Bertemu Walikota, FKUB Kota Probolinggo Berikan Sejumlah Rekomendasi

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo bertemu dengan Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin, dalam pertemuan tersebut FKUB memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkot Probolinggo, salah satunya ialah perluasan tempat pemakanan umum untuk non-muslim. Senin (16/6/2025).

Ketua FKUB Kota Probolinggo Ahmad Hudri mengatakan poin utama ialah perluasan TPU khusus non-muslim. “Munculnya rekomendasi itu ya berdasarkan hal-hal yang kita anggap urgent untuk disampaikan kepada pemerintah kota dan itu menurut pengalaman dan kajian pada saat rapat kerja khusu kami,” ujarnya.

“Ada di Wonoasih, itu sudah penuh. Di perumahan kopian ke barat itu juga sudah penuh. Sebagain ada di Kebonsari Kulon. Maka butuh perluasan. Tidak perlu langsung ada, bisa bertahap,” katanya.

Ia juga menyampaikan kepada Pemkot, mungkin bisa dibentuk ada sub-struktur pada OPD di lingkungan pemerintahan secara khusus terkait pemakanan. “Kayak di kota besar itu sudah ada divisi atau bidangnya sendiri. Barangkali dari leading sektor DLH,” jelasnya.

Selain TPU, Hudri juga menyampaikan rekomendasi lain. Seperti doa lintas agama dalam setiap acara resmi pemerintah Kota Probolinggo, menyediakan sarana prasarana Rumah Moderasi Beragama sebagai pusat aktifitas lintas agama.

Selain itu, FKUB juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kota Probolinggo untuk menyelenggarakan festival budaya lintas agama, menyelenggarakan Silaturahmi Lintas Agama, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran dan penyalahgunaan zat adiktif dan nafsa.

“Respons wali kota baik. Akan dikaji jika ada yang perlu dikaji. Beliau juga mengapresiasi kami,” tukasnya. (fiq)

Belajar Bahasa lewat Meja Makan

oleh : Ilmatus Sa’diyah, S.Pd., M.Hum.
Dosen Prodi S1 Linguistik Indonesia, UPN “Veteran” Jawa Timur

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sektor kuliner menyumbang lebih dari 40% kontribusi ekonomi kreatif nasional, dan Bali menempati posisi tiga besar sebagai daerah dengan pertumbuhan tertinggi di sektor ini. Namun, lebih dari sekadar tempat wisata kuliner, Bali juga menyimpan kekayaan linguistik yang menyatu dalam budaya makan sehari-hari. Nama-nama warung, restoran, hingga jajanan kaki lima di Bali ternyata menyimpan banyak makna—mulai dari simbol spiritual, metafora alam, hingga humor khas masyarakat lokal.

Onomastika: Dari Nama ke Narasi

Di antara nama-nama kuliner yang sering terdengar di Bali, banyak yang menyematkan istilah lokal seperti “Warung Mek Jaya”, “Bebek Tepi Sawah”, atau “Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku”. Setiap nama bukan hanya menunjuk lokasi atau menu, tetapi membawa beban identitas dan narasi budaya.

Dalam kajian onomastika, nama-nama tempat seperti ini memuat tanda-tanda linguistik yang mencerminkan hubungan erat antara bahasa dan realitas sosial. Penambahan elemen seperti “Ibu”, “Mek”, atau “Mangku” mengisyaratkan struktur sosial dan sistem nilai masyarakat Bali, yang sangat menghargai status keluarga, usia, dan tradisi.

Banyak nama tempat kuliner mengambil inspirasi dari unsur alam (seperti sawah, laut, atau angin), serta tokoh spiritual atau adat. Penamaan ini tidak dilakukan secara acak, tetapi penuh pertimbangan semantik yang memperkuat citra lokalitas dan kepercayaan kolektif.

Fonologi Bali dalam Nama Kuliner

Dari sisi fonologi, struktur bunyi dalam bahasa Bali juga berperan dalam membentuk kesan estetik dari nama-nama tersebut. Misalnya, penempatan vokal terbuka seperti /a/, /e/, dan /u/ di akhir kata, memberi nuansa lembut sekaligus bersahabat.

Fonem-fonem khas seperti /ng/, /ny/, dan /k/ diidentifikasi berulang dalam penamaan makanan dan tempat, misalnya pada nama seperti “Lawar Kuwir Pak Nyoman” atau “Warung Nasi Jinggo”. Fenomena ini mencerminkan pengaruh fonotaktik lokal dalam membentuk ritme dan melodi lisan yang mudah diingat oleh masyarakat maupun wisatawan.

Lebih jauh, unsur fonologi ini kerap digunakan untuk membangun daya tarik komersial. Nama dengan pola rima atau aliterasi ternyata memiliki daya ingat lebih tinggi, suatu aspek yang juga disoroti dalam teori psikolinguistik pemasaran.

Morfologi: Lapisan Makna dalam Satuan Kata

Struktur morfologi bahasa Bali yang bersifat aglutinatif—yakni kata dibentuk melalui penambahan afiks yang bermakna—ikut memperkaya penamaan kuliner. Awalan atau akhiran tertentu dalam nama tempat makan dapat menunjukkan asal, pemilik, hingga sejarah pendirian tempat tersebut.

Sebagai contoh, awalan “Pa-” atau “Ma-” dalam beberapa nama warung menunjukkan pemilik laki-laki, sedangkan bentuk lain seperti “Bu” atau “Mek” menunjukkan gender perempuan dan terkadang status sosial. Imbuhan-imbuhan ini menyematkan identitas dalam nama yang tampak sederhana, namun menyimpan konteks yang dalam.

