baru dengan niat baru bukan juga pelarian, tapi pencarian.

Namun dalam konteks birokrasi atau kehidupan kantor, tidak semua perpindahan terjadi karena pilihan pribadi. Banyak yang berpindah karena rotasi jabatan, penugasan, bahkan restrukturisasi. Dalam hal ini, bisa muncul perasaan seperti “dipindahkan”, bukan “memilih pindah”. Di sinilah pentingnya memaknai hijrah sebagai bagian dari takdir yang tidak selalu bisa dikendalikan, namun tetap bisa dimaknai dan diikhtiarkan.

Islam mengajarkan dua konsep penting: qodlo dan qodar. Bahwa segala yang terjadi di dunia adalah hasil dari kehendak dan ketetapan Allah SWT. Namun, manusia tetap diberi ruang untuk berniat dan berusaha. Maka, meski tidak semua perpindahan bisa direncanakan, manusia dituntut untuk tetap berikhtiar menjadikan setiap perpindahan sebagai jembatan yang bernilai kebaikan.

Pamit dari grup WA yang barangkali tampak remeh menjadi simbol kecil dari pergerakan hidup yang lebih luas. Ia adalah ruang untuk berpamitan secara baik, meninggalkan jejak kebaikan, dan membawa semangat baru ke tempat yang baru pula. Bahkan, dalam Islam, menjaga adab dalam berpindah tempat adalah bagian dari akhlak. Rasulullah SAW pun memuliakan orang yang berhijrah dengan ikhlas dan istiqamah.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang paling hakiki: perubahan adalah keniscayaan. Karena setiap manusia akan melewatinya dengan caranya masing-masing. Ada yang memilih menuliskannya panjang-panjang. Ada pula yang cukup dengan satu kalimat sederhana: “Terima kasih. Mohon pamit.”

Tapi satu hal yang sama, semuanya sedang bergerak. Meninggalkan satu titik untuk menuju titik lain. Meninggalkan satu ruang digital untuk memasuki ruang kerja baru, ruang sosial baru, bahkan mungkin ruang spiritual yang lebih jernih. Di tengah derasnya arus komunikasi, mungkin inilah bentuk hijrah paling senyap tetapi juga paling bermakna.
Dan siapa tahu, dalam tiap pesan pamit yang muncul di layar ponsel itu, tersembunyi tekad besar seorang manusia untuk menjalani waktu dengan lebih baik, lebih lapang, dan lebih dekat pada makna hidup yang sejati.
Wallahu A’lam Bishowab

Partai Gelora Probolinggo Konsolidasi di Bromo: Satukan Visi, Ciptakan Legacy Perubahan

Probolinggo, Berdampak.net — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Gelora Kabupaten Probolinggo menggelar konsolidasi internal di Hotel Nadia, kawasan Bromo. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi dan pemahaman para pengurus terkait visi dan misi partai.

Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo, Abu Bakar Rohim, menegaskan bahwa konsolidasi ini penting untuk menyatukan energi dan semangat seluruh pengurus dalam satu arah gerak yang sejalan dengan tujuan partai.

“Menyatukan energi dan semangat sesuai visi-misi partai sangat penting bagi seluruh pengurus DPD,” ujarnya.

Abu Bakar juga menekankan bahwa bergabung dalam partai politik adalah bagian dari misi kehidupan yang bermakna.

“Hidup ini jangan hanya fokus bekerja. Hewan pun bekerja. Tapi manusia harus bisa memberi manfaat bagi banyak orang,” imbuhnya.

Dengan penuh semangat, ia menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam partai harus diarahkan untuk membangun warisan kebaikan.

“Saya hadir di Gelora untuk menciptakan legacy (amal jariyah). Ketika kita berkontribusi membuat undang-undang yang baik, itu adalah amal jariyah yang dapat kita ceritakan kepada anak cucu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abu Bakar mengajak seluruh kader untuk bergerak menciptakan perubahan, khususnya di Kabupaten Probolinggo.

“Probolinggo masih berada di peringkat ke-4 dalam hal pengentasan kemiskinan. Maka perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW Partai Gelora Jawa Timur, Fathurrozi, menegaskan bahwa berpartai bukan untuk mencari keuntungan materi, melainkan sebagai wadah perjuangan dan kontribusi bagi masyarakat.

“Berpartai bukan untuk mencari uang, tapi untuk berjuang. Partai Gelora membawa semangat kepemimpinan ala Rasulullah dalam membangun bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi kepemimpinan saat ini yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat, dan menekankan bahwa Partai Gelora memiliki komitmen untuk melahirkan pemimpin yang adil.

