Jelang Haul Masyayikh An-Naqsyabandiyyin Al-Ahmadiyyin, Ini Dawuh Kiai Zuhri Zaini

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan pengarahan langsung menjelang pelaksanaan Haul Masyayikh An-Naqsyabandiyyin Al-Ahmadiyyin yang akan digelar di lingkungan pesantren. Kegiatan checking akhir ini menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan seluruh elemen panitia menjelang pelaksanaan haul perdana yang dilaksanakan di PP Nurul Jadid 17 Juli 2025.

Dalam arahannya, KH. Zuhri menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai tuan rumah kegiatan haul tahun ini. Beliau menekankan bahwa para masyayikh yang akan dihauli merupakan sosok-sosok mulia yang sangat dekat dengan Allah SWT dan telah mencapai derajat tinggi dalam kedekatan spiritual.

“Kita yang belum sampai pada derajat tersebut, setidaknya harus berusaha menyambungkan diri kepada mereka melalui cinta, rasa hormat, dan pengamalan terhadap ajaran-ajaran yang mereka wariskan,” tutur beliau dihadapan panitia. Sabtu (11/07/25).

KH. Zuhri juga mengingatkan bahwa haul ini bukanlah acara biasa, melainkan kegiatan besar yang menyatukan para ikhwan dan akhawat thariqah, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara ruhani. Karena itu, seluruh panitia dan elemen pesantren diminta untuk menyiapkan kegiatan dengan serius, penuh tanggung jawab, dan tidak seadanya.

Beliau juga menyampaikan pentingnya manajemen logistik dan konsumsi yang matang. “Lebih baik kita menyediakan secara berlebih daripada mengalami kekurangan di tengah acara,” pesannya.

Karena ini merupakan kali pertama haul An-Naqsyabandiyyin Al-Ahmadiyyin digelar di Nurul Jadid, KH. Zuhri membuka ruang diskusi dan sangat mengharapkan masukan dari panitia yang telah memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan haul serupa di tempat lain.

Pengasuh juga mengingatkan pentingnya iringan doa dalam setiap tahapan persiapan. “Semoga setiap langkah dan keterlibatan kita dalam haul ini menjadi sebab turunnya keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat,” ujarnya.

Di akhir pengarahan, KH. Zuhri memanjatkan doa agar para masyayikh yang dihauli senantiasa dilimpahi rahmat dan ampunan dari Allah SWT.

Acara haul tersebut direncanakan akan dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah, dan menjadi momen spiritual besar bagi para pengamal Thariqah An-Naqsyabandiyyah Al-Ahmadiyyah. (pm)

Fenomena Sound Horeg, Ini Respon MUI Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo memandang penting untuk memberikan klarifikasi dan pandangan seputar fenomena penggunaan sound horeg yang akhir-akhir ini marak dibicarakan masyarakat.

Hingga saat ini, belum ada fatwa resmi dari MUI Pusat yang secara khusus mengatur atau menyoal fenomena sound horeg. Dalam kaidah kelembagaan, MUI di tingkat daerah senantiasa mengikuti dan merujuk pada fatwa resmi yang dikeluarkan oleh MUI Pusat. Maka, selama belum ada ketetapan resmi berupa fatwa, MUI Kota Probolinggo belum dapat mengeluarkan pernyataan dalam bentuk fatwa mengenai hal tersebut.

Namun demikian, secara umum, MUI Kota Probolinggo memandang bahwa fenomena penggunaan sound horeg perlu ditinjau dari segi maslahah (kemanfaatan) dan mafsadat (kerusakan atau mudarat). Dalam praktiknya, sound horeg yang digunakan tanpa kendali volume, waktu, dan lokasi, telah menimbulkan gangguan terhadap ketertiban umum, ketidaknyamanan pendengaran, bahkan kerusakan bangunan akibat getaran yang dihasilkan, khususnya di lingkungan padat penduduk.

Meskipun kegiatan ini bagi sebagian kalangan berkaitan dengan aspek hiburan atau bahkan ekonomi kreatif, keberadaannya tidak boleh sampai mengorbankan hak masyarakat lainnya untuk hidup tenang, aman, dan nyaman. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan yang proporsional dan solutif, agar usaha masyarakat tetap dapat berjalan, namun tanpa menimbulkan gangguan dan kerusakan.

MUI Kota Probolinggo mendorong agar pihak-pihak berwenang menyusun regulasi yang tegas dan mengikat terkait penggunaan sound system di ruang publik. Ketentuan tersebut dapat berupa izin, batasan volume, waktu penggunaan, dan lokasi yang diperbolehkan, serta disertai sanksi atau denda bagi pelanggaran. Dengan demikian, ketertiban umum tetap terjaga tanpa harus mematikan usaha rakyat.

Hal ini disampaikan oleh Ahmad Hudri, salah satu Ketua Dewan Pimpinan MUI Kota Probolinggo, dalam menanggapi aspirasi dan keresahan masyarakat terkait fenomena tersebut. (fiq)

Solid & Cerdas! ISNU Probolinggo Siap Jadi Garda Intelektual NU

Probolinggo, Berdampak.net — Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kota Probolinggo menggelar kegiatan Konsolidasi dan Upgrading Pimpinan Cabang dan Anak Cabang ISNU se-Kota Probolinggo, Sabtu (12/7), bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Probolinggo.

Kegiatan strategis ini dihadiri oleh seluruh pengurus PC dan PAC ISNU dari lima kecamatan yang ada di Kota Probolinggo. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama yakni Drs. As’ad Anshari, M.Se, selaku Dewan Penasehat ISNU, dan Dr. H. Ahmad Hudri, S.T, M.A.P., Dewan AHLI ISNU.

Dalam sambutannya, Indah Yulianti, M.Pd, selaku Ketua PC ISNU Kota Probolinggo, menyampaikan bahwa konsolidasi ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah antar kader dan memperkuat kerja organisasi ke depan.

“Kegiatan ini penting agar kita saling mengenal, memperkuat jejaring, dan menjadikan ISNU semakin solid sebagai organisasi intelektual berbasis Nahdliyin,” ungkapnya.

Sementara itu, Drs. As’ad Anshari, M.Se, dalam pemaparannya menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik di antara kader ISNU. Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan dalam ISNU harus diniatkan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian untuk kemaslahatan umat.

“Jangan jadikan ISNU hanya sebagai formalitas. Niatkan sebagai jalan ibadah. Komunikasi yang baik akan memperkuat kerja kolektif kita,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Hudri, S.T, M.A.P., yang menyebut ISNU harus tampil sebagai garda terdepan dalam pemikiran, riset, dan advokasi berbasis keilmuan.

“ISNU adalah motor penggerak pemikiran, pusat penelitian dan advokasi intelektual. Kita harus siap menjadi garda intelektual Nahdlatul Ulama, baik di ruang akademik maupun di tengah masyarakat,” jelasnya.

Konsolidasi ini juga menjadi momen penyamaan visi dan strategi ke depan, terutama dalam menjawab tantangan zaman serta kontribusi nyata ISNU dalam pembangunan daerah berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Dengan semangat kebersamaan, acara berlangsung dinamis, penuh semangat, dan menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis untuk memperkuat program kerja ISNU di tingkat cabang maupun anak cabang. (don)