Membangun Karakter Kuat Melalui Pendidikan Bergaya Militer
Oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi yang memasukkan anak-anak “bermasalah” ke barak untuk dididik ala pendidikan militer memantik pro kontra. Satu pihak mengapresiasi sebagai kebijakan solutif. Sementara disisi lain ada pihak yang mengkritisi kebijakan itu dikarenakan berpotensi melanggar hak-hak anak. Namun terlepas dari pro kontra tersebut, perlu dilihat dari sisi positif dari pendidikan ala militer yang memiliki karakteristik tersendiri dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan karakter yang menekankan pada mentalitas. Penting untuk menelaah secara objektif nilai-nilai yang ditawarkan oleh pendidikan bergaya militer dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan militer menekankan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, solidaritas, dan kepemimpinan—semua adalah aspek fundamental dalam pembentukan karakter yang kuat (Sutrisno, 2021).
Indonesia yang memiliki kekhasan kultur dan budaya yang beraneka ragam menempatkan pendidikan karakter menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan, terutama saat menghadapi tantangan era disrupsi informasi yang gegap gempita. Sejumlah metode telah diperkenalkan, di antaranya yang semakin sering dibahas adalah pendidikan karakter yang mengacu pada militer. Methode ini dikenal dengan penanaman disiplin tinggi, bertanggung jawab, dan perkaderan leadership secara konsisten.
Disiplin sebagai Dasar
Dalam konteks militer, disiplin merupakan landasan utama. Sistem dibentuk dengan menggunakan waktu dengan baik dan tepat, dan bertindak sebagaimana mekanisme dan prosedur yang berlaku. Landasan inilah yang menjadi dasar dalam pendidikan karakter yang berorientasi militer. Dan yang urgen lagi dari sebatas soal disiplin waktu dan ketaatan terhadap aturan adalah pembiasaan diri untuk berperilaku sesuai norma yang berlaku secara konsisten. Ketika disiplin menjadi budaya, maka akan terbentuk pribadi yang konsisten dan bertanggung jawab. Hal ini sangat penting dalam menghadapi era disrupsi yang menuntut ketangguhan dan etos kerja tinggi (Rohman, 2020).
Latihan Jasmani dan Pikiran
Pendidikan militer tidak hanya berfokus pada pengembangan karakter mental, tetapi juga fisik. Kegiatan seperti upacara, olahraga secara teratur, dan simulasi tugas lapangan berfungsi sebagai metode pelatihan ketahanan fisik dan ketangguhan mental. Sehingga dengan aktivitas ini, peserta didik dilatih ketahanan untuk selalu siap menghadapi tekanan dan tantangan dengan tenang.
Kepemimpinan serta Kesetiaan
Aspek kepemimpinan menjadi elemen krusial dalam pendekatan ini. Dalam berbagai aktivitas kelompok, peserta didik diberikan tugas untuk memimpin, merancang strategi, dan membuat keputusan. Selain itu, juga ditanamkan kesetiaan kepada bangsa dan negara merupakan nilai penting yang disampaikan dalam setiap sesi pelatihan.
Keterpaduan dan Dukungan
Pendidikan militer juga memiliki signifikansi yang menekankan pada aspek sikap solidaritas dan kolaborasi yang membentuk kerjasama tim. Aspek sikap berbasis kerjasama tim, membuat peserta didik memiliki sikap untuk saling mendukung, mempercayai satu sama lain, serta menciptakan komunikasi dan kolaborasi yang efektif— merupakan suatu sikap yang sangat diperlukan dalam kehidupan sosial dan dunia profesional.
Tantangan dan Adaptasi
Walaupun memiliki banyak kelebihan, metode ini juga menghadapi tantangan. Tidak semua peserta didik bisa menerima dengan metode yang kaku dan terstruktur.Implementasi pendidikan karakter bergaya militer di sekolah harus dilakukan secara proporsional dan disesuaikan dengan konteks pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan. Hal yang perlu diperhatikan dari pendekatan ini adalah hak-hak anak dan dihindari kondisi yang dapat menciptakan tekanan psikologis.
Pendidikan karakter dengan pendekatan militer tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi, namun dapat menjadi alternatif yang melengkapi metode lain. Metode ini perlu dipadukan dengan pendekatan yang humanistik, maka pendekatan ini bisa menjadi sarana efektif dalam membentuk generasi yang disiplin, tangguh, dan loyal terhadap bangsa. Keseimbangan antara ketegasan dan empati adalah kunci dari keberhasilan pendidikan karakter bergaya militer di tengah masyarakat yang majemuk dan demokratis.
* Ketua Forum Kerukunan UMAT Beragama (FKUB) dan Dosen Institut Ahmad Dahlan (IAD) Kota Probolinggo