“Pemimpin yang adil akan membawa kemaslahatan bagi umat,” tandasnya. (pm)

Randutatah Menjaga Napas Pesisir (Ekowisata Berbasis Warga yang Menghidupkan Kembali Pesisir Probolinggo)

Oleh Ainur Rofiq

Probolinggo, Berdampak.net – Langit Randutatah pagi itu tak pernah sepi. Di sela-sela rimbunan pohon bakau, suara cekakak sungai bersahut-sahutan, bersaing dengan lengking raja udang biru yang melesat rendah di atas air. Di tempat ini, di ujung pesisir Probolinggo, alam masih bernapas, berkat tangan-tangan warga yang merawatnya sepenuh hati dan tanpa kenal lelah bersatu memadukan tujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir pantai.

Kawasan Konservasi Cemara Laut (casuarina equisetifolia) dan Mangrove Randutatah, atau akrab disebut Duta, kini menjadi oase hijau di tengah pesisir Jawa Timur yang makin padat. Didirikan tahun 2012, kawasan ini membentang seluas 75 hektare, menyatu dengan denyut hidup masyarakat yang perlahan belajar bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang.

Benteng Abrasi, Rumah Burung
Dulu, kawasan ini tergerus abrasi setiap tahun. Garis pantai terus mundur, meninggalkan cerita suram bagi warga pesisir. Tanah-tanah pertanian rusak, rumah-rumah nyaris tersapu gelombang. Namun segalanya mulai berubah ketika bibit bakau ditanam serentak, disusul Cemara Laut yang berjajar rapat di tepi pantai. Sejak itu, pesisir perlahan aman. Burung-burung yang sempat menghilang, kini kembali berseliweran di langit Randutatah.

Kini, lebih dari 30 jenis burung menjadikan kawasan ini rumah. Udara Randutatah dipenuhi sayap-sayap yang menari di atas rimbun bakau dan cemara laut. Raja udang biru (Alcedo atthis) kerap terlihat melesat cepat di atas air payau, mengejar ikan kecil di sela akar bakau. Bangau kecil (Egretta garzetta) berdiri tenang di tepian lumpur, menanti mangsa sambil menjaga keseimbangan di atas satu kaki. Sementara burung cekakak sungai (Todiramphus chloris) bersahut-sahutan dari pucuk dahan, memberi tanda bahwa kawasan ini bukan lagi tempat sunyi seolah menyambut setiap burung untuk hinggap bersautan saling menyapa nan bahagia.

Kembalinya burung-burung liar ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan sinyal ekologi yang penting. Mereka hadir karena rantai makanan kembali utuh, karena pohon-pohon kembali tumbuh, dan karena ruang hidup mereka tak lagi terganggu. Di mata warga dan wisatawan, keberadaan burung-burung itu menjadi bukti hidup bahwa ekosistem pesisir Randutatah telah pulih dan layak dirawat bersama.
Di atas lahan berlumpur yang dulunya kosong, kini tumbuh subur bakau Rhizophora mucronata yang mendominasi kawasan. Tanaman bakau ini mencengkeram kuat tanah seluas 50 hektare, menciptakan benteng hidup yang melindungi pesisir dari kikisan ombak. Menyusuri kawasan ini, pengunjung akan melewati jembatan kayu sepanjang 1,2 kilometer yang membelah rimbunan, menyaksikan langsung bagaimana akar-akar bakau menahan lumpur dan menjadi rumah bagi biota kecil seperti kepiting bakau dan udang.

Dari Konservasi ke Ekowisata
Di tengah hamparan hijau itu, Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) tumbuh menjulang, menjadi ikon kawasan sekaligus pelindung alami dari terpaan angin laut. Pohon-pohon ini tak hanya menyejukkan lanskap pesisir, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan masyarakat Randutatah yang perlahan bangkit dari keterpurukan. Kesadaran kolektif Masyarakat pesisir Randutatah telah dibuktikan dengan Gerakan Bersama menanam, merawat dan tidak tergoda dengan harapan semu yang merugikan dalam jangka Panjang yaitu menebang kayu pohon bakau yang berada di lahan konservasi tersebut.