Ada fenomena “hibridisasi morfologis” di mana unsur-unsur dari bahasa Indonesia, Inggris, bahkan Jepang diserap dan dipadukan ke dalam nama tempat makan di Bali. Hal ini memperlihatkan dinamika linguistik yang adaptif terhadap pengaruh global, sekaligus tetap mempertahankan keunikan lokal.

Kuliner Sebagai Teks Budaya

Kegiatan ini menegaskan bahwa kuliner bukan hanya soal rasa dan tampilan visual, tapi juga soal wacana dan identitas. Nama tempat makan dapat dianggap sebagai teks budaya yang memuat ideologi, sejarah, dan representasi sosial tertentu.

Dengan menyusuri ruang kuliner, kita tidak hanya menggali data kebahasaan, tetapi juga memahami bagaimana bahasa hidup dalam praktik budaya sehari-hari. Makan, dalam konteks ini, menjadi gerbang untuk memahami dunia: siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita memaknai pertemuan antarbudaya.

Belajar Bahasa Lewat Lidah dan Suasana

Dalam era pembelajaran berbasis pengalaman, pendekatan seperti ini membuka peluang besar dalam pendidikan linguistik. Tidak hanya mengenalkan teori, tetapi juga memberikan konteks nyata bagaimana bahasa dipraktikkan, ditafsirkan, dan diwariskan.

Melalui interaksi langsung dengan pemilik warung, papan nama, menu, dan suasana lokal, akan muncul kemampuan analitis terhadap bentuk, bunyi, dan makna bahasa secara menyeluruh. Pendekatan linguistik mikro dapat diintegrasikan dalam situasi sosial makro, seperti pariwisata, bisnis, dan komunikasi antarbudaya.

Menyantap Bahasa, Mengunyah Makna

Kegiatan “ngulik” nama kuliner di Bali membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cermin budaya. Dengan menjadikan meja makan sebagai ruang belajar, kita dapat menyelami nilai-nilai sosial, sistem simbol, dan keragaman ekspresi manusia melalui pendekatan ilmiah.

Belajar bahasa adalah juga belajar hidup, dengan semua cita rasa dan makna yang menyertainya. Karena dalam satu suapan makanan lokal, tersimpan ribuan kata tak terucap yang menanti untuk diungkap.

*) Materi dalam artikel ini merupakan hasil observasi lapangan selama Studi Lapangan Prodi Linguistik Indonesia UPN “Veteran” Jawa Timur di Bali pada 2–5 Juni 2025. Ditulis ulang di sini untuk kepentingan pendidikan.

Menelusuri Rasa dan Bahasa: Mahasiswa Linguistik UPN Jatim “Ngulik” Kuliner Bali di Luar Kelas

Bali, Berdampak.net — Belajar linguistik tak harus selalu terpaku di dalam kelas. Mahasiswa Program Studi Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur membuktikannya lewat studi lapangan bertajuk “Ngulik Nama Tempat Kuliner dan Bahasa Bali” yang digelar pada 2–5 Juni 2025.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyusuri berbagai titik kuliner di Pulau Dewata, tidak hanya untuk mencicipi cita rasa khas Bali, tetapi juga untuk menyelami makna di balik penamaan tempat-tempat makan yang unik, akrab, dan penuh nilai kultural.

“Banyak nama tempat makan di Bali yang lahir dari inspirasi lokal—baik alam, tradisi, maupun kebiasaan masyarakatnya. Ini menjadi ruang belajar yang kaya bagi para mahasiswa linguistik,” ujar Dr. Endang Sholihatin, Koordinator Prodi Linguistik Indonesia.

Fokus utama dari studi ini adalah onomastika kuliner, yakni kajian linguistik tentang penamaan, khususnya dalam konteks makanan dan tempat makan. Setiap nama yang dipilih pemilik warung atau restoran diyakini menyimpan filosofi tersendiri yang mencerminkan identitas lokal dan strategi komunikasi budaya.

Namun tak berhenti di sana. Studi lapangan ini juga menggali data bahasa Bali dari sisi fonologi (ilmu bunyi bahasa) dan morfologi (struktur kata). Mahasiswa diajak untuk menganalisis langsung bentuk dan bunyi bahasa Bali dari tuturan masyarakat setempat, menjadikannya sebagai bahan riset mikro-linguistik.

“Kami ingin para mahasiswa tidak hanya paham teori linguistik dari buku, tapi juga mengalami bagaimana teori itu hidup dalam masyarakat. Bali, dengan kekayaan budayanya, adalah tempat yang sangat ideal untuk itu,” imbuh Dr. Endang.

Melalui interaksi langsung dengan lingkungan sosial dan budaya, mahasiswa diajak untuk memaknai bahasa tak sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan, sejarah, dan rasa. Setiap kata dan nama yang mereka temui membawa makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bunyi.

Tak pelak, kegiatan ini menjadi kombinasi antara riset ilmiah dan petualangan kultural yang menyenangkan. Di balik meja makan, mahasiswa belajar linguistik dengan cara yang lebih segar, membumi, dan menyentuh kehidupan nyata.

Studi lapangan ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa dan budaya adalah dua sisi dari koin yang sama. Melalui makanan dan bahasa, mahasiswa belajar mengenal dunia, satu suapan dan satu kata dalam satu waktu. (pm)