Usai Pelatihan Jurnalistik, saatnya HMI Sadar Literasi

oleh: Achmad Nasrudin Sholeh

Probolinggo, Berdampak.net- Usai pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh media berdampak.net dan berkolaborasi dengan HMI Cabang Probolinggo di Cafe Alino & Eatery Kraksaan. Khususnya kader HMI, penting untuk memahami dan menindaklanjuti apa Tujuan dari kegiatan tersebut.

Tepat pada tanggal 02 Mei 2025, kader HMI yang ikut gabung sebagai peserta pelatihan jurnalistik yang hadir sebagai perwakilan Komisariat dibawah naungan HMI Cabang Probolinggo. Pada kegiatan tersebut menjadi momentum awal dalam mewujudkan jati diri kader-kader intelektual yang tertarik pada bidang penulisan ilmiah dll.

Pada kegiatan berlangsung, pelatihan ini mewadahi tiga pemateri inti utama yang memiliki pengalaman luar biasa terhadap penulisan berita, tekhnik wawancara maupun penulisan opini. Sementara itu, landasan permasalahan yang ada pada kondisi dan situasi saat ini, sedikit sekali melihat kader HMI terutama Cabang Probolinggo aktif dalam penerbitan-penerbitan karya ilmiah di koran maupun di media online. Penulis sendiri berkeyakinan penyabab utamanya yakni minimnya literasi yang ada.

Oleh karena itu, disela-sela pematerian selesai, muncul berbagai tanggapan, asumsi serta pertanyaan mengenai dunia jurnalistik yang mereka tidak ketahui. Karena hal seperti ini awal yang di diikuti dan berarti bagi mereka. Maka dari itu penulis terinspirasi oleh pernyataan pemateri Kanda Ponirin Mika yaitu. ” Menulis berita maupun opini tanpa disertai dukungan literasi yang kuat itu namanya tindakan yang beresiko atau nekat, menulis itu bukan hanya soal berani, tapi soal bertanggung jawab atas apa yang ditulis”.

Dari kalimat tersebut membuat penulis berharap terkhususnya kader HMI untuk sadar dalam pengembangan literasi. Kesadaran tersebut dimulai dari jiwa diri sendiri untuk menuju perubahan. Artinya jadi seorang jurnalis akan terbiasa menulis jika sering membaca buku.

Kagumi Pengembangan Bahasa Mandarin Santri, Yayasan ASRAM Kunjungi Ponpes Nurul Jadid Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Sebanyak 17 orang perwakilan dari Pengurus Yayasan Asram serta Manajer Pondok Pesantren di al-Azhar Yogyakarta World Schools berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk menggali informasi berkait dengan pengelolaan pengembangan bahasa Mandarin. Pondok Pesantren Nurul Jadid telah menjadi rujukan banyak pesantren terkait dengan pengembangan bahasa mandarin. Hal itu disampaikan oleh Yogi Eli Ginanjar ketua rombongan saat memberikan sambutan pada acara dialog bersama pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid. Rabu (7/05/25).

“Pembelajaran bahasa mandarin di Pesantren Nurul Jadid sangat eksis hingga sekarang,” ungkapnya.

Yogi menanyakan tentang rahasia pesantren menjaga keberlangsungan bahasa mandarin mulai dari manajemen pesantren dan sekolah dalam membentuk kultur bahasa mandarin dilingkungan pesantren.

“Kami ingin belajar terkait dengan manajemen sarana pendukung yang diberikan kepada santri sehingga mampu meningkatkan kompetensi terhadap anak-anak santri,” imbuhnya.

Selain itu, Yogi mengungkapkan bahwa pesantren Nurul Jadid tengah menyediakan banyak lembaga formal tidak focus pada satu lembaga tertentu.

K. Ahmad Zaki Kepala Biro Pendidikan menyampaikan bahwa pendiri pesantren Nurul Jadid ingin menyelamatkan umat dari hal-hal yang melanggar norma agama.

“Suatu ketika Kiai Zaini Mun’im (pendiri pesantren Nurul Jadid) melihat para siswi yang membuka aurat saat pergi ke sekolah, lalu beliau memiliki keinginan untuk mendirikan lembaga formal agar bisa menyelamatkan umat dari pelanggaran norma-norma agama,” tegasnya.

Setelah dialog usai, peserta kunjungan di ajak untuk melihat langsung asrama santri yang mendalami bahasa mandari yang bertempat di wilayah al-hasyimiah (daltim) di Pondok Pesantren Nurul Jadid. (pm)

MUI Minta Pemkab Probolinggo Tegas Hentikan Peredaran Miras

Probolinggo, Berdampak.net – Maraknya peredaran minuman keras (miras) di Kabupaten Probolinggo memicu keprihatinan berbagai kalangan. MUI Kabupaten Probolinggo meminta Pemkab Probolinggo untuk bertindak tegas menghentikan peredaran miras.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo, KH Abdul Wasik Hannan, saat mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi I DPRD Kabupaten Probolinggo, Rabu (7/5/2025) siang, di kantor DPRD setempat.

Kiai Wasik -sapaannya- mengatakan bahwa pemerintah harus tegas dalam menangani peredaran miras yang jelas-jelas haram dalam agama.

Menurutnya, miras adalah minuman haram yang merusak moral dan masa depan generasi muda. Untuk itu, Pemkab Probolinggo tidak boleh bermain-main dalam persoalan ini.

“Peredaran miras harus dihentikan dengan tegas agar tidak menjerumuskan generasi muda ke dalam jurang kehancuran,” tegasnya.

Dengan dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat, Kiai Wasik berharap peredaran miras di Kabupaten Probolinggo dapat ditekan secara maksimal demi menjaga moral dan masa depan generasi muda.

Ungkapan yang sama disampaikan Muchlis, anggota DPRD dari Fraksi PKB yang memimpin RDP.

Ia menegaskan bahwa masalah miras bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga beban moral yang harus dipikul oleh para pemangku kebijakan terhadap rakyat.

“Ini bukan sekadar urusan hukum, ini adalah beban moral kita terhadap rakyat. Jika persoalan miras saja tidak bisa kita atasi, bagaimana kita bisa menjaga moral generasi muda? Setelah pertemuan ini, kita harus bergerak cepat,” ujar Muchlis.

Ia menambahkan, peredaran miras di Kabupaten Probolinggo bukanlah hal baru, namun perlu pengawasan yang lebih ketat agar dampak buruknya bisa dicegah sejak dini.

Diketahui, RDP itu juga diikuti Polres Probolinggo dan beberapa OPD Pemkab Probolinggo seperti, Satpol PP, Kesbangpol, Bagian Hukum. (don)