Kini, kawasan ini tak sekadar ruang konservasi, melainkan saat ini telah menjelma menjadi destinasi ekowisata edukatif. Wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga ikut menanam bakau (kala itu), belajar mengenal jenis-jenis mangrove, hingga mengamati burung yang hilir mudik di sela dedaunan. Harapannya, setiap pengunjung pulang membawa lebih dari sekadar gambar di gawai, tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga alam yang merupakan tujuan edukasi itu sendiri yang secara langsung menggugah alam bawah sadar para wisatawan.

Maka upaya konservasi ini berjalan seiring dengan regulasi daerah yang mendukung. Pemerintah setempat menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Pesisir, memberi pijakan hukum yang kuat bagi masyarakat untuk mengelola kawasan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan konservasi.

Menanam Harapan, Merawat Masa Depan
Bagi warga Randutatah, kawasan konservasi ini bukan sekadar hutan bakau atau deretan cemara laut di tepi pantai. Ia telah menjelma menjadi napas kehidupan yang menghidupi banyak sisi dari ekologi hingga ekonomi. Di bawah rindangnya, tumbuh peluang baru yang dulu tak pernah mereka bayangkan. Sebagian warga kini menggantungkan penghasilan dari jasa wisata lokal, mengelola perahu susur mangrove, membangun gazebo sederhana, hingga menyambut tamu dari berbagai kota yang ingin belajar tentang alam dan ketangguhan masyarakat pesisir.
Sisi lain kehidupan tumbuh dari pembibitan mangrove. Bibit-bibit muda dirawat dengan cermat di pembibitan swadaya warga, lalu dikirim ke daerah pesisir lain yang tengah berjuang melawan abrasi. Dari Randutatah, harapan menjalar ke banyak pantai di Jawa Timur. Pohon-pohon yang dulu ditanam dengan cemas, kini menjadi komoditas Lestari tak sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga ekologis. Mereka menjual perlawanan terhadap kerusakan lingkungan, dalam wujud yang paling sederhana: batang-batang muda pohon bakau.

Anak-anak muda pun tak tinggal diam. Mereka turun tangan, menjadi pemandu wisata, fasilitator edukasi lingkungan, hingga pengelola media sosial yang memperkenalkan wajah baru kampung mereka. Kampung pesisir yang dulunya nyaris tenggelam oleh abrasi dan tertinggal dalam pembangunan, kini ramai oleh kegiatan warga, kunjungan pelajar, dan pertemuan komunitas lingkungan. Di tangan mereka, konservasi bukan sekadar kegiatan musiman, tapi gerakan sosial yang menyatu dengan identitas kolektif.
Setiap musim tanam mangrove tiba, warga bersama pelajar dan relawan dari berbagai kota datang menyusuri lumpur. Mereka menancapkan bibit-bibit baru sambil tertawa, meski kaki tenggelam hingga betis. Di sini, pelajaran sederhana diwariskan lintas generasi: bahwa sebatang pohon bisa menjadi benteng, seekor burung yang kembali bisa jadi tanda, dan sehelai dedaun Cemara Laut bisa menjaga ribuan napas pesisir tetap hidup. Di Randutatah, warga tak hanya menanam pohon, mereka sedang menanam masa depan.

Di ujung hari, saat matahari mulai tenggelam perlahan di balik barisan Cemara Laut yang menjulang, kawasan ini seolah mengirim pesan diam. Tak dengan pidato panjang atau papan pengumuman, tetapi lewat desir angin, nyanyian burung, dan riak air pasang yang tenang. Pesan itu sederhana namun dalam: “bahwa merawat alam bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang tak bisa ditawar”. Di Randutatah Pantai duta, masyarakat sudah memahami bahwa ekowisata bukan sekadar bisnis, tetapi tujuan utama keberadaan kawasan konservasi yang lestari.

Wallahu A’lam Bisshowab.
Probolinggo 12 Mei 2025

Siap untuk Selamat: Pendampingan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa Montong Ajan bersama Tim Kolaborasi ITB

Lombok Tengah, Berdampak.net – Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Mataram, Brigham Young University, dan BMKG Stasiun Geofisika Mataram melakukan kegiatan pendampingan penguatan kapasitas masyarakat untuk mitigasi gempa dan tsunami di Desa Montong Ajan, Praya Barat Daya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada 12 Mei 2025.

Terletak di area pesisir pantai, Desa Montong Ajan merupakan daerah yang memiliki potensi gempa dan tsunami tinggi. “Kegiatan ini pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa karena yang akan terdampak dari suatu bencana ialah (masyarakat dari) desa itu sendiri. Karenanya ITB, Universitas Mataram, Brigham Young University, dan BMKG hadir untuk masyarakat meningkatkan kapasitasnya dengan harapan bersama; yaitu masyarakat yang tangguh terhadap bencana,” jelas dosen ITB,  Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D.

