Ra Hamid Sang Inspirator dan Pemersatu Umat
Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.
Adalah Kyai Abdul Hamid Wahid Zaini yang lebih dikenal dengan Ra Hamid adalah putra sulung dari KH. Abdul Wahid Zaini pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid ke II. Ra Hamid saat ini merupakan kepala pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, ia termasuk salah satu Kyai muda yang energik dan transformatif dalam menciptakan perubahan. Tentu dengan berbekal pengalaman sebagai akademisi dan organisator, Ra Hamid tidak mengalami hambatan untuk mendesain peradaban.
Sebagai mantan DPRD dan DPR-RI, Ra Hamid memiliki segudang pengetahuan berkait dengan banyak hal, diantaranya yang ia kuasai adalah manajemen organisasi, manajemen keuangan, leadership dan teori komunikasi massa.
Pada tahun 2014 silam, tepatnya di pesantren Nurul Jadid, Ra Hamid menjadi idola mahasiswa dan santri organisator. Mengapa demikian? Ra Hamid tengah aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra di sekolahnya kala itu. Pada tahun 2017, saya termasuk orang yang beruntung, yang seringkali mendapat kesempatan berbincang dengannya. Saat itu saya sebagai sekretaris Biro Kepesantrenan dan Ra Hamid sebagai kepala pesantren. Salah satu yang masih diingat oleh saya adalah gagasan yang berkait pengembangan pesantren. Tentu ide-idenya yang segar itu membuat pesantren Nurul Jadid seperti sekarang ini.
Ra Hamid mampu mendobrak kejumudan dalam organisasi “yang’ seakan berjalan di tempat. Ia berani melakukan terobosan-terobosan tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah mengakar di pesantren Nurul Jadid. Saya sejak jadi mahasiswa termasuk orang yang mengidolakannya. Bukan karena Ra Hamid sebagai putra kyai melainkan seorang akademisi yang cerdas dan kutu buku.
Sebagai santri baru di pesantren Nurul Jadid, saya sempat mengikuti pengajian kitab yang diampunya, yaitu kitab adabul alim wal muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari. Ra Hamid memaknai kitab dengan bahasa-bahasa populer (ilmiah) yang pada waktu itu bahasa populer sangat digandrungi kawan-kawan mahasiswa. Sebagai organisator ulung, Ra Hamid mampu menghipnotis para santri-santrinya. Tak sedikit dari santri pesantren Nurul Jadid yang terinspirasi dari sosok Ra Hamid muda.
Kini, Ra Hamid hadir sebagai pengayom umat dengan peran kyai yaitu penjaga moral litas umat dan pencipta transformasi sosial. Kehadirannya untuk menjadi orang nomor wahid di tengah-tengah masyarakat Bondowoso sebagai wujud dari komitmennya bahwa tidak akan pernah lelah untuk berbuat baik demi kemaslahatan semesta. Sebagai seorang putra kyai bukan hal mustahil bila dirinya berdiam di pesantren, dan musti akan dihormati orang banyak. Namun darah seorang pejuang telah mengalir pada dirinya yang datang dari KH. Zaini Mun’im seorang ulama kharismatik yang alim dan pejuang kemerdekaan.
“Tidak berjuang, maksiat” penggalan kalimat ini merupakan ungkapan kyai Zaini Mun’im yang sangat masyhur dikalangan masyarakat pesantren.
Saya berkeyakinan bahwa Ra Hamid adalah manusia yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pemersatu umat yang sudah mulai teriris-iris oleh perbedaan politik, nasab maupun ketimpangan sosial.
Bersatunya pesantren besar yang ada di daerah tapal kuda dengan bersedinya Ra Hamid sebagai calon bupati merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Ia juga sudah lama berkecimpung dalam dunia politik. Bahkan Ra Hamid juga dikenal sebagai seorang akademisi yang sangat cerdas dan punya dedikasi tinggi di dunia pendidikan. Sebagai seorang politisi, ia sibuk mengurus pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mengembangkan perguruan tinggi.
Dengan sentuhan tangan dinginnya, Universitas Nurul Jadid telah mendapatkan prestasi dan diakui sebagai PT yang terbaik di Jawa Timur.
Kemampuan yang komplit dimiliki oleh Ra Hamid mampu menghipnotis masyarakat Bondowoso sehingga mereka berkeyakinan untuk menitipkan Kabupaten yang dikenal kota tape ini agar menjadi salah satu kabupaten yang maju dan berkembang.
Kelebihan yang ada pada Ra Hamid adalah berbekal pengalaman, kemampuan dan jejaring dan tentu dengan keberanian melakukan terobosan dalam membuat kebijakan menciptakan optimisme masyarakat Bondowoso bermimpi daerahnya menjadi salah satu daerah terbaik di Indonesia. (*)