Penguatan kapasitas masyarakat dilakukan dengan melakukan penyuluhan kepada siswa-siswa SDN Torok Aik Belek dan masyarakat Desa Montong Ajan mengenai informasi serta langkah-langkah mitigasi gempa dan tsunami oleh tim kolaborasi antara  Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., Dr. Ir. Endra Gunawan, S.T, M.Sc., Dr. I Gusti Bagus Eddy Sucipta, S.T, M.T. (ITB), Syamsuddin, S.Si., M.T. (Universitas Mataram), Perwakilan BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Ricko Kardoso, S.Tr, serta Jared Whitehead dari Brigham Young University

Kegiatan diawali dengan melakukan pemaparan materi mengenai bahaya gempa dan tsunami di SDN Torok Aik Belek serta bagaimana cara menghadapi bahaya dengan aman di lingkungan sekolah,  diikuti dengan kegiatan latihan evakuasi gempa bersama dengan para siswa dan guru. Kegiatan dengan masyarakat dilakukan pada sore hari dengan agenda pemaparan materi dan juga diskusi bersama masyarakat mengenai penanggulangan bencana gempa serta tsunami. Tidak hanya itu, tim kolaborasi ini juga turut serta melakukan langkah tambahan guna keberlanjutan penguatan kapasitas masyarakat. “Poster ini kami sampaikan kepada kepala sekolah dan kepala desa untuk dipasang di sekolah maupun di desa,” ujar Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D dari ITB dan Syamsuddin, S.Si., M.T. dari Universitas Mataram ketika menyerahkan poster mitigasi kepada pihak desa.

Penguatan Kapasitas Masyarakat untuk Mitigasi Gempa dan Tsunami diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesiapsiagaan masyarakat Desa Montong Ajan. Dengan adanya penyuluhan dan latihan praktis, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami ancaman bencana, tetapi juga tahu bagaimana cara menghadapi dan mengurangi dampak bencana tersebut untuk menciptakan desa yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan. (km)

Babul Arifandi Nahkodai PWI Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Konferensi III Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo Raya yang digelar di Pantai Bentar, Rabu (7/5/2025), secara resmi menetapkan Babul Arifandi sebagai Ketua PWI Probolinggo Raya periode 2025–2028.

Dalam proses pemilihan yang berlangsung secara demokratis, Babul berhasil mengungguli pesaingnya, Arif Mashudi, dengan perolehan suara 22 berbanding 11.

Dalam sambutan perdananya sebagai ketua terpilih, Babul menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran konferensi, terutama kepada anggota yang hadir dan berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi yang berbeda dibanding konferensi sebelumnya.

“Kalau sebelumnya aklamasi, kali ini kita menjalani proses secara demokratis, dan alhamdulillah berjalan aman dan kondusif,” ujarnya.

Babul juga memberikan penghargaan khusus kepada para tokoh yang dinilainya berjasa dalam membangkitkan kembali semangat organisasi PWI di Probolinggo Raya. Ia menyebut Ketua PWI periode 2022–2025, H.A. Suyuti, sebagai sosok penting dalam menghidupkan kembali gairah berorganisasi di kalangan wartawan.

“Pak Haji Suyuti saya anggap sangat berjasa. Beliau berhasil mengembalikan semangat dan gairah berorganisasi teman-teman PWI,” tambahnya.

Selama empat tahun terakhir, Babul mengaku telah banyak belajar mengenai tertib administrasi, pengelolaan organisasi, serta pengembangan keterampilan kewartawanan. Ia pun berkomitmen membawa PWI Probolinggo Raya ke arah yang lebih solid dan progresif.

“Ayo, ke depan kita saling mendukung, saling membesarkan, dan berhenti saling menjatuhkan. Banyak hal yang bisa kita lakukan agar PWI semakin berkembang dan eksis,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Babul mengajak seluruh anggota untuk menjaga kekompakan dan bersama-sama memajukan dunia jurnalistik di wilayah Probolinggo Raya.

“Perubahan komposisi struktural dalam organisasi adalah hal yang biasa. Jabatan Ketua, Sekretaris, maupun Bendahara tidak ada artinya tanpa dukungan dari seluruh anggota,” pungkasnya. (fiq)